Soques, merupakan negara yang tepat di mana sebuah Kerajaan berdiri megah.
Dengan kekuasaan yang dimiliki, Raja itu membuat semuanya seolah-olah sebagai permainan hidup. Memilih seorang gadis yang berasal dari Keluarga yang memiliki popularitas sebagai pendamping hidupnya.
Tidak ada rasa manis dalam setiap kehidupan, semua berubah seketika disaat melangkah di kehidupan yang baru.
~Satu Yang Terpisah~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KHALLEM
Hari-hari berlanjut tanpa perubahan. Kertia saat ini masih berada di Istana, pergantian penjagaan di Kota bergiliran dengan para pengawal Istana lainnya. Seharusnya Kertia lah yang menjadi kepala pemimpin atas penjagaan itu, tetapi Vianze tetap meliburkannya dan terus berjaga di sekeliling Istana, lagipula Vianze juga membutuhkan anak buah untuk membantunya mengerjakan sesuatu.
Satu jam yang lalu Kertia mendapat perintah dari Vianze untuk memindahkan barang-barang yang telah datang ke dalam gudang peralatan Istana. Barang-barang itu merupakan pesanan Vianze untuk perlengkapan Istana, yang berupa beberapa peralatan seperti pedang, busur ataupun benda-benda penyerangan lainnya. Obat-obatan juga tidak lupa ia pesan.
"Hmm... Banyak juga," Suara gadis dari dekat pintu gudang membuat Kertia sedikit berpaling. "Mau ku bantu?"
"Riena?"
Kedatangan Riena sedikit membuat Kertia tertolong, walaupun tidak sebanding dengan bawaan Kertia. Riena membantu Kertia membawa barang-barang pesanan. Ini sudah biasa dalam satu bulan sekali, selama itu Vianze memesan setumpuk peralatan dan obat-obatan ringan untuk keperluan di Istana.
Riena dan Kertia tengah berjalan kembali ke gudang Istana, jarak juga kurang mendukung. Karena terlalu banyak beberapa pengawal juga ikut membantu mereka berdua.
"Jadi apa yang ingin kau katakan?" Kertia seperti tahu tujuan Riena saat menemuinya. "Kau bukanlah tipe yang datang tanpa imbalan."
"Apa itu Khallem?" Riena langsung bertanya pada intinya.
"..............."
"Jadi kau tidak menjawabnya?"
Tentu saja Kertia tidak ingin menjawabnya tetapi jika dia tidak menurut pada perkataan Riena mungkin pelayan licik itu akan berbuat seenaknya yang dapat membuat Kertia ikut terlibat, dan lagi dia tidak tahu bahwa Riena mengetahui tentang Khallem.
Khallem menurut para orang-orang biasa adalah sebuah aliran sihir dalam bentuk lahar yang amat kuat dari sambaran petir pada dua abad yang lalu. Konon orang mengatakan bahwa petir itu adalah Dewa yang sedang mengamuk dan melepaskan kekuatannya di hari itu juga. Dan terjadilah Khallem yang terletak di lereng gunung yang kini menjadi incaran besar Vianze.
Itu jika menurut orang-orang biasa atau rakyat lainnya, namun ada persamaan dan perbedaan dalam cerita itu. Dalam kenyataannya, Khallem adalah sebuah aliran lahar api namun mengandung sihir yang dahsyat, Khallem terbentuk saat peperangan Raja pertama yang melawan Fagerdeth, Fagerdeth adalah Iblis hunian yang hampir membuat bumi hancur lembur.
Dengan perjuangan yang dilakukan oleh Raja pertama semua itu berakhir, namun pertarungan mereka seri. Keduanya pun tumbang. Disaat-saat terakhir, Sang Raja mengubah seluruh sisa hidupnya termasuk darahnya menjadi sebuah lahar sihir yang mengalir dalam gunung tua. Sang Raja berharap bahwa sihirnya itu dapat digunakan oleh semua manusia, dapat berbagi dapat untuk melindungi satu sama lain.
Namun sayang, Vianze lah yang telah mengkontrak tempat itu. Banyak yang ingin mencuri lahar itu tetapi berakhir dengan tragis, mengapa? Karena lahar itu masih sebuah lahar layaknya lahar gunung yang panas tanpa sihir, hanya Vianze yang memiliki cara agar sihir itu aktif.
...👑👑👑👑...
Barang-barang yang berdatangan telah disimpan dengan aman pada tempatnya masing-masing. Kini pelayan dan anak buah itu tengah berada di ruangan santai Istana, yang terletak di dekat taman milik Queena. Kedua orang itu masih dalam posisi berhadapan dan seperti membicarakan sesuatu.
"Begitu rupanya," Riena mengangguk paham. "Jadi apa hubungannya dengan Ratu?" Pikiran Riena penuh dengan kata penasaran.
"Tidak semuanya ku ketahui Riena!" Gertak Kertia.
"Yah siapa tahu bukan." Gumam Riena. Kertia mengatakan hal yang sebenarnya bahwa tidak semuanya dia ketahui tentang Khallem.
Kertia juga tidak perlu bertanya dari mana Riena mengetahui tentang Khallem. Karena gadis yang ada di hadapannya ini adalah Ratu gosip di Istana, rahasia apapun pasti akan dia ketahui walaupun dengan informasi yang kurang rinci.
Tapi dari penjelasan yang diutarakan oleh Kertia sungguh tak terbayang, ternyata di dunianya itu memiliki tragedi yang luar biasa. Kertia juga mengingatkan pada Riena agar tidak menyebar luaskan kenyataan itu. Vianze ingin bahwa rakyatnya cukup percaya padanya dan terus menjalani hari-hari biasa tanpa mengetahui seluk beluk masa lalu.
♤**Di Istana Bagian Barat♤**
Vianze masih setia menemani Adiknya, walaupun telah sadar dari tidurnya selama lima hari Vianze tetap menaruh perhatian lebih pada orang yang dia anggap sebagai Adik.
"Ayolah~ aku bukan anak kecil lagi, pergilah dan kerjakan pekerjaan Kakak." Ujar Fenith yang masih beristirahat di atas ranjangnya. Namun, ucapan Fenith sama sekali tidak diubris oleh Vianze. Mungkin masih memikirkan beberapa hari yang lalu, saat Vianze berbicara empat mata dengan Dokter yang memeriksa keadaan Fenith.
"Aku tidak akan memaafkannya." Ucap Vianze yang sama sekali tertelan oleh emosinya sendiri.
Tok! Tok! Tok!
Pelayan Fenith langsung membukakan pintu tersebut.
"Salam Yang Mulia, di depan gerbang Kerajaan banyak orang-orang yang ingin memasuki Istana dengan alasan ingin menjenguk Sang Ratu."
"Menjenguk Queena?" Batin Fenith.
♤Gerbang Kerajaan Soques♤
"Bagaimana ini? Apakah ada yang telah memberitahukan hal ini pasa Vi- maksudku Yang Mulia Raja?" Tanya Lenier yang berada di gerbang utama Istana.
"Biarkan kami bertemu dengan Ratu Queena!"
"Ratu seperti dirinya telah banyak membantuku!"
Seruan dari banyaknya orang bergemuruh di depan gerbang besar Istana. Sebelumnya Lenier telah memerintahkan satu pengwal untuk menemui Raja mereka dan meminta izin tentang ini.
♤Ruang Santai, Istana Bagian Selatan♤
"Akhirnya aku menemukanmu, Yang Mulia memanggilmu." Ucap salah satu pengwal Istana yang terlihat begitu kelelahan karena berlari mencari Kertia, mungkin.
"Raja memanggilku? Ada apa?"
"Gerbang depan dipenuhi oleh penduduk yang ingin menjenguk Ratu, namun sebelum itu kau harus menemui Beliau terlebih dahulu." Jelas pengawal itu.
"Riena aku pergi."
"Ba- baiklah!"
Kertia langsung berlari menuju Rajanya, yang diketahui berada di Istana bagian Barat berarti di wilayah Fenith. Di tengah larinya Kertia sempatnya menunjukkan wajah buruk saat ingin menemui Rajanya di kamar Fenith.
...👑👑👑👑...
"Hn?" Aldone merasa ada yang sangat berisik dari luar jendela, jadi dia memutuskan untuk bangkit dari kursinya dan meletakkan buku yang tadi ia baca.
"Ra- ramai sekali." Ucap Aldone, pria itu dapat melihat kerumunan penduduk yang memenuhi gerbang utama di Istana Vianze.
Kebingungan itu tidak berlaku di kamar Queena, karena arah letak tempat yang tidak mendekatkan dan memperlihatkan gerbang utama. Nier dan beberapa pelayan lain masih berada di kamar yang sama selama lima hari begitupula dengan Yanze. Bocah itu sama sekali tidak bosan dengan kunjungannya untuk melihat keadaan Queena.
"Pangeran jika kau lelah kau bisa berbaring di atas ranjang Ratu." Ujar Mospi karena terus melihat Yanze yang kelelahan, sebenarnya sikapnya ini sangat baik, hanya saja Pangeran mungil itu juga harus menjaga kesehatannya.
"Tidak mau, jika aku tertidur maka aku tidak bisa melihat Kak Queena bangun." Suara imutnya itu bergeming di dalam kamar Queena.
"Apakah pesan Ratu pada Anda jika dalam keadaan seperti ini?" Mospi mulai mengakrabkan dirinya pada Yanze dengan membawa nama Queena. "Mungkin Ratu akan sangat sedih jika Anda jatuh sakit, apakah Pangeran ingin melihat Ratu bersedih lagi?"
"Tidak! Aku tidak mau!" Yanze langsung berlari ke sisi ranjang lainnya dan tak lupa melepas kedua sepatunya yang terpasang di kaki mungilnya.
Yanze mulai merebahkan diri di samping Queena dan mulai terlelap. Pelayan lain sangat terkejut dengan perlakuan Yanze yang sangat penurut. Mereka semua berfikir bahwa Pangeran muda mereka telah terdidik dengan baik di bawah di dikkan Sang Ratu. Lagipula jika Yanze sampai jatuh sakit para pelayan juga akan terkena getahnya.
Fenith dan Queena pingsan diwaktu yang sama namun sampai saat ini gadis yang memiliki rambut merah itu sama sekali belum sadar dari tidur lamanya. Pelayan yang terus khawatir dan terus mengecek keadaan Ratu siang dan malam tanpa lelah. Namun tidak ada kemajuan. Dengan adanya Lenier, para pelayan merasa terbantu karena Lenier juga selalu menjaga Queena.
♤Di Waktu Yang Sama, Di Gerbang Istana♤
"Tolong mengertilah!" Teriak Lenier. "Ratu tidak akan pulih dengan cara seperti ini."
Sejak dari tadi Lenier berusaha untuk membuat para penduduk mengerti, tindakkan mereka memang baik namun belum tentu untuk kebaikkan Queena. Saat ini Lenier hanya ingin memastikan bahwa Queena dapat beristirahat penuh, sesuai dengan anjuran yang diberikan orang 'itu' padanya.
"Ratu akan sangat senang dengan kehadiran kalian, tapi itu akan membuat kondisinya semakin buruk, tolong pahamilah situasinya."
Dengan penjelasan serta ucapan yang diutarakan Lenier, beberapa dari para penduduk itu mulai diam dan mulai memahami keadaan.
"Nona Lenier!" Panggilan yang mengarah pada gadis berambut cokelat itu membuat dirinya berpaling. Dia mendapati Kertia yang berlari ke arahnya.
"Sudah berapa kali ku katakan padamu! Panggil aku Put!- Ah! saat ini bukan waktunya untuk itu."
kalimat yunze sakti banget bisa bikin raja vianze lsg menghilang 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
gemeeeessshhh banget...niat ngerawat kak queena sampe lupa apelnya diabisin sendiri
api emosi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣