Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerajaan Kardus dan Ratu yang Terlupakan
“Alya, kamu kenapa diam saja?”
Suara itu terdengar jauh, seperti berasal dari dasar air yang keruh. Alya berdiri di tengah ruangan pernikahan yang megah, tetapi dunia di sekelilingnya perlahan memudar, warnanya ditelan oleh bayangan yang semakin pekat.
Detik demi detik terasa melambat, suara bisik-bisik tamu berubah menjadi gema yang aneh, dan napasnya sendiri terasa berat, seolah ada sesuatu yang menekan dadanya dari dalam. Ponsel di tangannya masih menampilkan foto itu..., foto yang seharusnya tidak pernah ada, foto yang merusak segalanya bahkan sebelum ia sempat memulai.
Dan seperti pintu yang terbuka tanpa izin…
Pikirannya jatuh.
Jatuh ke dalam dunia lain yang terlalu nyata untuk disebut sekadar imajinasi.
Dalam sekejap, lantai marmer menghilang.
Digantikan oleh tanah becek.
Bau bunga segar yang tadi memenuhi ruangan berubah menjadi aroma asam dari air hujan yang menggenang dan sampah yang menumpuk di sudut-sudut jalan.
Alya berdiri di tengah trotoar retak, mengenakan pakaian compang-camping yang dulunya mungkin adalah gaun pengantin atau setidaknya sisa dari sesuatu yang pernah indah. Kainnya kusut, kotor, dan robek di beberapa bagian, sementara rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan, lengket oleh debu dan kelembapan.
Ia berkedip.
Sekali.
Dua kali.
“...Ini… apa?” gumamnya pelan.
Di sampingnya, ibunya duduk di atas kotak kardus yang dilipat seadanya, mengenakan pakaian yang tidak jauh berbeda. Wajah wanita itu terlihat lelah, matanya kosong seperti seseorang yang sudah terlalu sering kalah dengan keadaan. Ayahnya berdiri tak jauh dari situ, memegang sesuatu yang… membuat Alya hampir menjerit.
Sebuah laptop???
Dari kardus??!
Lengkap dengan layar yang digambar menggunakan spidol biru.
Alya menatapnya dengan ngeri.
“Yah…” suaranya bergetar, “itu… itu laptop beneran atau…?”
Ayahnya menoleh, wajahnya serius dengan cara yang justru membuat semuanya semakin absurd.
“Ini laptop terbaru kita, Nak,” katanya mantap. “Teknologinya hemat listrik. Bahkan tidak butuh listrik sama sekali.”
Alya membeku.
Ia menoleh ke arah lain.
Di dekat kakinya, ada sesuatu yang menyerupai ponsel.
Ia memungutnya perlahan.
Ringan.
Terlalu ringan.
Karena itu juga terbuat dari kardus.
Layarnya digambar.
Tombolnya dilukis.
Dan entah kenapa… ada tulisan kecil di bawahnya: Limited Edition.
“Aku… aku pakai HP kardus?” suaranya naik satu oktaf.
Ibunya mengangguk pelan sambil menghela napas panjang. “Kita harus berhemat, Alya. Hidup tidak semudah dulu.”
Hujan mulai turun.
Perlahan.
Lalu semakin deras.
Alya menatap langit, air hujan membasahi wajahnya, mencampur dengan sesuatu yang hangat di sudut matanya. Ia tidak yakin apakah itu hujan atau air matanya sendiri. Pakaian compang- campingnya semakin berat, menempel di tubuhnya dengan dingin yang menyusup sampai ke tulang.
Di depan mereka, sebuah “rumah” berdiri.
Jika itu masih bisa disebut rumah.
Dindingnya dari kardus bekas.
Atapnya miring, ditahan oleh potongan kayu seadanya.
Dan di bagian depan, ada tulisan besar yang dicoret-coret dengan spidol merah:
“Keluarga Mantan Direktur”
Alya menutup wajahnya.
“Tidak… tidak mungkin…” gumamnya pelan.
Namun dunia itu tidak memberinya waktu untuk menolak.
Ibunya membuka sebuah cup kecil.
Pop mie.
Aroma hangatnya mengepul di udara dingin.
Alya menatapnya dengan harapan yang aneh.
Setidaknya… makanan masih normal.
Namun harapan itu langsung runtuh ketika ibunya mengambil sendok plastik dan berkata dengan nada serius, “Kita makan bergantian ya. Satu putaran satu suapan.”
Alya membeku.
“...Apa?”
Ayahnya langsung duduk di sebelah, mengangguk setuju. “Rolling system. Biar adil.”
Alya menatap cup itu.
Lalu menatap kedua orang tuanya.
Lalu kembali menatap cup itu.
“Ini… satu cup… buat bertiga?”
Ibunya tersenyum tipis, tetapi ada kelelahan yang tidak bisa disembunyikan. “Kita harus kuat, Alya.”
Hujan semakin deras.
Nyamuk mulai berdengung di sekitar mereka.
Alya menggaruk lengannya refleks, wajahnya berubah panik.
“Skincare-ku…” gumamnya. “Semuanya habis…”
Ia melihat kukunya.
Nail art yang dulu cantik kini retak, catnya mengelupas, bahkan beberapa kukunya terlihat tidak terawat.
“Tidak…” suaranya melemah, “ini lebih menyakitkan daripada patah hati…”
Petir menyambar.
Langit bergemuruh.
Dan di tengah kekacauan itu, suara langkah kaki terdengar mendekat.
Pelan.
Teratur.
Elegan.
Alya mengangkat wajahnya perlahan.
Dua sosok berdiri di bawah payung hitam besar.
Kering.
Bersih.
Seolah dunia kotor ini tidak berhak menyentuh mereka.
Seraphina Claudine.
Dan Adrian.
Seraphina berdiri dengan gaun mewah, rambutnya tertata sempurna, wajahnya cantik tanpa cela seperti biasa. Ia menatap Alya dari atas ke bawah, tatapan yang dingin namun tajam, seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang menjijikkan di jalan.
“Astaga…” katanya pelan, nada suaranya dipenuhi rasa jijik yang elegan. “Sayang, ini mantan istri kamu ya?”
Ia sedikit mendekat, menutup hidungnya dengan ujung jari.
“Dasar miskin,” lanjutnya ringan, “aku alergi miskin.”
Alya membeku.
Jantungnya terasa berhenti.
Adrian berdiri di samping Seraphina.
Rapi.
Tampan.
Dan… tertawa.
Tawa itu keras.
Berlebihan.
Seperti antagonis dalam film komedi yang terlalu menikmati perannya.
“Aku juga tidak sudi punya istri miskin, jelek, dan keriput seperti itu,” katanya santai sambil melirik Alya sekilas. “Makanya aku pilih kamu yang jelas lebih cantik.”
Tawa mereka bergema di tengah hujan.
Alya menatap mereka dengan mata membesar, tubuhnya gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam. Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk perlahan, membuatnya sulit bernapas.
Ia mencoba bicara.
Namun suaranya tidak keluar.
Dan seperti belum cukup…
Sebuah suara tiba-tiba muncul.
Keras.
Menggelegar.
Seperti berasal dari langit itu sendiri.
Layar besar muncul di udara.
Seperti televisi raksasa yang menggantung di antara awan gelap.
Berita.
Breaking news.
“Mantan istri direktur utama ternama kini hidup sebagai gelandangan.”
Gambar Alya muncul di layar.
Kumuh.
Basah kuyup.
Memegang mangkuk plastik yang sudah sangat reyot.
“Diduga jatuh miskin setelah perceraian mendadak, wanita ini kini terlihat mengemis di kawasan kota.”
Alya menatap layar itu dengan napas terputus-putus.
“Sumber mengatakan, mantan istri ini dulunya hanya membantu bisnis florist kecil sebelum menikah, dan kini kembali ke kondisi awal, bahkan lebih buruk.”
Gambar berganti.
Menampilkan dirinya duduk di depan rumah kardus.
Memegang pop mie.
“Florist miskin, mantan direktur kaya raya—kisah tragis yang mengguncang publik.”
Suara itu menggema.
Berulang.
Menghancurkan.
Alya menutup telinganya.
“Cukup… cukup…” gumamnya panik.
Namun suara itu tidak berhenti.
Malah semakin keras.
Semakin dekat.
Hujan semakin deras.
Dunia itu mulai runtuh di sekelilingnya.
Dan akhirnya—
“Alya!”
Suara itu menariknya kembali.
Tiba-tiba.
Keras.
Nyata.
Alya tersentak.
Matanya terbuka lebar.
Ia kembali ke ruang pernikahan.
Lampu kristal masih bersinar.
Tamu masih berbisik.
Ibunya menggenggam tangannya dengan kuat.
“Alya, kamu kenapa? Dari tadi melamun,” katanya cemas.
Alya terengah.
Napasku naik turun.
Ia melihat sekelilingnya.
Tidak ada kardus.
Tidak ada hujan.
Tidak ada pop mie dibagi tiga.
Namun jantungnya masih berdegup kencang.
Dan entah kenapa…
Ia langsung memegang wajahnya sendiri.
Lalu berbisik pelan, sangat serius, “Skincare-ku masih ada kan?”
Ibunya terdiam.
Ayahnya berkedip.
Dan di tengah situasi yang seharusnya tegang…
Alya berdiri di sana.
Dengan gaun pengantin elegan.
Dengan mata masih berkaca-kaca.
Dan dengan satu pikiran yang entah kenapa lebih dominan dari segalanya.
Kalau hidupnya hancur…
Setidaknya dia tidak mau jadi gembel dengan nail art rusak.
"Apakah akhirnya aku akan hidup Miskin??"