Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.
Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.
Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama-Nama di Stone Reed Town
Pagi setelah back-table exchange datang tanpa kemewahan.
Langit di atas Stone Reed Town kelabu pucat. Kabut sungai masih menempel di tiang-tiang dermaga. Dari dapur Mud Heron Inn terdengar suara wajan dipukul, disusul teriakan pemilik penginapan yang mengusir dua tamu mabuk yang belum membayar semalam. Semua terasa biasa.
Tapi bagi Shou Wei, pagi itu tidak lagi sama.
Di balik lapisan baju dalamnya tersimpan:
dua koin perak,beberapa tembaga,dua lembar bukti transaksi Reed Hall,dan dua nama yang bisa menjadi jalan berikutnyaJin Pel.
Green Cress.
Ditambah satu nama lain yang belum bisa sepenuhnya dipercaya:
Gao Sen.
Shou Wei tidak langsung bertindak.
Ia sudah belajar bahwa langkah pertama setelah keberhasilan kecil sering kali paling berbahaya. Orang yang baru mendapat uang suka membelanjakannya. Orang yang baru dipuji suka memamerkan diri. Orang yang baru dilirik pasar suka mengira dirinya sudah aman.
Orang-orang seperti itu biasanya tidak hidup lama.
Jadi pagi itu ia tetap bekerja seperti biasa.
Ia menyapu lantai depan penginapan. Mengangkat tempayan air dari sumur lumpur. Memotong alang-alang untuk tikar baru. Saat pemilik penginapan memaki seorang tamu yang muntah di tangga, Shou Wei bahkan ikut membawa ember air tanpa ekspresi. Siapa pun yang melihat hanya akan mengira ia bocah pekerja miskin yang tak punya masa depan besar.
Itu justru yang ia inginkan.
Menjelang siang, pemilik penginapan melemparkan semangkuk bubur kasar ke arahnya. “Hei, bocah. Semalam kau pulang lebih larut dari biasanya.”
Shou Wei menerima mangkuk itu. “Pasar ramai.”
“Pasar selalu ramai.” Pria botak itu menyipitkan mata. “Tapi kau tak tampak seperti bocah yang kalah berjudi, dan juga tak tampak seperti bocah yang baru dipukul. Bagus. Itu artinya kau belum cukup bodoh.”
Shou Wei tidak menjawab.
Pria itu mendengus dan melanjutkan mengelap meja. “Kalau mau tetap tidur di gudangku, jangan bawa masalah besar ke depan pintu. Kalau masalahnya kecil, asal jangan berdarah di lantai, aku bisa pura-pura tidak lihat.”
Itu sejenis izin.
Di Stone Reed Town, kata-kata baik jarang datang dalam bentuk lembut.
Setelah makan, Shou Wei keluar dan berjalan ke jalan timur.
Ia tidak langsung menuju Green Cress, meski nama kios itu semalam disebut pembeli pelat kelembapannya. Sebaliknya, ia memutari dua blok jalan, mengamati lebih dulu letak jalan keluar, gang sempit, dan arus orang di sekitar. Toko-toko obat selalu menarik perhatian dua jenis orang: mereka yang sakit, dan mereka yang ingin orang lain sakit. Keduanya berbahaya.
Akhirnya ia melihat papan kayu kecil bercat hijau tua menggantung di atas pintu toko sempit: GREEN CRESS.
Di depan toko tergantung untaian akar kering, daun obat, dan beberapa kantong kecil berisi serbuk. Bau pahit dan tajam memenuhi udara sekitar. Dari dalam terdengar suara lesung menumbuk sesuatu.
Shou Wei masuk.
Ruangannya kecil tapi sangat rapi. Rak-rak kayu dipenuhi botol, daun kering, serbuk, dan bahan obat yang disusun menurut jenis, warna, dan kegunaan. Di balik meja berdiri wanita berjubah hijau lumut yang semalam membeli moisture-repelling mark miliknya. Hari ini rambutnya diikat lebih rapi, dan kotak obat di punggung sudah diganti dengan baki timbangan kecil.
Ia mengangkat mata saat melihat Shou Wei.
“Kau datang.”
“Kau bilang begitu.”
Wanita itu menatapnya beberapa detik, lalu menunjuk bangku rendah dekat meja. “Duduk. Jangan sentuh botol kiri. Itu racun serangga. Botol kanan juga jangan disentuh. Itu lebih mahal.”
Shou Wei duduk tanpa banyak bicara.
Wanita itu menyelesaikan menimbang serbuk merah ke dalam tiga kantong kecil lebih dulu, baru kemudian berkata, “Namaku Mu Qinglan. Aku menjual bahan obat, salep luka, dan beberapa pill rendah untuk para pembawa barang, pengawal, rogue cultivators, dan orang-orang bodoh yang sering terluka.”
“Shou.”
“Nama pendek lagi.” Mu Qinglan menghela napas ringan. “Stone Reed Town penuh orang yang takut namanya sendiri.”
Ia membuka laci meja dan mengeluarkan botol-botol obat kecil. “Aku tidak butuh concealment mark. Tapi pelat penahan lembap yang kaubuat semalam berguna. Bahan obat sungai sering rusak kalau kelembapan masuk terlalu cepat.”
Ia menatap Shou Wei langsung. “Bisakah kau buat versi untuk botol kecil?”
Shou Wei berpikir cepat.
Bisa? Mungkin.
Bisa langsung? Tidak yakin.
Harus mengaku bisa? Berbahaya.
“Bisa dicoba,” jawabnya akhirnya.
Mu Qinglan mengangguk, seolah jawaban itu lebih ia sukai daripada kesombongan kosong. “Aku tak suka orang yang terlalu cepat bilang bisa. Orang seperti itu biasanya membuatku kehilangan bahan.”
Ia menaruh satu botol kecil seukuran dua jari di atas meja. “Kalau ada mark kecil yang bisa ditempel di peti atau pembungkus untuk menjaga serbuk tetap kering, aku akan beli. Selama harganya masuk akal.”
“Berapa masuk akal bagimu?”
“Tergantung berapa lama bertahan.”
“Kalau hanya sehari?”
“Untuk wadah kecil? Lima puluh tembaga.”
Itu tidak buruk.
“Kalau dua hari?”
“Satu perak.”
Shou Wei menyimpan angka-angka itu dalam hati.
Mu Qinglan lalu menyandarkan siku di meja. “Kau bukan murid sekte.”
“Tidak.”
“Bukan anak toko formasi.”
“Tidak.”
“Berarti kau belajar dari sisa-sisa atau orang mati.”
Shou Wei menatap balik tanpa menjawab.
Mu Qinglan terkekeh tipis. “Baik. Tak perlu wajah seperti itu. Di pasar sungai, setengah orang belajar dari mayat. Yang separuh lagi belajar dari orang yang seharusnya sudah mati.”
Sebelum ia pergi, Mu Qinglan memberinya selembar kertas kecil berisi daftar kebutuhan:
dua mark penahan lembap kecilsatu mark stabil untuk peti obatkalau bisa, satu versi yang tidak mudah rusak saat dipindah“Bukan pesanan resmi,” katanya. “Hanya ujian. Kalau hasilmu baik, aku bayar. Kalau jelek, anggap kau belajar gratis.”
Shou Wei menerima kertas itu dan keluar.
Nama kedua hari itu sudah membuka sedikit pintu.
Namun ia tidak langsung kembali ke penginapan. Setelah berpikir sejenak, ia mengubah arah ke gudang timur.
Di sana, bangunannya lebih besar dan lebih kasar. Banyak peti, tali, kait besi, dan kereta dorong. Para pekerja mondar-mandir membawa karung atau memeriksa segel. Di salah satu pintu gudang terlihat seorang pria setengah baya bertubuh tipis dengan jubah biru tua dan banyak kunci di pinggangnya.
Pembeli minor dimming mark semalam.
Jin Pel.
Shou Wei menunggu sampai pria itu selesai memarahi seorang buruh yang salah menumpuk peti, baru mendekat.
“Paman Jin.”
Pria itu menoleh cepat, lalu matanya mengenali Shou Wei. “Ah. Bocah meja belakang.”
Shou Wei mengeluarkan satu lembar bukti transaksi Reed Hall. Bukan untuk diberikan, hanya untuk menunjukkan bahwa ia datang dari jalur yang benar.
Jin Pel melirik kertas itu dan mendengus. “Cerdas. Menunjukkan bahwa kau tak mencuri pelat semalam.”
“Aku hanya datang karena kau bilang begitu.”
Jin Pel melipat tangan. “Dan?”
“Kau bilang kalau aku bisa buat versi yang tahan lebih lama, aku bisa mencarimu.”
Pria itu menyapu halaman gudang sekeliling, lalu mengisyaratkan agar Shou Wei ikut ke samping bangunan, lebih jauh dari telinga pekerja.
“Dengar,” katanya pelan. “Barang semalam cukup bagus untuk gudang kecil atau lampu malam. Tapi aku butuh sesuatu yang lebih berguna. Kadang kami menyimpan surat pengiriman atau segel peti yang tidak boleh terlalu mudah terlihat. Bukan untuk menipu Reed Hall. Hanya untuk... menjaga agar terlalu banyak mata tidak ikut membaca.”
Shou Wei menangkap maksudnya.
Jin Pel butuh sesuatu yang bisa mengaburkan benda penting dalam waktu singkat.
“Seberapa kuat?” tanya Shou Wei.
“Tak perlu bisa menipu kultivator sungguhan. Cukup menipu mata biasa atau buruh iseng.”
“Itu bisa.”
Jin Pel langsung menyipitkan mata. “Bisa, atau ‘bisa dicoba’?”
Shou Wei menjawab jujur. “Bisa dicoba.”
“Hm. Lebih baik.” Jin Pel meraih satu peti kecil di dekat dinding, membuka penutupnya, lalu menunjukkan bagian dalam. “Ukuran begini. Kalau ada concealment mark sederhana yang bisa kupasang di dasar peti dan aktif setengah malam, aku bayar tiga perak. Kalau benar-benar tahan dan tidak mudah pecah, lima.”
Itu jauh lebih besar dari semalam.
Namun jelas juga jauh lebih sulit.
“Aku butuh waktu,” kata Shou Wei.
“Semua orang yang tidak bohong butuh waktu.” Jin Pel menutup peti itu. “Tiga hari. Kalau terlalu lama, aku cari orang lain.”
Shou Wei mengangguk.
Saat hendak pergi, Jin Pel berkata lagi, “Dan satu hal. Jangan bawa barang seperti itu lewat halaman depan siang-siang. Orang lain di gudang tak semuanya pekerja biasa.”
Peringatan lain.
Stone Reed Town memang seperti rawa. Tenang di atas, tapi penuh gigi di bawah.
Saat kembali ke gudang kecil tempat ia tidur, matahari sudah turun. Shou Wei duduk lama di atas jerami dengan dua permintaan di depannya:
mark untuk botol obat dan bahan lembap dari Mu Qinglanconcealment mark sederhana untuk peti dari Jin PelIa menutup mata dan mulai membagi masalah di kepalanya.
Mark penahan lembap kecil tidak sulit secara konsep. Yang sulit adalah mengecilkan pola tanpa membuat aliran qi terlalu padat. Semakin kecil ruangnya, semakin mudah simpul bertabrakan dan mati.
Sedangkan concealment mark untuk peti... itu lebih rumit. Bukan mustahil. Tapi perlu pelat atau dasar yang lebih baik, mungkin kayu tipis atau lembar logam kecil yang dipasang di bawah peti. Dan karena nilainya lebih tinggi, jika gagal di tangan pembeli, namanya akan rusak sebelum benar-benar dimulai.
Jadi ia harus pilih.
Jawabannya segera jelas.
Buat yang aman dulu.
Jual yang stabil dulu.
Naik pelan.
Itu cara hidup orang yang belum punya pelindung.
Malam itu, Shou Wei mulai bekerja lagi.
Ia membeli dua lembar logam tipis murahan dari pasar besi sore tadi. Kini ia memotongnya menjadi pelat-pelat kecil seukuran ruas jari, lalu mulai menggambar pola penahan lembap versi ringkas. Pekerjaan itu jauh lebih sulit dari dugaan. Simpul kedua terus bertabrakan dengan garis pengunci luar. Dua kali pelatnya mati. Sekali bahkan pinggir logam retak.
Namun setelah beberapa percobaan, ia menemukan jalur baru:
bukan tiga simpul seperti pelat besar,
melainkan dua simpul utama dan satu simpul gantung di pinggir.
Lebih sederhana.
Lebih kecil.
Lebih murah.
Dan mungkin lebih stabil.
Saat aktivasi pertama berhasil, tetes air dari ujung jari meluncur turun dari pelat kecil tanpa menempel sama sekali. Tidak kuat, tapi cukup bagus untuk barang ukuran botol atau bungkus serbuk.
“Bagus.”
Suara itu datang dari pintu yang terbuka setengah.
Shou Wei langsung mematikan qi dan menoleh.
Gao Sen berdiri di sana seperti biasa, tanpa suara, membawa lampu kecil dan wajah yang seolah selalu tahu lebih banyak dari yang ingin ia katakan.
“Kau suka muncul seperti hantu?” tanya Shou Wei.
“Kalau aku hantu, bakatmu akan kuulit dulu sebelum memujimu.” Gao Sen masuk tanpa menunggu izin, lalu memandang pelat kecil di tangan Shou Wei. “Versi mini?”
“Untuk penjual obat.”
“Hm. Praktis.” Gao Sen duduk di peti seberang. “Dan aku mendengar kau juga ke gudang timur.”
Stone Reed Town benar-benar tidak punya rahasia lama, pikir Shou Wei.
“Banyak telinga,” kata Gao Sen santai, seolah menjawab pikirannya. “Jangan khawatir. Belum banyak yang peduli. Tapi semakin banyak nama yang mengingatmu, semakin pendek waktu sebelum orang salah ikut tertarik.”
Shou Wei menatap lelaki tua itu. “Lalu?”
“Lalu kau harus memutuskan akan jadi apa.” Gao Sen menunjuk pelat kecil. “Bocah yang jual barang kecil lalu hilang. Atau bocah yang benar-benar menapak jalur formasi.”
Shou Wei tidak menjawab cepat.
Gao Sen menyipitkan mata. “Kalau kau pilih yang kedua, maka cepat atau lambat kau butuh tempat belajar lebih baik, bahan lebih baik, dan perlindungan—meski hanya sedikit. Stone Reed Town bisa memberimu uang awal. Tapi tidak cukup untuk tumbuh besar.”
“Dan siapa yang bisa?”
Gao Sen tersenyum tipis. “Ada minor auction lima hari lagi. Bukan besar. Tapi cukup bagi orang yang tahu melihat. Di sana kadang muncul barang rusak, formasi kuno tingkat rendah, atau manual setengah busuk yang orang lain anggap sampah.”
Jantung Shou Wei berdetak sedikit lebih cepat.
Formasi kuno tingkat rendah.
Manual rusak.
Itu terdengar seperti dunia yang memang sedang ia kejar.
“Aku tak punya uang banyak,” katanya.
“Karena itu kau butuh menjual sedikit lebih banyak sebelum datang.” Gao Sen berdiri lagi. “Buat barangmu untuk Mu Qinglan. Buat satu versi lebih baik untuk Jin Pel kalau bisa. Jangan lebih dari itu. Lalu simpan uangmu.”
Ia berbalik ke pintu, tapi sebelum keluar, ia menambahkan, “Dan jangan sentuh Wei Kuan kalau belum siap. Orang seperti dia tak selalu menyerang langsung. Kadang mereka menunggu saat kau mulai lapar.”
Setelah Gao Sen pergi, ruangan kembali sunyi.
Shou Wei menatap pelat kecil di tangannya.
Di Stone Reed Town, semua orang seperti memberi potongan jalan:
Mu Qinglan memberi kebutuhan.
Jin Pel memberi harga.
Gao Sen memberi arah.
Dan mungkin, di balik semuanya, dunia sedang menunggu apakah ia cukup cerdas untuk menyatukan potongan-potongan itu.
Ia menunduk dan kembali menarik garis.
Bukan untuk semalam.
Bukan hanya untuk makan besok.
Melainkan untuk sesuatu yang lebih jauh.
Lima hari lagi ada auction kecil.
Jika ia cukup cepat, cukup hemat, dan cukup hati-hati, mungkin itu akan menjadi langkah berikutnya.
Dan Shou Wei tahu, di dunia seperti ini, langkah berikutnya sering kali lebih menentukan daripada langkah pertama.