Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Krisis di Depan Pintu
Dua hari setelah Sari datang membawa kue, Ardi belum juga bicara.
Setiap pagi dia bangun dengan niat: hari ini aku akan jujur. Tapi setiap malam, ketika Sari mengirim pesan selamat tidur dengan stiker hati, kata-kata itu mati di tenggorokan.
Maya tidak menekan. Tidak bertanya. Hanya diam.
Dan diamnya lebih menyiksa dari seribu pertanyaan.
Pagi ini Ardi turun lebih lambat. Maya sudah duduk di meja dapur, membaca ponsel dengan wajah tegang. Yuni sibuk di wastafel, membasuh piring yang sudah bersih.
“Pagi,” sapa Ardi.
Maya mengangkat wajah. Matanya lelah. “Pagi.”
“Ada apa?”
“Tidak ada.” Dia meletakkan ponsel. “Sari chat. Dia mau ke sini.”
Ardi berhenti di tengah langkah. “Jam berapa?”
“Jam sepuluh. Dia mau lihat kebun belakang. Cari ide untuk butiknya.”
Ardi melihat jam. Pukul setengah sembilan. Satu jam lagi. Dia duduk, mengambil roti, tapi tidak menggigit.
“Kita harus—” Dia berhenti.
“Kita harus berpura-pura semuanya normal,” sambung Maya.
“Kita tidak bisa terus begini.”
“Aku tahu.” Suaranya pelan. “Tapi hari ini, kita tidak punya pilihan.”
Yuni berbalik dari wastafel, mengeringkan tangan. “Bu, saya ke pasar dulu. Saya kira tidak perlu memasak untuk tamu?”
Maya menggeleng. “Tidak usah, Yuk. Sari hanya main sebentar.”
Yuni melepas celemek, berjalan ke pintu belakang. Di ambang pintu, dia berhenti.
“Bu Maya.”
“Iya?”
“Hati-hati.”
Dua kata itu menggantung. Bukan ancaman. Bukan peringatan. Tapi Ardi merasakannya seperti tusukan di dada. Yuni pergi. Pintu tertutup.
Maya dan Ardi duduk berdua. Sepi. Hanya suara jam dinding dan napas mereka yang sengaja dibuat normal.
“Aku ke kamar dulu,” kata Maya. “Ganti baju.”
“Kamu sudah rapi.”
“Aku tidak rapi, Ardi. Aku ingin terlihat baik-baik saja.”
Dia berjalan ke lorong, menaiki tangga. Langkahnya perlahan, seperti orang yang berjalan menuju eksekusi.
---
Jam menunjukkan pukul sepuluh kurang lima menit ketika bel pintu berbunyi.
Ardi membuka pintu. Sari berdiri di teras dengan gaun bunga-bunga, rambut dikuncir kuda, senyum lebar. Di tangannya, kantong plastik berisi buah.
“Di! Aku bawain apel buat Kak Maya. Katanya dia suka.”
“Iya. Masuk.”
Sari masuk, meletakkan plastik di meja ruang keluarga, lalu duduk di sofa. Matanya menyapu ruangan. “Kak Maya di mana?”
“Di kamar. Sebentar turun.”
“Kamu sendirian? Yuni mana?”
“Ke pasar.”
Sari mengangguk. Matanya berhenti di meja kopi. Dua gelas—gelas Ardi dan gelas Maya dari tadi pagi. Ardi menyadarinya terlambat. Dia mengambil kedua gelas itu, berjalan ke dapur.
“Kalian baru sarapan berdua?” suara Sari dari belakang.
“Iya. Yuni pergi pagi-pagi.”
Ardi membasuh gelas, meletakkannya di rak. Tangannya gemetar. Dia berusaha mengendalikan, tapi Sari sudah di belakangnya. Tatapannya terasa di punggung.
“Di, kamu kenapa? Kelihatan tegang.”
Ardi berbalik, tersenyum. “Tidak. Cuma kurang tidur.”
Sari tidak bertanya lebih lanjut. Dia kembali ke ruang keluarga, duduk di sofa, membuka ponsel. Ardi mengikuti, duduk di kursi seberang. Menjaga jarak.
Langkah kaki di tangga. Maya turun.
Sari berdiri, menyambut Maya dengan pelukan hangat. “Kak Maya! Aku kangen.”
Maya tersenyum, membalas pelukan itu dengan kaku. “Sari. Kamu cantik hari ini.”
“Ah, Kakak lebay.” Sari melepaskan pelukan, menarik Maya ke sofa. “Duduk sini. Aku bawain apel. Kata Di, Kakak suka.”
Maya duduk di sofa, Sari di sampingnya. Ardi tetap di kursi seberang.
“Kalian berdua kok duduknya jauh-jauh?” Sari tertawa kecil. “Malu sama aku?”
Ardi dan Maya saling pandang sekilas. Maya lebih dulu menjawab. “Aku baru bangun. Masih agak pusing.”
“Oh ya? Mata Kakak agak sembab. Ada masalah?”
Maya tersenyum. Senyum yang sudah dia latih. “Tidak. Cuma alergi. Musim hujan begini sering kambuh.”
Sari mengangguk, sepertinya percaya. Dia beralih ke Ardi. “Di, kamu tahu, aku kemarin lihat butik baru di Kemang. Bagus banget. Aku jadi makin semangat.”
“Bagus,” kata Ardi.
“Kamu nggak serius.” Sari cemberut. “Kak Maya, lihat dia. Aku cerita semangat-semangat, dia cuma bilang ‘bagus’.”
Maya tertawa kecil. “Ardi memang begitu. Kurang ekspresif.”
“Iya, aku tahu. Dari dulu begitu.” Sari meraih tangan Ardi, menggenggam erat. “Tapi aku sayang dia apa adanya.”
Ardi merasakan genggaman Sari. Hangat. Penuh cinta. Dia ingin menarik tangan, tapi tidak bisa. Di sudut matanya, Maya menunduk, jari-jarinya memilin ujung rok.
“Kak, aku mau lihat kebun belakang,” kata Sari sambil berdiri. “Aku pengen bikin rooftop garden di butikku. Mungkin minta ide dari taman sini.”
Maya ikut berdiri. “Aku antar.”
“Kak, nggak usah repot-repot. Di aja yang temani aku.” Sari menatap Ardi. “Kamu kan tahu kebun lebih baik dari Kak Maya?”
Ardi tidak bisa menolak. Dia berdiri, berjalan ke pintu belakang. Sari mengikuti, lengannya menggandeng erat lengan Ardi. Di balik kaca dapur, Maya berdiri diam, menatap punggung mereka.
---
Kebun belakang cukup luas. Pohon mangga, kolam koi, gazebo di sudut. Sari berjalan perlahan, sesekali berhenti, memotret bunga.
“Di, kamu tahu, aku kadang iri sama Kak Maya.”
Ardi menegang. “Iri kenapa?”
“Dia bisa tinggal di rumah sebesar ini. Punya taman sebagus ini. Suami sukses. Anak tiri—” Sari berhenti, menoleh, tersenyum. “Anak tiri yang ganteng.”
Ardi tidak menjawab.
Sari masuk ke gazebo, duduk di bangku kayu. Ardi duduk di sampingnya, menjaga jarak.
“Di, kamu serius nggak ada masalah?” Sari menatapnya. Matanya jujur. “Aku kenal kamu. Kalau lagi ada pikiran, matamu kosong gini.”
“Aku hanya lelah. Banyak kerjaan.”
“Kerjaan?” Sari mengernyit. “Kamu jadi CEO, tanggung jawab besar. Aku ngerti. Tapi kamu tahu, aku selalu ada buat kamu. Apa pun.”
Ardi menatap Sari. Di bawah sinar matahari pagi yang menembus dedaunan, wajahnya lembut. Matanya penuh kasih. Dia wanita yang mencintainya dengan tulus. Tanpa curiga.
Dan aku membohonginya setiap hari.
“Sari,” Ardi mulai.
“Ya?”
“Aku—”
Ponsel Sari berdering. Dia melihat layar, lalu berdiri. “Bentar, Di. Telepon dari desainer.”
Dia berjalan ke tepi kolam, menjawab dengan suara pelan. Ardi duduk di gazebo, menatap punggungnya. Kata-kata yang hendak diucapkan buyar. Entah keberuntungan atau kutukan.
Sari kembali lima menit kemudian, wajahnya sedikit tegang. “Di, aku harus pergi. Desainerku minta ketemu sekarang. Ada masalah dengan sampel kain.”
“Aku antar.”
“Nggak usah. Aku bawa mobil.” Sari meraih tangan Ardi, mencium punggung tangannya cepat. “Besok kita ketemu lagi, ya. Aku rindu.”
Ardi mengangguk. Sari berjalan ke rumah, masuk lewat pintu belakang. Ardi mengikuti, menjaga jarak.
Di ruang keluarga, Maya sedang duduk membaca buku. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
“Kak Maya, aku pulang dulu,” kata Sari.
Maya berdiri, tersenyum. “Hati-hati, Sari.”
Sari memeluk Maya cepat, lalu berjalan ke pintu. Di ambang pintu, dia berhenti, menoleh ke Ardi.
“Di, kamu titip Kak Maya, ya. Jaga dia.”
Ardi tidak menjawab. Sari tersenyum, melambai, lalu pergi. Pintu tertutup. Mobilnya melaju keluar garasi.
---
Ardi dan Maya berdiri di ruang keluarga. Sendirian. Rumah terasa terlalu sunyi.
“Dia tahu,” kata Maya pelan.
“Tahu apa?”
“Dia tahu ada yang salah. Tapi dia belum tahu apa.”
Ardi duduk di sofa, menunduk. “Aku hampir bilang.”
Maya duduk di sampingnya. “Kenapa tidak?”
“Aku takut.”
Maya meraih tangannya, menggenggam erat. “Kau takut kehilangan dia, atau kau takut kehilangan semua yang dia wakili?”
Ardi menatap Maya, tapi tidak menjawab.
Maya menunduk, jari-jarinya masih menggenggam. “Kenyamanan. Kepastian. Cinta yang tulus tanpa syarat.” Suaranya pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. “Aku tidak bisa memberikannya.”
Ardi menatap tangan mereka yang bertaut. Sari adalah satu-satunya hal yang benar dalam hidupnya. Dan dia sedang menghancurkannya perlahan.
“Aku akan bicara,” kata Ardi akhirnya. “Besok. Aku janji.”
Maya tersenyum pahit. “Janji yang sama seperti kemarin.”
“Kali ini sungguhan.”
Maya melepaskan tangannya, berdiri. “Aku ke kamar dulu. Kepalaku pusing.”
Dia berjalan ke lorong, menaiki tangga. Ardi mendengar langkah kakinya yang berat, seperti membawa beban terlalu besar.
Dia duduk di ruang keluarga sendirian, dengan kebun belakang yang masih tertata rapi dan ponsel Sari yang masih terhubung dengan pesan-pesan cinta yang tidak pantas dia terima.
Di luar, matahari mulai meninggi. Tapi di dalam hatinya, semuanya gelap.