NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:50.8k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Sisa hujan semalam menyisakan aroma tanah basah yang menguar kuat di sekitar kompleks villa mewah keluarga Dirgantara. Kabut subuh perlahan bergerak naik, mengambang tipis di atas pucuk-pucuk pohon teh yang hijau membentang sejauh mata memandang. Sinar matahari pagi yang pucat mulai menerobos celah-celah rimbun pinus tua, menjatuhkan berkas cahaya keperakan di atas lantai batu alam dapur belakang. Udara dingin pegunungan Jawa Barat yang menusuk kulit terasa hangat di sudut ini, dilingkupi aroma seduhan kopi luwak dan uap nasi putih yang baru matang.

Di dekat meja kayu besar tempat memotong sayur, tiga orang wanita sedang berkumpul. Suara tawa renyah sesekali terdengar, memecah kesunyian pagi yang biasanya kaku di villa tersebut. Bianca berdiri di sana, mengenakan celemek kain sederhana di atas kemeja katunnya. Jemari lentiknya bergerak teratur memotong wortel, membentuk potongan-potongan rapi yang presisi. Ketenangan dan keanggunan yang melekat pada tubuhnya tidak pernah luntur, bahkan ketika dia sedang memegang pisau dapur murah.

"Ih, Teh Gita mah kalau potong sayur rapi pisan, kayak yang ada di hotel-hotel bintang lima," celetuk Isah sambil terkekeh, tangannya sibuk memeras santan di dalam wadah baskom. "Teh Gita sudah jadi asisten hebat sekarang mah, bukan pelayan biasa kayak kami lagi."

Bianca menghentikan gerakan pisaunya sejenak. Dia menyunggingkan senyum tipis yang sangat tulus, senyuman yang melunakkan gurat ketegaran di wajah dewasanya.

"Jangan bicara begitu, Isah. Saya tetap Gita yang kemarin, tidak ada yang berubah," jawab Bianca, suaranya mengalun rendah dan lembut, sangat manusiawi tanpa ada nada merendahkan. "Kita sama-sama bekerja di sini untuk membantu pekerjaan Tuan Arlan. Tugas saya hanya kebetulan melibatkan berkas-berkas di atas meja, itu saja."

Minah yang sedang menata piring-piring porselen ikut menyahut dengan wajah yang beralih serius, meski suaranya tetap pelan. "Jujur ya, awalnya Mak Saroh sama kami berdua itu kaget banget waktu Tuan Arlan nyuruh mindahin barang-barang Teteh ke kamar sayap barat. Teteh tahu sendiri kan, itu area pribadi Tuan yang paling steril. Mantan istrinya dulu saja dilarang keras masuk ke sana setelah cerai. Tapi pas denger kalau Teteh bisa bantuin Tuan beresin urusan kantor, kami semua jadi kagum. Kemampuan Teh Gita hebat banget."

Bianca menunduk, menyembunyikan kilat taktis di matanya yang sempat mencuat karena ingatan masa lalunya sebagai mahasiswa bisnis manajemen terbaik di Surabaya. Di tempat terpencil ini, dia hanya ingin menebus kesalahan masa lalunya dengan cara hidup mandiri, jauh dari limpahan harta dinasti Adytama. Kedamaian sederhana bersama Minah dan Isah adalah kemewahan batin yang paling dia cari setelah bertahun-tahun terkurung di ruang sunyi penjara.

"Saya masih belajar banyak, Teh Minah," tutur Bianca, kembali melanjutkan potongannya dengan ritme yang teratur. "Kemampuan saya tidak ada seujung kuku dari apa yang dimiliki Tuan Arlan. Saya justru belajar banyak dari cara beliau mengambil keputusan dengan tegas."

Di balik pilar kayu jati yang membatasi koridor tengah dengan area dapur belakang, sesosok tubuh tegap berdiri bergeming. Arlan baru saja terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak setelah semalaman lembur memantau pergerakan bursa saham bersama Doni. Kaos polo hitamnya yang longgar dibiarkan terbuka di bagian kerah, menampilkan rahang tegas yang belum sempat dicukur rapi.

Niat awalnya turun ke lantai bawah adalah untuk mencari keberadaan asisten pribadinya untuk menanyakan laporan lanjutan dari otoritas agraria Jawa Barat. Langkah kakinya terhenti ketika indra pendengarannya menangkap suara tawa renyah yang terdengar sangat asing di dalam rumahnya yang dingin.

Arlan mengintip dari balik bayangan pilar. Matanya mengunci sosok Bianca yang sedang bersenda gurau bersama Minah dan Isah. Di sana, di antara uap masakan dapur yang sederhana, Arlan melihat Bianca tertawa lepas. Sudut-sudut bibir wanita itu terangkat sempurna, menampilkan binar kebebasan yang belum pernah Arlan lihat selama wanita itu bekerja di bawah pengawasannya. Senyum itu begitu lebar, begitu murni, dan memancarkan keanggunan seorang wanita yang benar-benar bahagia tanpa beban.

Arlan merasakan sudut bibirnya sendiri terangkat tipis, menciptakan senyuman samar yang jarang sekali muncul di wajah dinginnya.

Detik berikutnya, rasa hangat itu digantikan oleh sebentuk rasa sesak yang asing di dalam dadanya. Arlan terdiam, merenung dalam kesunyian koridor.

Kenapa dia bisa tersenyum begitu lepas ketika bersama mereka?

Pertanyaan itu berputar di kepala Arlan, memicu rasa cemburu yang halus namun tajam. Mengapa setiap kali wanita itu berada di dekatnya, senyum lebar itu menguap tanpa bekas? Bersamanya, Bianca selalu menjelma menjadi sosok Gita yang penuh kehati-hatian, menjaga jarak dengan ketat, seolah-olah setiap langkah di dekat Arlan adalah sebuah tekanan yang merenggut kebebasannya. Bersamanya, Gita selalu memakai topeng asisten yang sempurna, kaku, dan dilingkupi dinding pertahanan yang tebal.

Selama ini, Arlan mendekati Gita karena rasa penasaran yang ekstrem. Jiwa skeptisnya yang terluka akibat pengkhianatan Stella—yang hanya mengincar harta dan statusnya sebagai CEO Dirgantara Group—membuat Arlan menganggap semua wanita memiliki motif tersembunyi. Namun, Gita berbeda. Ketegaran wanita itu dan aura berkelas yang memancar dari balik seragam pelayannya telah menyulut obsesi posesif yang liar di dada Arlan. Dia ingin memiliki wanita itu, menguncinya di dalam villanya agar tidak ada satu pria pun yang bisa menyentuhnya.

Melihat senyuman tulus Bianca pagi ini di antara para pelayan bawahannya, perlahan-lahan ada sesuatu yang luluh di dalam hati Arlan. Obsesi gelap yang semula hanya didorong oleh rasa penasaran dan keinginan untuk "menguasai" mulai bergeser arah. Rasa itu meleleh, menjelma menjadi sebuah getaran cinta yang tulus dan mendalam.

Arlan menyadari bahwa dia tidak lagi hanya ingin memiliki tubuh atau kepatuhan Gita. Dia ingin menjadi alasan di balik senyuman lepas wanita itu. Dia ingin memberikan kebebasan yang sesungguhnya kepada Gita, bahkan jika itu berarti dia harus mempertaruhkan seluruh kekuasaan, bisnis, dan jabatan CEO yang selama ini dia agungkan di Jakarta demi menjaga senyum itu tetap utuh dari gangguan Mahendra dan Stella.

Arlan berdehem pelan, sengaja menimbulkan suara ketukan langkah kaki di atas lantai batu saat melangkah keluar dari balik pilar.

Seketika, tawa di area dapur terhenti. Minah dan Isah langsung menundukkan kepala dengan takzim, wajah mereka memucat cemas karena takut teguran atas kelalaian tugas pagi hari. Bianca pun langsung memutar tubuhnya, meletakkan pisau dapur, dan melangkah maju satu langkah dengan kepala yang sedikit tertunduk. Topeng kedisiplinannya telah kembali; senyum lebarnya lenyap dalam hitungan detik, digantikan oleh ekspresi Gita yang tenang, waspada, dan penuh kehati-hatian.

"Selamat pagi, Tuan Arlan," sapa Bianca, suaranya datar dan profesional, sangat berkelas namun terasa berjarak ribuan mil bagi Arlan. "Sarapan Anda sedang disiapkan. Apakah ada dokumen yang perlu saya bawa ke ruang kerja sekarang?"

Arlan menatap lekat-lekat ke arah sepasang mata jernih Bianca, meratapi hilangnya binar kebahagiaan yang baru saja dia saksikan dari kejauhan. Rasa ingin melindungi wanita ini kian mencengkeram erat isi dadanya.

"Ikut aku ke teras depan, Gita. Bawa kopiku ke sana," perintah Arlan pendek, suaranya bariton namun terdengar jauh lebih lembut dari biasanya, tanpa ada nada ketegasan yang mengintimidasi. Dia berbalik, melangkah menuju teras luas yang menghadap langsung ke hamparan kebun teh yang berkabut.

Beberapa menit kemudian, Bianca melangkah keluar menuju teras, membawa nampan berisi secangkir kopi hitam tanpa gula. Angin gunung yang dingin seketika menerpa ujung celemeknya, menerbangkan beberapa helai rambut panjangnya yang luput dari gulungan.

Arlan sedang berdiri menyandarkan lengannya di pagar pembatas teras batu, menatap gulungan kabut putih yang perlahan memudar diterpa matahari pagi. Begitu Bianca meletakkan cangkir di atas meja kaca, Arlan tidak membiarkan wanita itu berbalik pergi.

"Duduklah, Gita. Temani aku sebentar," ujar Arlan, matanya tetap menatap lurus ke depan.

Bianca sempat ragu sejenak, namun sifat dewasanya menuntunnya untuk menarik kursi besi tempa di samping Arlan dan duduk dengan posisi tegak yang sangat anggun.

"Ada perkembangan baru dari Pak Doni di Jakarta, Tuan?"

Arlan membalikkan tubuhnya, bersandar pada pagar pembatas sehingga dia bisa menatap penuh ke arah wajah Bianca. "Dewan komisaris menuntut rapat fisik besok pagi di Jakarta. Mahendra mulai menggunakan otoritas pajak wilayah untuk menekan pembukuan kita di hulu ini."

Bianca mengerutkan dahinya tipis, otak taktisnya langsung bekerja melakukan kalkulasi cepat. "Langkah Adytama Properti yang merilis dokumen lahan ulayat kemarin seharusnya sudah mengunci pergerakan mereka, Tuan Arlan. Mahendra tidak memiliki dasar hukum yang kuat lagi untuk menuduh Anda melakukan penggelapan."

"Aku tahu," Arlan memotong lirih, pandangannya merendah, menatap jemari Bianca yang bertumpu di atas pangkuannya sendiri. "Tapi komisaris tidak peduli dengan itu. Mereka hanya ingin reputasi Dirgantara Group bersih total dari isu moral tentang masa lalumu. Mereka memaksaku memilih antara mempertahankan posisiku sebagai CEO, atau menyerahkanmu kepada tim hukum mereka untuk didepak dari perusahaan."

Bianca menarik napas perlahan, mencoba mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi transisi emosi yang sudah dia perkirakan. "Tuan Arlan, jawaban saya tetap sama dengan kemarin. Demi kebaikan Dirgantara Group, Anda harus melepas saya. Kontrak kerja saya bisa dibatalkan kapan saja. Saya bisa kembali ke pekerjaan awal saya sebagai asisten rumah tangga. Anda tidak perlu mengorbankan bisnis yang Anda bangun belasan tahun demi seorang pelayan."

Mendengar kalimat pasrah yang keluar dari mulut Bianca, emosi Arlan yang telah melunak sepanjang pagi ini mendadak bergejolak hebat. Pria itu melangkah maju, berlutut dengan satu kaki di depan kursi Bianca—sebuah gestur yang teramat merendahkan ego seorang CEO besar di depan bawahannya. Kedua tangan kekar Arlan meraih kedua tangan Bianca, menggenggam jemari lentik wanita itu dengan kehangatan yang posesif namun sarat akan ketulusan yang teramat dalam.

"Dengar sekelumit kataku, Gita," bisik Arlan, suaranya parau, matanya yang tajam kini memancarkan binar kejujuran yang belum pernah dia perlihatkan pada wanita mana pun pasca-perceraiannya. "Aku tidak peduli lagi dengan jabatan CEO itu. Aku tidak peduli jika besok pagi dewan komisaris mencopot seluruh kekuasaanku di Jakarta. Selama ini aku mengira hidupku hanya tentang angka, bisnis, dan benteng pertahanan dari pengkhianatan harta. Tapi melihatmu berdiri di sini, melihat bagaimana kamu tegar menghadapi Stella, dan... melihat senyummu di dapur tadi..."

Arlan mempererat genggamannya, menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Bianca yang mulai bergetar karena syok. "Aku menyadari satu hal. Aku rela melepas seluruh Dirgantara Group jika itu adalah harga yang harus kubayar untuk memastikan kamu tetap aman di bawah perlindunganku. Aku tidak ingin memilikimu karena rasa penasaran lagi, Gita. Aku ingin bersamamu karena aku... aku tidak bisa membayangkan hidupku kembali ke dalam kedinginan yang dulu sebelum kamu datang."

Jantung Bianca berdesir hebat, pukulan emosional dari kalimat Arlan menghantam seluruh pertahanan logisnya hingga hancur berkeping-keping. Pria yang terkenal kejam di dunia bisnis ini baru saja menyatakan cinta tulus yang begitu murni, bersedia mengorbankan seluruh dinasti bisnisnya demi seorang wanita yang dia kira hanyalah pelayan miskin bernama Gita Ivara. Rasa bersalah yang teramat besar kini meremas ulu hati Bianca, membuat matanya berkaca-kaca menahan haru sekaligus ketakutan atas kebenaran identitasnya yang masih tersimpan rapat.

***

1
ms. S
cemburu bilang aja Arlan . tidak perlu mbulet🤭
Del Vina
kata aura berkelas di ulang terus thor🙏🤭
✦͙͙͙*͙*ᴍs.ʀ͠ᴇɴᴀ✨: makasih, nanti aku cek lagi 🤭
total 1 replies
@Tie
ealah arlan
gita br keluar penjara kq km kurung lg dlm rmh
💟노르 아스마💟
beghhh...ngekang banget sih 😄😄😄
Mukeseh
🤣🤣🤣
@Tie
nasibnya mahendra gmn thor
apa dipenjara jg sama spt stell
Mundri Astuti
ngomong" napa jadi muter" y thor si Arlan dan Bianca, ga da kemajuan
Tangsah Jagad: pertanyaan yg sama
total 4 replies
💟노르 아스마💟
lahhh ...provokatornya gk di habisin itu
Mukeseh
setela salah lawan woe setela setela 🤣🤣
Anonim
😍😍
Anonim
Mantap
ryuka
duuhhh bianca gimana cara nya arlan biar kamu luluhhh 🫠🫠🫠🤭🤭🤭
merry yuliana
jd dejavu sm.kirana yak..
Anonim
😍😍😍😍
Del Vina
cerita bagus cuma alurnya lambat
Tangsah Jagad
gak mungkin Raditya gak ngasih tau kalo di tanya arlan
Mukeseh
hubhihi 🤣🤣🤣🤣 othor pintar bikin q deg deg pyor 😂
Mundri Astuti
Arlan kamu main ke rumah Raditya, sapa tau ada foto keluarga Kirana dan keluarganya
Anonim
😍😍😍😍
@Tie
bianca kabur aja yg jauh ke luar negeri sekalian, kl msh di indo gk aman
mkn maen rahasia arlan makin posesif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!