Mendapati keponakannya yang bernama Sisi divonis leukemia dan butuh donor sumsum tulang, Vani membulatkan tekad membawanya ke Jakarta untuk mencari ayah kandungnya.
Rani, ibu Sisi itu meninggal karena depresi, tanpa memberitahu siapa ayah dari anak itu.
Vani bekerja di tempat mantan majikan Rani untuk menguak siapa ayah kandung Sisi.
Dilan, anak majikannya itu diduga Vani sebagai ayah kandung Sisi. Dia menemukan foto pria itu dibuku diary Rani. Benarkah Dilan adalah ayah kandung Sisi? Ataukah orang lain karena ada 3 pria yang tinggal dirumah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIPECAT
Baik Bu Retno maupun Vani, keduanya menoleh kearah pintu mendengar suara Dilan. Dan disaat itulah, Dilan bisa melihat pipi Vani yang masih sedikit merah.
"Kenapa kamu?" Dilan berjalan mendekati Vani. Ditariknya lengan gadis yang sedang membungkuk itu agar menegakkan badan. Dari dekat, makin jelas jika kemerahan dipipi itu adalah bekas tamparan. "Bukan Mama kan, yang melakukan ini?" tanya Dilan. Menatap tajam Mamanya dengan tangan tetap memegangi lengan Vani.
"Mulai malam ini, dia bukan lagi pembantu disini. Mama sudah memecatnya."
Dilan tersenyum getir mendengar ucapan mamanya barusan. "Alasannya?"
"Karena dia tak tahu diri."
"Apa dulu, Mama juga melakukan hal yang sama pada Rani?" Wajah Bu Retno langsung pias saat Dilan menghubungkan kejadian ini dengan Rani. "Apa Mama juga menamparnya, mengacak-acak kamarnya? Atau mungkin lebih dari itu? Dilan yakin, terjadi sesuatu pada Rani. Tak mungkin dia tiba-tiba pergi meninggalkan Dilan."
"Ra-Rani pulang sendiri. Dia mengundurkan diri karena mau dinikahkan."
"Bohong," teriak Vani. Dia tak bisa menahan diri kali ini. Gelagat Bu Retno sangat mencurigakan. Wanita itu langsung gugup saat Dilan membahas Rani. Selain itu, dia juga berbohong mengenai kepergian Rani. Semua ini makin menguatkan dugaan Vani jika Bu Retnolah orang yang telah membuat Rani sampai depresi. "Ibu berbohong. Kakakku tidak pulang karena mau dinikahkan, tapi dipecat oleh Ibu."
"Ka-kakak? Apa maksudmu?" Bu Retno terkejut mendengar Vani menyebut Rani kakaknya. Raut wajahnya tampak makin pucat, dan tubuhnya gemetaran.
"Rani adalah kakakku." Vani memegangi dadanya sambil menahan air mata. Terus melangkah maju sambil menatap Bu Retno tajam. "Apa yang sudah Ibu lakukan padanya?"
Bu Retno mundur beberapa langkah untuk menghindari Vani. Dan baru berhenti ketika punggungnya membentur almari.
"A-aku tidak melakukan apapun padanya."
Brakk
Bu Retno mendorong Vani hingga tubuh gadis itu membertur meja.
"Aku tak melakukan apapun padanya," teriak Bu Retno sambil berlari kelaur. Vani yang masih belum puas dengan jawaban tadi, mengejar Bu Retno. Ditariknya tangan majikannya itu sebelum sempat menaiki tangga menuju kamar.
"Kenapa Bu Retno terlihat ketakutan?" bentak Vani. "Katakan apa yang Ibu lakukan pada Kakakku, katakan."
"Katakan Mah, apa yang sudah Mama lakukan pada Rani?" Dilan ikut memojokkan mamanya. Melihat apa yang dilakukan mamanya pada Vani malam ini, dia yakin, jika Rani juga mendapatkan perlakuan yang sama, bahkan mungkin lebih.
Emosi membuat Vani seperti orang kesetanan, di mencengkeram lengan Bu Retno kuat sampai wanita itu meringis kesakitan. Kuku jari Vani menusuk lenganya hingga mengeluarkan sedikit darah. "Katakan, aku bilang katakan," teriaknya.
Bu Retno menggeleng kuat. "Tidak, aku tidak melakukan apapun. Lepas." Dia menarik tangannya kasar lalu mendorong Vani hingga terjatuh. Mengabaikan perih dilengan, lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Apa yang kau lakukan pada Kakakku hingga dia depresi?" teriak Vani. "Kakakku meninggal karena depresi. Kakakku meninggal."
Mendengar Rani telah meninggal, tubuh Bu Retno seketika lemas. Dengan tubuh bergetar hebat, dia memasuki kamar lalu duduk diatas ranjang. Menutup kedua telinganya karena Vani masih saja berteriak-teriak dibawah sana.
"Enggak, bukan aku, bukan aku." Gumam Bu Retno dengan kedua telapak tangan masih berada ditelinga. Wajahnya pucat pasi.
"Katakan Bu, apa yang ibu lakukan pada Kakakku? Kakakku depresi, Kak Rani meninggal." Vani terus berteriak hingga tenggorokannya sakit dan tubuhnya terasa lemas. Dia terduduk dilantai sambil menangis tersedu-sedu.
Dilan berlutut disebalah Vani, merangkul pundaknya dan membenamkan wajah gadis itu didadanya. "Kak Raniku meninggal, dia meninggal." Vani masih terus menangis dalam pelukan Dilan.
Dilan ikut menitikkan air mata. Kembali terbayang senyum manis Rani saat mereka masih bersama dulu.
Setelah Vani cukup tenang, Dilan mengantarnya kedalam kamar. Membantu gadis itu mengemasi barang karena malam ini juga, Vani akan keluar dari rumah ini.