Ririn, seorang gadis sederhana yang tiba-tiba mendapat lamaran dari Devan yang merupakan direktur perusahaan tempat Ririn bekerja.
Devan, seorang direktur perusahaan sekaligus seorang suami dari wanita bernama Citra.
Citra, seorang istri yang baik tetapi malang nasibnya. Dokter telah memvonisnya mandul, tidak bisa mempunyai anak. Karena rasa sayang luar biasa pada suaminya, Citra menyuruh suaminya yaitu Devan untuk menikah lagi agar bisa mempunyai keturunan.
Bagaimana kelanjutan cerita Ririn, Devan dan Citra? Yuk baca novel ini sampai tamat😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memanfaatkan Kesempatan
Ibu dan kedua adik Ririn sudah pulang diantar oleh Pak Memet. Amran kelihatan masih betah dan enggan pulang, tapi Ririn membujuknya kalau minggu depan Amran akan dijemput lagi oleh Pak Memet.
Rumah terasa sepi. Ririn berpikir... berarti ia akan sering mengalami keadaan seperti ini. Kalau ia hanya duduk diam saja, waktu akan terbuang sia-sia.
Ririn pun menyusun rencana apa yang akan ia kerjakan. Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi 'catatan'. Lalu ia mulai mengetik...
Yang akan aku kerjakan:
- belajar masak sama Bi Isah
- belajar nyetir sama Pak Memet
- nyari universitas untuk aku kuliah
- les bahasa Inggris sampai fasih berbicara
Sampai disitu Ririn berpikir lagi apa yang akan ia kerjakan.
Selama ini, Ririn ingin melakukan apapun selalu terbentur dengan faktor biaya. Sekarang ada Devan yang akan membiayai, ia tinggal memilih kegiatan apa yang akan dilakukannya, yang penting ia tidak melupakan tugasnya sebagai seorang istri.
Ririn berpikir ia harus bisa memanfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya. Ririn tidak tahu bagaimana nasibnya selanjutnya. Apa ia akan terus diperistri oleh Devan atau tidak? Ririn harus mempersiapkan bekal keterampilan agar ia bisa mandiri.
Tiba-tiba ia teringat, sudah lama ia belum menelpon Citra. Lalu ia menekan nomor kontak Citra.
"Hallo... Assalaamu'alaikum", kata Ririn mulai menyapa.
"Wa'alaikumsalaam... apa kabar Rin?"
"Kabar baik Mbak ... bagaimana dengan Mbak Citra... sehat?"
"Alhamdulillaah sehat Rin."
"Maaf saya baru nelpon lagi ... Mbak sedang sibuk?"
"Nggak Rin... hmm... Rin bagaimana kalau besok kita pergi ke spa bareng?... Biar kita bisa ngobrol santai sambil relaksasi."
"Iya... boleh tuh ide bagus... Mbak, aku juga belum ketemu lagi sama Mama Siska dan Papa Arif, gimana kalau besok pulang dari spa, kita bersilaturahmi ke rumah Mama Siska?"
"Iya aku setuju... besok aku jemput kerumahmu kira-kira jam sepuluh ya?"
"Baik Mbak... sampai ketemu besok Mbak... assalaamualaikum."
"Wa'alaikumsalaam."
Ririn menutup panggilannya. Sekarang ia mulai googling universitas swasta yang bagus yang paling dekat dengan rumahnya.
Kebetulan sekali rumahnya itu di daerah Dago, ternyata banyak universitas yang dekat rumahnya. Ia sudah memilih salah satunya, tinggal ia diskusikan dengan Devan.
...***...
Ririn merasa lapar, ia pergi ke dapur. "Bi, saya mau makan..."
"Saya sudah siapkan di ruang makan Bu."
"Bibi sudah makan belum? kalau belum, sini temani saya makan."
"Bibi makan disini saja Bu... didapur juga disediakan meja makan sama Pak Devan."
"Oh ya Bi... nanti saya minta diajarin masak, jadi jika nanti Bibi akan masak, ajakin saya ya."
"Ah saya malu Bu ... bagaimana saya ngajarin masak... bisanya cuma yang itu-itu saja."
"Iya nggak apa-apa ... ajarin saja saya," Ririn tersenyum.
Ririn makan sendirian, padahal biasanya kalau dirumah ia pasti ditemani Emak.
Setelah makan, Ririn melaksanakan sholat di musholla dekat ruang makan, setelah selesai lalu naik ke kamarnya.
Ririn membuka pintu balkon, lalu mulai mengecek anggrek-anggreknya. Ia mengambil dua semprotan, lalu bergegas ke kamar mandi dan mengisi botol semprotan itu dengan air. Lalu kembali lagi ke balkon dan mulai merawat anggrek-anggreknya.
...***...
Malam hari ... tidur sendirian di ranjang besar. Ririn sepertinya mulai merindukan Devan. Ketika Devan ada didekatnya, ia selalu menggoda Ririn.
Buat Ririn, rasanya tidak sulit untuk jatuh hati pada Devan. Dari segi fisik, Devan itu gagah, tampan dan memperlakukan Ririn dengan baik.
Tapi Ririn tidak tahu bagaimana perasaan Devan padanya. Hingga saat ini Devan belum pernah menyatakan perasaannya... walaupun dari level terendah. Untuk Ririn level terendah itu ucapan 'aku suka kamu' ... level menengah itu 'aku sayang kamu'... lalu level tertinggi itu 'aku cinta kamu'.
Ririn mengambil bantal yang biasa Devan tiduri. Masih tertinggal bau dirinya, Ririn menghirupnya... lalu ia pun tertidur.
...***...
"Apa kabar Mbak?" Ririn memeluk Citra lalu mencium pipinya.
"Baik Rin."
"Ayo masuk dulu Mbak."
"Kita langsung aja yuk."
"Sebentar saya pamitan dulu sama Bi Isah."
Ternyata Bi Isah datang menghampiri. "Apa kabar Bu Citra?" Bi Isah menyapa Citra sambil membungkukkan badannya.
"Baik Bi.. sebaliknya bagaimana kabar Bibi?" tanya Citra.
"Baik juga Bu Citra."
Oh rupanya mereka saling mengenal, mungkin Citralah yang mempekerjakannya di rumah ini.
"Bi, saya mau pergi dulu sama Mbak Citra, Bibi hati-hati ya dirumah... Assalaamualaikum."
"Wa'alaikumsalaam..."
...***...
"Ada salon muslimah yang dekat sini di Tubagus Ismail, mau coba kesitu?" tanya Citra.
"Iya, ayo kita coba... ini pengalaman kedua aku, perawatan ke spa," Ririn tertawa kecil.
Ririn dan Citra masuk kedalam salon. Dari depan salon, sampai kedalam ke tiap ruangan, semua berwarna pink dan putih.
Daftar perawatan terdiri dari perawatan rambut, perawatan wajah, perawatan tubuh dan perawatan lainnya.
Citra meminta perawatan lengkap, mereka menawarkan pilihan perawatan like a boss, like a diva, like a lady dan like a queen. Yang paling mahal itu perawatan like a queen. Dan Citra memilih perawatan itu.
Perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki, termasuk spa **** *. Lumayan lama menghabiskan waktu di salon itu.
Sebelum pulang Ririn dan Citra ikut melaksanakan shalat Zuhur dahulu di musholla salon itu.
...***...
Setelah selesai shalat, Citra dan Ririn berniat melanjutkan perjalanan untuk berkunjung ke rumah Mama Siska.
"Kemarin aku sudah menelpon Mama Siska, mengabarkan kalau kita akan berkunjung hari ini," kata Citra.
"Kita bawain oleh-oleh apa ya buat Mama?" tanya Ririn.
"Kita beli gepuk Nyonya O saja... Mama suka itu. Dan kuenya pie buah."
Citra menunjukkan tempat yang menjual makanan kesukaan Mama Siska. Mereka mampir di dua tempat yang berbeda. Ririn memaksa untuk membayarnya, karena tadi biaya spa, Citra yang membayarnya.
...***...
Begitu tiba di rumah Mama Siska, Ririn dan Citra disambut hangat oleh Mama Siska.
"Mama sangat senang melihat kalian berdua, hidup rukun seperti ini, Mama berharap Citra, Ririn dan Devan bisa rukun terus sampai nanti... "
"Aamiin..." Citra dan Ririn mengamini do'a Mama Citra.
Mendengar ada yang datang, Pak Arif pun kelua. "Wah anak-anak Papa datang toh?!"
Ririn dan Citra pun segera mencium tangan Papa Arif. "Apa kabar Pah," tanya Ririn.
"Alhamdulillaah... kami sehat... kalian belum makan kan? Ayo kita makan sama-sama."
"Wah, kebetulan Mah, kami membawa gepuk kesukaan Mama nih," Citra menyerahkan gepuk dan pie yang dibawanya.
Kemudian mereka berempat, makan bersama di meja makan sambil mengobrol dengan berbagai topik mulai dari a sampai z.
*********************************************
terima kasih sudah membaca novel ini, mohon beri dukungan author dengan memberikan rate, vote, comment n like ya 😘😘😘
*********************************************
ceritanya kyk keseharian bagus 👍
mampir juga di karya ku ya Tangis Gadis Tegar dan Dikhianati tapi Dicintai karya Fiwanaka
terimakasih
yg maksa minta devan nikah lagi sopo,,, devan jelas² saranin adopsi, citra ngeyelll !!!
akh sumpah kasian aku mah sama Ririn, sekolah yg tinggi Rin, trus berkarier, buka usaha ato apa,,, hempaskan lah Devan n Citra,,, seumur hidup makan ati klu kayak gitu ceritanya,,,