Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.
Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naluri Nerd. Vs Naluri Heroik
Di ruang linen, desahan putus asa Giselle dari walkie-talkie membuat semua orang yang tersisa gemetar.
"Mereka masuk! Klepek-Klepek masuk ke area taman rumah sakit! Beberapa mungkin sudah masuk lewat jendela lantai bawah! Semua tim, BALIK SEKARANG!"
"OH TUHAN, TIDAK..." Stella menutup mulutnya, air mata mengalir deras. Ingatan akan Jiwoo kembali menghantui.
"Tim Pencari! Mereka masih di luar!" teriak Chenle, berdiri dengan panik. "Mereka pasti ketemu Makluk itu!"
Minjeong memandang ke arah pintu, wajahnya pucat. "Jaemin... dia juga belum balik. Dan Mark... Yeri..." Pikirannya melayang ke arah Jaemin, jantungnya berdebar kencang bukan hanya karena takut, tapi karena khawatir yang spesifik.
Jimin berusaha tetap menjadi penahan. Dia berdiri di tengah ruangan, suaranya rendah tapi berusaha tegas.
"Guyss, Tenang! Kita aman di sini selama kita gelap dan sunyi. Itu aturan utamanya. Kalau kita panik dan berisik, kita yang menarik mereka ke sini. Kita harus percaya Tim Pencari dan yang lain bisa menyelamatkan diri."
Tapi kata-katanya sedikit menghibur. Sunkyung sudah mulai merengek pelan, ketakutan. A-na mondar-mandir seperti harimau dalam sangkar. Eunseok mencoba berdiri, tapi pusing dan kembali terduduk.
"Tapi gimana kalo mereka terdesak ke sini?" bisik Yuha, suaranya getir.
"Kita bakal ketauan semua. Dan kita... kita gak punya senjata lagi."
Keheningan yang menegangkan menyergap, hanya dipotong oleh napas berat Ningning yang demam dan suara langkah gugup A-na. Setiap detik menunggu terasa seperti penyiksaan. Mereka terjebak antara harapan dan horor, tidak bisa berbuat apa-apa selain mendengarkan dan berdoa agar suara kepakan sayap yang mengerikan itu tidak mendekat ke pintu mereka.
....
Di lantai empat, Giselle, Renjun, Anton, dan Oh Sion sedang bersembunyi di dalam sebuah ruang kantor kecil setelah memberi peringatan. Tapi mereka terlambat.
Skreeech...
Suara cakar menggaruk kaca jendela di koridor tepat di luar ruangan mereka. Salah satu Klepek-Klepek sudah menemukan mereka.
"Dia di luar! Dia tau kita di sini!" bisik Renjun, tubuhnya menempel di dinding, wajahnya tertutup keringat dingin.
Anton dan Sion, masing-masing memegang satu-satunya pistol berisi peluru yang tersisa, berdiri membelakangi pintu. Tangan mereka gemetar hebat.
"Jangan tembak kecuali dia masuk," instruksi Giselle, suaranya bergetar namun berusaha analitis. "Suara tembakan bakal narik yang lain."
Tapi Klepek-Klepek itu tidak perlu masuk. Melalui kaca jendela kantor yang menghadap koridor, mereka melihat titik-titik cahaya biru itu bergerak, lalu...
BAM!
Sebuah benda-mungkin kursi atau pot bunga-dilemparkan dengan kekuatan dahsyat ke jendela dari luar koridor. Kaca pecah berhamburan ke dalam ruangan!
"AAAAAKHHH!" Renjun menjerit keras, terlindung dari hujan kaca oleh Sion yang refleks menubruknya ke lantai.
Di tengah kepulan debu dan pecahan kaca, sosok gelap itu mulai menyusup masuk melalui jendela yang pecah, tubuhnya yang fleksibel meremas melalui bingkai. Titik-titik birunya kini bersinar terang dalam ruangan yang remang, langsung mengunci pada empat manusia yang terjebak.
Anton mengangkat pistolnya, teriak ketakutan, "JANGAN MENDEKAT! JANGAN!"
Tapi makhluk itu hanya mendesis, dan melangkah lebih dekat. Cakarnya yang panjang terangkat, siap menyambar.
Suasana di ruang kantor itu mencengkam, napas tertahan, dan ketakutan murni terpancar dari mata Anton dan Sion yang siap melakukan hal nekat terakhir mereka. Mereka terjepit, dan tidak ada jalan keluar yang terlihat.
...
Setelah insiden ciuman yang terganggu, ketiganya berlari tanpa arah yang jelas di koridor lantai tiga. Jaemin memimpin, dengan Yeri menggenggam erat tangan Mark di belakangnya. Nafas mereka tersengal, kaki terasa seperti diisi beton.
"Ruang linen! Harusnya kita belok kiri di ujung sini!" teriak Jaemin sambil menoleh ke belakang.
Tapi tepat saat mereka akan membelok, dari persimpangan koridor di depan mereka, sebuah bayangan bergerak cepat menyergap.
"ASTAGA-!" Mark menarik Yeri dan Jaemin ke belakang, menyergap mereka ke dalam ceruk pintu ruang perawat yang terbuka.
Mereka menempel di balik pintu, jantung berdebar kencang. Melalui celah kecil, mereka melihat sepasang titik cahaya biru melintas di ujung koridor, diikuti suara gesekan yang perlahan menjauh.
"Itu... itu cuma satu?" bisik Yeri, suaranya bergetar.
"Shhhtts!" Jaemin menempelkan jari ke bibirnya, matanya tajam memantau.
Setelah beberapa detik yang terasa abadi, Jaemin mengintip keluar. Koridor ke arah ruang linen... tampak kosong. Tapi suara dari arah lain-dari arah tangga menuju basement-membuat darah mereka beku.
Teriakan. Jeritan. Dan suara tembakan kosong yang familiar.
"Tim Jeno..." gumam Mark, wajahnya pucat. "Mereka dalam masalah."
"Kita harus ke ruang linen," desis Jaemin, konflik terpancar di matanya. "Tapi..."
"Tapi kita gak bisa tinggalin mereka!" sergap Yeri, tangannya mencengkeram lengan Mark. "Mereka temen kita! Mereka bawa makanan dan obat!"
Jaemin menghela napas. Pilihannya mengerikan. Menyelamatkan diri ke ruang linen yang relatif aman (untuk sekarang), atau mencoba membantu Tim Pencari yang jelas-jelas sedang dikepung-dengan senjata kosong dan tanpa rencana.
Tiba-tiba, dari speaker interkom rumah sakit yang mati, terdengar suara Giselle yang terdistorsi dan putus-putus, mungkin menyala oleh generator darurat yang baru aktif.
"...Lantai... basement... jebakan... jangan ke... ruang..."
Suara itu, diselingi teriakan panik Haechan dan sumpah serapah Jeno, bukan sekadar laporan. Itu adalah jeritan maut yang hidup, merobek sisa-sisa ilusi keamanan di kepala ketiganya.
Lalu suara itu hilang, digantikan desis panjang.
"Jebakan?" bisik Mark. "Maksudnya koridor itu jebakan?"
Jaemin menatap arah tangga basement, lalu ke arah ruang linen. Pikirannya bekerja cepat.
"Kalo mereka jebak Tim Pencari di basement," bisik Jaemin, suaranya rendah dan penuh ketakutan yang dingin, "berarti mereka mungkin sengaja mengosongkan jalan ke atas. Atau... mereka lagi mengarahkan kita semua ke satu tempat."
"Tempat apa?" tanya Yeri.
"Tempat di mana mereka bisa berburu lebih mudah," jawab Jaemin. Matanya berpijar. "Ruang linen kita cuma punya satu pintu. Itu kuburan."
Mereka bertiga terdiam, mencerna kemungkinan mengerikan itu. Klepek-Klepek itu bukan hanya binatang buas. Mereka punya strategi.
"Jadi... kita gak boleh balik ke ruang linen?" tanya Mark.
Mark berdiri kaku, wajahnya pucat pasi. "Oh, Jeno... Shotaro..."
Jaemin meremas walkie-talkie itu hingga knukelnya putih. Konflik di dalam dirinya begitu hebat hingga terasa sakit fisik.
"Kita gak bisa ninggalin mereka," kata Jaemin, suaranya rendah namun getar. Bukan pernyataan heroik, tapi pengakuan yang pahit. "Kalo kita lari sekarang... kita bakal denger suara mereka mati lewat walkie ini. Dan itu... itu bakal ngehantui kita lebih parah dari Klepek-Klepek manapun."
Mark memandangnya, lalu ke arah Yeri yang gemetar. "Tapi kita gak punya senjata, Jaem. Apa yang bisa kita lakuin? Jadi umpan tambahan?"
"Kita punya ini," Jaemin menjawab, matanya menyapu koridor. Dia melihat alat pemadam api di dinding, disegel kaca. "Dan kita punya kejutan."
Tanpa pikir panjang lagi, dia berlari ke alat pemadam itu, mengambil palu darurat kecil di sampingnya, dan menghancurkan kacanya. Kreek! Suara itu bergema, membuat Mark dan Yeri langsung mendongak ke segala arah, takut ketahuan.
Jaemin menarik keluar tabung pemadam api merah besar. "Ini berat. Mark, bantuin."
Mark segera membantu mengangkat tabung itu. Rencana gila mulai terbentuk di kepala Jaemin.
"Kita gak bisa lawan langsung," bisik Jaemin, matanya berbinar dengan tekad nekat. "Tapi kita bisa bikin gangguan. Suara keras. Sesuatu yang bisa bikin mereka bingung, kasih celah buat Jeno cs lari."
"Tapi itu bisa narik lebih banyak Klepek-Klepek ke sini!" protes Yeri, meski dia sudah berdiri di samping Mark, siap.
"Ruang linen kita cuma selusin meter dari tangga basement," jawab Jaemin cepat. "Gangguan kita di sini mungkin justru ngalihin perhatian mereka dari ruang linen. Itu bisa kasih waktu buat Jimin dan yang lain ngungsi atau bersiap."
JAEMIN menatap mereka berdua. "Ini pilihan gila. Dan mungkin kita semua bakal mati. Tapi kalo kita liat temen kita disembelih di depan kita-atau lewat walkie-dan kita cuma bisa lari... apa kita masih pantas disebut manusia?"
Diam yang singkat namun berat menyergap. Lalu, Mark mengangguk, rahangnya terkunci. "Gue ikut."
Yeri menarik napas dalam, menggenggam tangan Mark. "Gue juga."
Mereka bertiga bukan pahlawan. Mereka masih sangat takut. Kaki Yeri masih gemetar. Tangan Mark berkeringat dingin di tabung pemamin api. Tapi ada sesuatu yang lebih kuat dari ketakutan: ikatan yang sudah ditempa dalam darah, air mata, dan keputusasaan selama berhari-hari ini.
Dengan tabung pemadam api sebagai senjata utama mereka yang menyedihkan, mereka mulai merangkak mendekati ujung koridor, ke arah sumber teriakan minta tolong. Setiap langkah terasa seperti menuju jurang maut. Tapi mereka melangkah.
Mereka memilih untuk tidak menjadi tikus yang hanya menyelamatkan diri. Mereka memilih, mungkin untuk terakhir kalinya, untuk menjadi manusia yang berusaha menyelamatkan sesamanya, meski harapannya tipis seperti benang. Dan di koridor rumah sakit yang gelap dan berbau kematian itu, keputusan tiga remaja pengecut yang tiba-tiba menjadi berani itu, akan menentukan nasib tidak hanya mereka, tapi juga semua orang yang mereka cintai.
Keringat dingin membasahi punggung Jeno. Dua Klepek-Klepek di depan sudah dalam jarak lima meter. Cakar mereka yang runcing menggaruk-garuk udara, menciptakan suara skritch-skritch yang memekakkan saraf. Yang di belakang, lebih hati-hati, merayap mendekat seperti kucing yang sedang bermain dengan tikus yang terjebak.
Haechan sudah tidak berteriak lagi. Dia terduduk di lantai, punggung menempel dinginnya dinding, matanya kosong menatap langit-langit yang berdebu. "Ini akhirnya," gumamnya, datar.
"Gue selalu ngebayangin mati muda, tapi bukan kayak gini... dimakan alien cupu."
Sohee masih berusaha, merogoh isi kotak P3K dengan tangan gemetar. Dia mengeluarkan sebotol alkohol 70% dan sebungkus kasa. "Kalo mereka sentuh... mereka terbakar?" bisiknya pada Sungchan yang berdiri di depan seperti benteng terakhir.
Sungchan menggeleng, wajahnya keras bagai batu. "Api kecil gak akan ngerjain mereka. Cuma bikin marah." Dia menggenggam erat gagang rifle kosongnya, bersiap untuk digunakan sebagai tongkat pemukul saat jarak sudah cukup dekat. "Jeno, ide terakhir?"
Jeno, dengan pistol kosong di satu tangan dan sepotong pipa besi yang dia cabut dari dinding di tangan lain, menarik napas dalam. "Waktu mereka serang, kita serbu yang di depan bareng-bareng. Mungkin bisa tembus. Satu yang mungkin bisa lolos."
"Lolos buat apa?" sergap Shotaro dari posisinya di atas pipa. "Buat lapor ke yang lain kalau kita mati dengan heroik? Gak usah sok-sokan, Jen. Kita mati bareng aja."
Kalimat itu, diucapkan dengan kepasrahan getir, menggantung di udara basah. Menerima. Inilah akhir.
Klepek-Klepek di depan mendongak, seolah menangkap 'nada menyerah' dalam getaran udara. Titik birunya berkedip cepat, gembira. Dia mendekat lagi, satu langkah. Dua langkah.
Tiba-tiba.
BAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA...
Suara lengkingan sangat keras, sangat nyaring, dan sangat dekat memenuhi koridor, bukan dari Klepek-Klepek, tapi dari alarm kebakaran!
Lampu darurat merah di langit-langit berputar-putar, membanjiri koridor dengan cahaya merah berdenyut yang patah-patah dan bayangan bergerak gila-gilaan. Suara sirene yang memekakkan telinga itu seperti pukulan godam bagi makhluk-makhluk sensitif suara itu.
Ketiga Klepek-Klepek itu langsung mengerang kesakitan! Mereka menghentak, tubuh mereka menggeliat, titik-titik birunya berkedip kacau dan cepat seperti lampu disco yang rusak. Mereka menarik kepala mereka, seolah suara itu adalah pisau yang menancap di otak mereka.
"SEKARANG! LARI!" teriak Jeno, seketika tersadar.
Mereka tidak menyia-nyiakan kejutan itu. Shotaro melompat turun dari pipa. Sungchan dan Jeno langsung menerjang maju, bukan menyerang, tetapi menyelinap melewati dua Klepek-Klepek yang sedang kebingungan dan kesakitan, menarik Haechan yang masih syok dan Sohee yang berpegangan erat pada kotak obatnya.
Mereka berlari. Tas berisi makanan berdesir liar. Panci air yang ditinggalkan tadi terinjak hingga penyok. Tapi mereka tidak peduli. Mereka berlari menuju tangga, menuju cahaya merah yang berdenyut dan sirene yang menyelamatkan sekaligus memekakkan.
....