Apakah kembali ke rimba bersama perempuan masa laluku menyenangkan ?
Jika bukan karena uang yang sedang kubutuhkan, Aku memilih untuk tak akan kembali ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Serangan Lanjutan
Setengah berlari, Aku menuju ke pusat Geselma lagi. Tak mempedulikan ranting semak yang menghantam wajahku berulang kali, pikiranku lebih terfokus ke arah kepulan asap yang membumbung dekat hunian.
Sudah kubulatkan niat untuk sebisa mungkin menolong siapapun yang terluka di sana setelah kuhilangkan rasa takutku.
Yang membuat jantungku berdebar keras adalah pemandangan mengerikan di salah honai yang terbakar hebat.
Dua prajurit Geselma yang tergeletak hampir membuatku terjatuh saat tak sengaja tersandung tubuh keduanya yang rusak terkena hantaman peluru atau bisa jadi roket yang menyasar tanpa pilah pilih.
Sadar mereka sudah meninggal, Aku bergerak lagi semakin masuk ke hunian.
"Cepat, tak usah tengok ke belakang !" teriakku menyuruh Rey dan John untuk tetap mengikutiku.
Bau asap mesiu dan asap kebakaran mengganggu pandangan kami saat akhirnya kami bisa masuk ke pusat Geselma.
"Uuuuuh .... "
"Arrrgh... "
Beberapa teriakan mengaduh dan mungkin erangan minta tolong dengan bahasa yang tak kumengerti mulai terdengar di sekitarku.
Orang-orang yang ketakutan dan terluka kulihat berlarian menuju hutan sambil menyeret beberapa bocah telanjang yang menangis keras.
"Bantu angkat Yos !" Rey bergerak cepat. Memintaku menyingkirkan tumpukan balok kayu yang menghalangi langkah kami menuju Gereja.
Jalan menuju Gereja sudah tak berbentuk lagi tertutup runtuhan puing bangunan dan potongan kayu besar.
Bau amis darah mulai mengganggu jalan napasku, saat beberapa balok berhasil kusingkirkan.
"Dor dor dor !"
Tiba-tiba terdengar suara tembakan di kejauhan.
"Yos lihat itu !" John berteriak keras sambil menunjuk ke arah asal tembakan di atas bukit Geselma.
"Aduh, tamatlah Geselma !" kataku dengan nada gusar.
Rupanya Geselma benar-benar sudah terkepung. Beberapa prajurit Geselma yang ada di atas bukit itu terlihat roboh bergelimpangan terkena tembakan. Ada beberapa yang jatuh menggelinding dengan darah yang mengucur deras dari tubuhnya.
"Sekarang kita harus bagaimana Yos ?" tanya John dengan panik melihat pemandangan mengerikan tak terlalu jauh dari keberadaan kami.
Jika saja tak ada serangan mendadak siang itu, mudah bagiku menjawab pertanyaan John. Tetapi melihat apa yang terjadi, sudah kupastikan ada sebab lain dengan serangan membabi buta itu.
"Menurutku kita sebaiknya bersembunyi dulu ke hutan. Jika kita tetap di sini kita bisa mati konyol." Akhirnya Aku mengajak John dan Rey menyingkir secepatnya.
"Bagaimana dengan bapak Albert dan Yakob ?" tanya Rey yang masih ragu dengan keputusanku.
"Benar kata Yos, kita menyingkir dulu. Masalah bapak Albert dan Yakob biarlah Tuhan jaga mereka !" seru John yang mendukung keputusanku.
Tak membuang waktu kami merangkak meninggalkan tumpukan puing dan reruntuhan kayu di sela teriakan minta tolong dan erangan kesakitan yang masih jelas terdengar di bawahnya.
Tak mungkin kami tetap di sana karena tembakan dari atas bukit mulai menyasar ke hunian Geselma.
"Siri !" Aku berteriak terkejut melihat sosok bocah yang kukenali tergeletak saat berhasil meninggalkan reruntuhan puing. Tubuh kecil itu berlepotan darah dan lumpur.
"Masih hidupkah Yos ?" tanya Rey melihatku berhasil mendekati tubuh Siri.
Aku mengangguk setelah kurasakan napas yang terhembus pelan.
Jika dulu di distrik Intan Aku menyeret keras tubuh Angga di tengah hujan peluru, kini Aku tak tega menyeret tubuh kecil itu. Tak mempedulikan lagi tembakan di belakangku, Aku berdiri merengkuh tubuh itu dan membopongnya sambil berlari ke arah hutan di sisi lain Geselma.
Rey mendorong tubuhku yang kepayahan saat Aku berusaha melewati batang pohon besar yang tumbang.
"Wuuuuush.... wuuuush.... wuuuush !"
Baru beberapa saat kami berhasil melewatinya, suara helikopter yang menakutkan terdengar mendekat lagi ke arah Geselma.
"Reeteteteteteteeeet.... !"
Tak lama rentetan tembakan terdengar lagi menghantam hunian bersamaan dengan kami yang berhasil memasuki kedalaman hutan menyelamatkan diri.
***
"Aduuuuh.... Bapa .... Mama ..." suara mengaduh dari bibir Siri menyesakkan dadaku.
Setelah berhasil membawanya masuk hutan, kami menemukan ceruk kecil yang menurutku cukup melindungi. Dinding batu andesit cukup kokoh menopang atapnya.
Aku lega setelah membersihkan badan Siri dengan air yang ditemukan John dekat cerukan tadi. Tak ada luka serius di badannya. Hanya goresan luka terkena potongan kayu yang menurutku tak berbahaya.
"Siri jangan bergerak dulu," kataku pelan.
"Kakak Yos ?" ujarnya lirih setelah mengenaliku.
Semula dia berusaha berontak. Mungkin karena sedikit gelap di dalam ceruk tadi.
"Ya... Ini kakak Yos, kakak Rey, dan kakak John," Aku berusaha menenangkannya.
"Bapa mama mana ?" tanya Siri lagi.
Teringat tubuh Wimbo yang terkena terjangan peluru, Aku tak lekas menjawab pertanyaannya.
"Bapa mama ada cari makan di luar." Untungnya Rey tanggap dengan kebingungannya. Menjawab pertanyaan bocah itu sekenanya.
"Sudah, Siri tidur dulu. Nanti kakak Yos akan susul bapa dan mama di luar," kataku lagi sambil menyelimutinya dengan jaket.
Bocah itu mengangguk sambil berusaha memejamkan matanya lagi. Kulit kijang milik John yang jadi alas tidurnya setidaknya memberikan kenyamanan lebih di tengah hawa dingin pegunungan tengah yang mulai menusuk.
"Temani dia dulu Rey. Sebentar Aku keluar mencari tahu ada di mana kita," bisikku setelah kulihat Siri mulai terpejam lagi.
Beringsut pelan, Aku mengajak John meninggalkan ceruk setelah berpesan untuk membuat api ke Rey.
Arloji di tanganku sudah menunjukkan jam 3 sore. Rupanya cukup lama kami berjalan menembus kedalaman hutan menghindari pembantaian Geselma.
***
"Kita kehilangan arah John. Entah ada di mana kita sekarang," kataku setelah memperhatikan sekeliling.
Salinan peta yang kubuat dan kompas ditanganku tak banyak membantu. Kami sekarang terkepung kelebatan pohon raksasa dengan kanopinya yang menutup langit.
"Tak mungkin kita tahu posisi tepat, kecuali kita menemukan daerah yang lapang atau naik ke atas salah satu pohonnya." Aku mulai berpikir keras, "jika saja kita berhasil, mungkin kita bisa menemukan patokan atau melihat Geselma untuk mengetahui di mana keberadaan kita," ujarku lagi.
Mendengar ucapanku, John mulai menyapukan pandangannya. "Pohon-pohon ini terlalu besar Yos. Tak mungkin aku memanjatnya tanpa alat bantu. Parangku tertinggal entah di mana, " ucap John kemudian.
"Kita tunggu Rey selesai membuat api. Sebelum gelap kuusahakan Aku tahu posisi kita. Nanti gantian kamu jaga Siri, sementara Aku dan Rey berkeliling sekitar."
Untuk urusan kedalaman dan jejak bentang alam hutan pegunungan tengah, Rey kuakui lebih menguasainya seperti Albert.
Sayangnya, kini Aku terpisah dengan Albert yang masih tak kuketahui nasibnya, membuat diriku kini bersandar kepada Rey.
Kepanikan saat menerobos kelebatan hutan tak ayal menjadikan kami kehilangan arah. Dan untungnya kami tidak mendekati kepungan tentara yang bisa saja menembak kami tanpa ampun.
"Kenapa mereka begitu buas menghajar Geselma ?" gumam hati kecilku.
Setelah memastikan tak ada celah untuk mengintip ke luar dari kedalaman hutan, dan tak mungkin memanjat pohon, kami terdiam.
"Sepertinya Rey berhasil membuat api. Biar aku ke sana menjaga Siri. Atur sudah Yos apa yang bisa selamatkan kita." Melihat sinar terang yang keluar dari ceruk, John beranjak meninggalkanku.
"Baik John, Aku tunggu di sini. Hitung juga berapa makanan yang tersisa," kataku.
Selain harus tahu posisi, Aku juga harus memastikan berapa makanan yang tersisa.
Untungnya John berkeras membawa bekal di nokennya saat kami tadi ikut membantu mengawasi Geselma. Dan untungnya lagi, noken itu tak tertinggal bersama tas punggungku saat kami lintang pukang menyelamatkan diri.
***