NovelToon NovelToon
KUPU-KUPU TIGA SAYAP

KUPU-KUPU TIGA SAYAP

Status: tamat
Genre:Misteri / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Anggrek Mawar Biru

Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 28 — Ziarah Pertama

Pagi itu mendung, langit seperti menahan napas. Digo mendorong kursi rodanya perlahan di antara nisan-nisan yang berbaris rapi. Roda berdecit pelan di atas kerikil basah. Di sampingnya, Aluna berjalan dengan langkah kecil yang ragu, jemarinya memegang bros kupu-kupu perak. Sesekali ia menyentuhnya, seperti memastikan benda itu masih ada—seperti memastikan dunia belum menghilang lagi.

Makam itu sederhana. Batu nisan abu-abu, nama Dimas Brawijaya terukir tegas. Tidak ada hiasan berlebihan. Hanya bunga putih yang masih segar. Digo berhenti. Dadanya naik turun, napasnya berat. Ini pertama kalinya ia kembali sejak pemakaman—pertama kalinya tanpa adiknya yang paling kuat.

Aluna menatap nisan itu lama. Matanya menyapu huruf-huruf, satu per satu, seolah membaca sesuatu yang tak tertulis. Wajahnya mengerut, seperti anak kecil yang berusaha mengenali wajah dalam foto lama. Bibirnya bergetar.

“Kak…” katanya pelan. “Ka… ka…”

Suara itu memecah keheningan. Digo menunduk, menutup mata. Tangannya mengepal di atas lutut yang tak lagi bisa ia rasakan, seolah menahan tubuh agar tidak runtuh.

Aluna berlutut. Tangannya menyentuh batu nisan yang dingin. Lalu, seperti bendungan yang jebol, ia menangis. Tangisannya bukan tangis orang dewasa—itu tangis anak kecil yang kehilangan pegangan. Ia memanggil nama itu berulang-ulang, dengan intonasi yang sama seperti saat memanggil Dimas di malam-malam rumah sakit jiwa.

“Dimas… Dimas… pulang…” Suaranya pecah. “Aku takut…”

Digo menggeser kursinya mendekat. Ia ingin memeluk, tapi ragu. Setiap sentuhan pada Aluna selalu seperti memicu sesuatu—kenangan, ketakutan. Namun pagi ini, Aluna sendiri yang meraih. Ia memeluk kaki Digo, menempelkan pipinya. Tangisnya berubah menjadi isak yang terputus-putus.

“Aku nyanyi,” katanya tiba-tiba, di sela tangis. “Biar kakak dengar.”

Aluna mulai bersenandung. “Kupu-kupu terbang, sayapnya tiga…” Nadanya goyah, tapi liriknya utuh. Angin bergerak lembut, menggeser daun-daun kering. Digo menatap nisan, membiarkan lagu itu mengalir. Untuk pertama kalinya, lagu yang sama tidak terasa seperti jerat—melainkan jembatan.

Ia teringat Dimas kecil, menggendong Aluna di bahu, tertawa ketika ia menyanyikan lagu itu dengan lirik yang salah. Ia teringat bagaimana Dimas selalu berkata, Luna itu kuat. Dan kini, kekuatan itu tampak rapuh, namun nyata—rapuh seperti kaca yang tetap memantulkan cahaya.

Aluna berhenti bernyanyi. Ia menyeka air mata dengan punggung tangan, lalu mengeluarkan bros kupu-kupu dari saku. Dengan hati-hati, ia meletakkannya di depan nisan. “Ini buat kakak,” katanya lirih. “Biar kakak nggak lupa pulang.”

Digo terkejut. “Luna,” katanya pelan, takut melukai. “Itu kesayanganmu.”

Aluna menggeleng kecil. “Kakak yang kasih. Sekarang kakak jagain.”

Digo menelan ludah. Ia tahu bros itu adalah jangkar Aluna—namun mungkin, hari ini, jangkar itu sedang dipindahkan. Ia membiarkan. Kadang, melepas adalah cara lain untuk bertahan.

Mereka duduk lama. Hujan tipis mulai turun, menodai tanah dengan titik-titik gelap. Digo membuka payung, menaungkannya di atas Aluna. Ia bercerita—tentang hal-hal kecil yang Dimas lakukan, tentang kebiasaan-kebiasaan yang hanya mereka tahu. Tentang bagaimana Dimas memilih nasi goreng pinggir jalan, tentang cara ia mengikat tali sepatu, tentang keberaniannya yang tenang.

Aluna mendengarkan. Kadang ia tersenyum kecil, kadang ia kembali menangis. Emosinya datang bergelombang, tanpa peringatan. Namun Digo tidak menghentikan. Ia belajar bahwa kesembuhan tidak lurus. Ia berputar, jatuh, bangkit.

Sebelum pergi, Aluna berdiri dan menunduk dalam-dalam. “Aku janji,” katanya, lebih jelas dari sebelumnya. “Aku coba sembuh. Biar kakak nggak khawatir.”

Kata-kata itu sederhana, namun bagi Digo, itu seperti fajar. Ia meraih tangan Aluna. Hangat. Nyata.

Saat mereka menjauh, angin menggerakkan bunga di atas nisan. Bros kupu-kupu berkilau di sela daun, tiga sayapnya memantulkan cahaya kelabu pagi. Digo menoleh sekali lagi. Ia membayangkan Dimas tersenyum—bukan sedih, bukan marah—melainkan lega.

Ziarah pertama itu tidak menutup luka. Ia hanya mengizinkan luka bernapas. Dan terkadang, itulah awal dari pulang.

1
Mega Arum
digo kah ?
Mega Arum
mampir thor..
Adi Rbg
terimakasih kakak dah update lagi!
Putri Nadia: sama-sama
total 1 replies
Adi Rbg
bagus
Putri Nadia: Terima kasih
total 1 replies
Nurhayati Hambali
liana itu ibu mereka atau kakak mereka thor??
Putri Nadia: ibunya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!