Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.
Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.
Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.
"Mengapa Tidak Bercerai?"
Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?
Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C027: Bersulang Untuk Masa Depan
...Selamat Baca...
Sinar matahari mulai condong ke barat, menyelinap di sela dahan pohon besar tua yang rindang, menaburkan bintik‑bintik cahaya keemasan di atas rumput hijau halus.
Di sudut halaman yang selama ini tertutup semak belukar, kini tampak jelas sebuah kolam renang tua yang airnya masih jernih berkilau,
Seolah tak pernah berhenti menjaga keindahannya meski ditinggalkan sekian lama.
Leo mengangkat tangan tinggi‑tinggi, memberi isyarat terakhir pada timnya. “Oke, kamera mulai merekam!”
Lampu indikator menyala merah di ketiga perangkat yang diletakkan di posisi berbeda: satu di atas beranda untuk menangkap pemandangan luas,
Satu di pinggir kolam untuk latar yang menenangkan, dan satu lagi di dekat meja persiapan untuk merekam detail ekspresi mereka.
Liana melangkah maju, topeng kitsunenya berwarna putih dan merah berkilau lembut tertimpa cahaya. Di sebelahnya,
Viviane tampak anggun dengan topeng perak yang berukir halus, sementara Alexander berdiri tenang tak jauh di belakangnya,
Topeng hitamnya menutupi separuh wajah namun tak menyembunyikan aura tenang yang selalu ia pancarkan.
“Wah, ternyata halaman belakang ini jauh lebih luas daripada yang aku duga,” ucap Liana pelan, matanya berkeliling kagum.
“Dan ada kolamnya juga… sungguh tempat yang indah.”
“Dulu tempat ini sering kita gunakan untuk berkumpul,” sahut Gerald lembut sambil tersenyum.
“Sayang sekali sudah lama tidak di urus. Kalau kita membersihkannya sedikit, mungkin akan jadi tempat yang paling nyaman.”
“Kalau begitu, mari kita bersihkan bersama‑sama!” ajak Liana bersemangat.
Ia segera bergerak, menyebar kain karpet khusus piknik berwarna krem di beberapa titik agar mereka bisa duduk dengan nyaman.
Ia juga menggantung lentera kaca di dahan pohon yang rendah, lalu mengisi vas‑vas batu alam dengan bunga liar berwarna cerah yang tumbuh di sekitar bukit.
“Li, lentera ini diletakkan sedikit ke kiri lagi,” pinta Viviane sambil menunjuk lembut.
“Nanti jika senja turun, cahayanya akan memantul indah ke permukaan air kolam.”
“Baik, Ibu Via!” jawab Liana patuh sambil menggeser posisinya.
“Bagaimana? Apakah sudah tepat?”
“Sempurna,” puji Viviane. “Kau memiliki selera yang bagus.”
Setelah halaman terlihat rapi dan menyenangkan, Liana bergabung dengan Viviane di meja panjang yang sudah dipenuhi bahan makanan segar.
“Kita punya ayam, daging sapi, dan beberapa sayuran,” kata Viviane sambil memeriksa isi keranjang satu per satu.
“Tapi menurutmu, apa yang paling mudah untuk dipanggang?”
Liana menunduk sejenak berpikir, lalu menunjuk ke arah tumpukan jamur dan bayam. “Menurutku jamur dan bayam sangat cocok."
"Kalau diolesi sedikit mentega dan bawang putih sebelum dibakar, aromanya pasti sangat harum.” Ia kemudian menunjuk satu keranjang besar berisi jagung.
“Dan jangan lupa jagung manis ini! Aku pernah dengar jagung dari Virlan itu rasanya istimewa—manis alami dan teksturnya padat nikmat saat dikunyah.”
“Benar juga,” timpal Viviane sambil mengangguk setuju.
“Jagung ini memang tanaman andalan di sini. Mari kita tambahkan juga kentang dan bawang bombay panggang, biar menyeimbangkan rasanya.”
Sementara mereka sibuk berdiskusi, Gerald memanggil para pelayan lama kediaman yang sudah siap menunggu di kejauhan. “Pelayan, persiapkan bahan makanannya.”
“Baik, Tuan Gerald!” jawab mereka serempak dengan sopan.
Mereka pun bergerak dengan sigap namun tenang. Dua orang pelayan mulai membersihkan dan memotong ayam dengan pisau yang tajam,
Membaginya menjadi ukuran yang pas untuk tusukan. Dua orang lainnya mencuci daging sapi berkali‑kali dengan air dingin,
Lalu merendamnya dalam campuran air jeruk nipis dan bumbu rempah rahasia. “Rendamkan sekitar seperempat jam aja,”
kata salah satu pelayan tua. “Agar Nanti bau amisnya hilang, dan rasanya akan meresap ke dalam.”
Kelompok lain sibuk mengupas, dan mengiris iris buah, lalu menuang air kelapa segar ke dalam kendi‑kendi tanah liat besar.
Di sudut lain halaman, Alexander terlihat diam‑diam membantu. Ia mengangkat tumpukan kayu bakar kering yang cukup berat sendirian,
Lalu menyusunnya rapi di dalam lubang panggangan batu.
“Biarkan saya yang mengangkatnya, Tuan,” kata salah satu pelayan yang melihatnya. “Tidak perlu Tuan repot repot.”
Alexander menggeleng pelan sambil menyalakan api kecil di sela‑sela kayu. “Tidak apa‑apa. Saya hanya ingin membantu."
"Lagi pula, saya juga ingin belajar bagaimana menyalakan api unggun.”
Gerald yang melihatnya dari kejauhan tersenyum bangga. "Aku tidak menyangka, akan ada pria yang benar benar mencintai Liana."
"Jika diingat kembali, mengapa lima tahun lalu aku mengirim Liana pada Alistair?" gumamnya dengan rasa penyesalan sedikit,
Jika tahu Alistair akan begitu lebih baik dia menyerahkan putrinya kepada orang yang tepat.
Tak lama kemudian, api mulai menyala indah. Bara merah memancarkan kehangatan, dan asap tipis mengepul perlahan ke angkasa.
Matahari kini sudah hampir tenggelam, melukis langit dengan warna jingga lembut yang berpadu dengan ungu pucat. Semuanya telah siap.
Gerald mengambil gelas berisi minuman buah berwarna kemerahan, lalu mengangkatnya tinggi‑tinggi.
Liana, Viviane, Alexander, dan semua pelayan yang hadir pun ikut mengangkat gelas masing‑masing.
Suasana sejenak hening, hanya terdengar suara nyala api dan riak air kolam.
“Lima tahun yang lalu…” suara Gerald terdengar jelas namun sedikit bergetar, matanya menatap Liana dengan penuh haru,
“Kita berpisah karena kesalahan yang besar. Kita terjebak dalam kesedihan, keputusasaan, dan kegelapan yang kita buat sendiri."
"Saya pikir, saat itu dunia sudah berhenti berputar bagi saya.”
Ia menarik napas panjang, lalu senyum lebar merekah di wajahnya.
“Tapi hari ini, saya melihat putri saya berdiri di sini dengan senyum yang utuh. Dan saya sadar harapan itu tidak pernah benar‑benar mati."
"Maka dari itu, mari bersulang untuk masa depan semuanya."
“Untuk masa depan semuanya!” seru semua orang berbarengan.
Kling!
Bunyi gelas yang saling beradu terdengar jernih dan nyaring, bergema menyebar ke seluruh penjuru halaman tua itu.
Tawa riang segera menyusul, dan di saat yang sama, aroma harum daging yang mulai dipanggang perlahan menyebar, menyambut senja yang damai.
Di pojokkan, Alexander mengambil daging sapi yang sudah di panggang. Dan duduk di samping Liana, Liana yang melihatnya membawa banyak daging sapi heran.
"Apakah kamu sanggup memakan semuanya?" Liana bertanya pelan, Alexander menjawab.
"Tidak, aku akan berbagi denganmu. Makanlah yang banyak." katanya dengan senyuman lembut, sambil menyodorkan sumpit berisikan daging ke depan Liana.
Liana tersenyum, dan berterima kasih karena Alexander membagi daging sapi padanya. Ia membuka mulutnya, dan mulai mengunyah daging itu.
"Hmm ini enak, siapa yang memanggangnya?"
"Aku, hanya untuk kamu saja."
Mendengar itu membuat pipi Liana memerah, Alexander terkekeh pelan. Ia masih menyodorkan sumpit dengan daging sapi ke pada Liana. Yang dimana Liana juga menerimanya tanpa mengeluh.
Interaksi itu di rekam oleh Leo, dengan senyum cerah ia mulai memikirkan akan memberi efek yang cocok untuk interaksi itu.