Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.
Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…
Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.
Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.
Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…
Akan merasakan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Luka Yang Menjadi Cinta.
Hari demi hari berlalu begitu cepat.
Kehamilan Liora semakin terlihat. Perutnya kini membesar, membuat geraknya terbatas dan bahkan berjalan pun terasa berat.
Sementara itu, perusahaan keluarga di Italia kini sepenuhnya dikelola oleh tiga keponakannya: Viera, Viola, dan Viora Wiliam Anderlecht. Ketiganya baru saja menyelesaikan kuliah dan memutuskan membantu tante mereka menjalankan bisnis besar keluarga Anderlecht.
Di salah satu kantor pusat, seorang gadis berparas anggun, berwibawa, namun berkesan dingin, duduk di ruang kerjanya. Dialah Viora Wiliam Anderlecht, putri Victor dan Melinda Wiliam Anderlecht.
“Nyonya Viora, Anda ada pertemuan dengan Tuan Robert Pattinson,” kata asistennya, Stella.
Viora mengangguk pelan. “Baik. Persilakan masuk.”
Tak lama kemudian Robert Pattinson muncul. Begitu melihat Viora berjalan di sampingnya menuju ruang rapat, tatapannya terpaku. Dalam hati, ia membatin bahwa ketenangan dan sikap dingin Viora mengingatkannya pada Liora namun justru itulah yang membuatnya menarik.
Di Ruang Meeting
Heron Wiliam Anderlecht sudah duduk bersama asistennya, Leon.
“Selamat datang, Tuan Robert,” ujar Heron ramah.
“Terima kasih, Tuan Heron,” balas Robert.
Heron kemudian memperkenalkan cucunya. “Viora yang akan memimpin pertemuan ini.”
Dengan tenang, Viora berdiri dan memulai presentasi. Suaranya tegas, jelas, dan tidak bertele-tele. Heron diam-diam merasa bangga cara bicara dan pembawaannya mencerminkan kuatnya darah Anderlecht dalam dirinya.
Robert sendiri tidak bisa mengalihkan pandangan. Ia terkesima bukan hanya oleh isi presentasi, tetapi juga oleh aura Viora yang tenang namun kuat.
Setelah diskusi cukup panjang, meeting pun selesai.
“Terima kasih atas kerja sama yang memuaskan,” ujar Robert.
Ia menatap Viora sedikit lebih lama. “Dan kinerja Anda luar biasa, Nyonya Viora.”
Tak bisa disangkal, matanya sama sekali tidak lepas dari gadis itu.
Setelah berpamitan, Viora meninggalkan kantor lebih dulu.
Di Jalan
Saat berkendara, Viora melihat sesuatu yang mencurigakan mobil Robert sedang dikejar sebuah kendaraan lain. Tanpa ragu, ia mengikuti mereka hingga berhenti di jalan sepi.
Dua pria turun dan langsung menyerang Robert. Meski mencoba melawan, jelas Robert bukan lawan bagi mereka. Ketika salah satu pria hendak melukainya…
"BUGH!"
Viora muncul dan menendang pria itu keras. Pertarungan terjadi cepat dan agresif. Robert hanya bisa tertegun melihat betapa terlatihnya Viora. Namun keadaan semakin berbahaya ketika salah satu penyerang mengeluarkan pistol dan menembak ke arah Robert.
Viora spontan menarik Robert ke dalam pelukannya. Peluru itu meleset.
Dengan sigap, ia meraih pistolnya dan membalas tembakan.
*Dor! Dor! Dor!*
Pria itu roboh tak bernyawa.
Cipratan darah mengenai tubuh Viora. Robert, yang masih dalam dekapan gadis itu, bisa merasakan detak jantungnya berdegup kencang.
“Maaf, Tuan Robert, saya seharusnya tidak" ucap Viora, namun kata-katanya terhenti.
Robert tiba-tiba mengecup bibirnya lembut.
Viora terkejut, namun tubuh dan hatinya tidak menolak. Ada getaran aneh yang muncul dalam dirinya. Ciuman itu singkat namun dalam, sebelum keduanya saling melepaskan.
Napas mereka memburu.
Robert menyentuh kening Viora dengan bibirnya. “Viora Wiliam Anderlecht… aku, Robert Pattinson, mencintaimu.”
Wajah Viora memerah. Ia bingung dengan perasaan yang baru muncul dan belum pernah ia kenali sebelumnya.
“Aku… tidak tahu. Aku juga bingung dengan diriku sendiri,” ucapnya jujur. “Sejak di meeting tadi… aku tidak bisa melepaskan pandanganku darimu.”
Robert tersenyum.
“Aku menyukaimu sejak pertama melihatmu.”
Belum sempat ia melanjutkan, Viora tiba-tiba mengecup bibirnya lagi kali ini lebih dalam, lebih jujur.
Setelah itu, ia memeluk Robert erat.
“Aku juga menyukaimu, Om…”
Robert mengusap pipi gadis itu lembut. “Aku tak peduli kapan kamu membalas perasaanku. Yang penting, kamu ada di sisiku sekarang.”
Di Mansion Robert
“Selamat datang, Tuan Robert,” sambut kepala pelayan.
Viora melihat sekeliling. “Mansion Om sangat indah… hampir mirip dengan mansion Kakek di Italia atau rumah Tante Liora di Amerika.”
Robert tersenyum dan mempersilakannya masuk. Ia menjelaskan bahwa ia tinggal sendirian bersama para pelayan.
Malam semakin larut. Ketika Viora hendak pulang, ia berkata, “Om harus pulang sekarang, Kakek pasti khawatir.”
Robert menghela napas berat. “Aku ingin kamu di sini lebih lama…”
Namun ia tidak memaksa. Viora mendekat dan mencium bibir serta keningnya. Robert memeluknya dengan erat.
Viora kemudian mengeluarkan sebuah gelang berlian delima biru dengan ukiran nama "Robert Pattinson".
“Ini untuk Om,” ucapnya sambil memakaikannya.
Robert tersenyum hangat. “Aku akan menjaganya.”
Saat Viora hendak pergi, Robert memeluknya dari belakang.
“Terima kasih… aku mencintaimu, Viora Wiliam Anderlecht.”
Viora tersenyum tipis. “Aku pulang dulu, Om. Kakek pasti menunggu.”
Robert melepaskannya perlahan.
“Baiklah. Hati-hati pulang.”
Viora pun meninggalkan mansion itu dengan hati yang tak lagi sama seperti sebelumnya.