Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.
Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.
Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.
Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita yang dinikahi Wim
Mobil hitam yang dikendarai Aveline berhenti tepat di depan salah satu butik terbesar di kawasan pertokoan bangsawan Valdoria. Suara mesin mobil perlahan menghilang di tengah ramainya jalan utama sore itu yang dipenuhi kendaraan keluarga aristokrat serta para pelayan yang hilir mudik membawa kotak belanjaan.
Aveline melepaskan tangannya dari setir sebelum memalingkan wajah pelan ke arah Ines yang duduk di kursi sebelahnya.
“Kau,” ujarnya tenang. “Ikut aku.”
Ines langsung mengernyit heran. Wanita itu bahkan sempat menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi tidak percaya.
“Saya?” Namun Aveline sudah lebih dulu membuka pintu mobil tanpa memperlihatkan perubahan ekspresi sedikit pun.
“Aku tidak akan mengulangi perkataanku,” ujarnya membuat Ines terdiam.
Kepala pelayan itu mengepalkan tangannya pelan di atas paha sebelum akhirnya ikut membuka pintu mobil dengan wajah tidak rela. Sedangkan di kursi belakang, Liora buru-buru menundukkan tubuh untuk memastikan Marielle masih tertutup kain panjang agar tidak menarik perhatian siapa pun dari luar.
Sementara itu, Aveline sudah melangkah lebih dulu menuju pintu butik. Gaun putih yang dikenakannya langsung menarik perhatian begitu wanita itu memasuki area pertokoan bangsawan.
Potongannya jauh berbeda dibanding pakaian wanita aristokrat pada umumnya. Bagian bahunya terbuka jelas dengan garis leher yang memperlihatkan kulit pucatnya, sementara kain putih lembut membungkus tubuhnya rapi tanpa renda berlebihan ataupun hiasan mencolok.
Tidak terlalu terbuka. Tetapi cukup berbeda untuk membuat orang-orang otomatis menoleh.
Detail bulu putih lembut di bagian dada justru membuat keseluruhan penampilannya terlihat jauh lebih mahal dan elegan dibanding gaun bangsawan yang dipenuhi permata.
Beberapa wanita yang sedang berdiri di depan butik langsung mulai berbisik pelan begitu Aveline lewat.
“Astaga, Lady dari keluarga mana itu?”
“Gaunnya cukup berani ....”
“Tetapi anehnya tetap terlihat anggun.”
“Aku belum pernah melihat model pakaian seperti itu sebelumnya.”
“Apakah dia bangsawan dari luar Valdoria?”
Tatapan orang-orang perlahan mengikuti langkah Aveline yang berjalan tenang memasuki butik seolah tidak mendengar satu pun bisikan tersebut. Sedangkan Ines tetap mengikuti di belakangnya dengan wajah kaku.
Tanpa disadari Aveline, tidak jauh dari sisi lorong butik, Bram dan Kellan yang sedang berdiri beberapa meter dari William mendadak membelalak bersamaan. Bram spontan mengangkat tangannya sambil menunjuk ke arah seorang wanita berpakaian putih yang baru saja masuk ke dalam butik.
“I–itu ....” Kellan langsung mengikuti arah pandangannya. Beberapa detik kemudian matanya ikut melebar.
“Bukankah itu Lady Aveline?”
“Ah, kau benar!” Keduanya langsung saling menoleh dengan ekspresi panik.
“Gawat.”
“Jika Nona melihat Tuan sedang bersama Lady Clarissa ....”
Bram langsung mengusap wajahnya kasar.
“Cepat. Kita harus menghentikannya.”
Mereka berdua buru-buru bergerak masuk mengikuti arah Aveline. Sementara itu, Aveline sendiri berjalan dengan langkah tenang melewati deretan pakaian mahal di dalam butik.
Awalnya suasana di sana terlihat biasa seperti toko bangsawan pada umumnya. Beberapa pelayan butik sibuk membawa kain dan kotak pakaian, sedangkan para wanita aristokrat berdiri memilih gaun di depan etalase kaca besar. Sementara langkah Aveline perlahan berhenti saat suara seorang wanita terdengar dari sisi ruangan lain.
“Baju apa ini?” Tatapan Aveline bergerak pelan ke arah suara tersebut.
Di sisi lain butik, Clarissa berdiri di depan sebuah manekin dengan wajah penuh rasa penasaran. Di sampingnya, William masih berdiri tenang seperti biasa sambil memperhatikan wanita muda itu berbicara tanpa henti.
Pemilik butik yang berdiri di dekat mereka langsung membungkukkan badan hormat.
“Itu adalah seragam berburu wanita, Lady.” Mata Clarissa langsung berbinar terang. Pakaian yang dipajang di depan mereka memang terlihat sangat berbeda dibanding pakaian berburu wanita bangsawan pada umumnya.
Seluruh desainnya didominasi warna hitam dengan potongan ramping yang membentuk tubuh secara tegas. Jaket panjang pas badan menyesuaikan garis pinggang, sementara bagian bawahnya menggunakan celana panjang ketat yang jauh lebih praktis untuk bergerak dibanding rok berburu aristokrat biasa.
Sabuk kulit melingkar rapi di bagian paha dan pinggang dengan beberapa pengait kecil untuk perlengkapan berburu. Sepasang boots hitam tinggi dipajang tepat di bawahnya bersama mantel panjang gelap yang menjuntai hampir menyentuh lantai.
Tidak ada renda, pita ataupun ornamen feminin berlebihan, justru karena tampilannya yang tajam dan asing, pakaian itu terlihat jauh lebih menarik dibanding koleksi lain di butik tersebut.
Clarissa langsung menoleh cepat ke arah William. “Wim, lihat ini.” Gadis itu tersenyum lebar sambil menunjuk pakaian tersebut. “Bukankah ini bagus?”
William mengalihkan pandangannya ke arah seragam berburu itu tanpa banyak perubahan ekspresi.
“Yang Mulia Raja tidak lama lagi akan mengadakan acara berburu,” lanjut Clarissa penuh semangat. “Menurutmu apakah ukurannya cocok untukku?”
Tatapan William memperhatikan pakaian hitam tersebut beberapa detik lebih lama. Sorot matanya terlihat sedikit berubah samar. Setahunya, butik ini jarang sekali membuat desain pakaian seperti itu.
“Kau serius?” tanyanya tenang.
Clarissa mengangguk cepat tanpa ragu. William menatapnya datar beberapa detik sebelum akhirnya berkata singkat.
“Kau bahkan tidak bisa memegang pistol dengan benar.”
Clarissa langsung menghembuskan napas kecil dengan wajah sedikit kesal.
“Kau benar.” Gadis itu kembali melihat pakaian tersebut dengan mata berbinar. “Tetapi aku tetap menginginkannya. Aku belum menemukan koleksi lain yang cocok untuk pakaian berburu.”
Kemudian Clarissa langsung menoleh ke arah pemilik butik. “Tuan, bisakah kau membungkus pakaian ini untukku?”
Pemilik butik itu tampak menegang sesaat. Pria paruh baya tersebut sempat membuka mulut seperti ingin menjawab, tetapi wajahnya terlihat ragu.
“Lady Clarissa, sebenarnya pakaian itu sudah—”
“Maaf, Nona.” Tanpa diduga tiba-tiba seorang wanita memotong ucapannya sehingga menbuat suasana butik seketika terasa lebih hening beberapa saat.
“Namun pakaian itu adalah milikku.”
Begitu mendengar suara tersebut, William langsung menoleh. Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki butik tadi, tatapan pria itu benar-benar berhenti beberapa saat.
Aveline berdiri tidak jauh dari sana dengan gaun putih panjang yang membungkus tubuhnya sangat rapi. Cahaya lampu butik jatuh lembut di kulit pucat wanita itu, membuat rambut hitamnya terlihat semakin kontras.
William memperhatikan Aveline beberapa detik tanpa sadar. Gaun putih itu sebenarnya sederhana. Tidak dipenuhi perhiasan mahal maupun ornamen mencolok seperti pakaian wanita aristokrat lainnya.
Namun justru karena itu, keberadaan Aveline terasa jauh lebih sulit diabaikan di tengah ruangan tersebut. Tatapan William bergerak perlahan memperhatikan bahu terbuka wanita itu, garis lehernya, hingga cara Aveline berdiri tenang sambil menatap lurus ke arah Clarissa tanpa terlihat gugup sedikit pun.
Dan anehnya, untuk beberapa detik, seluruh suara di dalam butik terasa seperti menghilang begitu saja dari pendengarannya.
“Oh ... Tuan Kolonel rupanya ada di sini.”
Suara Aveline akhirnya terdengar memecah suasana butik yang sejak tadi terasa sedikit tegang. Wanita itu memalingkan wajah pelan ke arah William seolah baru menyadari pria tersebut berdiri tepat di samping Clarissa sejak awal. Ekspresinya tetap tenang tanpa terlihat terkejut sedikit pun, seakan keberadaan William di tempat itu sama sekali bukan sesuatu yang penting untuk dipermasalahkan.
“Kupikir kau benar-benar sibuk bekerja hari ini,” lanjutnya sambil menatap pria itu sedikit lebih lama. “Namun sepertinya aku salah mengira jadwal kerja militer terlalu padat.”
Nada bicaranya terdengar ringan. Tidak tajam ataupun sinis secara terang-terangan. Namun justru karena itulah beberapa orang di sekitar mereka langsung bisa merasakan sesuatu yang aneh dari suasana tersebut.
Beberapa meter dari sana, Bram dan Kellan yang baru saja berhasil menyusul masuk ke dalam butik langsung berhenti mendadak begitu mendengar suara Aveline. Kedua pria itu saling menatap bersamaan sebelum Bram spontan menepuk jidatnya sendiri pelan.
“Gawat,” bisiknya lirih.
Kellan langsung menghembuskan napas panjang sambil melihat situasi di depan mereka dengan wajah pasrah. “Aku rasa sebentar lagi akan ada masalah.”
“Lebih baik kita pergi sekarang sebelum ikut terseret.”
Meskipun mengatakan itu, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bergerak pergi. Keduanya justru tetap berdiri di tempat sambil memperhatikan keadaan dengan tegang dan rasa penasaran sekaligus.
Sementara itu William sempat mengalihkan pandangannya ke arah wanita pelayan yang berdiri beberapa langkah di belakang Aveline. Tatapannya berhenti pada wajah Ines selama beberapa detik sebelum sorot mata pria itu berubah samar seolah memahami sesuatu.
Sepertinya wanita itu memang sudah kembali dari keluarga Grimwald. Selanjutnya William kemudian mengarahkan pandangannya ke depan tepat saat Aveline akhirnya menoleh ke arah Clarissa.
Sang empu yang sejak tadi berdiri di dekat William tampak sedikit bingung menerima tatapan langsung tersebut. Gadis itu bahkan sempat mengernyit pelan sebelum akhirnya membuka mulut.
“Maaf …,” ucapnya ragu. “Nona siapa?”
Namun beberapa detik kemudian Clarissa kembali mengangkat dagunya pelan seolah tidak ingin kalah begitu saja. Tatapannya bergerak menuju pakaian berburu hitam yang sedang dipegang pelayan butik.
“Dan pakaian itu …,” lanjutnya cepat. “Aku lebih dulu memilihnya.”
Aveline sama sekali tidak menanggapi ucapan tersebut. Wanita itu justru langsung memandang petugas toko dengan tatapan datar yang membuat pria paruh baya itu refleks menegakkan tubuhnya tanpa sadar. Entah kenapa tatapan itu membuat tenggorokannya terasa kering meskipun Aveline bahkan belum mengatakan apa pun.
“No–Nona Grimwald?”
Salah satu alis Aveline terangkat pelan sebagai jawaban sebelum akhirnya ia mengangguk singkat. Dan tepat setelah marga itu disebut, ekspresi Clarissa langsung berubah.
“Kau ...!” Gadis itu tampak benar-benar tidak percaya.
“Kau Aveline?”
Tatapannya langsung bergerak memperhatikan wajah wanita di depannya lebih lama seolah sedang memastikan dirinya tidak salah lihat. Clarissa bahkan berjalan mendekat sebelum dia berhenti tepat di depan Aveline. Sedangkan Aveline hanya membalas tatapan tersebut dengan wajah tenang sambil sedikit mengangkat dagunya, seolah diam-diam mempertanyakan kenapa gadis di depannya mendadak bereaksi seperti itu.
“Nona, silakan lihat kembali. Apakah ada bagian yang perlu diperbaiki?”
Petugas toko buru-buru berbicara sambil menyerahkan pakaian yang dimaksud kepada Aveline. Namun perhatian wanita itu sedikit teralihkan saat William akhirnya menyebut namanya.
“Aveline.”
Tatapan Aveline bergerak singkat ke arah sang lria. Sesaat senyum tipis muncul di bibirnya sebelum ia kembali memandang Clarissa.
“Maaf,” ujarnya tenang. “Aku tidak ingin mengganggu kencan kalian.”
Setelah mengatakan itu, Aveline kembali fokus pada barang pesanannya. Jemarinya mulai menyentuh beberapa bagian kain sambil memperhatikan detail jahitan satu per satu dengan teliti. Tatapannya bergerak dari bagian bahu, pinggang, hingga sabuk kulit yang melingkar di paha. Ia terlihat benar-benar memeriksa pakaian tersebut sesuai gambaran yang sebelumnya ada di pikirannya.
Dan memang secara keseluruhan hasilnya sudah cukup bagus. Potongan mantelnya sesuai. Garis pinggangnya juga jatuh dengan rapi. Namun beberapa detik kemudian Aveline menunjuk salah satu bagian dekat sisi pinggang pakaian itu.
“Bagian jahitan ini terlalu kaku,” ujarnya datar. “Saat dipakai bergerak bentuknya akan terlihat berat.”
Tangannya lalu berpindah menunjuk bagian lain.
“Dan lipatan kain di sini terlalu tebal.” Ia kembali memperhatikan bagian sabuk paha sebelum melanjutkan dengan nada tetap tenang.
“Posisi pengait kulitnya juga sedikit terlalu rendah. Jika dipakai berkuda akan mengganggu langkah.”
Petugas toko langsung menundukkan kepala cepat.
“Maafkan atas kelalaian kami, Nona. Kami akan memperbaikinya sesegera mungkin.”
“Tidak perlu.” Aveline langsung memotong ucapan pria itu tanpa nada tinggi sedikit pun.
“Aku akan memperbaikinya sendiri di rumah.”
Petugas toko tersebut tampak gugup namun tetap buru-buru mengangguk sebelum akhirnya mulai membungkus pakaian milik Aveline dengan hati-hati.
Di sisi lain, Clarissa masih terus menatap Aveline tanpa berkedip. Tatapannya bahkan semakin berbinar dari detik ke detik seolah baru menemukan sesuatu yang sangat menarik.
Aveline yang mulai sadar dirinya diperhatikan terus akhirnya sedikit melirik ke arah gadis itu. Dan tepat saat itulah suara Clarissa mendadak terdengar nyaring memenuhi butik.
“Kau Aveline?!”
Beberapa pengunjung langsung menoleh ke arah mereka.
“Wanita yang sudah dinikahi oleh Wim?” lanjut Clarissa girang tanpa menurunkan volume suaranya sedikit pun. “Ah, akhirnya ada saat aku menemuimu dan ternyata sekarang!”
Clarissa langsung mendekat lagi tanpa ragu.
“Sebentar .…” Ia bergerak dan memandang secara terang-terangan dari ujung rambut Aveline sampai ke ujung kaki wanita itu.
“Orang-orang bilang kau wanita pendiam,” ujarnya cepat bertubi-tubi. “Mereka juga bilang kau selalu menunduk, sulit berbicara dengan orang lain, dan terlihat sangat lemah.”
Clarissa terus berceloteh tanpa memberi kesempatan siapa pun menyela.
“Namun kurasa semua itu tidak benar.”
Tubuh Aveline sedikit berguncang saat Clarissa tiba-tiba menggenggam kedua lengannya lalu menggerakkannya pelan seperti sedang meneliti sesuatu yang menarik.
“Kau bahkan tidak terlihat gugup sama sekali,” lanjut Clarissa penuh rasa penasaran. “Dan tatapanmu juga menyeramkan untuk ukuran wanita bangsawan.”
Aveline tetap diam beberapa detik saag menerima perlakuan tersebut. Lalu perlahan wanita itu justru melirik ke arah William.
Pria itu masih berdiri santai sambil memperhatikan mereka dengan senyum miring samar di wajahnya. Iris mata Aveline terlihat jelas seolah sedang mengatakan satu hal.
Ada apa dengannya? Apakah dia memang secerewet ini?
.
.
.
Bersambung