Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang yang Terbelah
Suasana di aula tabib istana Sanjaya masih terasa mencekam, meski kehangatan perapian perlahan mulai mengusir hawa es yang sempat mengurung tubuh Martha dan Ingdrit. Di bawah pengawasan ketat zirah emas Sanjaya, kedua pelayan tua itu bersandar pada ranjang perawatan dengan tubuh yang masih lemas. Namun, fisik yang didera dingin tidak mampu memadamkan gejolak di dalam dada mereka. Mata mereka terus mengarah pada pintu kayu, berharap sosok yang memenuhi pikiran mereka sejak fajar menyingsing segera melangkah masuk.
"Di mana dia...? Di mana putriku?" Martha meraba-raba selimutnya dengan jemari yang gemetar, menatap nanar ke arah Pangeran Ares yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah yang diliputi mendung. "Pangeran... hamba mohon. Izinkan hamba bertemu dengan Naomi. Hamba tahu dia ada di istana ini."
Ingdrit mencoba menegakkan punggungnya yang kaku, ikut menatap Ares dengan pandangan menuntut yang teramat sangat. "Kami melihatnya di Aula Agung tadi, Pangeran. Walau pakaiannya bertabur emas dan matanya berkilau hijau, tatapan itu... itu adalah tatapan Naomi kami. Izinkan kami menemuinya sebelum mereka membawanya kembali ke Selatan."
Sebelum Ares sempat membuka suara untuk menenangkan kedua orang tua angkat itu, pintu ruang tabib berderit terbuka dengan sentakan kasar. Raja Sanjaya melangkah masuk, didampingi oleh Ratu Ara yang wajahnya masih menyiratkan ketegangan sisa perdebatan di Aula Agung tadi.
"Cukup dengan kegilaan ini, Ingdrit!" suara Raja Sanjaya terdengar berat dan penuh tekanan otoritas yang tidak ingin dibantah. "Kalian berada di sini untuk diobati, bukan untuk membuat kekacauan baru dengan menuntut sesuatu yang tidak ada. Pelayan bernama Naomi itu tidak ditemukan di mana pun di dalam kompleks istana ini sejak malam pengusiran kalian. Dia tidak ada di sini!"
"Tidak, Yang Mulia!" Ingdrit memotong kalimat Rajanya dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan seorang ayah. Ia mencengkeram pinggiran ranjang, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. "Hamba tidak buta! Wanita anggun yang berdiri di samping Pangeran dari Selatan itu... yang dirangkul oleh Pangeran David... itu Naomi! Itu Naomi kami, Yang Mulia!"
Ratu Ara melangkah maju, jubah sutra ungunya berdesir tajam di atas lantai batu. Ia menatap Ingdrit dengan pandangan dingin yang sarat akan cemoohan, seolah menganggap ucapan pelayan tua itu sebagai bualan orang yang kehilangan akal sehat akibat siksaan Warden.
"Jaga bicaramu, Pelayan!" bentak Ratu Ara, suaranya melengking tajam namun tertahan. "Ketakutan di bawah tanah Warden rupanya telah merusak isi kepalamu. Wanita yang kau tunjuk dengan lancang itu bukanlah pelayan ber-rune yang kau pungut dari dapur! Dia adalah Putri Naonna, Putri Mahkota dari Kerajaan Dewanti Yang di Barat-Utara. Dia adalah permaisuri sah dari Pangeran David Guetta, dan yang paling penting dia adalah menantu murni dari Ratu Micky Yoochun!"
Ratu Ara mendekat satu langkah, menekan suaranya tepat di hadapan Ingdrit yang terengah-engah. "Apakah kau sadar apa artinya itu? Kau sedang menyamakan seorang anak pelayan terbuang dengan menantu dari penguasa takhta terbesar di belahan Selatan. Ratu Micky tidak akan ragu meratakan Sanjaya jika mendengar permaisuri anaknya dihina dengan disamakan dengan seorang pelayan domestik!"
"Tapi itu tidak mungkin, Yang Mulia Ratu..." Martha menyela, suaranya pecah oleh tangis yang kembali membubung. Ia memandangi Ratu Ara dengan tatapan memohon yang menyayat hati. "Hamba yang menyuapinya sejak kecil, hamba yang menghapus air matanya setiap malam. Garis senyum itu, cara dia berdiri... tidak mungkin ada dua orang di dunia ini yang begitu mirip, kecuali jika dia adalah Naomi kami. Kemiripan Putri Naonna dengan Naomi terlalu nyata untuk disebut sebagai kebetulan!"
Ares yang sejak tadi terdiam di sudut ruangan, mengepalkan tinjunya erat-erat di balik jubah. Ia tahu kebenarannya, ia tahu sihir mata hijau zamrud itu adalah pelindung yang dibuat David. Namun melihat ibundanya yang begitu keras menyangkal, dan menyadari ancaman politik dari Selatan yang dibawa Ratu Micky, Ares tahu bahwa mengungkapkan kebenaran sekarang hanya akan membuat leher Martha dan Ingdrit kembali berada di bawah kapak eksekusi.
"Ibu, Ayah," Ares akhirnya melangkah maju, memotong perdebatan sebelum Ratu Ara bertindak lebih jauh. Ia menaruh tangannya di atas bahu Martha, memberikan remasan lembut yang menyiratkan pesan terselubung agar mereka menahan diri. "Tenanglah. Biarkan tabib memeriksa keadaan kalian terlebih dahulu. Istana sedang dipenuhi mata-mata dari berbagai kerajaan, dan membicarakan hal ini hanya akan membawa bahaya bagi semua orang."
Ratu Ara mendengus, merapikan kembali selendangnya. "Dengarkan putraku, Ingdrit. Jangan biarkan ilusi matamu menghancurkan sisa nyawa yang baru saja diselamatkan oleh Selatan. Terima saja kenyataan bahwa pelayanmu telah hilang, dan wanita di Aula Agung tadi adalah penguasa yang derajatnya berada jauh di atas langit yang bisa kau gapai."
Raja dan Ratu Sanjaya kemudian berbalik meninggalkan ruangan, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di antara Martha, Ingdrit, dan Ares. Di dalam ruangan yang hangat itu, kebenaran tentang identitas Naomi kini menjelma menjadi rahasia paling berbahaya, tersembunyi di balik topeng sutra hijau zamrud yang harus dijaga dengan taruhan air mata dan darah murni.