Rania, gadis yatim piatu yang hidup bersama neneknya. Kesulitan ekonomi membuatnya terpaksa tidak melanjutkan kuliah dan membantu neneknya bekerja di rumah majikannya di kota. Kasih sayang sang majikan dengan menganggap Rania seperti cucunya bahkan membiayai kuliahnya, membuat seisi rumah perlahan membencinya. Hingga pada puncaknya ketika Tuan Haryo sang majikan terbaring sakit tak berdaya, sejak itulah penderitaan Rania dimulai. Nasib baik tak melulu berpihak pada Rania, bahkan sang kekasih yang selama ini selalu mendukungnya pun meninggalkan Rania saat hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon baby Fy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Ending 1
“Oh iya, kalau ada apa-apa kau bisa minta bantuanku. Namaku Prasetya, panggil saja Pras.” Ujarnya lalu pergi meninggalkan Rania yang kini diantarkan menuju kamarnya.
-
“Saya sudah mengirim teman Rania ke Batam dan mengubah identitasnya menjadi Rosa, temannya. Sedangkan Rania sendiri sedang di rawat untuk pemulihannya.” Kata Pras memberitahu informasi terkait pekerjaan yang ia lakukan sesaat setelah kapal berlayar pada seseorang disebrang telepon.
“Apakah anda yakin melakukan hal ini?” Tanya Pras pada seseorang itu.
“Hanya lakukan saja perintahku.” Kata orang di di sebrang sana dengan dingin.
“Baik tuan.” Pras memasukab ponselnya saat telepon itu diputus oleh tuannya.
-
Keisha baru saja dipindahkan ke rumah sakit di Singapura, karena kondisinya yang ada perkembangan sehingga memungkinkan untuk segera sadar.
Terlebih dengan begitu, Vano bisa mengawasinya karena tuntutan perusahaan yang mengharuskannya tinggal beberapa saat di negeri singa putih tersebut.
Tak beberapa lama setelah Keisha dipindahkan, terdengar kabar baik dari para dokter, yang membuat Vano berlarian menuju kamar inap Keisha setelah dikabarkan istrinya itu telah siuman.
Dibukanya pintu ruangan itu dengan cepat, hingga membuat Keisha yang masih terbaring lemas melirik ke arah Vano. Keisha tersenyum lemah
“Keisha, sayang.” Vano menghampiri Keisha lalu membawa tangan lemah istrinya itu dalam dekapannya.
Menarik napas pelan, Keisha berusaha mengatakan apa yang ingin ia ungkapkan sejak ia datang.
“Van.. Vano.” Lirih Keisha sambil menitikan air matanya.
“Sayang jangan banyak gerak ya, kamu istirahat dulu.” Keisha menggeleng mendengar perintah Vano.
“Tolong jaga anak kita... Dan.. Tolong kembalilah pada Rania.” Vano menangis mendengar permintaan Keisha, sedangkan napas Keisha mulai memberat.
“Engga, kamu bicara apa?! Aku panggil dokter dulu ya.” Vano hendak pergi akan tetapi tangan Keisha menahannya.
“Maaf.. Dan... Terimakasih untuk semua.” Keisha tersenyum lalu matanya tertutup bersamaan dengan helaan napas terakhirnya.
“Kesiha!!” Vano berteriak memanggil Keisha, berulangkali menepuk pipi Keisha agar istrinya tersebut bangun.
Namun nihil, Keisha telah menutup rapat matanya untuk selamanya.
-
Rania menggendong anaknya dengan sayang, berkeliling rumah sudah menjadi aktivitasnya beberapa hari ini.
Sudah hampir satu bulan ia berada di Surabaya. Setelah meninggalkan pelabuhan, Pras membawa Rania ke salah satu rumah yang diawasi oleh banyak penjaga.
Namun hingga kini, Rania belum pernah bertemu dengan orang tua angkatnya kelak di luar negeri.
Rania merindukan Devi akan tetapi Pras memberi tahu nya bahwa Devi telah meninggal.
Rania sempat terpukul mengetahui berita kematian Devi yang diakibatkan kekalahannya lupa mematikan oven.
Dulu saat Rania melahirkan, ia lupa memberi tahu Devi bahwa oven untuk memanngang kue buatannya lupa dimatikan. Rania pun merasa bersalah hingga kini.
“Bersiaplah, setelah ini kita akan ke pelabuhan. Dan kau akan pergi Singapura untuk memulai kehidupan barumu.” Rania tersentak kaget mendapati Pras yang sudah berdiri di belakanganya.
“Kau akan bertemu dengan orang tua angkat mu sebentar lagi.” Rania hendak memprotes akan tetapi tatapan dingin dan tajam Pras sedikit membuatnya takut.
“Tunggu!” Cegah Rania saat melihat Pras hendak pergi. Pras pun menoleh dan mengangkat sebelah alisnya tanda ia menanti perkataan Rania selanjutnya.
“Akan kau bawa kemana aku? Dan apa rencana kalian padaku?” Pras tersenyum remeh, belum sempat ia menjawab Arkan menangis dengan kencang membuat Rania kewalahan.
“Urus saja bayimu!”Pras pergi meninggalkan Rania begitu saja. Sedangkan Rania semakin kewalahan dengan tangisan Arkan yang semakin menjadi.
“Kalau memang nanti ada kehidupan baru yang menanti, mama harap itu kehidupan terbaik yang di berikan Tuhan untuk kita ya, sayang.” Kata Rania sambil mencoba menenangkan Arkan.
End season 1
---
Rate Menunggu Mu
ga sudi pake banget klw rania balik sm vano yg najisin....
yuhhh.. sudah bekasan gitu... menjijikan..