"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Suasana di aula utama villa itu semakin mencekam. Musik klasik yang mengalun pelan sama sekali tidak mampu mencairkan kekakuan yang ada. Ini bukan pesta untuk merayakan sesuatu; ini adalah ajang pamer taring bagi para predator.
Beberapa wanita dengan gaun desainer dan perhiasan berlian yang mencolok mulai menghampiriku. Mereka adalah istri-istri dari para petinggi klan rekanan Grisham. Salah satu dari mereka menyodorkan gelas kristal berisi wine merah yang pekat ke arahku.
"Mari bersulang untuk Nyonya Grisham yang baru. Selamat datang di lingkaran kami," ucapnya dengan senyum yang tidak sampai ke mata.
Baru saja tanganku hendak menyentuh gelas itu, sebuah tangan besar dengan sigap mengambilnya. Darrel berdiri di sampingku, memberikan gelas itu kembali pada si pelayan dan mengambil segelas jus jeruk dari nampan lain.
"Istriku sedang tidak ingin alkohol malam ini," ucap Darrel datar. "Terima kasih atas sambutannya."
Para wanita itu saling lirik, namun mereka hanya bisa mengangguk sopan tanpa berani membantah. Darrel kemudian membawaku berkeliling, memperkenalkanku pada beberapa pria paruh baya yang memiliki tatapan sedingin es. Namun, di setiap langkahku, aku bisa merasakan sepasang mata yang terus mengintai. Marthin Winston berdiri di sudut ruangan, menyesap minumannya sambil terus menatapku dengan tatapan yang membuat kulitku meremang.
Tiba-tiba, rasa mual yang hebat menghantam perutku. Mungkin efek stres, atau mungkin sisa rasa sakit dari pemeriksaan rongga tubuh tadi. Aku menyentuh lengan Darrel.
"Darrel, aku mual. Aku harus ke toilet sebentar," bisikku dengan wajah pucat.
Darrel menatapku sejenak, lalu mengangguk kecil. "Leo, antar dia. Pastikan tidak ada yang mendekatinya."
Leo mengikutiku hingga ke depan pintu toilet wanita yang terletak di lorong yang agak sepi. "Saya tunggu di sini, Nyonya. Jika ada sesuatu, berteriaklah," ucap Leo dengan sikap siaga.
Aku masuk ke dalam. Kamar mandi itu sangat luas dan mewah, namun sunyi. Saat aku sedang membasuh wajahku di wastafel, pintu utama toilet tertutup dengan bunyi klik yang halus. Aku mendongak dan jantungku nyaris berhenti. Melalui pantulan cermin, aku melihat Marthin Winston berdiri di sana, mengunci pintu dari dalam.
"Marthin? Bagaimana kau—ini toilet wanita!" pekikku sambil berbalik, mencoba lari ke arah pintu.
Namun Marthin lebih cepat. Ia mencengkeram kedua bahuku dengan sangat kuat dan menghempaskanku ke dinding marmer yang dingin. "Jadi ini alasan kau menolakku di kampus, Lily? Karena kau sudah dipesan oleh si bajingan Grisham itu?"
"Tidak! Bukan begitu!" aku menggeleng kuat, air mata mulai menggenang. "Lepaskan aku, Marthin! Leo ada di luar!"
"Leo?" Marthin tertawa sinis, wajahnya mendekat ke telingaku. "Anak buahku sedang mengalihkannya di lorong. Kita punya waktu, Lily. Aku ingin tahu apa yang membuat Darrel begitu tergila-gila padamu sampai dia melanggar aturan klan demi menjagamu."
Tanpa peringatan, Marthin mencengkeram rahangku dan membungkam bibirku dengan ciuman yang kasar dan memuakkan. Bau alkohol dan niat jahat tercium kuat darinya. Aku terus memberontak, memukul dadanya, namun tenaganya jauh lebih besar. Tangannya yang kurang ajar mulai meraba tubuhku, menjelajahi lekuk gaun satin hitamku dengan rakus.
"Mmmph! Lepas!" rintihku di sela-sela pergulatan itu.
Saking kuatnya ia menekan titik sensitif di leherku dan mencengkeram pinggangku, sebuah desahan rasa sakit yang terdengar ambigu tanpa sengaja lolos dari bibirku. Suara itu cukup keras hingga bergema di ruangan yang sunyi itu.
BRAKKKK!
Pintu kayu jati toilet itu hancur berantakan dalam satu kali dobrak. Darrel berdiri di sana dengan mata yang menyala merah karena amarah murni. Ia melihat pemandangan yang paling ia benci: istrinya sedang berada di bawah kendali musuh besarnya.
Tanpa bicara, Darrel menarik pistol dari balik jasnya—melanggar aturan protokol pesta yang melarang membawa senjata api—dan menodongkannya tepat ke arah dahi Marthin.
"Lepaskan tangan kotormu darinya. Sekarang, atau aku akan menghamburkan otakmu di atas lantai marmer ini," suara Darrel terdengar seperti guntur yang tertahan.
Marthin melepaskanku, mengangkat kedua tangannya sambil menyeringai licik, meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Wow, Darrel. Tenanglah. Kita hanya sedang bernostalgia sedikit."
Beberapa wanita yang hendak masuk ke toilet berteriak histeris melihat senjata api di tangan Darrel. Teriakan itu memicu kekacauan di aula utama. Para pengawal Winston mulai bergerak mendekat, sementara penyelenggara acara—seorang pria tua dari klan netral—berlari menghampiri dengan wajah pucat.
"Tuan Grisham! Turunkan senjatanya! Anda melanggar aturan suci pesta ini! Tidak boleh ada baku tembak di sini!" teriak si penyelenggara.
Darrel tidak bergeming. Ujung pistolnya masih menempel di kulit Marthin. "Aturanmu tidak berlaku jika ada yang menyentuh milikku. Aku akan membunuhnya di sini jika aku mau."
"Darrel, kumohon... jangan," aku mendekat, memegang lengannya yang gemetar karena amarah. "Ayo pergi dari sini."
Marthin tertawa rendah, memprovokasi. "Lihat, istrimu sendiri takut padamu, Darrel. Kau memang monster."
Darrel menurunkan senjatanya bukan karena takut akan aturan, melainkan karena ia melihat ketakutan yang luar biasa di mataku. Ia mencengkeram pergelangan tanganku dengan sangat kasar—bukan karena ingin menyakitiku, tapi karena ia sedang menahan diri agar tidak melepaskan tembakan.
Ia menyeret aku keluar dari toilet, melewati kerumunan orang yang menatap kami dengan ngeri dan bisik-bisik yang riuh. Leo sudah berada di sana, membersihkan jalur menuju pintu keluar sementara pengawal Winston tertahan oleh barisan pengawal Grisham yang sudah bersiaga.
"Kita pulang," geram Darrel.
***
Bersambung...
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
seru banget ceritanya