Terlahir tampan, cerdas serta kaya adalah Impian semua orang. Tetapi berstatus jomblo di usia 28 bagi Aydan cukup meresahkan. Bukan karena tidak di sukai wanita, justru ia bagaikan gula yang di kerubuti semut. Semua wanita dari yang muda hingga janda, berlomba ingin menjadi istri seorang Aydan. Bahkan rela jadi yang kedua, ketiga dan seterusnya.
Masalah terbesar bagi Aydan ialah siapa wanita yang memiliki hati yang tulus menerimanya. Tidak memandang fisik dan uangnya. Hari gini, nyari yang original dan berhati baik itu bagai mencari jarum pada tumpukan Jerami bukan?
Berperan sebagai cleaning servis di rumah sakitnya sendiri adalah trik Aydan mencari wanita berhati emas, yang sudah hampir punah di muka bumi ini.
Simak petualangan cinta Aydan Atthallah Hildimar anak dari pasangan fenomenal Kevin Sebastian Mahesa dan Monalisa Hildimar pada OB Milik CEO.
Happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 : BEDA PERSEPSI
Saat menjadi Aydan yang asli, anak sulung Muna dan Kevin itu cendrung pendiam seolah tak tergapai oleh para cewek-cewek. Di samping itu ia tentu terlihat jaga imej, tidak bisa berhaha hihi dengan orang sembarangan karena jabatannya sebagai direktur rumah sakit. Banyak wanita yang over akting ingin minta perhatiannya, bahkan minta di ajak menikah. Sebab ia tampan juga tajir. Hal ini membuat Aydan geli melihat tingkah lawan jenisnya.
Sungguh sesuatu yang berbanding terbalik dengan keadaannya yang sekarang. Disaat jabatan sebagai direktur itu tidak legi melekat pada dirinya, bahkan hanya sebagai kang bebersih. Tidak segampang itu membuat cewek-cewek meliriknya. Bahkan sekedar bicara saja sepertinya orang tak sudi. Semakin jelas bagaimana perangai asli tiap manusia yang sangat cepat mengambil kesimpulan hanya dari cover semata.
Di tempat tugasnya yang baru lagi, diantara 4 cewek. Hanya Mara yang terlihat mau bergaul dengannya, sedangkan yang lain hanya menganggapnya bagai butiran debu. Hah, tunggulah kalian semua akibat sikap kalian itu. Sebab selalu ada harga di balik semua sikap itu.
Mara dengan ramah juga panjang dan lebar mengantar Aydan ke tempat tujuan mereka bekerja. Mungkin tidak lama lagi wanita ini akan di angkat ke bagian receptionis rumah sakitnya karena keramahannya dalamm hal menjelaskan dengan orang baru.
“Mas CS.” Suara wanita agak terkejut keluar dari salah satu pintu toilet wanita. Ia merasa sedikit aneh dengan peralatan yang Aydan bawa di depannya, sebab yang ia tau Aydan bertugas di kamar jenazah.
“Bu dokter.” Sapa Mara menundukkan kepala dan bergeser memberi jalan untuk Alluna.
“Eh, Non dokter.” Sahut Aydan tak kalah hormat.
“Kerja di bagian ini juga?” Alluna memastikan.
“Iya Non, sejak siang ini gua di mari. Mulai besok dari pagi gua di sini, jam ke dua baru balik ke ruang jenazah.” Jawab Aydan dengan suara yang selalu ia buat agak cempreng.
“Yee … double job dong. Oke ku lanjut kerja ya, permisi.” Ramah Alluna pada Aydan yang cukup membuat Mara bengong. Namun Aydan sedang tida ingin melanjutkan obrolannya dengan Mara, melainkan masuk ke pintu yang bagian atasnya bergambar tanda pria. Ini jam bekerja bukan ngobrol pikirnya sendiri.
Lebih dari 30 menit Mara dan Aydan bekerja di ruang yang bersebelahan. Ternyata benar saja Markonah meletakkan Aydan di ruang jenazah, sebab saat bekerja di sana keringat Aydan hampir tidak pernah keluar. Karena ruangannya selalu bersih jarang kotor, karena jenazahnya pada bobo an aja. Ya iyalah masa bulak balik buang air.
“Rahmad, lantainya di keringkan semua lho.” Mara bersuara dari dinding sebelah.
“Iye.” Jawab Aydan singkat.
“Dinding closetnya juga di bersihkan.” Entah Mara cerewet atau memang sungguh mengingatkan. Di sini Aydan baru menyadari betapa rendah posisi yang tengah ia mainkan. Hanya saat ia kuliah di LN ia mengerjakan ini sendiri, karena memang hidup sendiri. Selanjutnya dan sebelumnya semua pekerjaan itu di lakukan para pelayan yang mereka pekerjakan di kediaman Hildimar.
“Huum, selesai.” Lega Aydan sudah menyelesaikan tiga pintu toilet pria di dalam sana. Ia sudah di bagian luar namun masih bertulis toilet di atasnya.
“Untung saja kita tidak kena di toilet umum. Kata mereka di sana orang-orang yang make agak jorok, tissue kadang berhamburan, mana kadang banyak sisa dahak lagi. Benci deh dengernya.” Celetuk Mara saat sudah bertemu lagi dengan Aydan di ruang tunggu.
“Kita tetap di sini Mar?” tanya Aydan yang merasa aneh saja saat mereka berdua-duaan di dalam ruangan penuh kaca besar itu.
“Eh, kita duduknya di luar.” Ajak Mara yang kemudian merapikan alat kebersihan mereka di pojokan. Iya, selanjutnya sampai pukul 4 sore nanti mereka wajib berjaga di depan toilet. Karena selang 30 menit mereka harus kembali membersihkan tiap bilik toilet tersebut.
“Mad, kamu kenal sama dokter Alluna tadi?” tanya Mara yang sejak tadi udah kepo banget melihat interaksi dokter dan CS yang sedang bersamanya.
“Iye.”
“Kok bisa?”
“Ya kan kita satu tempat kerja, biasa ajakan?”
“Iya sih, tapi dokter itu kan dokter paling sombong sejagad raya rumah sakit ini.” Ujar Mara dengan jelas.
“Sombong dari mane, ramah n baek gitu kok.” Aydan tentu tidak terima. Karena baginya Alluna jauh dari kata sombong. Bukankah baru tadi siang ia menikmati masakan wanita cantik itu.
“Gini Mad, aku tuh kerja di sini tuh sambil jualan online. Nih, liat. Tiap hari aku selalu kirim menu-menu makan berat dan ringan buat perawat dan dokter disini. Pelangganku paling banyak ya di ruangan ini dong. Tapi yang namanya dokter Alluna itu sama sekali gak pernah beli jualanku, sombong banget.” Mara menunjukkan aneka jualannya , pentol pedas lah, ceker setan lah, maklor, corndog dan banyak jenis jajanan kekinian lainnya yang terpampang di layar pipih milik Mara.
“Jadi kamu sambil jualan jajanan ini, trus dokter Alluna gak pernah beli. Jadi itu alasan kamu bilang dia sombong?” Aydan menyimpulkan bahasa yang Mara paparkan.
“Iya. Bukan gak pernah sih. Ada satu kali dia beli cukup banyak. Tapi, bukannya muji jajanan ku enak, eh. Udah di kasih aja untuk perawat di ruangan ini. Apa coba kalo bukan sombong namanya, udah mo ku keluarin aja dari grup pelangganku.”terasa sekali bahwa Mara sangat jengkel pada Alluna, dan Aydan hanya tersenyum tipis sembari mengingat bahwa Alluna penganut makanan sehat non MSG. Jadi bukan sombong tetapi memang Alluna sangat menjaga makanannya.
“Ya lu gak bisa dong ngejust dia sombong berdasarkan penilaian dari versi elu sendiri. Yang gua tau, tuh dokter selalu bawa bekal makan sendiri dan ia buat dengan tangannya sendiri. Kalo menurut elu, entuh artinya apaan?” tanya Aydan pada Mara.
“Kalo dia bawa bekal sendiri, fix dia cewek super irit se rumah sakit ini. Makanya gak mampu beli jajananku, karena ekonominya emang pas-pasan. Simple kan?” Mara luar biasa dalam hal menilai seseorang.
“Oke, kalo lu bilang dai super irit dan ekonominya pas-pasan. Terus kenapa dia bisa kuliah di fakultas kedokteran?” pancing Aydan lagi.
“Dia itu pinter, bisa kuliah di kedokteran karena beasiswa. Makanya harus serius jalani masa koas biar gak nambah beban hidupnya lagi, cepet selesai dan jadi dokter beneran.” Amazing juga pengetahuan Mara ini.
“Oke dia kuliah karena beasiswa. Lalu apa elu pernah liat mobilnya, lumayan mewah lho.” Aydan terus saja menggiring Mara agar beropini positif.
“Banyak cara orang punya mobil kayak yang dokter itu miliki, bisa dengan kredit, bisa dari hasil warisan orang tua atau juga jadi simpanan om-om. Gak ada yang gak mungkin di dunia ini Rahmad.” Tak terduga cara pandang si Mara ini, Aydan sungguh terkesima dengan jalan pikirannya.
Bersambung …
Ke warung Onah beli roti
Mampir ke toko bangunan beli paku
Hallo readers Nyak yang baik hati
Selamat menunaikan puasa Nisfu
Kalo puasanya gak bolong
Nyak dobel up yaak
🌹🌹☕☕👍👍
ada pisang di gantung tali
udah lama nyak menghilang
apakah cerita masih berlanjut ?