Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Tua, Peluru, dan Saudari yang Melarikan Diri
📖 BAB 28: Kota Tua, Peluru, dan Saudari yang Melarikan Diri
Peluru ketiga menghantam batu bata tepat di atas kepala mereka.
Serpihan beterbangan.
Beichen menekan tubuh Qingyan lebih rendah ke atap bersalju, satu tangan melindungi belakang kepalanya, satu lagi sudah mengeluarkan pistol.
“Jangan bergerak.”
“Aku tahu konsep tiarap.”
“Bagus. Praktikkan.”
Nada datarnya membuat Qingyan ingin marah, tapi dentuman senjata berikutnya menghapus niat itu.
Di bawah, Han berteriak lewat earpiece:
“Saya melihat kilatan dari menara sebelah timur! Tiga lantai atas! Atau dua! Salju ini tidak membantu!”
Xue merebut saluran komunikasi.
“Artinya kau tak tahu.”
“Artinya saya jujur.”
Mira memotong tenang.
“Penembak memakai peredam. Minimal dua orang.”
“Bagaimana kau tahu?” tanya Han.
“Karena aku tidak panik.”
---
Beichen mengintip sekilas dari balik cerobong.
Satu tembakan lagi langsung menjawab.
Ia kembali menunduk.
“Dua sniper. Satu tim penekan, satu tim eksekusi.”
Qingyan menatapnya.
“Kau bicara seperti menu restoran.”
“Aku lapar.”
“Ini bukan waktu bercanda.”
“Aku tidak bercanda.”
Itu lebih mengganggu.
Ia mencoba melihat ke arah balkon tempat gadis tadi berdiri.
Kosong.
Salju menutupi jejak cepat.
“Dia kabur.”
“Bagus.”
“Kau bahkan belum kenal dia.”
“Kalau dia tetap berdiri di sana, dia mati.”
Jawaban itu membuat Qingyan diam.
---
Beichen menekan earpiece.
“Han.”
“Hadir dengan keluhan.”
“Cari akses ke menara timur. Xue ambil sisi utara. Mira tetap lindungi jalur keluar.”
“Kenapa aku yang sisi utara?” protes Xue.
“Karena kau suka dramatis.”
“Aku terharu kau memperhatikanku.”
Han mendesah.
“Saya dikelilingi orang-orang aneh.”
Beichen menatap Qingyan.
“Kau ikut aku.”
“Aku mau cari dia.”
“Kau mau hidup dulu.”
“Berhenti memutuskan—”
Ia memotong dengan satu tatapan.
Anehnya, kali ini Qingyan menahan protes.
Bukan karena takut.
Karena ia tahu pria itu benar.
Menyebalkan sekali.
---
Mereka merunduk bergerak menyeberangi atap ke arah tangga servis.
Peluru mengejar beberapa kali, menghantam logam dan ubin.
Saat mereka hampir sampai pintu, Qingyan mendengar suara biola.
Sangat samar.
Satu nada panjang, getir, tertiup angin.
Ia menoleh cepat.
Di bangunan seberang, sesosok bayangan berdiri sesaat di jendela loteng.
Gadis itu.
Ia memegang busur biola seperti pisau.
Lalu menghilang lagi.
“Beichen—”
“Lihat nanti.”
“Tapi—”
“Turun.”
Ia membuka pintu tangga dan mendorong Qingyan masuk lebih dulu.
---
🕯️ Lorong Bawah Tanah Konservatori
Tangga batu membawa mereka ke lorong sempit tua yang berbau kayu dan lembap.
“Tempat ini punya basement?” tanya Qingyan.
“Bangunan tua Eropa suka punya ruang rahasia.”
“Kau pernah ke sini?”
“Tidak.”
“Kenapa terdengar yakin?”
“Aku kaya dan membaca.”
Ia ingin menendangnya.
Langkah kaki cepat terdengar dari depan.
Beichen mengangkat pistol.
Namun yang muncul justru Han, napas tersengal, rambut berantakan, membawa laptop di satu tangan.
“Saya benci tangga bersejarah.”
“Kondisi?”
“Sniper timur kosong. Mereka pindah posisi. Dan kabar baiknya—aku menemukan peta bangunan.”
Ia menunjukkan layar.
“Tempat ini terhubung ke terowongan lama menuju gedung opera kecil di belakang.”
Qingyan menegang.
“Dia pakai jalur itu.”
“Besar kemungkinan,” kata Mira yang muncul dari sisi lain sambil memegang senjata kecil.
“Dan kita tak sendirian.”
Mereka semua diam.
Suara langkah lain terdengar di lorong bawah.
Banyak.
---
🔥 Orang-Orang yang Memburu Liora
Belasan pria berbaju gelap muncul dari persimpangan lorong.
Mereka bergerak rapi, wajah dingin, tanpa lambang.
Bukan polisi.
Bukan mafia jalanan.
Lebih seperti kontraktor kematian mahal.
Pemimpin mereka menatap Qingyan.
“Serahkan target.”
“Target siapa?” tanya Han.
“Subjek L.”
Qingyan mengepalkan tangan.
Mereka memburu gadis itu.
Beichen melangkah maju sedikit.
“Kalau saya bilang tidak?”
Pria itu menatap pistol Beichen lalu menatap matanya.
“Kami dibayar banyak.”
“Sayang sekali.”
Suara Beichen tenang.
“Aku dibesarkan kasar.”
Baku tembak pecah.
---
Lorong sempit berubah kacau.
Han menjerit sambil berlindung di balik pilar.
“Saya orang IT! Saya orang IT!”
Xue datang dari belakang para penyerang sambil memukul satu orang dengan alat pemadam api.
“Sekarang kau juga orang aksi.”
“Aku mau pulang!” teriak Han.
Mira menembak lampu lorong, membuat sebagian area gelap.
Beichen bergerak cepat, efisien, menembak hanya saat perlu.
Qingyan meraih tongkat besi tua di dinding dan menghantam tangan seorang penyerang yang hendak menangkapnya.
“Jangan sentuh aku!”
Pria itu menjerit.
Xue tersenyum.
“Semakin lama, aku semakin suka dia.”
---
Dalam kekacauan itu, satu suara biola terdengar lagi.
Dekat.
Nada cepat, tergesa.
Seperti panggilan.
Qingyan menoleh ke lorong samping.
Gadis itu berdiri di ujung gelap, setengah tersembunyi.
“Kalau ingin bicara, sekarang!” teriak Qingyan.
Gadis itu menatap semua kekacauan, lalu berkata dingin,
“Aku tidak minta diselamatkan.”
“Bagus. Aku juga tidak suka menolong.”
Mata gadis itu berkedip sesaat—hampir seperti ingin tertawa.
Namun ia langsung menegang.
“Di belakangmu!”
Qingyan berbalik.
Seorang pria besar menyerbu dengan pisau.
Beichen lebih cepat.
Ia menghantam pria itu ke dinding.
Qingyan menoleh lagi—
Gadis itu sudah hilang.
---
🎻 Ruang Latihan Tersembunyi
Mereka mengikuti jejak ke sebuah ruang tua di bawah tanah.
Ruangan kecil berisi rak musik, kursi kayu, dan piano tua rusak.
Di tengah ruangan ada satu biola terbuka.
Masih hangat.
Han masuk sambil mengeluh.
“Kalau dia kabur lagi, saya resmi pensiun.”
Qingyan melihat kertas di atas piano.
Ia mengambilnya.
Tulisan tangan cepat:
Aku tidak butuh keluarga.
Keluarga hanya menemukanmu untuk memakai tubuhmu.
Di bawahnya:
Kalau kau berbeda, datang sendiri malam ini.
Jembatan Charles. Tengah malam.
Qingyan membaca dua kali.
Beichen mengambil kertas itu.
“Tidak.”
“Sudah mulai lagi.”
“Itu jebakan.”
“Atau undangan.”
“Atau sniper romantis.”
Han mengangkat tangan.
“Saya pilih pulang.”
---
Qingyan menatap Beichen.
“Aku harus datang.”
“Kau tidak sendiri.”
“Dia minta sendiri.”
“Dia belum kenal aku.”
“Beichen.”
“Tidak.”
Ia mendekat.
“Kau tidak bisa mengendalikan semua hal.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa terus mencoba?”
Tatapan pria itu berubah gelap.
“Karena saat aku gagal... orang hilang.”
Kalimat itu membuat ruangan hening.
Untuk sesaat Qingyan melihat sesuatu yang jarang terlihat darinya:
Bukan dingin.
Bukan marah.
Rasa takut lama yang tak pernah diucapkan.
Ia melunak sedikit.
“Hanya kali ini,” katanya pelan. “Percaya aku.”
Beichen menatapnya lama.
Lalu menjawab,
“Itu keputusan buruk.”
“Sering kudengar.”
“Tapi aku akan tetap datang.”
Qingyan menghela napas.
“Tentu saja.”
---
🌉 Menjelang Tengah Malam – Jembatan Charles
Kabut tipis menyelimuti sungai.
Patung-patung batu berdiri seperti saksi tua. Lampu jalan memantul di air hitam.
Qingyan berjalan sendiri di tengah jembatan.
Setidaknya secara teknis sendiri.
Ia tahu Beichen pasti mengabaikan instruksi.
Angin membawa suara langkah ringan.
Gadis berambut pendek muncul dari kabut, mengenakan mantel gelap dan kotak biola di punggung.
Kali ini ia tak lari.
Mereka berdiri saling menatap beberapa meter.
Wajah yang mirip.
Mata yang sama keras.
“Aku datang,” kata Qingyan.
Gadis itu mengangguk pelan.
“Aku tahu. Kau selalu datang ke masalah.”
Qingyan menegang.
“Itu kalimat siapa?”
“Pria yang mengikutimu.”
Sebelum Qingyan sempat bereaksi, suara klik senjata terdengar dari segala arah.
Bayangan-bayangan keluar dari kabut, mengepung jembatan.
Puluhan orang.
Dan di ujung jembatan, seorang wanita elegan berusia sekitar lima puluh tahun melangkah maju sambil bertepuk tangan pelan.
Wajahnya cantik, dingin, dan sangat mengenal Qingyan.
Gadis itu memucat.
“Dia menemukanku…”
Wanita itu tersenyum.
“Liora, pulang.”
Lalu menatap Qingyan.
“Dan kau... akhirnya aku bertemu putri pertama Elena.”
BERSAMBUNG