Shea dianggap sebagai istri tidak berguna, bahkan pembawa sial, hingga ditinggalkan oleh Delon demi wanita lain. Tanpa perceraian, Shea disingkirkan karena dianggap jelek dan memalukan keluarga. Namun, setelah dua tahun, Shea kembali sebagai model ternama dengan kekayaan melimpah.
Kehadiran Luis, paman angkatnya, membantu menyembuhkan luka masa lalunya. Luis begitu perhatian dan menjadikan Shea sebagai prioritas utamanya. Namun, perasaan rumit tumbuh di antara mereka.
Kini, Shea harus memilih antara masa lalunya yang pahit dan masa depan yang cerah dengan Luis. Di tengah pertarungan batin antara cinta dan keterikatan, Shea harus menemukan keberanian untuk menghadapi konsekuensi dari keputusannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shea Diracunii (REVISI)
Di sebuah studio foto yang diterangi lampu sorot berkilau, Shea berdiri anggun di tengah panggung. Mengenakan gaun malam elegan dengan rambut panjang tergerai indah, dia memegang botol shampo yang bersinar di bawah sorotan lampu.
"Sekarang, kita mulai pengambilan gambar pertama," ujar sang sutradara dari samping panggung. "Semua siap? Musik, dinaikkan sedikit ya."
Musik berdentum meriah memenuhi ruangan, menciptakan suasana pesta yang semarak. Penari mulai bergerak di sekitar Shea, menampilkan gerakan yang menggoda. Kamera mulai mengarah ke arah Shea, menangkapnya dari berbagai sudut untuk menangkap kecantikannya.
Shea tersenyum lebar, memancarkan pesona di depan kamera. Dia berpose dengan anggun, kadang-kadang mempermainkan rambutnya yang indah. Penata rambut dan penata gaya sibuk di sekelilingnya, memastikan setiap helai rambutnya terlihat sempurna di bawah cahaya lampu.
"Sudah hampir mulai, Nona Victoria," bisik salah satu penata rias di belakangnya.
Shea menatap langsung ke kamera, matanya berbinar dengan antusiasme. "Ayo mulai, aku udah siap!" serunya.
Kamera mulai bergerak, menangkap setiap gerakan dan ekspresi Shea dengan cermat. Dia berpose dengan elegan, menyampaikan pesan produk shampo dengan cara yang menarik. Para penari terus berputar di sekitarnya, menambahkan sentuhan dramatis pada adegan tersebut.
"Sekarang, tunjukkan ekspresi yang lebih hidup, Jessica," ujar sutradara dari belakang kamera. "Kau sedang di pesta yang meriah, jadi biarkan kegembiraan mu terpancar, oke!"
Shea mengangguk, memperdalam ekspresinya dengan senyuman yang lebih cerah. Musik semakin keras, menciptakan atmosfer yang semakin menggetarkan.
"Dia keren banget!" bisik salah satu penonton yang menyaksikan pemotretan dari belakang layar.
"Kau benar, rambutnya juga sangat indah, Aku ingin memiliki rambut seindah itu." timpal yang lain dengan kagum.
Shea terus berpose dengan percaya diri selama beberapa saat. Dan setelah beberapa pengambilan gambar, pemotretan akhirnya selesai. Shea dikelilingi oleh tim produksi yang memberinya tepuk tangan dan pujian. Dia tersenyum puas, merasa bangga dengan hasil kerja kerasnya.
"Kau luar biasa, Jess!" ujar sutradara dengan senyuman lebar. "Kita mendapatkan begitu banyak gambar yang bagus, aku tidak sabar untuk melihat hasilnya!"
"Terima kasih banyak, semuanya," jawab Shea dengan senyum. "Ini adalah pengalaman yang luar biasa bagiku, dan aku sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari proyek ini."
Sesaat kemudian, seorang asisten datang mendekati Shea dengan senyuman. "Sica, kita membutuhkanmu untuk pengambilan gambar lain di lokasi luar ruangan. Sudah waktunya untuk adegan di taman dengan suasana yang lebih santai. Kau siap?"
Shea mengangguk antusias. "Tentu saja, aku siap!"
Mereka segera melanjutkan pemotretan di luar ruangan, di mana suasana yang lebih santai dan alam yang indah menjadi latar belakang yang sempurna untuk adegan berikutnya.
Di sudut ruangan, model yang merasa tersisihkan itu memandang dengan ekspresi cemburu dan kecewa saat Shea terus berpose dengan gemerlapnya. Dia menggertakkan gigi, merasa tidak puas dengan keputusan perusahaan untuk memilih Shea sebagai model utama.
"Sial, kenapa selalu dia yang mendapatkan perhatian dan pujian dari semua orang?" desahnya pelan dalam hati. "Apa yang dia miliki dan yang tidak aku miliki?"
Dia menatap Shea dengan rasa iri yang mendalam, memperhatikan setiap gerakan dan ekspresi wajahnya dengan cemburu. Setiap senyum dan pose elegan Shea membuatnya semakin frustasi karena dia merasa seolah-olah dirinya layak untuk mendapatkannya.
"Kenapa harus dia?" gumamnya, mencoba meredakan rasa frustasinya. "Apa yang membuatnya begitu istimewa?"
Sementara itu, tim produksi terus memuji Shea dan memberikan instruksi untuk pengambilan gambar berikutnya. Model yang cemburu itu hanya bisa menatap dari kejauhan, menggerutu dalam hati tentang ketidakadilan situasi ini.
.
.
Wanita itu terus memperhatikan Shea yang sedang berpose. Hatinya terbakar rasa iri dan cemburu. Harusnya dia yang berada di sana dan melakukan pemotretan, bukan Shea.
Diam-diam dia mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi serbuk halus dari saku celananya, yang memang sudah dia siapkan sebelumnya. Dia merencanakan untuk mencampurkan serbuk itu ke dalam minuman Shea ketika tidak ada yang melihat. Dia ingin menyingkirkan Shea agar tidak ada lagi yang menyaingi kepopulerannya.
Dengan tangan yang gemetar, dia mencampurkan racun ke dalam gelas minuman yang ditinggalkan Shea. Wajahnya memancarkan ekspresi campuran antara kegugupan dan kepuasan saat dia berpikir tentang apa yang akan terjadi pada Shea.
"Kau tidak akan lagi menjadi ancaman bagiku setelah ini," gumamnya dengan nada dingin, mencoba untuk meredakan kecemasannya tentang konsekuensi dari tindakannya.
Dia kemudian meletakkan gelas itu kembali di atas meja, berusaha untuk menyembunyikan ekspresi gelisah di wajahnya saat dia menunggu hasil dari rencananya yang jahat ini. Dia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk melihat hasilnya. Dia menginginkan agar Shea mati. Dia kemudian pergi dari sana sebelum ada yang melihatnya.
Tanpa curiga, seorang crew membawa gelas minuman yang sudah dicampur racun ke tempat pemotretan berlangsung. Dia menyerahkannya pada Shea dengan senyum ramah, tanpa sadar bahwa gelas itu mengandung bahaya yang tak terlihat.
"Terimakasih Jie," Shea menerima minuman itu dengan senyum ceria, tidak memiliki firasat sama sekali tentang bahaya yang mengintai di dalamnya. Dia merasa senang karena bisa bersantai sejenak sebelum sesi pemotretan dimulai.
Dengan seteguk pertama, Shea merasakan rasa pahit yang aneh di dalam mulutnya. Awalnya dia mengira itu hanya perasaan yang biasa, namun semakin banyak dia minum, semakin kuat rasa pahit itu terasa.
"Ada apa denganku? Kenapa aku merasa pusing?" gumam Shea kebingungan.
Perlahan-lahan, rasa sakit mulai menyebar di seluruh tubuhnya, membuatnya merasa mual dan pusing. Matanya mulai terasa berat, dan segala sesuatu di sekitarnya mulai terasa kabur.
Dia berusaha bertahan, mencoba menahan rasa sakit yang semakin tak tertahankan. Tetapi sayangnya, racun itu sudah bekerja dengan cepat, menghantarkan Shea ke dalam kegelapan tanpa ampun. Sesekali dia terdengar gemetar, mencoba untuk tetap sadar, tetapi kekuatan itu terlalu kuat untuknya.
Beberapa saat kemudian, tubuhnya mulai lemas, dan dia pun kehilangan kesadaran. Tanpa ada yang tahu, Shea pun jatuh tak berdaya ke lantai, menjadi korban dari perbuatan busuk yang dilakukan oleh rivalnya yang iri hati.
"YA TUHAN, JESSICA!!"
Suara yang memanggil nama 'Jessica' memecah keheningan di ruangan. Raut wajah yang terkejut dan cemas tergambar jelas pada orang-orang yang mendengarnya. Mereka bergegas mendekati Shea yang terkulai lemah di lantai, mencoba membangunkannya dari keadaan tidak sadar.
Para kru dan model lainnya berhamburan mendekati Jessica, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Mereka panik, tidak tahu bagaimana cara menangani situasi seperti ini. Beberapa orang berusaha menghubungi bantuan medis sementara yang lain mencoba membangunkan Shea dengan berbagai cara.
Di tengah kerumunan itu, terdengar suara gemetar dari seorang kru yang mengaku menyediakan minuman untuk Shea. Raut wajahnya pucat dan penuh penyesalan saat dia menyadari bahwa minuman yang diberikannya mungkin tercemar oleh sesuatu yang berbahaya.
Sementara itu, Shea masih terbaring tak bergerak di lantai, wajahnya pucat dan tampak lemah. Sedangkan para kru dan model lainnya berusaha keras mencari cara untuk membantunya, tetapi keadaan semakin menjadi-jadi karena bantuan medis belum datang.
Ketakutan dan kecemasan menyelimuti ruangan, semua orang merasa tidak berdaya di hadapan keadaan yang mendadak berubah menjadi krisis. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Shea, dan bagaimana cara menyelamatkannya dari bahaya yang mengancam nyawanya.
...🌺🌺🌺...
...BERSAMBUNG...
"Aku tidak mau tau, selamatkan dia atau ku ratakan rumah sakit ini dengan tanah!!"