"Aku tidak butuh uangmu, Pak. Aku hanya butuh tanggung jawabmu sebagai ayah dari bayi yang aku kandung!" tekan wanita itu dengan buliran air mata jatuh di kedua pipinya.
"Maaf, aku tidak bisa!" Lelaki itu tak kalah tegas dengan pendiriannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana mama
Axel menyingkap kain yang masih menutup setengah tubuh Sofia.
"Masih utuh kan pakaian kamu. Apa sih heboh banget?" kesalnya.
"Iya, tapi bapak sengaja peluk aku 'kan?" tuding Sofia menatap kesal.
"Aish, kamu sembarangan banget kalau ngomong ya. Yang ada kamu yang peluk aku."
Sofia terdiam sejenak. Apakah benar dirinya yang memulai duluan? Ah, itu tidak mungkin.
"Sudahlah, aku mau sholat dulu. Bapak nggak sholat?" tanya Sofia mengakhiri perdebatan mereka.
"Sholatlah dulu, aku nanti saja," jawab Axel kembali menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
"Waktu subuh itu sedikit, sholat itu nggak boleh di tunda-tunda. Apalagi sholat subuh, banyak sekali pahalanya. Dengan sholat subuh bisa terhindar dari kemunafikan, dan sholat subuh mendapatkan pahala setara dengan sholat malam," ucap Sofia memberi kultum untuk Axel.
Axel menutup telinganya menggunakan bantal saat mendengar Sofia memberinya ceramah pendek.
Sofia menggelengkan kepala melihat tingkah Axel. Sepertinya jiwa-jiwa Fir'aun melekat pada lelaki itu.
Selesai sholat subuh, Sofia menyempatkan diri membaca surat yasin untuk dikirimkan pahalanya kepada kedua orangtuanya. Tak ada yang bisa ia lakukan, rindunya kepada kedua orangtuanya hanya sebatas alfatihah dan surat yasin saja. Semoga mereka di tempatkan diantara orang beriman.
Sofia kembali merapikan peralatan sholatnya. Namun, saat menoleh ke belakang, ia melihat Axel sudah duduk dan memperhatikan dirinya. Sesaat tatapan mereka bertemu.
"Nggak usah di lipat sajadahnya, aku mau sholat," titah lelaki itu membuat senyum tipis di bibir Sofia. Entah kenapa ada rasa senang saat Axel juga ingin menunaikan kewajibannya sebagai makhluk ciptaan Allah. Berharap hati lelaki itu sedikit lembut terhadap dirinya.
Sofia meninggalkan Axel di kamar sedang melaksanakan ibadah dua rakaat. Ia ikut bergabung bersama mama dan bibik di dapur.
"Pagi, Ma!" sapa Sofia pada sang mama.
"Pagi, Nak! Kamu mau ngapain?"
"Aku mau bantuin mama masak."
"Jangan. Kamu nggak boleh bantuin mama. Sana kamu duduk saja, sudah ada bibik yang bantuin," ujar mama menolak.
"Nggak pa-pa, Ma. Aku udah baik-baik saja. Lagian aku bosan cuma duduk nggak ada kerjaan."
"Kalau begitu kamu bantu siapin baju ganti untuk Axel saja. Kamu bisa kan?" tanya mama membuat Sofia seketika terdiam.
"Kamu nggak mau?" tanya mama demi melihat Sofia diam dengan wajah ragu.
"Ah, mau kok Ma. Kalau begitu aku ke atas dulu ya, Ma," jawab Sofia terpaksa melakukan.
"Ya pergilah. Axel sudah naik ke atas?"
"Belum, Ma. Tadi masih sholat di kamar."
Mama manggut-manggut. Ternyata putranya itu tidak meninggalkan kewajibannya. Semoga pintu hatinya terbuka dan bisa menerima Sofia lahir dan batin. Ia akan berusaha agar hubungan mereka semakin membaik, karena ia yakin Axel memiliki rasa terhadap Sofia, tetapi dia hanya terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Axel keluar dari kamar Sofia. Ia berpapasan dengan Seno yang sudah rapi dengan outfit nya. Terlihat dokter kandungan itu membawa beberapa berkas di tangannya.
"Udah rapi aja, mau ke rumah sakit sepagi ini?" tanya Axel.
"Ya nggaklah. Aku mau ke kantor dukcapil dulu, lalu ke kantor urusan agama," jawab Seno santai.
"Kantor urusan agama? Mau ngapain kamu kesana?" tanya Axel penasaran.
"Ya mau daftar untuk buat surat nikah asli."
"Eh, aku tuh nanya serius. Kamu nggak usah bercanda gitu," ujar Axel menatap malas.
"Siapa yang bercanda? Aku serius, kalau Abang nggak percaya tanya sama mama," jawab Seno seraya berlalu dari hadapan Axel.
Axel yang mati penasaran, ia berjalan mengikuti seno menuju ruang makan. Ia bertemu mama tengah sibuk menata makanan di meja makan.
"Ma, benaran Seno mau urus surat nikah?" tanya Axel pada sang mama.
"Ya benar. Emangnya kenapa?" jawab mama menatap sekilas.
"Seno mau nikah dengan siapa?" tanya Axel semakin penasaran.
"ijab qobul sih belum, tetapi dia mau buat surat nikah yang asli biar nanti bisa kasih identitas untuk anaknya Sofia. Kan kamu dan Sofia hanya nikah siri. Terus, kalau anak kalian lahir tentu tidak bisa buat akte. Jadi mama minta Seno buat surat nikah asli sama Sofia, jadi di akte senolah yang menjadi ayahnya," urai mama membuat Axel seketika menatap tidak suka.
"Ma, mama apa-apaan sih? Apa maksud mama mengambil keputusan seperti itu? Aku ayah anak itu!" Protes Axel tidak terima.
"Jika kamu merasa ayah dari anak itu, lalu kenapa kamu tidak mau mengakuinya secara hukum? Ayah macam apa kamu? apakah dengan nikah siri kamu sudah merasa bertanggung jawab?"
Axel mendengus kesal seraya beranjak dari hadapan mama. Ia menapaki anak tangga naik ke lantai dua untuk menuju kamarnya. Saat masuk ia berpapasan dengan sofia.
"Kamu ngapain disini?" tanya Axel datar.
"Maaf, tadi di suruh mama untuk menyiapkan pakaian ganti bapak," jawab Sofia memang begitu.
"Oya, bapak hari ini pakaian dinasnya yang mana ya?" tanya Sofia.
Axel tak menyahut pertanyaan Sofia. Ucapan mama tadi masih terngiang-ngiang di telinganya. Jika benar Seno menjadi ayah dari anaknya, itu artinya nanti mereka akan menikah. Pasti setelah melahirkan Sofia minta berpisah darinya.
Bersambung....
makanya kalau mau buang lendir liat" dulu orgnya/Curse/
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭