NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: INVESTIGASI GAUN MERAH

Fajar menyingsing di atas rumah aman, namun bagi Alesha, malam itu belum benar-benar berakhir.

Saat Matteo terlelap di bawah pengaruh kelelahan pasca operasi kecil semalam, Alesha duduk di teras belakang yang menghadap hutan pinus.

Di tangannya, terdapat sebuah objek kecil yang ia temukan tersangkut di lipatan gaunnya yang robek saat mereka berebut masuk ke mobil di Trastevere.

Sebuah kancing perak dengan ukiran lambang burung phoenix yang sangat spesifik.

Alesha mengamati kancing itu di bawah sinar matahari pagi. Sebagai seorang desainer, matanya adalah mikroskop untuk detail tekstil dan aksesori.

Ia tahu persis siapa yang memproduksi kancing seperti ini. Ini bukan produk massal. Ini adalah signature dari "L’Eredità di Roma", butik penjahit pria paling elit sekaligus saingan berat keluarga Al-Ricci dalam hal prestise sosial.

"Kancing ini bukan milikmu, Matteo," bisik Alesha pada dirinya sendiri.

Ia tahu "L’Eredità" dikelola oleh keluarga Cassano, musuh bebuyutan keluarga Al-Ricci yang telah lama bersaing dalam perebutan pengaruh ekonomi di Roma.

Jika kancing ini jatuh dari jas sang penembak, maka penyerang semalam bukan sekadar tentara bayaran jalanan, melainkan seseorang yang memiliki akses ke kelas atas.

Alesha berdiri, rasa lelahnya digantikan oleh adrenalin yang membara. Matteo mungkin terluka, tapi dia masih punya akal sehat dan insting yang tak bisa dihentikan oleh peluru mana pun.

Beberapa jam kemudian, sebuah taksi berhenti di depan bangunan megah "L’Eredità di Roma" di Via Condotti.

Alesha turun dengan penampilan yang sangat berbeda. Ia mengenakan kacamata hitam besar, topi wide-brimmed yang dramatis, dan mantel trench yang menutupi gaun robeknya yang kini telah ia permak sedikit dengan sisa-sisa kain di rumah aman.

Ia melangkah masuk ke butik itu dengan dagu terangkat, memancarkan aura wanita kaya yang sangat tidak sabar dan memiliki terlalu banyak uang untuk dibelanjakan.

"Selamat siang, Nyonya. Ada yang bisa kami bantu?" seorang pelayan butik dengan setelan jas rapi menyambutnya dengan senyum yang dipaksakan.

Alesha tidak membalas senyumnya. Ia justru melepaskan kacamatanya dengan gerakan kasar dan menunjuk ke arah deretan jas sutra di rak depan.

"Warna apa ini? Kunyit? Aku minta warna emas matahari terbenam, bukan warna muntah bayi!" teriak Alesha, suaranya menggema di seluruh butik yang biasanya sunyi dan tenang.

"Ma-maaf, Nyonya, ini adalah koleksi terbaru dari Milan—"

"Aku tidak peduli itu dari Milan atau dari neraka!" Alesha mulai mengobrak-abrik rak baju.

Ia menarik beberapa potong jas dan menjatuhkannya ke lantai.

"Kainnya kasar! Jahitannya seperti dikerjakan oleh anak sekolah dasar! Di mana pemilik tempat ini? Aku ingin memesan jas untuk selingkuhanku, dan aku ingin yang terbaik, bukan sampah ini!"

Keributan itu segera menarik perhatian manajer butik yang keluar dari ruang belakang dengan wajah panik.

"Nyonya, harap tenang. Kita bisa membicarakan ini di ruang VIP."

"Tenang? Bagaimana aku bisa tenang jika seleraku dihina oleh tumpukan kain perca ini?!" Alesha terus beraksi.

Ia berjalan menuju meja kasir yang terbuat dari marmer gelap, tempat ia melihat sebuah buku besar bersampul kulit hitam. Buku catatan pesanan khusus pelanggan VVIP.

Alesha sengaja menyenggol sebuah vas bunga kristal besar di dekat meja tersebut hingga jatuh dan pecah berkeping-keping.

"O-M-G! Lihat apa yang kalian lakukan! Lantai kalian terlalu licin!" teriak Alesha sambil pura-pura tersandung ke arah meja kasir.

Saat manajer dan para pelayan sibuk membersihkan pecahan kristal dan memohon maaf padanya, Alesha menggunakan kesempatan itu. Dengan kecepatan tangan yang ia asah saat masih sering mencopet kain sisa di pasar loak, ia membuka buku hitam itu.

Jemarinya membalik halaman dengan cepat. Ia mencari catatan pesanan untuk kancing phoenix perak.

Halaman demi halaman... hingga ia menemukannya. Pesanan khusus untuk jas custom dengan kancing perak eksklusif.

Namun, matanya tidak terpaku pada nama pemesan jasnya, melainkan pada kolom "Penerima Tagihan" dan "Nama Referensi" yang tertulis di bagian bawah.

Darah Alesha seketika membeku.

Di sana, tertulis dengan tinta emas yang elegan: Referenced by: Kiara.

Alesha menutup buku itu tepat saat sang manajer kembali berdiri.

Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena akting, tapi karena horor yang nyata. Kiara. Kakaknya yang menghilang, kakaknya yang seharusnya sudah mati atau setidaknya bersembunyi karena ketakutan, ternyata adalah orang yang merekomendasikan musuh bisnis Matteo untuk melakukan pesanan di sini.

"Nyonya? Apakah Anda baik-baik saja?" tanya manajer itu, bingung melihat perubahan ekspresi Alesha yang mendadak pucat.

Alesha menarik napas dalam-dalam, mengembalikan topeng bar-barnya sejenak.

"Tempat ini tidak layak untuk uangku. Aku akan ke butik sebelah. Setidaknya mereka tahu cara menjahit kancing dengan benar!"

Ia berbalik dan berjalan keluar dari butik dengan langkah cepat, meninggalkan para pelayan yang kebingungan di tengah kekacauan yang ia ciptakan.

Begitu sampai di gang sepi, Alesha menyandarkan tubuhnya ke dinding. Napasnya tersengal.

"Kiara... kau bekerja sama dengan mereka?" bisiknya dengan nada tak percaya.

Selama ini, ia mengira Kiara adalah korban. Ia mengira kakaknya melarikan diri karena ditekan oleh keluarga Al-Ricci.

Namun, bukti di buku itu menunjukkan hal lain. Kiara bukan hanya hidup, dia aktif melakukan aliansi. Dia bekerja sama dengan musuh bisnis Matteo untuk melakukan penembakan semalam.

Artinya, penembakan di Trastevere bukan hanya ditujukan pada Matteo. Itu juga ditujukan padanya. Kiara mencoba melenyapkan adiknya sendiri bersama dengan suami kontraknya.

"Bajingan," desis Alesha, air mata kemarahan menggenang di matanya.

"Kau sudah membuangku ke kandang singa, dan sekarang kau mencoba membakar kandangnya bersamaku di dalam?"

Alesha menggenggam kancing perak itu hingga telapak tangannya terasa perih. Rasa iba yang ia rasakan untuk kakaknya selama berbulan-bulan ini menguap, digantikan oleh rasa haus akan keadilan yang liar.

Jika Kiara ingin bermain kotor di dalam kegelapan Roma, maka Alesha akan memastikan dia terbakar oleh api yang dia nyalakan sendiri.

Ia harus kembali ke rumah aman. Ia harus memberitahu Matteo. Perang ini bukan lagi tentang melindungi bisnis atau sekadar bertahan hidup dari penjahat anonim. Ini adalah pengkhianatan darah. Dan di dunia Al-Ricci, pengkhianatan darah hanya bisa dibayar dengan satu hal.

Alesha menghentikan sebuah taksi dengan gerakan kasar. "Ke pinggiran utara. Cepat! Aku akan bayar tiga kali lipat jika kau tidak berhenti di lampu merah!"

Sepanjang perjalanan, Alesha menatap pemandangan kota Roma yang berlalu dengan cepat. Pikirannya dipenuhi dengan gambaran Kiara dan Matteo.

Ia menyadari bahwa ia berada di tengah-tengah konspirasi yang jauh lebih besar dan lebih busuk daripada yang ia bayangkan.

Namun, satu hal yang pasti, mereka telah meremehkan seorang gadis yang terbuang ini.

Dia mungkin mengenakan sutra sekarang, tapi di balik sutra itu, tetap ada jiwa bar-bar yang tidak akan ragu untuk menghancurkan siapa pun yang mencoba menyentuh apa yang telah menjadi miliknya. Termasuk kakaknya sendiri.

1
Ani Basiati
lanjut thor💪💪💪
Yoyoh Rokayah
lanjut thor
Ani Basiati
lanjut thor 💪💪💪
Yoyoh Rokayah
double up dong thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!