Aisyah Safitri, menerima pinangan dari Hanif, seorang dosen yang terkenal soleh dan baik hati.
Awal pernikahan mereka, memang terlihat seperti rumah tangga orang lain pada umumnya, yang bergitu romantis dan harmonis.
Tapi siapa sangka, dibalik keharmonisannya itu, tersimpan sebuah rahasia, yang membuat rumah tangga mereka berada di ujung tanduk.
Akankah perceraian terjadi di antara keduanya? Dan mampukah, Aisyah mempertahankan rumah tangganya? Apa sih rahasia penyebab itu semua?
Yang penasaran, yuk lanjut baca aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecuali Sudah Sah
Sore harinya, Aisyah masih berdiri mematung di pinggir jalan sejak lima menit yang lalu, ia tengah menunggu datangnya angkot yang mengarah ke alamat rumahnya. Para murid yang hendak pulang, saling berseliweran melewat di sekitarnya.
Murid-murid di sini, ada sebagian yang mondok di asrama dan ada juga yang pulang pergi. Termasuk adiknya Aisyah--Yusuf, dia menjadi anak pondok di sekolah ini.
Adam tengah melajukan motor RA-King yang ditumpanginya dengan pelan, seraya menebarkan senyum ramah kepada para murid yang memberi salam padanya.
Kedua matanya kini difokuskan ke arah wanita yang tengah berdiri di pinggir jalan sana, yang tak lain ialah Aisyah, wanita idamannya.
"Loh, itu kan Aisyah," gumamnya, langsung melajukan motornya mendekati Aisyah.
Motor RA-King itu berhenti tepat di samping Aisyah, membuat perempuan berkerudung biru itu menoleh ke arah motor.
"Loh, Bu Aisyah belum pulang ya?" tanya Adam, sok kenal, sok dekat.
"I-ini lagi nunggu angkot," jawab Aisyah menunduk, untuk menghindari pandangan di anatara keduanya.
Adam mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan, sambil ber-oh panjang. Ia sejenak terdiam. Keadaan di antara keduanya terasa begitu hening. Lalu, Adam yang tiba-tiba merasa canggung, ia pun hendak berpamitan kepada Aisyah untuk pulang terlebih dahulu. Namun, sebelum Adam mengangkat bibir, terlebih dahulu seorang murid laki-laki bersuara.
"Cie... Pak Adam mau nganter Bu guru baru ya," ujar salah seolah siswa yang diwali kelasi oleh Adam.
"Enggak!" cetus Adam langsung, dengan wajah yang sedikit memerah, tidak terima.
"Haha, santai aja kali Pak. Mau dianter juga gak apa-apa kok, asal jangan berduaan aja, kan bukan muhrim. Kecuali ...." Siswa tersebut menggantungkan ucapannya, membuat Adam merengut penasaran.
"Kecuali apa?!" tanya Adam yang kepo dengan lanjutan perkataan sang siswa tersebut.
"Kecuali kalau Pak Adam sama Bu guru baru udah SAH! ... Baru boleh bonceng berduaan, haha." Sang siswa tertawa terbahak, lalu lari meninggalkan mereka, saat Adam menegurnya.
"Dasar, murid macam apa dia ini!" gerutunya pelan, melihat siswa berpakaian putih abu-abu itu berlari sambil tertawa ke arahnya.
Lalu, Adam pun menoleh tidak enak ke arah Aisyah. "Duh, Bu Aisyah, gak usah dimasukin ke hati ya ucapan anak tadi. Beberapa murid di sini memang kadang suka ceplas-ceplos kalau bicara," tutur Adam, malu dan tak enak hati.
Aisyah mengangguk tak bersuara sedikit pun, bahkan sejak tadi ia masih terus menunduk mengalihkan pandangannya ke sisi lain. Menghindari kontak mata, antara dirinya dengan Adam.
Tiba-tiba ....
Sebuah mobil rubicon berwarna merah, berhenti di depan mereka. Kaca mobil perlahan terbuka, lalu terdengar suara seorang lelaki yang memanggil nama Aisyah.
"Aisyah," teriak Hanif dari dalam mobilnya.
Aisyah yang mengenali suara tersebut langsung mendongak, dan mendapati Hanif yang tengah tersenyum ke arahnya. "Uda," ucap Aisyah seraya mengembangkan senyuman manisnya ke arah Hanif.
"Ayo, kita pulang," ajak Hanif, lalu membukakan pintu dengan sebelah tangannya. Posisi masih di dalam mobil.
Aisyah mengangguk, lalu menoleh dan menunduk ke arah Adam. "Pak Adam, saya duluan. Assalamu'alaikum," ucapnya langsung naik ke dalam mobil.
"Wa'alaikumussalam," jawab Adam masih mematung heran memandangi Aisyah dari balik pantulan kaca spion mobil.
Lalu mobil itu pun perlahan maju, dengan suara klakson yang berbunyi, menandakan bahwa sang pemilik mobil menyapa kepada Adam.
Adam masih terdiam dia atas motornya. Kedua alisnya terlihat saling bertautan, menatap kepergian mobil rubicon yang kini semakin menjauh dari pandangannya.
"Uda?" gumamnya berpikir. "Bukannya, Uda itu panggilan orang Padang untuk kakak laki-laki ya?"
Adam mengerucutkan bibirnya ke pinggir, berpikir keras akan siapa sosok lelaki yang barusan mengajak Aisyah pulang. "Oh... ya ya ya, pasti lelaki tadi itu kakaknya Aisyah, makanya di panggil Uda," ucapnya tersenyum senanng.
"Gitu ya, kalau sama Kakaknya aja, senyumnya sampe manis begitu, eh, giliran aku tanya biasanya aja, nundukknya duh maasyaa allah, sesuatu banget deh." Adam menggeleng-gelengkan kepalanya. Membayangkan senyuman manis yang baru saja ia lihat, saat Aisyah tersenyum ke arah Hanif.
"Gadis ini jangan sampai lolos," gumamnya penuh tekad, lalu segera melajukan kembali motornya, pergi menuju rumahnya yang tak jauh dari asrama pondok.
Bersambung....
Mau menyamakan. Aisyah ya beda level lah Nara kamu mah ga ada apa apanya
Kamu selingkuh Hanif
Biar Aisyah sama Adam aja
minta ke Aisah baik2
jngan pake cra yg keji , jahat