AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 28
Malam berlalu dengan sangat lambat. Audrey dan Wira berbaring dengan posisi saling membelakangi. Audrey hampir tidak bisa tidur. Di sampingnya Wira pun masih terjaga. Rasa tidak karuan itu semakin rumit Wira rasakan. Namun dia berusaha untuk tetap bertahan.
Audrey ingin memeriksa keadaan Wira, tapi sejak percakapan tadi siang dimana Audrey mengatakan kasihan pada Bunda Santi, mendadak Wira berubah dingin.
Mungkin karena Audrey seorang menantu, jadi gadis itu merasakan ada di posisi yang sama dengan Bunda Santi. Bunda Santi tidak di terima oleh mertuanya, yaitu Omaya. Dan kini Bunda Santi pun tidak menyukai Audrey sebagai menantu nya. Miris tapi itu kenyataannya.
Sedikit demi sedikit Audrey jadi tau, Bunda Santai pasti ingin Audrey merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan sebagai seorang menantu di keluarga Bimasena. Bagaimana tidak diterima, bagaimana tidak dianggap ada serta bagaimana menjadi menantu tapi tidak terlihat sebagai seorang menantu.
Pukul 11 malam, suasana kamar masih sama. Audrey mulai bergerak karena sudah terlalu pegal di posisi yang sama terlalu lama.
Audrey melirik ke punggung Wira. Alisnya bergerak-gerak dengan sorot mata yang berusaha fokus pada satu titik.
"YA AMPUN!" Audrey bangun dengan jantung yang berdebar-debar ketika matanya menangkap sesuatu yang aneh di leher Wira. Basah.
"Kak," Audrey memeriksa keadaan Wira. Keringat bercucuran sebesar biji jagung membasahi hampir seluruh tubuh pria itu.
Kedua mata Wira terpejam tapi tubuhnya menggigil.
"Ma...jangan tinggalin aku, Ma. Bangun, Ma." Wira mengigau menyebut-nyebut nama Mama nya. Audrey semakin dibuat panik karena sungguh dia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.
"Kak, bangun kak... Bangun.." Audrey menepuk-nepuk pelan kedua pipi Wira. Air mata Audrey sudah pecah sejak melihat keadaan Wira pertama kali.
"Ma..Wira ikut Mama, ya. Wira nggak mau sekolah, Ma. Wira mau sama Mama." Wira terus meracau dengan tubuh yang semakin gemetar, dia menangis dalam tidurnya.
Dengan jelas Audrey mendengar ucapan Wira. Ternyata ingatan dalam trauma sang suami berhenti saat Mama Adriana meninggal di sampingnya. Ketika itu Wira masih berumur sembilan tahun.
"Kak, bangun, hiks..hiks..Bangun, kak.." Audrey menggoyangkan tubuh Wira lebih kuat sambil sesenggukan. Dia tidak mungkin memanggil Omaya atau pelayan untuk membantunya. Audrey tidak mau sampai Wira malu jika ada orang lain yang tau tentang keadaan nya ini.
Audrey berbaring, memeluk kepala Wira sambil menangis. Hingga entah dimenit keberapa Wira mulai membuka mata.
"Kak, bangun, hiks..hiks..Aku takut...Kakak jangan tinggalin aku. Maafin aku, Kak. Aku nggak tau kalau trauma kakak separah ini. Hiks..hiks.."
Audrey belum tau kalau Wira sudah bangun.
"Besok kakak nggak usah tidur sama aku lagi. Kita tidur masing-masing saja, hiks..hiks.. Aku janji akan rahasiakan hal ini dari siapapun..hiks..kak..bangun..hiks.." Air mata Audrey jatuh membasahi wajah Wira. Tapi bukannya risih atau bahkan jijik, Wira justru tersenyum. Mendengar Audrey mengkhawatirkannya sampai sebegitunya, Wira sangat bahagia. Untuk pertama kalinya Wira merasakan hidupnya begitu berarti bagi seseorang.
Wira meraih tangan Audrey yang melingkar di lehernya. Seketika itu juga tangis Audrey berhenti.
Audrey membenarkan posisi untuk melihat keadaan Wira, begitu juga dengan Wira, pria itu mendongak untuk melihat wajah sang istri.
"Kak..." Suara Audrey parau.
Wira mencoba untuk duduk.
Grep!
Audrey langsung memeluk Wira membuat Wira hampir terjengkang kebelakang karena belum duduk dengan sempurna.
"Maaf ya, Kak. Hiks..hiks.."
"Kenapa kamu terus minta maaf, hum ?! Kamu tidak salah apapun." Wira mengusap punggung Audrey, suaranya tidak lagi dingin.
"Aku salah, Kak. Karena kau kakak jadi begini." Audrey terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Hey...ssstt...sini, lihat aku." Wira mendorong bahu Audrey dengan pelan agar dia merenggangkan pelukan untuk sebentar.
Audrey menatap Wira dengan mata yang basah.
"Aku begini bukan karena kamu. Jadi jangan pernah kamu menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi padaku." Wira menangkup kedua pipi Audrey,
Cupp!
Wira mencium kening Audrey. Dalam dan lumayan lama.
Jangan tanyakan kenapa Audrey tidak mual. Karena wira tidak mencium dibagian bibirnya.
"Aku sangat berterimakasih karena kamu tidak memanggil siapapun masuk ke kamar ini saat keadaanku sedang tidak baik-baik saja." Ucap Wira dengan tatapan yang begitu dalam. "Tidurlah. Kamu pasti lelah." Wira berbaring lagi, menuntun Audrey untuk ikut berbaring di samping nya sambil menjadikannya dadanya sebagai bantal.
Wira memeluk Audrey dan tangan Audrey pun melingkar di perut Wira.
Tak berapa lama setelah itu Audrey benar-benar itu. Sepertinya dia sangat lelah karena terlalu banyak menangis. Bahkan dalam tidurnya sisa-sisa sesenggukannya sesekali masih terdengar.
Pelan Wira menurunkan kepala Audrey ke bantal. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh Audrey sampai sebatas perut. Kemudian Wira turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
Wira membasuh wajahnya dengan air di wastafel. Dia menatap pantulan wajahnya yang menyedihkan itu di cermin. Wajah yang terlihat tegas dan keras dari luar, namun begitu menyedihkan jika dilihat dari dalam.
"Aku harus sembuh! Audrey membutuhkanku!" Ucap Wira penuh tekad.
Setelah kekuar dari kamar mandi, Wira mengambil ponselnya yang ada di bawah bantal.
Wira berjalan ke arah balkon untuk berkirim pesan pada seseorang.
'Buat janji temu dengan Psikolog untuk ku besok sebelum jam makan siang. Rahasiakan ini dari siapapun terutama Ayahku!'
Pesan itu langsung terkirim tepat pukul satu dini hari ke nomor Hendra, asisten pribadinya yang sangat dia percayai.
Sebelum sampai ditahap ke psikiater, Wira ingin memeriksakan keadaannya dulu ke psikolog. Sepanjang yang dia tau tentang ilmu kedokteran tersebut, biasanya jika dalam satu sampai dua sesi tidak ada kemajuan, psikolog akan merujuk ke psikater. Kedua profesional ini sering bekerja sama untuk memberikan hasil maksimal bagi pasien trauma.
Setelah menenangkan diri selama setengah jam dibalkon, Wira kembali masuk. Tapi kali ini dia tidak naik ke tempat tidur lagi, melainkan berbaring di sofa panjang yang ada di kamar itu.