Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 - Pembalasan Maya
Setelah keluar dari toko sembako, Maya memasukkan beberapa bungkus permen ke dalam tasnya dengan gerakan santai, seolah benda-benda itu hanyalah camilan biasa yang baru saja dibelinya. Lampu-lampu jalan mulai menyala terang, menerangi trotoar yang masih cukup ramai oleh orang-orang yang baru pulang kerja atau sekadar berjalan menikmati suasana malam. Udara malam terasa hangat, sementara suara kendaraan yang berlalu-lalang membentuk latar yang nyaris konstan di sekitar mereka.
Di sampingnya, Bobby masih menatap dengan ekspresi bingung. Sejak tadi ia mengikuti Maya tanpa benar-benar memahami apa yang sedang direncanakan gadis itu. Semakin lama dia mengenal Maya, semakin sering dirinya merasa bahwa ia sedang terseret ke dalam skenario yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
“Jadi ini serius?” tanyanya akhirnya.
“Ya iyalah!" jawab Maya santai.
“Lu mau gue kasih ini ke Jamie?”
“Iya.”
“Terus gue bilang apa?”
Maya berjalan santai menyusuri trotoar tanpa terlihat ragu sedikit pun. Langkahnya ringan, seolah semua yang sedang direncanakannya merupakan hal yang sangat sederhana.
“Bilang itu barang yang dia cari. Racun yang ampuh buat bunuh orang secara perlahan!"
Bobby langsung berhenti melangkah. Ia memandangi punggung Maya dengan ekspresi tidak percaya.
“Tapi ini permen!"
“Dia nggak tahu itu!"
“Kalau ketahuan?”
Maya menoleh sekilas. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Makanya akting yang bagus.”
Bobby mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia benar-benar tidak tahu harus tertawa atau menangis menghadapi situasi seperti ini.
“Kenapa hidup gue berubah jadi kayak pemain sinetron kriminal?”
“Karena lu kenal gue.”
“Itu bukan jawaban yang menenangkan.”
Maya terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar ringan, tetapi justru membuat Bobby semakin curiga. “Tenang aja. Gue cuma mau lihat seberapa jauh dia bakal melangkah.”
Bobby menghela napas panjang. Kadang-kadang dia merasa Maya jauh lebih menyeramkan ketika tersenyum dibandingkan saat marah terang-terangan. Saat marah, setidaknya orang tahu apa yang sedang dipikirkannya. Namun saat tersenyum seperti sekarang, biasanya ada sesuatu yang sedang direncanakan.
Malam semakin larut ketika Maya akhirnya kembali ke rumah besar keluarga itu. Rumah yang megah, nyaman, dan tampak sempurna dari luar. Namun bagi Maya, bangunan itu tetap menyimpan terlalu banyak kenangan buruk untuk disebut rumah.
Begitu pintu utama terbuka, suasana yang sama langsung menyambutnya. Terlalu ramah dan terasa palsu.
Norma yang sedang duduk di ruang keluarga segera berdiri ketika melihat Maya masuk. Wajah wanita itu langsung berubah cerah.
“Maya? Kamu sudah pulang?”
Maya melepas sepatu tanpa menjawab terlebih dahulu. Ia meletakkannya dengan santai sebelum melangkah masuk lebih jauh ke dalam rumah.
“Capek?” tanya Norma lagi.
“Lumayan.”
“Ada yang mau dimakan?”
“Nggak!"
Norma tetap mencoba tersenyum meskipun respons yang diterimanya sangat singkat. “Kalau minum?”
Maya hampir tersenyum. Inilah bagian yang mulai menghibur. Ia berjalan santai menuju sofa ruang keluarga lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa empuk itu. Dengan posisi yang sangat nyaman, dia menatap Norma dan berkata seolah memberikan perintah biasa.
“Bikinin minuman boleh lah," pinta Maya.
Norma buru-buru mengangguk. “Iya. Tunggu sebentar.”
Maya menyandarkan tubuh dengan santai ke sofa. Sementara itu, Norma langsung berjalan menuju dapur. Langkahnya cepat, hampir seperti seseorang yang takut membuat kesalahan.
Dari lantai atas, Ziva yang baru turun tangga memperhatikan pemandangan itu dengan heran. Ia menghentikan langkahnya beberapa anak tangga sebelum dasar tangga.
“Mama ngapain?”
“Bikinin minuman buat Maya.”
Ziva langsung terdiam. Beberapa bulan lalu, pemandangan seperti ini mustahil terjadi. Dulu Norma tidak pernah memperlakukan Maya dengan cara seperti itu. Bahkan bisa dibilang kebalikannya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Norma kembali sambil membawa segelas minuman dingin. “Nih minumannya. Es sirup kesukaanmu."
Maya menerimanya tanpa banyak bicara. Lalu meneguk sedikit.
Hening sejenak. Tapi Maya langsung memuntahkan minuman itu ke tempat sampah terdekat.
Norma membeku di tempat. Ziva melongo.
“Kenapa?” tanya Norma.
“Ini manis banget!” Maya mengernyit seolah baru saja meminum sesuatu yang sangat mengganggu. “Gula segini mau bikin diabetes satu RT?”
Norma terlihat kaget. “Maaf. Mama bikin lagi.”
“Iya, bikin lagi!" titah Maya.
Tanpa membantah, Norma kembali menuju dapur..Begitu wanita itu menghilang dari ruang keluarga, Ziva langsung menatap Maya dengan tatapan tidak percaya.
“Lo serius begini?”
“Apa?”
“Itu keterlaluan!”
Maya mengangkat alis. “Keterlaluan?”
“Iya.”
“Masa?”
“Jelas banget!”
Maya menatap Ziva selama beberapa detik. Lalu tiba-tiba ekspresinya berubah total. Bibirnya bergetar sedikit. Matanya mulai berkaca-kaca. Bahkan bahunya tampak turun seperti seseorang yang sedang menahan luka lama.
Ziva langsung bengong. “Maya?”
Suara Maya terdengar jauh lebih lirih dari sebelumnya. “Oh... jadi ini keterlaluan?”
Ziva mulai merasa ada sesuatu yang salah. “Maksud gue—”
“Baru tahu ya rasanya?”
“Hah?”
Maya menunduk. “Dulu waktu gue disuruh makan sisa makanan, itu nggak keterlaluan?”
Ziva langsung diam.
"Waktu gue dihina setiap hari? Waktu gue dikunci di kamar? Masa satu gelas minuman aja udah disebut keterlaluan?”
Suasana ruang keluarga berubah seketika. Rasa kesal yang tadi muncul di wajah Ziva perlahan menghilang, digantikan oleh perasaan bersalah yang sulit dijelaskan.
“Eh... gue nggak bilang gitu.”
“Enggak apa-apa.”
Maya mengusap matanya. Aktingnya sangat meyakinkan. Kalau ada orang luar yang melihat, mereka pasti akan percaya bahwa Maya benar-benar sedang terluka.
“Memang salah gue kok.”
Ziva semakin panik. Padahal beberapa detik lalu dia merasa Maya yang salah. Sekarang justru ia yang merasa seperti penjahat.
“Aku nggak maksud begitu.”
Maya mengangguk pelan. “Gue cuma pengen dibayar sedikit aja.”
“Dibayar?”
“Atas semua yang pernah kalian lakukan.”
Kali ini Ziva benar-benar tidak bisa menjawab. Karena untuk pertama kalinya, dia menyadari bahwa kemarahan Maya bukan sesuatu yang muncul tanpa alasan. Semua yang terjadi sekarang hanyalah akibat dari masa lalu yang belum selesai.
Tak lama kemudian Norma kembali. Kali ini ia membawa gelas baru.
Maya menerimanya..Norma tampak jauh lebih hati-hati dibanding sebelumnya.
“Sudah aku kurangi gulanya.”
Maya menyesap sedikit. Lalu terdiam. Norma menunggu. Ziva menunggu. Ruangan terasa sangat sunyi.
Lagi-lagi Maya memuntahkan minuman itu. Norma nyaris menjatuhkan nampan yang dibawanya.
“Sekarang apa lagi?”
“Terlalu hambar.”
“Apa?”.Norma menatap gelas itu..Kemudian menatap Maya..Lalu kembali menatap gelas. Ekspresinya seperti seseorang yang sedang berusaha memahami soal matematika tingkat tinggi.
“Barusan katanya kemanisan," tukas Norma?
“Iya.” Maya menjawab dengan tangan bersidekap.
“Sekarang hambar?"
“Iya.”
“Tapi—”
“Makanya bikin yang pas!"
Norma memejamkan mata sesaat. Ia tampak berusaha mengatur napas, mengatur emosi, dan mungkin juga mengatur kewarasannya sendiri.
“Baiklah.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia kembali menuju dapur.
Ziva langsung memegangi kepalanya..“Maya!"
“Hm?”
“Lu ngerjain Mama ya?”
Maya tersenyum polos. “Enggak kok.”
“Kebohongan paling jelas yang pernah gue dengar.”
Maya hanya terkekeh kecil..Saat itulah suara langkah kaki terdengar dari tangga. Semua orang menoleh ke arah sumber suara.
Jamie baru keluar dari kamarnya. Rambutnya masih sedikit berantakan. Wajahnya menunjukkan ekspresi seseorang yang baru saja terganggu oleh keributan di luar kamar.
“Ribut amat kalian," komentarnya. Lalu ia melihat Norma berjalan menuju dapur sambil membawa gelas.
“Ada apa?”
Ziva langsung menunjuk ke arah Maya. “Itu.”
Jamie menoleh..Maya sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya.
“Dia apain Mama?”
“Minta dibikinin minuman dua kali.”
Jamie langsung mengernyit. “Benarkah?”
“Iya.”
“Dan Mama nurut?”
“Iya.”
Wajah Jamie langsung berubah jelek. Maya meliriknya. Tatapan mereka bertemu.
Dalam sekejap, Jamie langsung teringat ancaman Maya beberapa hari lalu. Tentang polisi dan penjara. Rasa kesal yang muncul di dalam dirinya langsung bercampur dengan ketakutan. Rahangnya mengencang. Kedua tangannya bahkan sempat mengepal. Namun ia menahan diri.
Maya memperhatikan semua perubahan ekspresi itu dan hampir tertawa. Rasanya sangat menghibur melihat seseorang yang dulu begitu percaya diri sekarang harus berhati-hati setiap kali berbicara dengannya. Orang yang dulu merasa berkuasa sekarang justru harus menelan semuanya.
“Kenapa lihat-lihat?” tanya Maya santai.
“Enggak apa-apa.”
“Oh.”
Jamie langsung memalingkan wajah. Jelas sekali ia sedang menahan emosi. Maya menikmati setiap detiknya.
Tak lama kemudian Norma muncul lagi dari dapur. Kali ini ia membawa gelas ketiga dengan ekspresi yang sangat serius. Wajahnya terlihat seperti seorang siswa yang sedang menghadapi ujian nasional.
“Silakan..."
Maya menerima gelas itu. Norma menunggu. Jamie juga. Ziva juga. Bahkan suasana rumah mendadak terasa seperti sidang pengadilan yang sedang menunggu keputusan hakim.
Maya menyesap sedikit. “Oke.”
Norma hampir menangis lega.
“Bagus?”
“Lumayan.”
Norma langsung mengembuskan napas panjang. Seolah beban besar baru saja terangkat dari pundaknya. Sementara Jamie terlihat semakin kesal melihat semuanya. Namun sebelum ada yang sempat mengatakan apa pun lagi, bel pintu berbunyi. Semua orang langsung menoleh.
“Hm?” gumam Norma.
“Malam-malam begini?” ujar Ziva.
Jamie mengernyit. “Biar aku yang lihat.”
Ia berjalan menuju pintu depan. Langkahnya terdengar jelas di tengah suasana rumah yang mendadak hening.