Bagaimana jika kamu menjalankan kehidupan yang sama tapi semuanya tidak serupa lagi?
Ini adalah kisah dari Gill, wanita muda yang mengalami jatuh bangun di kehidupannya saat harus memilih antara jujur atau menyembunyikan identitasnya sebagai ibu muda dari seorang anak di luar nikah.
Apakah semua ini sudah digariskan oleh takdir?
Saat Gill harus terpuruk kembali oleh perbuatan sang mantan, dia mendapatkan pertolongan dari pria bernama Vince, orang yang memiliki latar belakang yang kuat dan ternyata juga telah memiliki seorang anak.
Vince menghadapi permasalahan yang melilitnya dan tepat disaat itu, dia juga membutuhkan wanita yang bisa membantunya.
Apakah Vince hanya mengambil keuntungan dari Gill dengan mendekatinya? Atau adakah yang Vince inginkan lebih dari itu?
Kisah keduanya seperti anggrek dan mawar. Yang satu bertahan hidup untuk tumbuh di berbagai medan sulit dan berusaha untuk mekar, dan yang satunya lagi terlihat cantik mempesona, tapi durinya yang tajam bisa melukaimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jiel Ruu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 Benang yang terhubung bagian (1)
Terkadang aku jadi berpikir, apakah kami memiliki ikatan takdir sehingga kami sering bertemu di saat seperti ini. Nafasnya yang sedikit tidak teratur, kaos yang basah karena keringat, Vince sepertinya juga habis berlari.
Aku tidak tau kenapa, perasaan lega ini pun datang. Mataku seperti berkaca-kaca, hatiku seperti sedang melambung bahagia, aku sangat senang pria ini ada di depanku saat ini.
"Kalau kamu melihatku dengan mata ingin menangis seperti itu, orang-orang bisa salah sangka mengira aku sudah berbuat jahat lho," ucap Vince sambil memegang pipinya yang agak memerah bekas tamparanku tadi.
"M-Maaf! Aku tidak menyangka kalau itu adalah kamu! A-Ah, pasti sakit ya,"
"Jadi, kenapa kamu lari-larian seperti ini?"
Sebelum aku bisa berkata lagi, suara yang memanggilku berteriak mendekat. Vince langsung memalingkan wajahnya ke arah suara itu.
"Gill! Berhenti di sana! Jangan kabur!"
Oscar yang mengejarku sambil menahan sakit datang. Dia sedikit terkejut karena melihat Vince bersamaku sekarang.
"K-Kamu," ucap Oscar dengan terbata-bata.
Sepertinya aku sudah ngak perlu tanya alasan Gill lari-larian seperti tadi. Pria sinting ini kembali mengganggunya, astaga, rasanya harga diriku sebagai cowok ikutan rusak kalau lihat orang ini ;ucap Vince dalam hatinya.
Vince menatapinya dengan dingin dan tajam. Dia memberikan isyarat tangan di belakang tubuhnya, meminta aku berlindung di belakang punggungnya.
"Gill, kamu benar-benar ya," ucap Oscar dengan geram.
"Lagi-lagi anda mengganggu istri saya ya, sepertinya kali ini saya tidak bisa membiarkan anda,"
"Gill, kamu benaran sudah hianatin aku ya, kenapa kamu bisa nikah sama cowok ini! Kamu lebih milih dia daripada aku?!"
"TENTU SAJA!"
Aku berteriak padanya, bagiku ini sudah lebih dari cukup. Oscar sepertinya sudah tidak bisa memahami perkataan dariku, semua yang dia katakan hanya soal dirinya saja.
Dari awal aku sudah bertahan sampai hari ini, aku menarik nafas panjang dan memantapkan langkahku. Ekspresi Vince berubah saat melihatku keluar dari lindungan punggungnya, Oscar tersentak kaget seakan-akan tidak percaya.
"Tentu saja aku akan pilih orang yang bisa menjagaku, bukan orang yang akan terus-terusan melukai aku. Kamu pikir aku akan selalu di bawah perintah kamu? Sadarlah, kamu bukan siapa-siapa dan hidupku bukan milik kamu,"
"L-Leon! Bagaimana dengan Leon? Aku kan ayahnya Leon!"
"Jangan pernah sebut nama Leon seperti kamu punya hak! Dari dia lahir sampai detik ini, Leon sudah tidak punya ayah. Aku memperingatkan kamu Oscar, jangan pernah menyentuh Leon,"
Kata-kata yang selalu ingin ku ucapkan ketika aku tidak ingin mengingat masa lalu lagi. Untuk seseorang yang berharga bahkan rela ku tukar dengan nyawa saat itu, maka akan aku perjuangkan sampai kapanpun.
Raut wajah Oscar menjadi pucat. Aku harap sedikit saja dia bisa mengerti kalau tidak ada harapan lagi untuknya, aku sudah lelah!
Semula langit berawan, kini rintikan hujan pun turun. Aku tidak beranjak dari sana sambil menggenggam tanganku dengan kuat, air hujan yang jatuh sudah mulai membasahiku.
"Sayang, ayo kita pergi dari sini. Hujannya semakin deras," kata Vince padaku sambil memegang kedua pundakku.
Oscar terdiam membeku di sana. Aku tidak bisa membaca ekspresinya sekarang. Apa dia sedang marah? Kesal? Kecewa? Sedih atau putus asa?
Jika kamu bisa belajar dari semua ini, aku akan memaafkanmu. Jalan kita sudah berbeda Oscar, perasaan apapun terhadapmu sudah berakhir, kelakuanmu yang seperti ini hanya akan membuatku semakin membenci kamu.
Vince dan aku beranjak dari tempat itu, pikiranku menjadi kosong seketika dan mental yang ku punya seperti langsung jatuh. Oscar terdiam dan tidak melakukan tindakkan apapun atau berusaha menghentikan kami.
Hujan turun semakin deras. Walau aku tidak mendengarnya dengan jelas, tapi sekilas seperti Vince mengalihkan pandangannya kembali ke Oscar dan berkata sesuatu,
"Jangan pernah ganggu istriku lagi atau kamu akan menyesal,"
Kami menuju mobil Vince yang terparkir di seberang jalan satunya, dia membukakan pintu untukku dan kembali ke kursi setir. Kami berdua basah kuyup sekarang.
"Aku akan mengecilkan AC-nya," ucapnya sambil mengemudikan mobilnya menjauh.
Aku hanya bisa terdiam sekarang, tubuhku memang kedinginan tapi aku terhanyut akan pikiranku sekarang; Apakah Oscar akan benar-benar menyerah?
"Kalau kamu seperti itu, usahamu selama ini akan sia-sia," ujar Vince padaku saat matanya tetap fokus ke jalan.
"Apa maksud kamu?"
"Usahamu itu. Selama ini kamu sudah berjuang mati-matian merangkak untuk bangkit bukan? Kamu harus bertempur untuk kebebasanmu,"
Mobil yang dikemudikan Vince berbelok searah dengan jalanan. Matanya tetap fokus walaupun sedang berbicara padaku.
"Kamu seperti ini seperti motivator ya,"
"Ya boleh saja sih kamu beranggapan seperti itu. Kebebasan untuk setiap orang berbeda, tangga yang harus dipanjat juga berbeda."
Aku melihat ke wajahnya yang serius itu. Pria ini sangat tenang, dibalik wajah dinginnya itu tersimpan sikap yang hangat; Ugh, aku lupa pipinya yang satu agak memar deh kayaknya.
"I-Itu, maaf soal yang tadi, aku sungguh tidak tau kalau itu kamu jadi ya..."
"Sebenarnya aku sudah lupa, tapi pas kamu ungkit lagi, rasa nyerinya langsung balik lagi,"
A-Aduh... . Rasa bersalahku jadi kerasa bertambah dua kali lipat dari sebelumnya deh. Kasihan banget kamu, udah tolongin aku tapi malah kena tamparanku juga.
"Apa kamu kedinginan?" tanya Vince.
Dengan kondisi basah kuyup begini di tambah AC mobil, rasa menggigilnya tidak tertahankan.
"Tadi aku lupa soal dingin, tapi pas kamu tanya sekarang dinginnya malah nambah,"
"Pfftt, kamu hebat ya. Itukan kata-kataku tadi,"
"Aku pinjam dulu,"
"Sama pinjam namaku juga ya?"
"Kan kamu duluan yang begitu,"
Vince mengantar aku sampai di depan rumah. Hujannya masih sangat deras, aku menawarkan Vince untuk masuk dulu mengeringkan tubuhnya sebagai permintaan maaf. Dia menyetujuinya karena memang dia sendiri sudah sangat kedinginan.
"Kamu bisa pakai kamar mandinya duluan, aku punya handuk baru yang belum di pakai sebelah sini. Aku akan coba cari baju kering untuk kamu ganti, nanti pakaian basahnya letakkan di keranjang saja biar aku keringkan pakai mesin cuci,"
"Iya,"
Dengan mudahnya dia di beri arahan? Astaga, dia udah kayak Leon saja pas di suruh mandi, Eh?! Tunggu, apa?!
Setelah aku mengganti sementara pakaian basahku dan menghilangkan beberapa pikiran aneh, aku mencari beberapa pakaian yang kira-kira muat untuk Vince. Sebenarnya kalau pakaianku sendiri itu tidak mungkin, ukuran bahu kami berbeda; Dan lagian aku tidak pernah ada baju cowok!
Vince selesai dan aku memberikan pakaian untuknya. Tidak lama, dia selesai berganti.
"Ukurannya sedikit kebesaran, tapi aku ngak tau kamu ada baju cowok. Apa ini punya..."
"Ini baju untuk ayahku! Jangan salah deh, aku biasa mengirimkan barang-barang untuk keluargaku saat tahun baru Imlek." ucapku dengan lantang. Aku tidak mau dia berpikir aneh-aneh karena aku menyimpan pakaian cowok di rumah seorang wanita yang tinggal sendiri.
"Padahal aku cuma mau bilang apa ini punya saudaramu? Tapi sepertinya pikiranmu ke arah lain ya,"
Ini orang menjebak banget! Aku jadi salah sendiri ngomongnya.
"Ehem, aku cuma mengatakan yang sebenarnya kok. Sudahlah, jangan di bahas. Ngomong-ngomong, aku sudah taruh selimut di ruang tamu, kamu bisa pakai untuk menghangatkan kaki. Setelah aku mandi, aku akan siapin teh hangat atau semacamnya, jadi tunggulah di sana."
Vince mendengarkan arahan dan menuju ke ruangan tamu saat Gill pergi mandi. Dia duduk dan mengambil selimut itu kemudian memakainya.
"Benar wanita yang menarik. Jujur saja kadang dia waspada banget tapi kadang juga jadi longgar. Sebenarnya bukannya sedikit berbahaya kalau mengajak pria masuk ke rumah dengan kondisi begini?" ucap Vince sendiri pada dirinya.
Dia memegang pipinya yang masih terasa panas nyeri akibat tamparan dadakan Gill saat itu. Mengingat kondisi Oscar yang jalannya terpincang-pincang kesakitan dan ada luka di tangannya, Vince menyadari mungkin dia lah yang dalam bahaya kalau berbuat sesuatu yang salah.
"Aha haa haa.... Tapi kayaknya kalau model yang seperti Gill ini akan baik-baik saja deh, tenaga dan pertahanannya ngak main-main,"
Benar juga, aku membutuhkan wanita yang bisa melindungi dirinya ketika mendesak. Cara bicara yang bisa menekan, keyakinan diri dan keinginan yang kuat, terutama semangat untuk melindungi anak.
Vince terhanyut dalam pikirannya. Semua seakan-akan cocok dengan karakter yang dimiliki oleh Gill saat ini walaupun dia berpikir kemampuan dan kepribadiannya perlu di poles lagi.
Setelah selesai mandi, Gill keluar kemudian membereskan pakaian yang basah dan memasukkannya ke dalam mesin cuci untuk sekaligus di keringkan.
Drrtttt Drrrrttt
Bunyi ponsel berdering dan Gill mengangkatnya. Suaranya amukkan seseorang yang sangat di kenal langsung tersirat keluar.
"GILL!!! DIMANA KAMU SEKARANG?!"
Gendang telingaku terasa mau pecah! Ampun Renata, perasaan volume suara ponselku sudah di kecilkan deh.
"Aku sudah di rumah kok Ren,"
"Beneran deh, aku khawatir banget sama kamu tau ngak. Apa-apaan chat begitu?! Aku tungguin tapi kamu ngak telpon!"
"Tapi aku ada telpon kamu lho Ren,"
"Ngak ada tuh, bisa kamu chek deh. Sumpah, aku sampai manasin mobil nungguin kalau kamu minta jemput. Aku bahkan ngajak satpam buat ikutan, kamu ngapain sih sampai kedengaran gawat begitu?"
"Masalahnya runyam Ren, ntar aku ceritain deh, makasih banget lho Ren,"
"Makasih apaan, kayak baru kenal saja, hahaha. Intinya kamu udah di rumah sekarang aku jadi lega. Kamu ngak ada yang lecet kan?"
"Kinclong kayak baru di poles, Ren,"
"Bhahaha! Bisa banget ya. Oh ya, untuk kegiatan besok..."
Gill dan Renata melanjutkan pembicaraan mereka lewat telpon. Saat mendengar suara Gill yang sudah selesai, Vince menghampiri dan berniat membantunya mengurus pakaian basah.
Saat sampai ke ruangan itu, Vince menghentikan langkahnya. Dia berdiri di dekat pintu dan melihat secara jelas penampilan wanita ini. Rambut yang terurai bergelombang sehabis di keringkan, tubuh yang tinggi semampai di balut kaos lengan pendek dengan celana piyama panjang.
Aku ngak tau apa ini boleh atau tidak, tapi dia benar-benar menangkap perhatianku sekarang. Saat ini saja dia sudah sedikit terlihat menggoda, aiisshh... aku sudah gila pasti ; ucap Vince dalam hatinya.
Sedikit, detak jantungnya terasa tidak karuan dan nafasnya menjadi berat. Vince memutuskan untuk kembali ke ruang tamu saja, duduk sambil menutup wajahnya dengan selimut tadi.
•
•
•
Jika berkenan, novel saya menunggu kehadiran author untuk mampir sejenak. Aleesya: My Hubby, My KetBok datang memberi bintang 5 untuk kakak. Semangat ya, GBU😇🙏🏻
salken dari GADIS TIGA KARAKTER