NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: tamat
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir / Tamat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Sidang Keluarga 2

“Sagara.”

Suara Anjani memotong.

Tegas.

Menghentikan semua yang belum sempat diucapkan.

“Apa penjelasanmu?”

"Benar." Sagara tidak menunggu. Tidak menjeda waktu. "Semua itu benar." Tanpa drama ia menegaskan jawaban.

Bisik kembali naik.

Namun hanya sekejap.

Tatap mata Sagara bergerak.

Menyapu satu per satu wajah keluarga Adinata.

Dan--hening kembali jatuh.

"Proyek Ariana, itu rahasia. Terjaga."

Tatapannya bergeser. berhenti pada Ravendra. "Luar biasa, PAMAN Ravendra bisa mendapatkan datanya, lengkap."

Senyum tipis Sagara muncul.

Singkat. Nyaris tak terbaca.

Namun cukup--untuk memberi tanda.

Ini bukan pujian.

Tatapannya belum sepenuhnya berganti dari Ravendra saat Sagara kembali membuka suara.

“Karena setahu saya…Data seperti itu tidak keluar dari AMC.”

Sunyi langsung berubah arah.

Bukan lagi ke Sagara.

Tapi ke Ravendra.

“Tidak bisa diakses sembarang orang.”

Jeda sesaat ia ambil.

“Apalagi sampai… lengkap.”

Tatapannya mengunci. Tenang.

Tapi menekan.

“Jadi saya penasaran. Anda mendapatkannya dari mana?”

Tidak ada nada tinggi.

Tidak ada emosi.

Tapi pertanyaan itu jatuh seperti tuduhan.

Beberapa orang mulai saling pandang.

Lebih gelisah sekarang.

Karena arah permainan berubah.

Ravendra tidak langsung menjawab.

Ia hanya tersenyum tipis.

Seolah pertanyaan itu sudah ia tunggu.

“Dari orang dalam.”

Jawabannya tenang. Tidak ada penekanan.

Tapi efeknya langsung terasa.

Beberapa wajah langsung berubah.

Kali ini bukan sekadar curiga.

Tapi waspada.

Sagara tidak bergerak.

Tatapannya tetap sama.

Tenang. Tak terbaca.

“Jangan terlalu percaya pada sistem yang kau banggakan itu, Sagara.”

Ravendra melangkah pelan.

Maju satu langkah saja.

“Karena kebocoran, selalu datang dari dalam.”

Ravendra tersenyum tipis, memiringkan kepalanya sedikit. "Jika kau membeli kesetiaan dengan nominal," ujarnya, masih dengan nada pelan tanpa penekanan.

"Ia akan berbalik jika bertemu jumlah yang lebih besar." Senyumnya kembali mengudara. Senyum orang yang menang.

Anjani akhirnya bergerak.

Tatapannya mengeras.

“siapa?"

Satu kata. Tegas.

Tidak memberi ruang untuk dibantah.

Ravendra tidak langsung menjawab.

Ia justru mengalihkan pandangannya.

Perlahan. Menyapu ruangan.

Menikmati ketegangan yang ia ciptakan.

"Ibu." Ravendra menatap Anjani dengan tersenyum. "Saya tidak bisa menyebutkannya sekarang." Tatapannya bergeser pada Sagara kembali.

"Ada hal yang lebih penting dari itu."

"Benar." Sagara angkat bicara. Tenang.

"Yang penting bukan siapa. Tapi apa motifnya." Tatapannya lurus ke depan, tak lagi hanya pada Ravendra.

"Itu yang harus kita bahas."

Anjani mengangguk.

"Lanjutkan."

"Motifnya hanya dua. Memuluskan, atau menggagalkan." Sagara menatap lurus Ravendra.

Ravendra diam. Senyumnya memudar.

"Paman punya data yang akurat." Sagara maju setengah langkah. "Ariana meninggal pada tanggal 13, pukul 23. Enam hari setelah prosedur. Dan itu, saya baru tau sekarang."

Ravendra tidak menyela.

Meski ia tahu serangan sudah berbalik arah.

"Harus diakui. Saya kalah cepat dari, Anda. PAMAN." Sagara kembali tersenyum tipis, singkat. "Data yang saya punya. Ariana keluar dari Adinata residence satu, malam sebelum ia mengalami kecelakaan."

Anjani yang biasanya selalu tenang. Kali ini ia langsung menatap Ravendra. Curiga.

"Beri saya alibi ..." Sagara tak melepaskan tatapan dari Ravendra. "...untuk mementahkan dugaan keterlibatan, Anda dalam kecelakaan Ariana."

Ravendra tertawa ringan. Santai.

"Aku? Terlibat?" Tawanya kian keras. Sesaat. "Ariana tidak sepenting itu, bagiku."

"Penting," potong Sagara cepat. "Kita sedang bicara motif, Paman." Jeda sesaat.

"Dan Ariana disiapkan sebagai ibu untuk pewaris saya."

"Pandu Adinata." Sagara menatap sepupunya yang duduk paling dekat dengan Ravendra, dan yang paling lantang menyuarakan dukungan untuk anak tiri Anjani itu. "Kamu pasti tahu, siapa yang paling diuntungkan, jika aku gagal memenuhi syarat punya seorang pewaris."

Sagara melempar umpan. Serangan tak terduga. Pandu bergerak gelisah. Tak mampu menjawab, juga tak bisa membantah.

Semua yang di sana tahu, yang paling diuntungkan jika Sagara gagal memenuhi syarat untuk duduk di kursi pimpinan, adalah Ravendra.

"Ini bukan pembahasan, Sagara." Ravendra akhirnya memotong. Lebih tegas. "Ini tuduhan."

"Silakan membela diri." Sagara menjawab langsung. "Jika tuduhan ini salah."

"Cerdik.”

Ravendra memuji.

Terdengar tulus.

“Caramu mengalihkan topik, Sangat menarik.”

“Anda yang membawa ini ke meja.”

Sagara menjawab.

Datar. Tanpa emosi.

“Jadi kita selesaikan. Satu persatu."

Hening turun cepat.

"Pastikan kau tidak terlibat, Ravendra." Suara Anjani memecah hening itu kemudian. "Aku inginkan hukuman berat untuk siapa pun yang terlibat dalam kematian Ariana."

"Saya dukung keputusan, Ibu," ucap Ravendra tegas.

Tak sampai satu detik, suara ketukan terdengar.

"Masuk!"

Pintu besar terbuka.

Seorang pria melangkah masuk.

Langkahnya terukur.

Berhenti beberapa jarak dari meja utama.

Menunduk hormat. Singkat.

Lalu pandangannya terangkat.

Langsung ke satu arah. Sagara.

“Tuan.”

Nada suaranya profesional dan terkendali.

“Data lengkap kecelakaan Ariana… sudah kami dapatkan.”

Sagara tidak langsung menjawab.

Tatapannya tetap pada pria itu.

“Baca.”

“Baik, Tuan.”

Ia membuka berkas di tangannya.

“Berdasarkan rekaman bengkel dan analisis forensik kendaraan--" Jeda sesaat

“Kecelakaan Ariana… bukan murni kecelakaan.”

Ruangan langsung menegang.

Namun tak ada yang berani bersuara.

“Ditemukan indikasi sabotase pada sistem pengereman.”

Ia membalik satu lembar.

“Selang rem utama dipotong dengan presisi.”

“Tekanan fluida diturunkan secara bertahap.”

“Sehingga kegagalan terjadi… saat kendaraan melaju dalam kecepatan tinggi.”

Sunyi yang lebih berat dari sebelumnya.

“Itu bukan kerusakan biasa.

Melainkan tindakan yang direncanakan.”

Tatapan beberapa orang mulai berubah.

Tegang, penuh kewaspadaan.

Sagara tetap diam.

Memberi ruang pada orang suruhannya itu untuk melanjutkan laporan.

“Pelaku diduga memiliki keahlian khusus.

Seorang profesional.”

“Dan--" laki-laki itu mengangkat pandangan. Bukan ke Sagara, tapi ke arah lain.

“berdasarkan penelusuran kami…”

Napasnya ditahan sesaat.

“…pelaku bekerja atas perintah seseorang.”

“Nama orang itu muncul dalam beberapa rekaman komunikasi. Bukti, foto. Sangat jelas."

"Siapa?" tanya Sagara.

“Johan petra."

Sunyi pecah. Tidak keras.

Tapi cukup untuk mengguncang.

Beberapa wajah langsung menoleh.

Ke arah Ravendra.

Sagara baru bergerak pelan.

Menoleh. Menatap Ravendra lurus.

“Orangmu.”

Satu kata. Datar. Tetap tanpa emosi.

Tapi cukup untuk menjatuhkan.

Ravendra terkekeh pelan. Singkat.

“Banyak orang bernama Johan.”

“Yang ini tidak.”

Sagara memotong cepat. Meletakkan berkas di atas meja. Terbuka. Hampir semua dapat melihat gambar-gambar yang terpampang di sana.

“Tangan kanan Anda. PAMAN."

Jeda. Pendek. Mematikan.

“Yang tidak pernah bergerak tanpa perintah.”

Ravendra tak bisa menyangkal. Bukti terlalu jelas mengarah.

"Ravendra." Suara Anjani menusuk.

"Jika benar dia." Ravendra bersuara tenang. Seakan fakta tak sedikitpun menggelisahkan. "Maka dia bertindak di luar kendali saya." Mudah ia berkelit, semudah membalikkan telapak tangan.

"Lalu?" Anjani menunggu.

"Sesuai peraturan, Ibu. Hukum dia seberat-beratnya." Keputusan ia buat. Cepat, tanpa perlu berpikir lebih dulu.

Semua kesalahan dilimpahkan ke orang kepercayaannya. Begitu saja.

"Sagara." Anjani melimpahkan perintah ke Sagara.

Sagara hanya memberi isyarat pada orang suruhannya. Lelaki itu mengangguk, dan pergi tanpa kata.

Ravendra selamat. Tapi ia kehilangan orang kepercayaannya. Tangan kanannya. Dan itu pukulan telak. Ibarat burung, kini satu sayapnya patah. Dan bagi Sagara, itu cukup.

1
Ayuwidia
Betul sekali, takdir memberikannya pada orang yang tepat, meski melalui proses yang memilukan. Shafiya gagal nikah dengan calon suaminya, dan harus menanggung beban lain yg lebih berat, kepercayaan Abinya, nama baik Pesantren yg mungkin saja bisa tercoreng
Ayuwidia
Dokter Raka datang di waktu yang sangat tepat
Ayuwidia
Ravendra sengaja memancing amarah, membuat Shafiya runtuh perlahan. Tapi usahanya itu nggak akan berhasil, kita lihat saja nanti 😏
Ayuwidia
Ravendra selalu punya cara mengusik ketenangan, memberi warna kisah Shafiya & Sagara. Keren, Kak Naj
Ayuwidia
Sagara ini, perwujudan authornya yang cerdas. 😍
Erna Riyanto
kaget q...tiba" end aja...TPI JD tenang stlh tau bakal dilanjutin di buku lain... semangat Thor bikin cerita mereka lebih seru.
Najwa Aini: Makasih Akak..Dukung selalu ya..biar tambah seru
total 1 replies
Hayyina Saidah
dobel dong Thor,satu bab lagi🤭
Nurilbasyaroh
selamat sagara ternyata itu bener anak mu
Deuis Lina
kasihan sekali kamu kaluna,
Murnia Nia
akhirnya terjawab sudah
Amalia Siswati
terlalu banyak jeda intonasi,padahal karakter tokoh sudah terbaca.
Deuis Lina
lanjuuut teh siiin,,
Amalia Siswati
terlalu banyak jeda pembicaraan..padahal karakter sudah terbaca tidak perlu mengulang2.
Deuis Lina
waw siapa tuh ,,,
Deuis Lina
orang niat jahat emang selalu d cari terus d cari sampe ke akarnya itulah sipat manusia yg rakus ,,,ravendra terlalu ambisius untuk mengalahkan sagara
Ayuwidia
Ravendra sangat berambisi, dia tidak akan mundur sebelum apa yang diingkan diraih. Ini mengingatkanku pada... Kuku Prima
Ayuwidia
Woahhhh, jadi mengingatkanku pada mantan kekasih Abimana 😁
Deuis Lina
masih keukeuh banget ya ravendra,,,
Deuis Lina
ada lagi yg penasaran tentang anak itu,,,
Ayuwidia
Ngopi, Kak. Sambil Nongki bertiga ☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!