Isabella, seorang wanita yang dihadapkan pada perceraian mendalam dengan suaminya—Justin, merasakan pukulan takdir yang lebih kuat saat perusahaan keluarganya mengalami kebangkrutan. Sementara itu, menghilangnya Mama, Papa, dan Kakaknya secara tiba-tiba membuat Isabella terjebak dalam kebingungan dan rasa kehilangan yang mendalam.
Setelah beberapa tahun tinggal di luar negeri, Isabella kembali ke negaranya dengan harapan baru. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan mantan suaminya—Justin. Pertemuan ini memicu pertanyaan sulit: Akankah mereka berdua mampu melihat melampaui masa lalu mereka yang penuh dengan perasaan yang tidak selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rai Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Zay tersenyum-senyum sendiri saat mendengar apa saja yang telah dilakukan oleh Isabella, bahkan ekspresi Isabella pun digambarkan dengan sebuah kata-kata yang terdengar lucu, Zay menahan gelak tertawanya agar tetap terlihat berwibawa di depan anak buahnya itu.
“Kau terlalu melebih-lebihkannya, Jo...” kata Zay dengan nada yang di buat sedemikian rupa agar terdengar datar dan tak berekspresi, namun nyatanya kursi yang tengah di duduki olehnya sudah berguncang hebat akibat menahan tawa.
Jo, adalah anak buah kepercayaan Zay yang selalu siap kapanpun saat dibutuhkan. Zay mempercayakan tugas untuk mengawasi Isabella pada Jo.
“Hmph, baiklah. Kau sudah melakukan yang terbaik...”
Zay mengakhiri pembicaraan dalam telepon itu, ia sampai terkekeh hebat karena tak kuasa lagi menahannya sejak tadi. Suasana di ruangan tersebut telah di manipulasi oleh gelak tawanya sendiri, entah apa yang dipikirkan oleh orang lain jika melihat hal tersebut. Mungkin saja mereka akan berpikir bahwa Zay tengah kerasukan, karena memang dia dikenal sebagai pria berdarah dingin yang tidak jauh berbeda dengan Justin.
Aku bingung kenapa mengerjainya selalu membuatku bahagia, padahal ada banyak wanita di luar sana tapi kenapa aku tidak memiliki ketertarikan seperti ini kepada mereka? Kau sungguh wanita yang sangat menarik, Isabella.
Zay membatin, masih dengan tawanya yang memanipulasi ruangan, lambat-laun tawa itu mulai mereda dan dia kembali bisa mengatur nafasnya dengan sempurna.
Tak ada yang tahu di mana keberadaan Zay pada saat ini kecuali tuannya, Justin. Dia memang sedang dalam tugas rahasia yang tidak boleh di ketahui oleh siapapun. Namun entah ada angin apa yang membuat Zay begitu memperhatikan Isabella bahkan dalam misi rahasianya sekalipun, rasa menyenangkan saat mengerjai wanita itu seolah membuatnya jadi bersemangat.
Zay sampai menggerakkan anak buah kepercayaannya seperti Jo untuk turun tangan langsung demi mengawasi Isabella, padahal biasanya dia menggunakan Jo hanya pada saat-saat genting saja.
Jadi tidak heran jika itu membuat Jo sendiri merasa aneh, tidak biasanya Zay menyuruhnya untuk melakukan hal sepele seperti itu. Apalagi alasannya hanya karena seorang wanita, sungguh tidak seperti Zay yang biasanya dia kenal. Sesosok pria yang bisa membunuh orang lain tanpa mengedipkan mata itu seperti menjadi bocah kecil yang kekanak-kanakan pada saat ini.
“Hmph, sepertinya hiburan ku sudah cukup. Sekarang waktunya aku membereskan para pecundang itu dan kembali ke negara ku, lebih cepat lebih baik. Aku tak mau membuat Isabella terlalu lama menunggu dan malah membuatnya mati kutu di sana, haha...”
Zay sudah mulai melirik Isabella sejak wanita itu memenangkan berbagai macam penghargaan untuk perusahaan yang menjadi tempatnya bekerja. Isabella juga di kenal sebagai wanita yang berkompeten serta profesional, sosoknya selalu membuat Zay kagum karena wanita itu bisa berdiri dan menegakkan namanya sendiri tanpa bantuan dari siapapun.
Namun yang membuat Zay sedikit penasaran adalah latar belakang dan masa lalu Isabella yang tak dapat di selidikinya, identitas wanita itu di lindungi oleh negara dan tidak bisa di selidiki sebab menyangkut rahasia pemerintah.
Hal itu jugalah yang membuat Zay semakin tertarik dengan Isabella, entah ada rahasia apa di baliknya yang membuat identitas wanita itu sampai dilindungi oleh negara.
Kemudian Zay beranjak dari tempatnya dan segera menyelesaikan tugas, di tangan kanannya kini sudah ada sebuah pistol yang siap dengan peluru di dalamnya.
...
DOR...!!
DOR...!!
DOR...!!
...
***
Justin mendapatkan pesan dari Zay bahwa dia sudah menyelesaikan tugas dan akan segera kembali. "Dia memang tak pernah mengecewakan ku," gumam Justin setelah membaca pesan itu lalu kembali meletakkan ponselnya.
-
-
-
-
-
***
BERSAMBUNG...................
kalau author berani melakukan itu, aku benar salut pada author
adek g da ahlak lah..
dan knpa justin punya feeling semacam itu ya??