Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.
Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.
Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Babak Kedua – Seol vs Murid Kultus Darah
Matahari pagi menyinari Lembah Naga Putih dengan cahaya keemasan yang hangat, tetapi udara di sekitar arena terasa dingin—terlalu dingin untuk pagi hari di tengah musim semi. Seol merasakannya sejak ia melangkah keluar dari penginapan. Ada sesuatu yang berubah di udara, sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Di tribun timur, jubah-jubah merah sudah berkumpul sejak sebelum matahari terbit. Mereka duduk dalam formasi rapi, wajah-wajah mereka tenang, tetapi dari kejauhan, Seol bisa merasakan qi mereka—qi yang berbeda dari para pendekar biasa. Lebih berat. Lebih dingin. Dan ada sesuatu yang menggeliat di dalamnya, seperti ular yang tidur di bawah permukaan.
Ia duduk di area persiapan, memusatkan qi-nya, mempersiapkan diri. Babak pertama kemarin berlangsung cepat. Kemenangannya atas Baek Ho dari Sekte Tulang Besi membawanya ke babak kedua, di mana ia akan berhadapan dengan pemenang dari pertandingan antara murid Sekte Pedang Sakti dan murid Kultus Darah.
Ia sudah tahu siapa pemenangnya.
Pertandingan itu berlangsung kemarin sore, hanya sepuluh detik. Murid Sekte Pedang Sakti—seorang pemuda berbakat dengan teknik pedang yang solid—jatuh tanpa bisa bergerak. Tidak ada yang mengerti apa yang terjadi. Wasit memeriksa, menyatakan ia masih hidup, tetapi qi-nya kosong, seperti disedot habis oleh sesuatu yang tak terlihat.
Pemenangnya adalah pemuda kurus dengan jubah merah gelap, wajah pucat seperti mayat, dan mata yang tidak berkedip. Namanya, menurut pengumuman resmi: Hyun Ki, murid senior Kultus Darah, murid langsung Komandan Doksa.
Dan hari ini, Seol akan berhadapan dengannya.
---
Sebelum Pertandingan
“Seol.”
Seol membuka matanya. Seol Hwa berdiri di depannya, tangan di belakang punggung, wajahnya datar seperti biasa. Tapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang jarang ia tunjukkan. Kekhawatiran.
“Hyun Ki,” katanya. “Aku sudah mempelajari pertandingannya kemarin.”
“Apa yang kau temukan?”
“Tekniknya disebut Qi Pembeku Darah.” Suara Seol Hwa menjadi lebih pelan, hanya cukup untuk didengar Seol. “Teknik terlarang yang dikembangkan oleh Kultus Darah. Ia mengalirkan qi-nya ke dalam tubuh lawan, bukan untuk melukai, tetapi untuk membekukan qi lawan dari dalam. Semakin lama pertarungan berlangsung, semakin dingin qi-mu, semakin lambat gerakanmu, hingga akhirnya kau tidak bisa bergerak sama sekali.”
Seol merasakan dingin menjalari punggungnya. “Bagaimana cara melawannya?”
“Jangan biarkan qi-nya masuk ke tubuhmu. Gunakan Pedang Angin untuk menciptakan lapisan qi di sekeliling tubuhmu—perisai yang tidak terlihat. Jika ia mencoba menyentuhmu, perisai itu akan memblokirnya. Tapi…” Ia ragu.
“Tapi?”
“Perisai itu akan menguras qi-mu. Dan Hyun Ki tahu itu. Ia akan menyerang terus-menerus, memaksamu mempertahankan perisai, hingga qi-mu habis. Saat itu, kau akan jatuh seperti lawannya kemarin.”
Seol menggenggam gagang pedangnya. “Ada cara lain?”
Seol Hwa menatapnya untuk waktu yang lama. “Serang lebih cepat dari yang ia kira. Jangan biarkan ia memulai ritmenya. Jika kau bisa membuatnya bertahan, bukan menyerang, kau punya kesempatan.”
Ia berbalik, melangkah pergi. Tapi sebelum ia menjauh, ia berkata tanpa menoleh:
“Dan satu hal lagi. Jangan biarkan ia menyentuhmu. Apakah dengan tangan, pedang, atau bahkan jubahnya. Jika qi-nya masuk ke tubuhmu, pertarungan ini akan berakhir dalam hitungan detik.”
Seol menatap punggung Seol Hwa yang menjauh, lalu menunduk, memeriksa pedang di pangkuannya. Pedang pinjaman itu. Pedang yang telah menyelamatkannya kemarin.
“Hari ini,” bisiknya, “aku akan mengandalkan teknikku sendiri.”
Di dalam sakunya, Batu Giwa berdenyut hangat.
---
Pertandingan Dimulai
“Pertandingan babak kedua! Ryu Seol dari Sekte Pedang Surgawi melawan Hyun Ki dari Kultus Darah!”
Nama Kultus Darah membuat tribun bergumam. Bukan gumaman kagum, tetapi gumaman takut dan benci yang bercampur menjadi satu. Seol berjalan menaiki tangga panggung, setiap langkahnya mantap, matanya tertuju pada lawannya yang sudah berdiri di sisi lain.
Hyun Ki tidak bergerak. Ia berdiri di tempatnya dengan tangan tergantung di sisi tubuh, jubah merah gelapnya tidak berkibar meski angin bertiup. Wajahnya pucat—pucat seperti kertas, dengan bibir tipis yang membentuk senyum kecil, dan mata hitam pekat yang tidak berkedip.
Dari dekat, Seol bisa merasakan qi-nya. Dingin. Sangat dingin. Seperti berdiri di depan gunung es di tengah musim dingin. Dan di dalam dingin itu, ada sesuatu yang bergerak—sesuatu yang gelap, lapar, dan tidak sabar.
“Kau,” kata Hyun Ki, suaranya pelan, hampir berbisik, tetapi terdengar jelas di keheningan. “Kau yang mengalahkan Baek Ho dari Tulang Besi. Aku menonton pertandinganmu. Teknik Pedang Bayanganmu… menarik.”
Seol tidak menjawab. Ia mencabut pedangnya perlahan, bilahnya berkilat di bawah sinar matahari. Ia mengambil posisi—kaki kiri di depan, kaki kanan di belakang, pedang diangkat setinggi dada.
Hyun Ki tersenyum. “Kau tidak takut?”
“Aku di sini untuk bertarung,” kata Seol. “Bukan untuk takut.”
“Bagus.” Hyun Ki mengangkat tangannya. Tidak ada pedang. Hanya tangan kosong dengan jari-jari panjang dan ramping, seperti jari pemain kecapi. “Karena aku di sini untuk menunjukkan pada semua orang bahwa kultus kami bukanlah sampah yang bisa diremehkan.”
Wasit mengangkat tangannya. “Mulai!”
Hyun Ki melesat maju.
---
Kecepatan yang Berbeda
Seol sudah siap. Ia mengalirkan qi ke kakinya, bersiap menghindar. Tapi ia tidak mengantisipasi kecepatan Hyun Ki.
Pemuda kurus itu bergerak seperti bayangan. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Seol, jari-jarinya mengarah ke dada Seol—bukan menusuk, tetapi menyentuh.
Seol menghindar dengan refleks yang sudah terlatih. Tubuhnya bergeser ke kanan, pedangnya terangkat untuk menangkis. Tapi Hyun Ki tidak mengejar. Ia berhenti di tempatnya, tersenyum.
“Cepat,” katanya. “Tapi tidak cukup cepat.”
Seol merasakan sesuatu yang aneh. Di dadanya, di tempat di mana Hyun Ki hampir menyentuhnya, ada dingin yang menjalar. Sangat tipis, hampir tidak terasa, tetapi ada.
“Ia sudah mengirimkan qi-nya,” bisik Gu di kepalanya. “Gunakan Pedang Angin. Cepat!”
Seol mengalirkan qi ke seluruh tubuhnya, menciptakan lapisan tipis di bawah kulit—perisai yang tidak terlihat, seperti yang diajarkan Seol Hwa. Dingin itu berhenti menjalar, tetapi tidak hilang. Ia hanya terhenti, menunggu.
Hyun Ki mengangkat alis. “Pedang Angin? Kau pikir lapisan tipis itu bisa melindungimu?”
Ia melesat lagi. Kali ini lebih cepat. Tangan kanannya menyapu ke arah leher Seol, tangan kirinya menusuk ke perut. Dua serangan dalam satu gerakan, tidak ada jeda, tidak ada ruang untuk bernapas.
Seol tidak punya waktu untuk menghindar keduanya. Ia hanya bisa memilih satu.
Ia memilih untuk menangkis serangan ke leher dengan pedangnya, membiarkan serangan ke perut mengenai perisai qi-nya.
Thud!
Telapak tangan Hyun Ki mengenai perut Seol. Perisai qi-nya bergetar hebat, retak di beberapa tempat, tetapi tidak pecah. Tapi dingin itu—dingin itu masuk melalui retakan, menjalar ke perutnya, ke dadanya, ke pusaran qi-nya.
Seol merasakan qi-nya melambat. Bukan berhenti, tetapi melambat, seperti sungai yang mulai membeku di musim dingin.
Ia mundur tiga langkah, napasnya tersengal. Perisai qi-nya masih utuh, tetapi retakan-retakan itu tidak menutup. Hyun Ki terus menekan, qi dinginnya mengalir seperti air, mencari celah, menembus setiap retakan.
“Kau tidak bisa bertahan selamanya,” kata Gu. “Ia akan terus menyerang sampai perisaimu hancur. Kau harus menyerang balik.”
Seol menggigit bibirnya. Ia mengangkat pedangnya, dan untuk pertama kalinya dalam pertarungan ini, ia melangkah maju.
Bukan untuk bertahan. Untuk menyerang.
---
Pedang Angin Melawan Qi Pembeku
Seol mengayunkan pedangnya dalam gerakan melingkar—Teknik Pedang Angin yang ia pelajari dari Kwak Jung. Tapi kali ini, ia tidak hanya menciptakan angin biasa. Ia memasukkan seluruh qi-nya ke dalam setiap ayunan, menciptakan pusaran angin di sekeliling pedangnya, pusaran yang berputar semakin cepat, semakin kuat.
Hyun Ki tidak mundur. Ia melangkah maju, tangannya terangkat, mencoba menangkap bilah pedang Seol dengan tangan kosong.
Bodoh. Atau itulah yang Seol pikir.
Tapi ketika telapak tangan Hyun Ki menyentuh bilah pedang itu, tidak ada darah yang keluar. Yang ada adalah es. Es yang terbentuk di permukaan bilah, menjalar dari ujung ke gagang, membekukan pedang itu dalam sekejap.
Seol merasakan dingin menjalar dari gagang pedang ke tangannya. Ia hampir melepaskannya, tetapi ia menahan diri. Jika ia melepaskan pedang, ia kehilangan satu-satunya senjatanya.
“Lepaskan!” teriak Gu dalam kepalanya. “Pedang itu sudah mati!”
Seol melepaskan pedangnya tepat pada waktunya. Bilah itu jatuh ke lantai batu dengan bunyi kring yang jernih—bukan suara logam, tetapi suara es yang pecah. Pedang itu hancur berkeping-keping, meninggalkan hanya gagang kayu yang masih tergenggam di tangan Hyun Ki.
Pria kurus itu tersenyum. “Pedang pinjaman, ya? Sayang sekali.”
Ia melemparkan gagang itu ke pinggir panggung, lalu menghadap Seol dengan tangan kosong.
“Sekarang, kau tidak punya pedang. Kau tidak punya perisai yang utuh. Qi-mu sudah setengah beku. Dan kau masih berdiri di hadapanku.” Ia menggelengkan kepala. “Kau benar-benar bodoh.”
Seol tidak menjawab. Ia berdiri di tempatnya, tangan kosong, napasnya keluar dalam uap putih tipis—uap yang seharusnya tidak ada di pagi yang cerah ini. Dingin itu sudah masuk ke dalam tubuhnya, membekukan qi-nya dari dalam.
Ia merasakan kakinya mulai kaku. Tangannya mulai gemetar. Pusaran di dadanya berputar semakin lambat, seperti sungai yang perlahan membeku.
“Seol!” Gu panik. “Kau harus—"
“Diam,” bisik Seol.
Ia menutup matanya.
Di dalam dadanya, pusaran qi itu hampir berhenti. Tapi di tengah pusaran itu, di titik paling dalam, ada sesuatu yang tidak bisa dibekukan.
Api.
Bukan api biasa. Api yang lahir dari tekad yang tidak pernah padam. Api yang membara sejak ia masih anak-anak, ketika Cheonmyeong menghinanya. Api yang membesar ketika ia menemukan Gu. Api yang menyala terang ketika ia berjanji akan kembali ke Desa Cheonho.
Api itu tidak bisa dibekukan oleh qi iblis mana pun.
Seol membuka matanya.
Dan ia menggerakkan tangannya.
Tidak ada pedang. Tidak ada qi yang terlihat. Hanya tangannya yang kosong, bergerak dalam lengkungan yang lambat—terlalu lambat untuk menjadi serangan.
Tapi angin di sekitarnya berubah.
Bukan angin biasa. Ini adalah angin yang lahir dari pusaran qi-nya yang berputar kembali, berputar lebih cepat dari sebelumnya, melelehkan es yang membeku di meridiannya, mengalir deras ke lengannya, ke ujung jarinya, ke udara di depannya.
Angin itu berputar, membentuk pusaran kecil di telapak tangannya, dan pusaran itu semakin besar, semakin cepat, semakin kuat.
Hyun Ki mengerutkan kening. Untuk pertama kalinya, senyumnya menghilang.
“Apa—?”
Seol tidak memberi waktu. Ia melangkah maju, telapak tangannya yang berisi pusaran angin itu menekan dada Hyun Ki.
Bukan serangan fisik. Ini adalah serangan qi murni—seluruh sisa qi yang ia miliki, dikompres menjadi satu titik, dilepaskan dalam sekejap.
Pusaran angin itu meledak.
Hyun Ki terpental ke belakang, tubuhnya menghantam lantai panggung dengan keras, berguling dua kali sebelum berhenti. Untuk sesaat, ia tidak bergerak. Kemudian, perlahan, ia bangkit.
Wajahnya tidak lagi pucat. Ada rona merah di pipinya—bukan karena malu, tetapi karena qi-nya terganggu. Untuk pertama kalinya, ia terlihat seperti manusia biasa.
“Kau… kau menghancurkan pusaran qi-ku,” katanya, suaranya tidak lagi pelan. Ada nada terkejut di sana. “Dengan teknik yang sama seperti yang aku gunakan? Tidak. Ini berbeda. Ini… ini lebih primitif. Lebih liar.”
Ia menatap Seol dengan mata yang berubah—bukan lagi meremehkan, tetapi waspada.
“Siapa kau?”
Seol tidak menjawab. Tubuhnya terasa kosong. Qi-nya hampir habis. Pusaran di dadanya berputar sangat lambat, seperti sungai yang hampir kering. Tapi ia masih berdiri.
Ia mengangkat tangannya lagi, meski tangannya gemetar hebat. Di telapak tangannya, pusaran kecil mulai terbentuk—kecil, lemah, nyaris tidak terlihat.
Tapi cukup.
Hyun Ki menatap pusaran kecil itu, lalu menatap Seol. Matanya berkedip sekali, dua kali, tiga kali—kedipan pertama yang ia tunjukkan sejak pertarungan dimulai.
“Aku tidak akan meremehkanmu lagi,” katanya. “Tapi kali ini, aku tidak akan bermain-main.”
Ia mengangkat kedua tangannya. Qi dingin berkumpul di telapak tangannya, membentuk bola-bola kecil berwarna biru pucat—bukan es, tetapi sesuatu yang lebih dingin dari es. Udara di sekelilingnya berubah menjadi kabut, dan tribun mulai bergumam karena suhu di panggung turun drastis.
Seol merasakan dingin itu menusuk kulitnya, membekukan napas di paru-parunya. Tapi ia tidak mundur.
Ia mengangkat pusaran kecil di tangannya. Tidak ada perbandingan. Bola dingin Hyun Ki sebesar kepalan tangan, dua buah, siap dilempar. Pusaran Seol hanya sebesar bola mata, berdenyut lemah, nyaris padam.
Tapi ia tidak menyerah.
Hyun Ki melemparkan bola dingin itu. Dua bola biru pucat melesat ke arah Seol dengan kecepatan yang tidak bisa dihindari.
Seol tidak menghindar. Ia melemparkan pusaran kecilnya.
Pusaran itu melesat, kecil dan lemah, bertabrakan dengan salah satu bola dingin. Untuk sesaat, tidak ada yang terjadi. Kemudian pusaran itu menyerap bola dingin itu—menariknya ke dalam, memutarnya, mengubahnya menjadi bagian dari dirinya sendiri.
Bola dingin yang satu lagi mengenai bahu Seol.
Seol jatuh. Ia merasakan dingin itu menyebar dari bahunya ke seluruh tubuhnya, membekukan otot, membekukan darah, membekukan qi yang tersisa. Ia jatuh berlutut di lantai panggung, tangan kanannya masih terangkat, tetapi tidak bisa bergerak.
Hyun Ki berdiri di depannya, napasnya terengah, tangannya masih terangkat.
“Kau bertahan lebih lama dari yang kukira,” katanya. “Tapi ini akhirnya.”
Ia mengangkat tangannya untuk serangan terakhir.
Tapi sebelum tangannya bergerak, ia merasakan sesuatu yang aneh. Di telapak tangannya, ada pusaran kecil—pusaran yang ia kira telah hancur bersama bola dinginnya. Pusaran itu tidak hancur. Ia tumbuh.
Pusaran itu berputar di telapak tangan Hyun Ki, menyerap qi dinginnya, membesar, menjadi lebih kuat, lebih cepat. Hyun Ki berusaha melepaskannya, tetapi pusaran itu sudah melekat di tangannya, menarik qi-nya keluar seperti air yang mengalir ke lubang di dasar sungai.
“Apa—apa ini?!” teriaknya, suaranya pecah.
Seol tidak menjawab. Ia tidak bisa. Ia hanya berlutut di lantai, setengah beku, menyaksikan pusaran yang ia ciptakan melakukan pekerjaannya.
Pusaran itu membesar, berputar lebih cepat, dan Hyun Ki mulai berteriak. Qi-nya mengalir keluar dalam aliran yang tidak bisa ia hentikan, dan wajahnya yang pucat menjadi lebih pucat, matanya melebar, tubuhnya gemetar.
“Berhenti! Berhenti!” teriaknya.
Seol tidak bisa berhenti. Ia tidak mengendalikan pusaran itu lagi. Pusaran itu hidup dengan sendirinya, diberi makan oleh qi Hyun Ki sendiri.
Tapi kemudian, tepat sebelum pusaran itu mencapai titik kritis, sesuatu terjadi.
Dari tribun timur, sebuah qi yang sangat kuat—lebih kuat dari apa pun yang Seol rasakan hari ini—menekan pusaran itu. Bukan menghancurkannya, tetapi membekukannya. Pusaran itu berhenti berputar, mengeras, dan pecah menjadi serpihan-serpihan kecil yang beterbangan di udara seperti debu.
Seol menoleh ke arah datangnya qi itu.
Di tribun timur, di barisan depan jubah merah, Ryu Cheonmyeong duduk dengan tangan terangkat. Jari telunjuk dan jari tengahnya masih terulur, dan di ujung jarinya, sisa-sisa qi dingin masih mengepul.
Ia menurunkan tangannya perlahan, dan matanya bertemu dengan mata Seol.
Senyum. Senyum yang sama seperti dulu. Senyum predator yang tahu ia adalah yang terkuat di ruangan ini.
Tapi kali ini, ada sesuatu yang baru di senyum itu. Bukan kebencian. Bukan kegilaan.
Kegembiraan.
Seol berdiri. Tubuhnya masih beku, qi-nya hampir kosong, tangannya gemetar hebat. Tapi ia berdiri.
Ia menatap Cheonmyeong, dan untuk pertama kalinya dalam pertarungan ini, ia tidak merasa takut.
Aku akan menghadapimu. Di final. Aku berjanji.
Cheonmyeong tersenyum lebih lebar, lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain, seperti Seol tidak lagi menarik.
Wasit mengangkat tangannya, suaranya sedikit bergetar setelah menyaksikan pertarungan yang tidak biasa itu.
“Hyun Ki tidak bisa melanjutkan. Pemenang: Ryu Seol dari Sekte Pedang Surgawi!”
Tribun bergemuruh. Tapi Seol tidak mendengar. Ia hanya berdiri di tengah panggung, tubuhnya beku, qi-nya kosong, tetapi matanya masih menatap tribun timur.
Cheonmyeong sudah tidak melihatnya lagi. Ia berbicara dengan seseorang di sampingnya, tertawa kecil, seperti tidak ada yang terjadi.
Tapi Seol tahu. Cheonmyeong melihat. Cheonmyeong mencatat. Cheonmyeong sedang menunggu.
Dan ketika saatnya tiba, mereka akan bertemu lagi.
---
Setelah Pertandingan
Seol diturunkan dari panggung dengan tandu. Tubuhnya masih setengah beku, dan tabib turnamen harus menghabiskan hampir satu jam untuk mengembalikan qi-nya ke kondisi normal. Ketika ia akhirnya bisa duduk, Baek Ho sudah berdiri di sampingnya dengan wajah pucat.
“Kau gila,” kata Baek Ho, suaranya campuran kagum dan marah. “Benar-benar gila. Kau hampir mati di sana.”
“Tapi aku tidak mati,” kata Seol.
“Karena Cheonmyeong menghentikannya! Jika ia tidak membekukan pusaran itu, kau dan Hyun Ki bisa mati bersama!”
Seol terdiam. Ia tidak memikirkan itu. Dalam pertarungan, ia hanya fokus untuk bertahan, untuk menang. Ia tidak memikirkan konsekuensinya.
“Cheonmyeong tidak menyelamatkanku,” katanya akhirnya. “Ia menyelamatkan Hyun Ki. Ia tidak mau kehilangan satu prajuritnya.”
Baek Ho menghela napas. “Mungkin. Tapi tetap saja, kau berutang nyawa padanya. Dan itu… itu tidak baik.”
Seol tidak menjawab. Ia meraih Batu Giwa di sakunya. Batu itu dingin—dingin seperti biasanya setelah Gu menggunakan kekuatannya.
“Dia benar,” bisik Gu di kepalanya, lemah. “Cheonmyeong tidak menyelamatkanmu. Tapi kau harus berhati-hati. Ia sudah melihat teknik barumu. Lain kali, ia akan siap.”
“Aku tahu,” bisik Seol.
Ia menatap langit yang mulai berubah jingga. Besok, babak selanjutnya akan dimulai. Dan di babak itu, ia mungkin akan berhadapan dengan Cheonmyeong.
Tapi untuk saat ini, ia masih hidup. Ia masih di turnamen. Dan ia masih punya kesempatan.
---