NovelToon NovelToon
Delapan Pusaka : Amarah Harimau

Delapan Pusaka : Amarah Harimau

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Pusaka Ajaib / Barat
Popularitas:767.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ersa Kurnia

Cakiya dan Baruna, dua pendekar muda yang paling dicari-cari keberadaannya di kerajaan. Salah satu alasan dua pendekar itu begitu diburu karena mereka dituduh mencuri tiga dari Delapan Senjata Pusaka milik Kerajaan, yaitu gada Aqni Samaja, kujang Nagacita dan keris Rudra Arutala.

Mereka berdua juga diincar orang-orang dari Perguruan Harimau Bulan dan Perguruan Harimau Matahari, dua perguruan aliran putih terbesar di Kerajaan. Takdir seperti apa yang akan menanti mereka? Apakah mereka tertangkap? Akankah Baruna & Cakiya berhasil memulihkan nama baik mereka? Atau mereka justru bergabung bersama para pendekar dari golongan hitam?


Catatan : Boleh promosi karya di kolom komentar, mohon maaf kalau saya lambat merespon atau malah lupa merespon di kolom komentar 🙇‍♂️🙇‍♂️. Mari sesama pegiat industri kreatif saling mendukung...✊✊✊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ersa Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Tangis Setelah Nyanyian

Setelah berkata demikian sosok Baruna tiba-tiba menghilang dari pandangan lalu tiba-tiba sudah berada berdiri beberapa meter membelakangi lawan-lawannya. Kesembilan belas orang Perguruan Harimau Matahari begitu terkejut sewaktu menyadari sosok Baruna yang menjadi sasaran serangan mereka, mendadak menghilang dari hadapan mereka. Beberapa orang dari mereka kemudian membalikkan tubuh dan menyadari jika Baruna telah berada membelakangi mereka. Dengan sigap mereka pun memberi tahu rekan-rekannya.

“Di belakang!”

Ketika sebagian besar murid-murid Perguruan Harimau Matahari itu memutar tubuhnya, Baruna mengetukkan tongkat Kyai Sakwari Warsita beberapa kali. Lalu, saat lawan-lawan Baruna menjejakkan langkah sebanyak dua atau tiga langkah, beberapa dari mereka pingsan. Kemudian, kesembilan belas orang itu tidak sadarkan diri sepenuhnya sewaktu merangsek menyerang Baruna. Kesembilan belas orang itu jatuh ke tanah, saat Baruna dengan lawan-lawannya hanya berselisih jarak enam dan tujuh meter.

“A…apa yang terjadi?” Ramawadya terheran-heran melihat hasil akhir pertarungan antara Baruna melawan rekan-rekannya sesama murid dari Perguruan Harimat Matahari.

Baik Ramawadya serta Watu Lahar sama sekali tidak menyangka jika dua puluh satu rekan mereka dapat dengan mudah dikalahkan oleh Baruna dan juga Cakiya. Dua puluh orang lebih itu, dapat dikatakan merupakan murid-murid terbaik dari Perguruan Matahari. Mereka begitu disegani baik oleh para pejabat, sesama pendekar hingga rakyat jelata. Biasanya, orang-orang di seluruh penjuru Kerajaan segera berpikir dua kali jika berurusan dengan murid-murid maupun pengurus Perguruan Harimau Matahari. Namun, kali ini yang terjadi sungguh berbeda, mereka justru harus kalah di tangan orang-orang yang seharusnya menjadi saksi kekuatan orang-orang Perguruan Harimau Matahari tersebut. Mereka berdua pun disapu rasa bingung bercampur takut yang luar biasa. Belum sempat mereka berdua berpikir tentang apa yang harus dilakukan. Cakiya tiba-tiba sudah berada di belakang Watu Lahar dan Ramawadya.

“Biar kujelaskan.” Sela Cakiya tiba-tiba yang sudah berada di antara Watu Lahar dan Ramawangsa. Ia lalu merangkul Ramawangsa dan Watu Lahar sambil berkata,” Sewaktu Baruna sibuk berkelit dari lawan dan sesekali menyerang lawan dengan menyasar bagian kepala, sesungguhnya Ia sudah merusak pendengaran dan saraf lawan lawannya menggunakan tongkat serta suara yang keluar dari ujung tongkat tersebut.”

Watu Lahar dan Ramawangsa berusaha melepaskan rangkulan dari Cakiya, akan tetapi lengan Cakiya terasa berat seperti gelondongan kayu dan begitu keras seperti Baja. Mereka berdua berusaha melepaskan diri, akan tetapi Cakiya seolah-olah tidak peduli pada kesulitan Watu Lahar. Cakiya tetap melanjutkan ceritanya mengenai jurus yang digunakan Baruna untuk membuat lawan-lawannya ambruk dalam sekejap.

"Ugh berat sekali." Keluh Watu Lahar.

“Kemudian, Baruna mengayunkan tongkatnya berkali-kali dengan suara itu juga sebenarnya bagian dari rangkaian jurus tersebut dengan menyerang menggunakan gelombang suara pada telinga lawan yang sudah dilukai dengan nada-nada tertentu. Lalu setelah memutar tongkat, Baruna seolah-olah menghilang, padahal sebenarnya Ia memukul kesembilan belas orang itu tepat di gendang telinga. Efek dari pukulan tersebut membuat gelombang kejut dan juga gelombang suara mengacaukan kesadaran dan keseimbangan musuh-musuh Baruna.” Cakiya tersenyum melihat dua orang Pendekar dari Perguruan Harimau Matahari itu begitu terlihat ketakutan dan bertambah bingung.

Mereka berdua pun masih berusaha melepaskan diri dari rangkulan serta cengkraman Cakiya, namun lengan Cakiya terlalu kuat bagi Watu Lahar dan Ramawadya. Mereka berdua pun hanya mampu menggeliat-nggeliat mencoba membebaskan diri seperti dua ekor ikan terjebak jaring perangkap ikan. Mereka pun tidak menyadari jika Baruna berjalan mendekati mereka. Dan sewaktu Watu Lahar serta Ramawadya telah menyadari jika Baruna dan Cakiya bersama mereka, mereka berdua hanya mampu bersujud memohon ampun di hadapan Baruna serta Cakiya.

“Baruna, menurutmu hukuman apa yang pantas untuk mereka?” Tanya Cakiya.

Baruna tidak menjawab pertanyaan yang diutarakan oleh Cakiya, tetapi Ia justru melesat menghantamkan gagang tongkat Kyai Sakwari Warsita miliknya dengan menyasar tengkuk Ramawadya. Ramawadya pun pingsan dengan posisi jatuh tersungkur sebelum menyadari apa yang sedang dilakukan Baruna. Melihat rekan seperguruannyapingsan karena diserang Baruna yang bergerak dengan kecepatan luar biasa, Watu

Lahar menjerit ketakutan dengan mata berkaca-kaca. Dirinya sama sekali tidak membayangkan bila bala bantuan saudara-saudara seperguruannya yang berasal dari pusat Perguruan Harimau Matahari yang berada di Ibu Kota kalah telak melawan Baruna dan Cakiya.

Ketakutan yang menyergap Watu Lahar begitu megetahui Baruna dan Cakiya menang mudah

melawan orang-orang dari Perguruan Harimau Matahari. Ketakutan Watu Lahar kali ini bukan tanpa alasan, sebab yang mereka hajar hingga tidak berdaya bukanlah orang-orang sembarangan. Macan Mawa sendiri merupakan salah satu murid paling berbakat di Perguruan Harimau Matahari, Ia sudah tiga kali berturut-turut menjuarai turnamen bela diri antar perguruan yang diselenggarakan di Ibu Kota. Sementara, rekan-rekan Macan Mawa yang juga membantunya juga memiliki deretan prestasi yang tidak bisa diremehkan dalam dunia bela diri aliran putih. Mereka seringkali memenangkan banyak pertarungan resmi maupun tidak resmi di Ibu Kota serta mengukir prestasi di beberapa turnamen hingga menuju babak final. Akan tetapi, deretan prestasi yang menunjukkan seberapa kuat murid-murid Perguruan Harimau Matahari itu seakan-akan tidak memiliki taring ketika bertemu dengan dua pendekar muda seperti Cakiya dan Baruna.

Sambil memohon ampun dengan tubuh gemetar serta dipenuhi keringat dingin, Watu Lahar merangkak seperti binatang berkaki empat meraih lalu berusaha meraih kaki kiri Cakiya.  “To…tolong ampuni kami semua Tuan Cakiya....Tuan Baruna. Sungguh kami semua benar-benar kapok untuk mencari masalah dengan Anda."

Baruna tidak menjawab permohonan mengiba dari Watu Lahar, tetapi justru menodongkan tongkat Kyai Sakwari Warsita  di dahi Watu Lahar seolah-olah akan segera menyodok kepala Watu Lahar.

“Hiiii….ampuun Tuan Barunaaa.” Watu Lahar bersujud memohon ampun hingga mengantuk-antukkan dahinya di tanah.

Cakiya memerintahkan Watu Lahar untuk menghentikan rengekannya, lalu setelah Watu Lahar dapat menenangkan dirinya, Cakiya memerintahkan sesuatu kepada Watu Lahar.

“Tuan Watu Lahar, Anda harus menjawab pertanyaan kami berdua dengan jujur.” Perintah Cakiya yang dibalas oleh anggukan bercampur ketakutan dari Watu Lahar. "Baruna, kalau ada yang ingin kautanyakan, silakan bertanya pada Watu Lahar .”

Baruna mengangguk pelan lalu bertanya kepada Watu Lahar. “Sudah berapa hari kalian menunggu Cakiya di sini?”

Tanya Baruna dengan suara pelan, namun sorot matanya sangat tajam dihiasi aura menusuk yang sangat mengintimidasi, dan membuat Watu Lahar ketakutan.

“Sekitar dua hari satu malam kami berada di sini. Rencananya besok jika kami tidak bertemu dengan A…Anda Tuan Cakiya, kami ke Lamunarta untuk mencari Anda.” Jawab Watu Lahar.

"Jadi beberapa hari terakhir kalian semua belum mengunjungi Lamunarta?" Tanya Cakiya yang dijawab anggukan pelan Watu Lahar.

Mengetahui jika Watu Lahar dan teman-temannya belum mengunjungi Lamunarta, Baruna dan Cakiya hanya saling memandang. Baik Watu Lahar serta dua puluhan orang rekannya dari Perguruan Harimau Matahari itu sama sekali belum mengetahui jika Baruna dan Cakiya telah menggegerkan seluruh kota Lamunarta. Hampir tidak pernah terjadi seorang tawanan hukuman mati mampu melarikan diri pada saat akan dieksekusi secara langsung. Tidak hanya membuat rusuh eksekusi mati, Cakiya juga mencuri salah satu dari Delapan Senjata Pusaka Suci milik Kerajaan yang telah disimpan selama ratusan tahun di Kota itu. Apa yang dilakukan Baruna dan Cakiya tentu akan menjadi pembicaraan di seluruh negeri hingga mungkin bertahun-tahun kemudian. Bisa saja, jika rombongan Watu Lahar yang dipimpin oleh Macan Mawa itu akan berubah pikiran untuk menantang Cakiya dan Baruna dalam sebuah perkelahian, bila mereka semua mengetahui apa yang telah dua pendekar itu lakukan di Lamunarta.

1
anggita
tetep top👍
Feri Ferdiansyah
cerita yang sangat menarik.. kata katanya sangat detail sekali.. perumpamaan yg halus, logis dan diluar nalar.. harusnya cerita nusantara seperti ini yg dibutuhkan bagi penikmat cerita seni beladiri..
Nedi Junaidi
Luar biasa
asta guna
tak simak e sek
asta guna
tak kiro wes end....
oke thor tlg masukan dr para reader yg. sekiranya itu membangun tlg di aplikasikan.
kita sangat menghargai perih payah author dlm membangun cerita dan klopun ada kata2 yg kasar dari kami ya itu semata2 Krn kami ingin sajian yg memanjakan imaginasi.
Ardi Yansyah
gak disangka ada notip update ceritanya
Eclairs5888: Maaf Yaa...dari Agustus-Desember 2023 Saya ada Diklat Latsar & Aktualisasi. Januari-26 Februari, Saya urus administrasi dll sampai pengambilan sumpah hhu.
total 1 replies
asta guna
bangke, gue kira tambah lagi yg tumbang ternyata 2 paragraf cuma untuk menjelaskan yg sudah tumbang. keterlaluan lu. gue di novel2 lain yg bergenre pendekar biasanya sangat royal. sebut saja sang musafir, 13 pembunuh. tp maaf gak di novelmu. merinci hal2 yg gak penting itu MENYEBALKAN
asta guna: anda hebat JD bagian dari pejuang kemanusiaan. sedikit masukan yg agak frontal semoga gak mengendorkan semangatmu thor
total 2 replies
asta guna
bertele2... 3 chapter perterungan seimbang.. kelihatan banget author ngulur2 cerita dan narasi
asta guna
hal2 receh kek gini gak perlu di deskripsikan dengan detail. gak menarik tau
asta guna
novel ini keren. sayangnya kau telat bacanya.
asta guna
namanya keren
asta guna
mantab
Priskila Prima Hevina
coyoteeeee
Priskila Prima Hevina
woww plot twist Recamadya Anala
Ardi Yansyah
tetap akan di update ceritanya oleh author tapi para pembaca setia harus extra sabar dan slow
kalau cepat hasil ceritanya tidak akan bagus, seru dan menarik jadi pembaca harus sabar ya
Eclairs5888: Mohon maaf updatenya lama, Saya masih latsar utk PNS ini, sampai tanggal 11 November 2023.
total 1 replies
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
kek nggak percaya lihat notif novel ini up 😅😅😅
Priskila Prima Hevina
Baruna dan Recamadya Anala
Priskila Prima Hevina
Busur Cincin Ungu
Kang_Wah_Yoe
,siiip thor
anggita
top✊☝👏👌👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!