NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:758
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: REUNI DI BALIK HARUM APEL

​Udara di wilayah Trentino, Italia Utara, terasa jauh lebih tajam dan bersih dibandingkan Milan yang sibuk. Di sinilah, di lereng perbukitan yang dipenuhi barisan pohon apel yang sedang berbuah lebat, Lorenzo Valenti memiliki sebuah perkebunan pribadi yang luasnya seolah tak bertepi.

​Ian berdiri di tepi jalan setapak yang terbuat dari kerikil putih. Ia mengenakan jaket field berwarna zaitun dan celana jins gelap, penampilannya jauh lebih santai, namun matanya tetap waspada. Ia datang sendiri atas undangan mendesak Lorenzo yang katanya ingin menunjukkan "sisi asri" dari bisnis keluarga Valenti.

​"Tuan Muda, saya mencium sesuatu yang tidak beres," bisik Yusuf melalui earpiece. Yusuf berada di dalam mobil yang terparkir lima ratus meter dari lokasi, memantau melalui radar.

​"Lorenzo bilang ini hanya kunjungan pribadi, Yusuf. Tetap di posisimu," balas Ian tenang, meski hatinya berdegup kencang saat Lorenzo menyebut akan ada 'tamu istimewa'.

​Ian berjalan menyusuri lorong-lorong pohon apel yang dahan-dahannya merunduk karena beban buah yang memerah ranum. Aroma manis apel yang segar bercampur dengan bau tanah basah menciptakan atmosfer yang begitu damai, kontras dengan gemuruh pikiran Ian tentang siapa tamu yang dimaksud Lorenzo.

​Pertemuan yang Tidak Direncana

​Di sisi lain perkebunan, sebuah mobil sedan perak berhenti di dekat sebuah gazebo kayu yang tertutup rimbunnya dedaunan. Seorang wanita turun dengan gerakan anggun. Ia mengenakan terusan rajut berwarna krem dan syal kasmir yang melilit lehernya. Rambutnya dibiarkan tergerai, berkibar pelan tertiup angin pegunungan.

​Itu adalah Cansu.

​Wajahnya tampak jauh lebih tenang, meski guratan kesedihan di matanya belum sepenuhnya hilang. Ia datang karena pesan mendesak dari pamannya, Lorenzo, yang mengatakan ada urusan mendesak mengenai aset ibunya yang harus dibahas di kebun ini.

​"Paman? Kamu di mana?" panggil Cansu pelan. Suaranya yang lembut tertelan oleh desir angin.

​Ia terus berjalan menuju bagian tengah kebun, tempat sebuah meja kayu tua berada di bawah pohon apel terbesar. Namun, langkah Cansu terhenti seketika. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia melihat seorang pria berdiri membelakanginya, sedang menyentuh salah satu buah apel dengan teliti.

​Pria itu berbalik.

​Waktu seolah membeku di Trentino. Ian terpaku, tangannya yang memegang apel perlahan jatuh ke samping tubuhnya. Di depannya, hanya berjarak sepuluh meter, berdiri wanita yang selama ini menjadi misteri, wanita yang ia kira sudah menghilang dari peradaban.

​"Cansu?" suara Ian nyaris berupa bisikan.

​Cansu menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca karena terkejut. "Adrian? Kenapa... kenapa kamu ada di sini?"

​Keduanya menyadari satu hal secara bersamaan: Lorenzo Valenti telah menjebak mereka. Pria tua itu sengaja mempertemukan dua jiwa yang seharusnya tidak lagi bersinggungan, tanpa memberikan pilihan untuk menghindar.

​Percakapan di Bawah Langit Trentino

​Keheningan yang canggung menyelimuti mereka selama beberapa saat. Hanya suara gesekan daun yang mengisi ruang di antara mereka. Ian adalah yang pertama kali memecah kebisuan.

​"Lorenzo bilang dia ingin menunjukkan kebunnya padaku. Dia tidak bilang kalau kamu ada di sini," ucap Ian, mencoba menetralkan suaranya yang bergetar.

​Cansu menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya. "Dia bilang padaku ada urusan mendesak soal Ibu. Paman memang selalu punya cara yang menyebalkan untuk mengatur hidup orang lain."

​Mereka akhirnya duduk di kursi kayu tua di bawah pohon apel tersebut. Tidak ada kemewahan, tidak ada pengawal yang terlihat, hanya dua orang dari masa lalu yang kini berdiri di atas puing-reuntuhan kenangan mereka sendiri.

​"Bagaimana kabarmu?" tanya Ian tulus.

​Cansu tersenyum tipis, menatap hamparan kebun yang luas. "Jauh lebih baik. Di sini, tidak ada yang memanggilku 'Ibu Negara'. Tidak ada yang menatapku dengan kebencian karena dosa ayahku. Aku hanya Cansu. Aku melukis, aku merawat kebun kecil di belakang villaku, dan aku belajar memaafkan diriku sendiri."

​Ian mengangguk pelan. "Aku senang mendengarnya. Kamu berhak mendapatkan ketenangan itu."

​"Dan kamu?" Cansu menatap Ian, lalu matanya beralih ke cincin perak yang melingkar di jari manis Ian. "Paman memberitahuku soal pernikahanmu. Rhea adalah wanita yang hebat, Adrian. Dia memiliki kekuatan yang tidak pernah aku miliki."

​"Rhea yang menyuruhku mengundangmu, Cansu. Dia ingin kita semua damai," balas Ian.

​Cansu tertawa kecil, sedikit getir. "Dia terlalu baik. Dan itulah alasan kenapa dia adalah orang yang tepat untukmu. Aku? Aku adalah bagian dari kegelapanmu, Adrian. Dan kegelapan harus tetap berada di belakang agar cahayamu bisa bersinar."

​Komedi dari Kejauhan: Teropong Yusuf

​Sementara itu, di dalam mobil, Yusuf sedang menempelkan teropong binokular ke matanya dengan sangat serius.

​"Mas Yusuf, itu Tuan Muda lagi ngapain? Kok cuma duduk diem-dieman kayak patung di taman?" suara Mbok Yem terdengar dari speaker ponsel Yusuf. Ternyata Mbok Yem melakukan panggilan video karena penasaran dengan "tamu istimewa" yang dimaksud.

​"Mereka sedang berbicara, Mbok. Tolong jangan berisik, saya sedang memantau situasi keamanan," bisik Yusuf ketat.

​"Halah! Ngomong apa? Masak di kebun apel cuma ngomongin harga buah? Pasti itu mantan pacarnya ya? Duh, Nona Rhea kalau tahu bisa-bisa Mas Yusuf disuruh minum jamu brotowali seember!" omel Mbok Yem.

​Pak Totok tiba-tiba muncul di layar ponsel, wajahnya menempel ke kamera sampai hidungnya terlihat besar. "Mas Yusuf! Titip tanya sama Tuan Lorenzo, itu apelnya pakai pupuk apa kok merah banget? Apa pakai kotoran kuda Italia?"

​Yusuf memutar matanya. "Pak Totok, ini misi intelijen, bukan konsultasi pertanian!"

​Pesan dari Lorenzo

​Kembali ke meja kayu, seorang pelayan tua berbaju pelayan Valenti datang membawakan sebuah nampan berisi dua gelas jus apel segar dan sebuah amplop kecil. Ia meletakkannya di depan Ian dan Cansu, lalu membungkuk hormat dan pergi.

​Ian membuka amplop itu. Isinya hanya satu kalimat pendek dalam bahasa Italia yang ditulis dengan tulisan tangan Lorenzo yang gagah:

​“Penutupan yang tidak tuntas adalah racun bagi masa depan. Bicaralah, lalu lepaskan. Darah Valenti tidak suka melihat keponakannya hidup dalam bayang-bayang pria yang sudah menjadi milik orang lain.”

​Cansu membaca tulisan itu dan menghela napas. "Pamanku benar-benar orang yang tidak punya rasa sungkan."

​Ian menatap Cansu, tatapannya kini lebih dalam. "Cansu, aku ingin kamu tahu... aku sudah memaafkan segalanya. Aku tidak membencimu, dan aku tidak menyesali apa yang pernah kita lalui. Tapi Rhea adalah pelabuhan terakhirku."

​Cansu mengangguk, setetes air mata jatuh di pipinya, namun ia segera menghapusnya dengan senyum. "Aku tahu. Dan aku juga sudah melepaskanmu, Adrian. Melihatmu di sini, sehat dan bahagia, adalah penutup yang aku butuhkan. Terima kasih sudah datang ke kebun ini, meski kamu dijebak."

​Mereka menghabiskan jus apel itu dalam keheningan yang kini terasa lebih ringan. Tidak ada lagi beban rahasia, tidak ada lagi kata-kata yang tak terucap.

​Kepergian dan Rahasia Baru

​Saat matahari mulai condong ke barat, Cansu berdiri lebih dulu. "Aku harus pergi sebelum Paman mengirimkan orkestra ke sini untuk menambah suasana dramatis."

​Ian berdiri, mengulurkan tangannya. Cansu menyambutnya, bukan dengan genggaman cinta, melainkan dengan jabat tangan seorang kawan lama.

​"Hiduplah dengan baik, Adrian. Jaga Rhea. Jangan biarkan politik menyentuh rumah tanggamu lagi," pesan Cansu.

​"Kamu juga, Cansu. Jika kamu butuh bantuan apa pun, pamanmu tahu cara menemukanku," jawab Ian.

​Cansu berjalan menjauh, sosoknya perlahan hilang di balik barisan pohon apel. Ian menatap kepergiannya dengan perasaan lega yang luar biasa. Beban yang selama ini ia pikul di pundaknya seolah terbang terbawa angin Trentino.

​Namun, saat Ian hendak kembali ke mobil, ia melihat Lorenzo Valenti berdiri di kejauhan, di atas sebuah bukit kecil sambil memegang cerutu. Lorenzo melambaikan tangannya dengan senyum penuh kemenangan.

​Ian menghampiri mobilnya, di mana Yusuf sudah menunggu dengan wajah kaku.

​"Sudah selesai, Tuan Muda?" tanya Yusuf.

​"Sudah. Ayo kita pulang ke hotel. Rhea sudah menunggu," ajak Ian.

​Namun, saat mereka mulai melaju, Yusuf memberikan sebuah tablet pada Ian. "Ada satu hal lagi, Tuan Muda. Lorenzo diam-diam memasukkan sebuah dokumen ke dalam saku jaket Anda saat Anda berpelukan singkat sebagai salam tadi."

​Ian meraba sakunya dan menemukan sebuah dokumen kecil. Di dalamnya terdapat identitas baru Cansu dan sebuah akta kepemilikan villa di Swiss. Namun, di lembar terakhir, ada sebuah catatan medis yang membuat Ian tertegun.

​Cansu sedang merawat seseorang di villa tersebut. Seseorang yang identitasnya disamarkan dengan nama kode: "Mawar Merdeka".

​Ian menutup dokumen itu dengan cepat. Ada rahasia lain yang disimpan Lorenzo, namun untuk saat ini, Ian memilih untuk menyimpannya sendiri. Kehidupan normalnya bersama Rhea baru saja dimulai, dan ia tidak akan membiarkan misteri Valenti mengganggu kebahagiaan yang baru saja ia bangun.

​"Yusuf," panggil Ian.

​"Ya, Tuan Muda?"

​"Jangan katakan pada Mbok Yem atau siapa pun tentang dokumen ini. Dan soal pertemuan tadi... biarlah itu menjadi rahasia kebun apel."

​Yusuf mengangguk mantap. "Dimengerti, Tuan Muda."

​Di bawah langit senja Italia, jet pribadi Diningrat Grub kembali bersiap untuk terbang. Membawa Ian kembali ke pelukan Rhea, sementara di belakang mereka, harum apel Trentino menyimpan rahasia tentang sebuah perpisahan yang akhirnya menemukan titik akhir.

1
S
seru banget, karakter cansu ini unik sih menarik banget, tapi jujur aku kasihan sama rhea plis lah bikin rhea sama Ian bahagia thor, cansunya biar sana brondong cogil 😭
S
sumpah ga nyangka cansu bakal di kejar berondong😭
S
😭😭😭 lucu banget kalau masalah jamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!