Demi melindungi cintanya, dia harus membuat sebuah keputusan yang sulit untuk di mengerti orang lain. Menyembunyikan pernikahannya dan tinggal terpisah dari istrinya sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Tidak ada yang mengetahui tentang pernikahan itu selain dirinya, si gadis dan asisten pribadinya. Sangat tidak masuk akal memang, namun semua itu Kevin lakukan semata-mata hanya demi melindungi gadis tercintanya tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
CKITTTTT.....
"Aahhh .... "
Kevin mengerem mendadak saat sebuah van hitam tiba-tiba menyalip dan menghadang mobil yang dia kendarai, akibatnya punggung Jessica berbenturan dengan sandaran jok yang dia duduki dengan sangat keras.
Pintu van terbuka dan sedikitnya tujuh orang keluar dari van tersebut, tidak bisa terlihat dengan jelas karna sebagain wajah mereka tertutup masker. Ke tujuh pria itu menghampiri mobil Kevin dan mereka semua bersenjata. Melihat bahaya mengintai dirinya dan Kevin membuat Jessica menjadi sangat panik.
Brokk ... Brokk ... Brokk ....
"Aaahh ... "
Pintu di samping kanan Jessica di gedor dengan keras, salah seorang dari mereka menghantamkan palu pada kaca berharap kaca itu akan pecah. Tapi sayangnya usahanya sangat sia-sia. Jangankan pecah retak sedikit pun tidak.
"KEVIN ZHANG, KELUAR KAU...." Teriak seorang pria bertatto pada kepala plontosnya. "PENGECUT, CEPAT KELUAR!"
"Kevin, bagaimana ini?" panik Jessica dengan suara bergetar. Dia benar-benar sangat ketakutan.
"Tenanglah, tidak usah panik. Apapun yang terjadi jangan coba-coba untuk turun dan tetap di mobil."
"Tapi-,"
"Aku akan membereskan mereka dengan segera." Kevin mengusap pucuk kepala Jessica dan menyakinkan padanya jika semua akan baik-baik saja. "Kau mempercayaiku. Kan?" Jessica mengangguk.
"Hati-hati," pesan Jessica. Kevin mengangguk.
"Pasti."
Kevin keluar dari mobilnya dan ujung sebuah pistol langsung menyambutnya. Raut wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, stoic. Kevin terlihat biasa saja meskipun ujung sebuah pistol menempel pada keningnya. Tak ada ketakutan sedikit put tersirat dari sorot matanya yang tajam dan mematikan.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Kevin pada ketujuh pria dihadapannya.
"Kematianmu," jawab salah seorang dari ketujuh pria itu.
Kevin menyeringai. "Kalau begitu buktikan jangan hanya mengatakan omong kosong saja." Tantang Kevin dengan seringai yang sama.
"Aaarrrkkhhhh .... Sombong sekali kau, Kevin Zhang. Apa yang kalian tunggu, cepat habisi pria sombong ini."
Perlelahian pun tak dapat terhindarkan. Kevin yang hanya seorang diri di keroyok oleh tujuh orang. Pukulan demi pukulan mereka layangkan pada pria bermarga Zhang tersebut, tapi sayangnya tak satu pun pukulan mereka yang berhasil menyentuh tubuh Kevin. Kevin meliukkan tubuhnya dengan lincah guna menghindari setiap serangan yang mengarah pada wajah dan tubuhnya.
Kevin menahan kepalan tangan yang nyaris menyentuh wajah tampannya lalu memelintir tangan itu hingga terdengar suara retakkan mirip tulang patah, pria itu berteriak merasakan sakit yang luar biasa pada pangkal lengannya.
"Mati kau, Kevin Zhang!"
Brugg ... Kevin mengangkat kaki kanannya yang kemudian dia arahkan pada dada pria yang hendak memukulnya dari belakang. Tubuh pria itu terhuyung dan terjengkang kebelakang. Sedikitnya sudah empat orang yang berhasil Kevin lumpuhkan. Tak kehabisan akal, pemimpin dari para penjahat itu menghampiri mobil Kevin dan menyeret Jessica keluar.
"Berhenti atau wanita ini mati."
Sontak Kevin menoleh. Kedua matanya membelalak. Sebuah pistol menempel pada kepala Jessica, air mata wanita itu tumpah dan membasahi wajah cantiknya. Tubuhnya gemetar ketakutan, Jessica ingin sekali berteriak tapi lidahnya terasa keluh dan suaranya tercekat ditenggorokkannya. Dia hanya bisa berharap agar Kevin bisa segera menyelamatkannya.
Gyuttt... Kevin menggepalkan tangannya, sorot matanya semakin tajam dan mematikan. Auranya begitu suram dan mengerikan, keinginan membunuh dalam dirinya begitu kuat dan Iblis mulai mengambil alih. Dan jika sudah seperti ini Kevin akan sangat sulit dihentikan, dan Iblis dalam dirinya muncul ketika melihat air mata ketakutan Jessica.
"Lepaskan dia sekarang, atau kau akan menyesal," ucap Kevin memperingatkan.
"Hahaha! Memangnya apa lagi yang bisa kau lakukan sekarang, Kevin Zhang, kartu AS mu ada padaku. Jika kau berani macam-macam wanita ini akan mati. Dan sepertinya dia begitu special untukmu, atau jangan-jangan dia adalah Istrimu yang selama ini kau sembunyikan itu,"
"Sekali lagi aku peringatkan padamu, lepaskan dia atau kau akan menyesal." Ucap Kevin memperingatkan.
"Gertak saja sesuka hatimu, kau fikir aku takut. Kau berani bertindak sedikit saja, aku akan meledakkan kepalanya. Dan kalian , kenapa malah diam? Cepat habisi pria ini dan kita akan segera mendapatkan bayarannya."
"Tapi, Boss...."
"Aarrkkhh, pengecut kalian semua. Baiklah jika kalian tidak berani melakukannya , biar aku sendiri yang menghabisinya."
"Banyak omong...."
DORR... Kedua mata pria itu membelalak dan mulutnya langsung bungkam seketika setelah sebuah peluru menembus paha kanannya. Refleks cengkramannya pada Jessica pun terlepas dan hal itu segera dia manfaatkan untuk melarikan diri. Wanita berlari dan langsung menubruk dada Kevin yang tersembunyi di balik kemeja hitamnya.
Air matanya jatuh semakin deras, Jessica menangis sejadi-jadinya. "Tenang, Sayang. Kau sudah aman sekarang dan tidak akan kubiarkan hal serupa menimpamu lagi," bisik Kevin sambil mengusap rambut panjang Jessica dengan gerakkan naik turun.
"BOSS, BANTUAN DATANG. MAAF, KAMI DATANG TERLAMBAT." Seru Tao tanpa rasa bersalah sedikit pun, bahkan dia terlihat begitu tenang tanpa menghiraukan tatapan membunuh Kevin padanya dan Lay. Pura-pura tenang lebih tepatnya.
"Dari mana saja kalian berdua?" Kevin menatap marah pada mereka berdua.
"Maaf, Boss, kami terjebak macet makanya kami datang terlambat." Ujar Lay memberi penjelasan.
"Urus mereka , dan khusus untuknya. Potong kedua tangannya dan buang tubuhnya di hutan supaya menjadi makanan bintang buas," perintah Kevin seraya melirik pria yang menyakiti Jessica tadi. "Karna manusia seperti dia tidak layak di biarkan tetap hidup. Kita pergi dari sini," Kevin merangkul bahu Jessica dan keduanya berjalan beriringan menuju mobil Kevin.
Dapat tugas menyenangkan dari Kevin membuat Tao dan Lay begitu bersemangat. Keduanya saling bertukar pandang dan sama-sama menyeringai. Dan harga mahal yang harus di bayar jika berani membuat masalah dengan Kevin adalah kematian.
🌹🌹🌹
🌼🌼Beberapa minggu kemudian🌼🌼
Semilir angin musim semi berhembus damai, menggelitik sekumpulan dandelion yang tumbuh di tengah hamparan ilalang. Batang bunga ajaib itu meliuk seakan sedang menari.
Di tengah-tengah hamparan ilalang yang bergoyang karna sapuan angin. Tampak seorang gadis cantik bersurai coklat panjang sibuk menikmati mereka dengan tatapan takjub. Dan ketika angin berhembus semakin kencang, membuat serpihan-serpihan dandelion itu berterbangan ke angkasa, melayang jauh hingga tak lagi terjangkau oleh sepasang netranya.
Karna terlalu asik dan larut dalam dunianya sendiri. Sampai-sampai dia tidak merasakan kedatangan seseorang yang berjalan menghampirinya, mengarungi padang ilalang dengan langkah-langkah panjang.
"Sica,"
Merasa terpanggil. Segera Jessica menoleh pada asal suara, udut bibirnya tertarik ke atas melihat siapa yang datang menghampirinya. "Kevin," Jessica beranjak dari tempatnya berdiri dan berhambur ke dalam pelukkan Kevin. Hampir dua minggu Kevin meninggalkannya jadi wajar kalau dia merasa rindu.
Kevin pergi ke Inggris karna ada masalah yang harus dia urus dan dia selesaikan di sana. Meskipun sangat berat, tapi terpaksa dia meninggalkan Jessica. Bisa saja Kevin membawa Jessica untuk ikut bersamanya, tapi keadaan di sana jauh lebih berbahaya. Dan Kevin sangat menyesal karna kembali lebih lama dari waktu yang telah dia janjikan.
"Aku merindukanmu, Sayang." Bisik Kevin sambil mengeratkan pelukkannya.
"Aku juga."
.
.
.
BERSAMBUNG.