NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Terjerat Cinta Pelayan Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cintapertama
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.

Suatu hari keduanya bertemu.

Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.

Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.

Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.

Apakah pria itu akan berhasil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Delapan

"Aku merasa... kau... adalah anakku."

Kata-kata itu menggantung cukup lama di udara. Menyisakan keheningan panjang diantara mereka.

Tatapan Alya membeku seketika. Napasnya tertahan, sementara kata-kata Arkan terngiang dalam kepalanya, tidak mudah untuk dicerna, namun juga tidak bisa diabaikan.

"Apa... ?" suara Alya nyaris tidak terdengar, bergetar halus. "Apa maksud Anda bicara seperti itu?"

Arkan menghela napas panjang. Sorot matanya penuh keraguan. "Aku juga tidak sepenuhnya mengerti, Alya. Karena itu... aku ingin tahu, di mana ayahmu?"

Pertanyaan itu membuat Alya terdiam. Ia juga tak tahu harus menjawab apa. Karena ia sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.

"Ayahku..." Alya menunduk, jemarinya saling bertaut gelisah. "Aku tidak tahu di mana dia. Karena aku... tidak pernah melihatnya sejak lahir."

Arkan tampak mengernyit. "Maksudmu?"

"Ibu bilang... ayahku pergi ketika ibu sedang mengandung." ucapnya lirih, seolah menyimpan luka lama yang jarang tersentuh. "Aku bahkan tidak tahu namanya, atau pun melihat fotonya. Ibu tidak pernah benar-benar menceritakan tentang ayah padaku." ucapnya terhenti sejenak.

Tatapannya mulai berkaca-kaca. Dengan suara yang bergetar, ia kembali melanjutkan perkataannya. "Aku... juga ingin tahu tentang ayahku... Tapi, aku tidak ingin membuat ibuku merasa sedih."

Arkan melangkah lebih dekat ke arahnya, namun ia menyisakan jarak yang aman baginya. Ia hanya tidak ingin membuat gadis itu ketakutan atau pun merasa terpojok.

"Alya." ucapnya melembut, kali ini tanpa memaksa. "Tidak ada salahnya kalau kau ingin tahu. Itu hakmu."

Alya menggeleng pelan. "Tapi... setiap kali aku bertanya, Ibu selalu menghindar. Aku bisa melihat dari matanya... ada luka di sana. Aku takut, jika membuat ibu kembali mengingat luka itu."

Tangisnya mulai pecah, tetesan air mata mulai mengalir tanpa bisa ia tahan. "Ibu... sakit. Dia akan menjalani operasi bulan depan. Aku tidak ingin membuatnya stres dan kehilangan semangatnya."

Arkan terdiam. Ada sesuatu yang mencengkram dadanya begitu kuat. Rasa bersalah dan ketakutan bercampur menjadi satu.

Ia menghela napas kembali. "Bagaimana jika ternyata aku... adalah ayahmu?"

Arkan memberanikan diri untuk bertanya. Walau ia tahu, mungkin Alya tidak akan langsung menerima hal itu begitu saja.

Alya menggeleng pelan. Tangannya terkepal, napasnya mulai terdengar tidak teratur. "Aku tidak tahu... aku bingung." gumamnya lirih.

Air matanya mengalir tanpa bisa ia hentikan. Ada rasa sesak di dadanya, bukan karena sedih, melainkan karena menahan amarahnya yang tiba-tiba meluap.

"Tidak!" suaranya meninggi. "Anda bukan ayahku. Anda tidak bisa tiba-tiba datang dan mengatakan hal seperti itu!"

Arkan tertegun. Tapi ia bisa mengerti dengan kemarahan gadis itu.

"Alya, dengarkan aku-"

"Cukup." potong Alya cepat. "Selama ini Anda tidak pernah ada... lalu sekarang datang dan mengaku sebagai ayahku?"

Ia menghela napasnya yang memburu. "Aku tidak butuh itu!"

Tanpa menunggu reaksi Arkan, Alya berlari meninggalkan ruangan itu.

"Alya!" panggil Arkan, berusaha mengejarnya.

Namun, Alya sudah lebih dulu pergi.

Di luar, langkahnya tidak terarah. Pandangannya kabur oleh air mata yang tidak berhenti mengalir. Ia terlihat marah dan merasa kesal. Ia tidak tahu apapun tentang masa lalunya. Semua orang seolah sengaja menutupi hal itu darinya.

Bruk!

Ia menabrak tubuh seseorang. Tubuhnya nyaris terhuyung, namun sepasang tangan sigap menahannya agar tidak jatuh.

"Hati-hati." suara bariton itu terdengar tidak asing baginya.

Alya mendongak.

Seorang pria bertubuh tegap berdiri di hadapannya. Tatapannya tajam, namun tidak dingin. Dan wajahnya tampak familiar baginya.

"Tuan Max." ucapnya.

"Kenapa kau berlari-lari seperti itu? Apa ada yang mengejarmu?" tanya Maxime pelan.

"Alya!"

Suara Arkan yang memanggilnya, kembali terdengar. Alya tidak mau bertemu dengannya saat ini.

Ia meraih lengan Maxime. Dengan wajah panik dan ketakutan, ia meminta tolong padanya, untuk membantunya bersembunyi, menghindari pria itu.

"Apa dia mengganggumu?" tanya Maxime, seolah hendak memastikan sesuatu.

Alya menggeleng cepat. "Tidak. Tapi, aku tidak ingin bertemu dengannya. Tolong bantu aku bersembunyi." pintanya dengan suara yang bergetar.

Maxime tampak mengernyit, lalu menoleh sekilas ke arah asal suara yang memanggil Alya.

Walaupun tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi sebenarnya, Maxime membantu Alya untuk bersembunyi.

"Ikut aku." ucapnya singkat.

Tangannya yang besar, dengan cepat meraih pergelangan tangan Alya, lalu menariknya menjauh.

Mereka berbelok cepat, masuk ke sebuah ruangan secara asal.

Di luar, Arkan tampak berhenti. Ia memegang jantungnya yang berdetak lebih kencang dan terasa sedikit nyeri karena kelelahan setelah berlari. Pandangannya menyapu sekitar, mencari keberadaan Alya.

Namun Alya... sudah menghilang dengan cepat dari pandangannya.

Ia akhirnya menyerah, berhenti mengejarnya. Alya mungkin perlu waktu untuk menenangkan diri. Gadis itu pasti sangat terkejut menerima hal ini.

*

*

Di balik ruangan yang gelap itu, Maxime tampak bersandar pada dinding. Sementara Alya berdiri di depannya. Jarak mereka cukup dekat, bahkan terlalu dekat, nyaris menempel pada tubuhnya.

Maxime bahkan bisa merasakan kehangatan tubuh gadis itu ditengah dinginnya ruangan.

Tangannya masih menggenggam erat tangan Alya yang dingin.

Napas Alya perlahan mulai terdengar teratur, namun kedekatan itu justru membuat jantung Maxime berdebar tak menentu.

Aroma bunga yang menguar dari tubuh gadis itu, membuat tubuhnya memanas seketika. Ada desiran aneh yang menjalar di dadanya.

Maxime mencoba mundur, namun sepertinya mereka terjepit di antara dinding dan sesuatu.

Tempat apa ini sebenarnya? Pikirnya.

Ruangan yang gelap, membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas.

Pergerakan itu malah membuat tubuh mereka semakin dekat. Telapak tangan Alya menekan dada bidangnya, tepat diatas jantung pria itu.

Seketika keduanya membeku.

Alya tersentak pelan, matanya melebar saat menyadari posisinya. Wajahnya memerah dalam sekejap. Namun, ia tidak bisa mundur karena terhalang sesuatu.

"Jangan terus bergerak, Alya." ucap Maxime pelan. Suaranya terdengar bergetar.

"T-tapi..." Alya masih berusaha untuk menggeser tubuhnya, meski ruang sempit itu membuatnya sulit bergerak.

Gerakannya malah membuat jarak di antara mereka semakin tidak terkendali.

"Alya!" nada suara Maxime meninggi tanpa sadar.

Tubuh gadis itu yang terus bergerak-gerak, membuat Maxime kesulitan menjaga jarak. Napas pria itu mulai tidak beraturan, bukan karena marah, melainkan karena situasi yang semakin sulit ia kendalikan.

Refleks, tangannya bergerak. Ia menahan bahu Alya, agar gadis itu berhenti bergerak.

"Diam! Jangan bergerak." perintahnya tegas, seolah tidak ingin dibantah.

Alya membeku seketika. Keduanya terdiam. Jarak mereka benar-benar nyaris tanpa ruang. Menempel dengan sempurna.

Maxime berusaha keras untuk menahan diri. Detak jantungnya berdetak dengan cepat karena gadis kecil di hadapannya itu.

Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Alya.

Perlahan genggaman di bahunya melonggar. "Kau membuatku kesulitan." gumam Maxime pelan, hampir tidak terdengar, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Maksudnya?" tanya Alya, yang ternyata masih mendengar perkataannya.

Maxime terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangannya. "Bukan apa-apa."

"Sekarang, kita coba bergerak secara bersamaan. Mengerti?" ucapnya pelan, namun tegas.

Alya mengangguk cepat, meski wajahnya masih memerah.

Mereka saling menatap sejenak, seolah menyamakan ritme.

"Satu... dua... tiga..."

Mereka bergerak bersamaan. Walaupun sedikit sulit awalnya, namun keduanya berhasil keluar dari ruangan yang sempit itu.

Jarak di antara keduanya kembali melebar. Namun, tidak dengan debaran jantung Maxime yang masih berdebar kencang.

🌺🌺🌺

1
Xlyzy
Alya yang kuat ya, semoga Oprasi ibu mu berhasil
Miu.Nuha
aishh wanginya itu lohh...
mengalihkan duniakuu~
Miu.Nuha
iya, cari second love gih biar move on /Determined/
Rain Aricia
Ya udah lah gapapa, sekarang pikirin dirimu dulu mau ga jadi model itu
Rain Aricia
Dia kan tau diri Max
Rain Aricia
Kalau gitu suruh lah dia log out dari club malam itu, Max
🔵 MULIANA💦
bisa-bisanya kepikiran nyolong peralatan rumah tangga /Facepalm/
-Thiea-: soalnya barangnya bermerek semua.. dikira yang punya rumah kagak bakalan tahu..😁
total 1 replies
🔵 MULIANA💦
kayaknya itu ungkapan hatinya deh 🤭
🔵 MULIANA💦
lah, masih sempat-sempatnya /Facepalm/
🔵 MULIANA💦
bayarannya, tanpa bunga kan max 🤭
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ih meni eweh gawe sia ih 🫣😆/Chuckle/
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
lumayan terharu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
untungnya si Al masih punya nurani ke baikan tersisa yah, klw nggak udh aku tendang tuh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
adeuh 🤦 meuni sok asa 😤 Jol seak gampangnya menyebut dirinya ayah. akibat obses yg tak jelasnya itu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
kayaknya klw ada di hadapan kehidupan ku, aing tak Sudi mendengar ucapan itu, lihatny🫤a pun aing tak Sudi 😒🙄☹️
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
masa sih, masa iya 😒🙄
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
andai di sini bisa kirim stiker kaya di wa nanti aing bakal kirim Poto stiker aku yg natap mode kaya 😒. untuk ucapan seperti itu sebel rasanya.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
harusnya Lo om cari info yg lebih dalam lagi, jadi jangan seolah menyalahkan emaknya si Al, karena pasti ada satu hal yg membuatnya pergi dari kau paham tuan.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
dari sudut bicara anda ini kayak menganggap hal sepele, kayak menggampangkan aja gitu 🤦 terserah lu lah om.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
om kau emang tua keladi yang rese, gw klw jadi emaknya si Al sama kayaknya karena nggak mudah. soalnya kau tiba² muncul terus bikin suasana kacau di kondisi kagak Bae rese Lo ya om.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!