Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Peluru yang Nyasar
Layar televisi tabung berdebu di sudut ruko tua ini memancarkan cahaya kebiruan yang kontras dengan suramnya langit Jakarta di luar jendela. Secangkir kopi pahit menemaniku berdiri mematung di depan layar, mataku tak berkedip menatap Breaking News yang disiarkan oleh hampir seluruh stasiun televisi nasional siang ini.
Bukan tentang teror Joker. Bukan pula tentang kebakaran di gudang Marunda.
Kamera reporter menyorot sebuah gerbang besi hitam yang sangat familier di kawasan perbukitan Sentul. Gerbang vila milik Jenderal Sudiro. Namun, alih-alih dijaga oleh kontraktor militer swasta bersenjata yang biasanya berpatroli di sana, area itu kini dikepung oleh puluhan kendaraan taktis berwarna hijau olive. Pasukan Polisi Militer (PM) berwajah keras membarikade jalan masuk, menahan kilatan lampu blitz dari puluhan kamera wartawan.
"...Penangkapan tingkat tinggi ini terjadi pada dini hari tadi," suara reporter perempuan di layar terdengar setengah berteriak, berusaha mengalahkan suara baling-baling helikopter yang mengudara di latar belakang. "Sumber dari Mahkamah Militer mengonfirmasi bahwa Jenderal Bintang Tiga berinisial 'S' telah ditahan atas tuduhan makar, penyelundupan senjata ilegal, dan pencucian uang berskala masif. Seluruh aset keuangannya dikabarkan telah dikosongkan secara misterius, sementara sebuah paket data anonim berisi bukti dokumen operasional dikirimkan langsung ke kotak masuk Panglima Tentara Nasional..."
Aku menekan tombol daya pada televisi hingga layarnya mati, menyisakan bunyi dengung statis yang perlahan menghilang. Kesunyian seketika mengambil alih pangkalan operasi ini.
Aku berbalik, berjalan perlahan menuju papan gabus raksasa di tengah ruangan. Aku mengambil sebuah spidol merah berujung tebal, menatap foto Jenderal Sudiro yang terpasang arogan dengan seragam kebesarannya.
Tutup spidol kubuka dengan gigiku. Tanganku bergerak tanpa ragu, mencoret wajah sang jenderal dengan garis menyilang yang sangat tegas. Tinta merahnya sedikit merembes ke kertas foto.
Pilar kedua telah runtuh.
Metode Arlan tidak hanya brutal secara fisik, tapi ia berevolusi dengan kecerdasan yang mengerikan. Pada Handoko, ia menggunakan racun. Pada Setiawan, ia menghancurkan mentalnya. Namun pada Sudiro—seorang pria yang memegang komando pasukan bersenjata—Arlan tidak hanya melumpuhkannya, ia menggunakan hukum militer itu sendiri sebagai alat eksekusinya. Ia mengubah sang jenderal pahlawan menjadi pengkhianat negara.
Aku melirik ke arah sofa. Arlan sedang tertidur lelap setelah kembali pada subuh tadi dengan pakaian basah dan tertatih-tatih menahan sakit. Ia telah menyelesaikan tugasnya.
Kini, mataku beralih pada foto ayahku, Darmawan Salim, yang berada di puncak rantai makanan di papan tersebut.
Darmawan pasti sudah mengetahui penangkapan Sudiro. Ia adalah pria paranoid yang selalu dua langkah lebih maju. Jika ia merasa terpojok, ia akan mengerahkan semua sumber daya gelapnya untuk membersihkan jejak, memastikan tidak ada api yang merambat ke Menara Vanguard. Termasuk memastikan bahwa putri tunggalnya benar-benar telah menjadi abu di Marunda.
Aku harus tahu narasi apa yang sedang dibangun oleh kepolisian tentang kematianku. Aku butuh mata dan telinga dari dalam.
Aku berjalan ke arah meja kerja Arlan, membuka sebuah laci, dan mengambil salah satu ponsel prabayar sekali pakai (burner phone) yang sudah dimodifikasi dengan perangkat lunak pengacak sinyal. Ponsel asliku sudah tenggelam di dasar laut utara Jakarta, jadi ini satu-satunya caraku.
Aku menekan deretan angka yang sudah kuhafal di luar kepala. Nomor telepon pribadi Inspektur Bramantyo. Nomor yang tidak pernah ia berikan pada siapa pun selain padaku dan komandan divisinya.
Nada sambung berbunyi tiga kali.
"Halo?" Suara serak dan berat terdengar dari seberang. Suara pria yang jelas belum tidur selama berhari-hari.
"Ini aku, Bram," ucapku pelan, menjaga volume suaraku seminimal mungkin.
Keheningan yang terjadi di ujung telepon terasa seperti ruang hampa udara. Aku bisa mendengar suara tarikan napas yang tersendat, disusul oleh suara kursi kerja yang berderit keras seolah seseorang baru saja melompat berdiri.
"Siapa ini? Ini lelucon yang sangat brengsek!" geram Bram, suaranya dipenuhi amarah dan kepedihan yang tak tertutupi. "Ponsel Elara sudah mati sejak semalam! Tim forensik sedang mengumpulkan abu di gudang itu!"
"Ini bukan lelucon. Aku masih hidup, Senior," balasku cepat. "Joker tidak membunuhku. Dia menarikku keluar melalui saluran pembuangan limbah bawah tanah sebelum api melahap atap gudang. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya di telepon, jaringan ini tidak aman untukmu."
Terdengar embusan napas panjang yang bergetar dari seberang sana. "El... Ya Tuhan. Kau benar-benar hidup."
"Dengarkan aku, Bram. Jangan beritahu siapa pun di markas. Ayahku memiliki orang di dalam forensik dan komando atas. Apa status laporanku saat ini?"
"Ayahmu menekan Kapolda," bisik Bram, suaranya kini dipenuhi kewaspadaan. "Tim forensik dipaksa merilis pernyataan awal pagi ini. Mereka mengklaim menemukan serpihan tulang rahang dan kalung identifikasimu di lokasi kebakaran. Darmawan Salim sudah mulai mempersiapkan konferensi pers duka citanya untuk besok. El... mereka secara resmi membuatmu mati di mata hukum."
Rasa mual kembali mengaduk perutku. Ayahku memalsukan bukti forensik di TKP hanya dalam waktu kurang dari dua belas jam. Ia benar-benar ingin aku terhapus dari dunia ini.
"Aku butuh bantuanmu, Bram. Aku butuh kau menyalin manifes kepolisian tentang pergerakan tim pembersih internal Vanguard. Aku butuh tahu ke mana mereka bergerak sekarang."
"Kita tidak bisa membahas ini melalui udara. Area parkir atap (rooftop) gedung Plaza Blok M. Jam tiga sore ini. Tempat itu terbengkalai dan tidak ada kamera CCTV yang menyala," instruksi Bram dengan nada detektifnya yang kembali tajam. "Datanglah sendirian. Jangan bawa mobil yang mencolok."
"Aku akan ke sana."
Aku mematikan sambungan, mengeluarkan baterai ponsel lipat itu, dan memasukkannya ke dalam saku. Mengganti kaus kasualku dengan jaket kulit taktis berwarna hitam, aku memeriksa magasin pistol Glock-19 milikku. Lima belas peluru ujung berongga (hollow-point). Aku menyarungkannya di pinggang kanan, menarik napas dalam, dan keluar dari ruko tua itu tanpa membangunkan Arlan.
Cuaca Jakarta sore ini sejalan dengan suasana hatiku. Abu-abu, suram, dan menekan dada. Rintik gerimis mulai turun, membasahi kaca depan mobil sedan tua pinjaman yang kukemudikan. Aku memutar kemudi, menaiki jalur melingkar beton yang curam menuju lantai teratas area parkir Blok M.
Tempat ini adalah peninggalan kejayaan era sembilan puluhan yang kini perlahan mati ditinggalkan zaman. Lantai betonnya dipenuhi lumut di sudut-sudutnya, dan genangan air hujan memantulkan cahaya kelabu dari langit. Tidak ada satu pun mobil yang terparkir di sana, kecuali sebuah sedan hitam kusam tanpa pelat nomor dinas yang terparkir menghadap pagar pembatas.
Inspektur Bramantyo bersandar di kap mobilnya, kerah mantel cokelatnya ditegakkan untuk menghalau angin. Ia sedang menyesap rokoknya dalam-dalam, menatap ke arah tangga akses saat kendaraanku berhenti.
Aku mematikan mesin dan melangkah keluar. Angin dingin seketika menerpa wajahku, meniup rambutku yang kuikat kuda.
Bram menjatuhkan rokoknya dan menginjaknya. Matanya yang merah menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah memastikan aku bukan halusinasi akibat kurang tidur. Ia melangkah maju dan menarikku ke dalam pelukan singkat yang erat, pelukan seorang ayah yang kehilangan putrinya, sebelum kembali menjaga jarak profesional.
"Kau terlihat seperti habis merangkak dari neraka, Anak Nakal," sapanya parau, matanya mengamati plester bedah di pelipisku dan kotoran yang masih tersisa di sudut jaketku. "Kau membuatku nyaris gila semalaman."
"Maafkan aku, Bram," aku tersenyum getir. "Neraka ternyata jauh lebih panas dari yang diceritakan."
"Kau bilang Joker menarikmu keluar?" Bram memicingkan mata, insting polisinya mengambil alih. "Kenapa pembunuh berantai menyelamatkan seorang detektif kepolisian? Dan kenapa kau tidak langsung melapor ke markas?"
"Karena Joker bukanlah monster yang sebenarnya, Bram," jawabku, suaraku datar dan dingin. "Monster yang sebenarnya duduk di kursi CEO Vanguard Group. Ayahku menjebakku di gudang itu. Dia mengirim enam orang pembersih profesional untuk membakarku hidup-hidup karena aku mengetahui keterlibatannya dalam pembunuhan keluarga Wiratama sepuluh tahun lalu. Joker membantai mereka semua demi melindungiku."
Bram terdiam membeku. Rintik gerimis jatuh menimpa bahu mantelnya, namun ia tak bergeming. Ia mencerna skala pengkhianatan ini dengan lambat.
"Darmawan Salim mencoba membunuh darah dagingnya sendiri," bisik Bram, menggelengkan kepalanya tak percaya. "Itu sebabnya dia memaksa forensik mengeluarkan hasil DNA palsumu secepat ini. Dia ingin menutup kasusmu sebelum ada penyelidikan independen."
"Mana data manifes yang kuminta?" aku menadahkan tanganku.
Bram merogoh saku dalam mantelnya, mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna perak.
Namun, sebelum jari-jariku menyentuh logam flashdisk itu—
CRACK!
Suara itu sangat tajam, membelah udara dengan letupan supersonik yang tidak wajar. Bukan ledakan mesiu dari pistol biasa, melainkan suara retakan cemeti raksasa akibat proyektil balistik yang bergerak melebihi kecepatan suara, diiringi oleh desisan peredam (suppressor) kelas militer dari kejauhan.
Sesuatu yang panas dan tak terlihat melesat di antara wajahku dan hidung Bram.
Kaca jendela pengemudi mobil sedan tua yang kubawa—yang berada tepat di belakangku—meledak menjadi ribuan kepingan kristal tajam.
Waktu seolah melambat hingga ke titik nol. Insting tempur yang telah ditanamkan ke dalam refleks sarafku di akademi kepolisian mengambil alih sebelum otak sadarku mampu memproses rasa takut.
"Penembak runduk! Merunduk!" teriakku, menerjang dada Bram ke arah samping.
Kami berdua terpelanting keras ke atas aspal yang tergenang air, berguling ke balik blok mesin mobil sedan Bram—satu-satunya bagian kendaraan yang cukup tebal dan padat untuk menghentikan peluru penembus zirah (armor-piercing).
Sesaat setelah punggung kami menghantam aspal, peluru kedua datang menyusul.
THWACK!
Proyektil kaliber berat itu menghantam kap mobil sedan di atas kepala kami, menembus lapisan bajanya seolah itu hanya kertas timah, merobek radiator, lalu bersarang di lantai beton dengan memercikkan bunga api yang menyilaukan. Cairan pendingin mesin yang panas langsung menyembur tumpah ke aspal.
"Sialan!" Bram mengumpat keras, mencabut pistol revolver dari sarung bahunya. Tangannya sedikit gemetar, lengan mantelnya robek berdarah akibat gesekan dengan aspal. "Dari mana asalnya?!"
Aku menyeka serpihan kaca tajam dari pipiku, lalu mencabut Glock-19 dari pinggangku. Napasku memburu pendek-pendek. Telingaku berdenging hebat akibat efek sonic boom dari peluru pertama yang lewat hanya beberapa milimeter dari telingaku.
Aku mengintip sedikit dari balik ban depan mobil. Sekitar empat ratus meter dari elevasi posisi kami, menjulang sebuah gedung perkantoran setengah jadi yang proyeknya terhenti akibat krisis. Lantai ketujuhnya memiliki fasad beton terbuka tanpa jendela kaca.
"Gedung mangkrak di arah jam sebelas!" teriakku, memberikan orientasi taktis di tengah kekacauan. "Jarak empat ratus meter. Elevasi tiga puluh derajat!"
"Empat ratus meter?!" Bram menelan ludah, menatap revolver-nya yang hanya efektif pada jarak maksimal lima puluh meter. "Kita tidak punya senjata laras panjang untuk membalas tembakan! Itu senapan runduk kaliber tinggi. Tembakan ketiga akan menembus blok mesin ini jika dia menggunakan amunisi Tungsten!"
Pikiran analitisku berputar dengan kecepatan cahaya. Penembak runduk profesional yang disewa korporasi tidak akan menembak secara acak seperti teroris amatir. Tembakan pertama selalu merupakan tembakan paling akurat, dieksekusi setelah mengkalkulasi arah angin, kelembapan, dan rotasi bumi.
Aku mengingat kembali posisi berdiriku sebelum tembakan pertama meledak.
Aku berdiri menghadap Bram. Tembakan itu melesat memotong tepat di antara kami, memecahkan kaca jendela mobil yang ada tepat di belakang posisi kepalaku sebelum aku menunduk untuk mengambil flashdisk.
Jika aku tidak kebetulan menundukkan kepalaku dua sentimeter ke bawah... peluru itu akan menembus lurus melalui pangkal tengkorakku dan keluar dari keningku.
Peluru itu sama sekali tidak ditujukan untuk Bram.
Bram hanyalah kerusakan kolateral.
"Mereka tidak membuntutiku dari safehouse..." gumamku ngeri, mataku terbelalak saat logika mengerikan itu merangkai dirinya sendiri. "Mereka membuntutimu, Bram. Ayahku tahu kau adalah mentor terdekatku. Dia tahu jika aku masih hidup, orang pertama yang akan kuhubungi adalah dirimu. Dia menanam pengintai di sekitarmu untuk menjadikanku target."
CRACK!
Peluru ketiga menghantam blok aspal hanya lima sentimeter dari ujung sepatu botku, memuntahkan serpihan beton tajam yang menyayat betisku menembus kain celana taktis. Aku mendesis perih, segera menarik kakiku lebih dalam ke area perlindungan.
"Tetap di bawah!" Bram menekan tombol darurat di radio komunikasinya yang menempel di kerah. "Pusat, ini Inspektur Bramantyo. Code 10-33! Petugas di bawah tembakan sniper di atap parkir Blok M! Permintaan unit SWAT dan evakuasi medis segera!"
Radio itu memancarkan suara statis sejenak, lalu balasan dari operator masuk. "Laporan diterima, Inspektur. Unit taktis meluncur. Estimasi tiba enam menit."
Enam menit. Dalam kamus pertempuran di bawah bidikan crosshair seorang pembunuh berdarah dingin, enam menit adalah keabadian.
Aku merayap menelusuri sisi bawah mobil, mencoba mencari sudut pandang ke arah gedung mangkrak tersebut tanpa mengekspos kepalaku. Dari pantulan genangan air di bawah kolong mobil, aku menangkap sebuah kilatan cahaya mikroskopis yang terpantul dari ujung gedung itu. Lensa scope.
"Bram, aku akan memberikan tembakan perlindungan (covering fire)," ujarku, mengokang peluncur Glock-ku hingga peluru pertama masuk ke kamar peluru. "Saat aku mulai menembak, merayaplah ke arah pintu tangga darurat di belakang punggungmu. Beton di sana jauh lebih tebal."
"Kau gila, El! Pistolmu tidak akan pernah mencapai jarak itu!"
"Tujuanku bukan mengenainya! Tujuanku membuat kilatan api moncong untuk merusak fokus bidikannya dari dalam scope!" potongku tegas. "Hitungan ketiga!"
Aku tidak menunggu persetujuannya atau memberinya ruang untuk berdebat. Aku menahan napas, menstabilkan detak jantungku hingga dunia di sekelilingku terasa berhenti bergerak.
Satu. Aku menggeser tubuhku ke tepi batas blok mesin.
Dua. Aku mengangkat moncong Glock-19.
Tiga!
Aku muncul dari balik perlindungan selama maksimal dua detik, mengarahkan senjataku lurus ke arah kegelapan gedung mangkrak itu, dan menarik pelatuk tiga kali berturut-turut.
BAM! BAM! BAM!
Kilatan api moncong dari senjataku meledak di tengah gerimis sore yang kelabu. Tembakanku tentu saja meleset sejauh puluhan meter dari target, tapi suara letusan dan kilatan apinya cukup untuk memaksa sang penembak runduk menggeser posisi matanya dari lensa bidik sepersekian detik secara refleksif.
Bram memanfaatkan momentum itu dengan sempurna. Ia berguling keluar dari perlindungan sedan, merayap secepat kilat menembus genangan air kotor, dan berhasil mencapai balik pilar beton penyangga gedung di dekat akses tangga darurat.
Aku segera menarik tubuhku kembali merapat ke balik blok mesin. Tepat di saat itu, peluru balasan dari sang sniper merobek ruang udara di tempat kepalaku berada satu detik sebelumnya. Peluru itu menghantam pilar beton di atas kepala Bram, merontokkan plesterannya.
"Aku aman!" teriak Bram dari kejauhan. "Menyingkirlah dari mobil itu, El! Dia sedang mengukur ketebalan pelat baja mobilmu untuk tembakan penembus!"
Namun aku tidak bisa bergerak. Sudut pandang penembak itu kini mengunci area kiri dan kanan mobilku dengan presisi mematikan. Jika aku mencoba berlari sprint ke arah tangga darurat seperti Bram, aku akan menjadi siluet target terbuka sejauh lima meter. Jarak tembak yang sangat mudah bagi seorang eksekutor profesional.
Aku terjebak. Terjepit di antara aspal yang dingin, ban depan, dan blok mesin yang mulai bocor meneteskan oli pelumas ke dekat wajahku.
Bau besi dari darah di betisku bercampur dengan bau hujan dan oli mesin. Tanganku mencengkeram erat gagang pistol, buku-buku jariku memutih kaku.
Ini bukanlah ulah Jenderal Sudiro yang sedang dendam. Sudiro sedang diinterogasi di markas PM. Ini murni perintah dari regu pembersih internal Vanguard Group.
Darmawan Salim mengetahui bahwa aku telah membobol brankasnya. Dan ayahku tahu bahwa putri tunggalnya kini adalah saksi mahkota, sekaligus ancaman terbesar bagi kerajaannya. Di dunia korporat yang dibangun di atas fondasi darah keluarga Arlan, tidak ada ruang untuk kelemahan sentimental. Ia benar-benar telah menekan tombol eksekusi untuk putrinya sendiri.
Dari kejauhan jalan raya di bawah sana, sayup-sayup mulai terdengar raungan sirine mobil polisi yang membelah kemacetan sore Jakarta. Bantuan taktis sedang datang. Sang penembak runduk pasti sudah mendengarnya juga. Aturan nomor satu bagi pembunuh profesional adalah jangan pernah terjebak di lokasi penembakan saat polisi tiba. Ia punya waktu kurang dari satu menit untuk membongkar peralatannya dan menghilang tanpa jejak.
Aku menahan napas, menempelkan pipiku ke aspal yang basah, menunggu tembakan mematikan terakhir yang mungkin akan menembus blok mesin dan mengakhiri hidupku.
Namun, tembakan itu tidak pernah datang.
Satu menit penuh berlalu. Sirine polisi kini terdengar melengking tepat di jalanan bawah gedung parkir. Suara derit ban mobil SWAT terdengar samar.
Aku masih berbaring miring di atas aspal, menatap lurus ke kolong mobil. Keheningan yang menggantung di udara terasa lebih mengerikan dan menekan daripada suara ledakan peluru tadi.
"El!" Suara Bram memecah keheningan. "Dia sudah pergi! Unit taktis sedang mengamankan tangga darurat. Kau aman!"
Aku tidak menjawab. Dengan gerakan lambat yang gemetar, aku menarik diriku untuk bangkit dari kubangan air. Seluruh otot tubuhku terasa ditarik kaku. Rasa sakit di betisku mulai berdenyut hebat.
Aku berdiri, menatap kaca jendela mobil sedanku yang hancur berantakan. Aku membuka pintu mobil yang sudah penyok, memeriksa bagian dalamnya dengan sisa cahaya sore. Peluru pertama, peluru yang merobek udara di sebelah telingaku, telah menembus sandaran kepala (headrest) kursi pengemudi—kursi yang baru saja kutinggalkan sebelum aku melangkah keluar.
Garis lintasan proyektil itu begitu sempurna. Ia menembus dari kaca samping hingga ke pilar dalam, meninggalkan lubang bulat yang hangus di kulit jok.
Aku mengulurkan tanganku yang sedingin es, menyentuh tepian lubang tembakan di sandaran kepala itu. Sisa panas dari pergesekan peluru masih menyengat ujung jariku.
Air mata yang tidak kuundang jatuh membasahi pipiku yang kotor oleh debu dan darah. Bukan air mata kelegaan karena aku selamat dari maut. Melainkan air mata yang lahir dari kesadaran kelam akan duniaku yang telah hancur seutuhnya.
Lintasan peluru ini, waktunya, dan presisinya mengatakan kebenaran absolut yang tak bisa lagi kusangkal. Tidak ada negosiasi. Tidak ada ruang diskusi keluarga.
Ayahku baru saja menarik pelatuknya.