NovelToon NovelToon
Mendadak Menikah

Mendadak Menikah

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mama Mima

Demian tidak pernah diberi tahu jika tender yang berpeluang untung milyaran itu hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan dengan seorang Direktur yang sudah berkeluarga.

Tanpa pikir panjang, dia pun menarik Sarah, sekretarisnya, ke depan altar Gereja untuk dijadikan sebagai istri sah di detik-detik terakhir tender itu ditutup.

Sarah yang saat itu sedang mumet dengan urusan pekerjaan dan kekasihnya tidak diijinkan untuk protes dan mengelak. Dalam sekejap sebuah cincin berlian sudah melingkar di jari manisnya yang ia takutkan akan merusak semua mimpi-mimpi indahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Never mind.

Hari terakhir Sarah, Demian dan Gunawan di Medan. Pagi ini, sebelum flight jam 12 siang, mereka kembali melakukan pertemuan untuk memastikan Reza bisa menjalankan tugasnya sebagai Head Project dengan baik.

"Sepeninggal kita, Bapak Reza akan menjadi penganggungjawab atas proyek ini mulai dari awal hingga selesai. Saya harap semua work plan yang sudah kita bahas kemarin bisa direalisasikan dengan baik. Koordinasi dengan tim supaya masing-masing bagian mulai bekerja hari ini. Jangan menunda-nunda. Kalau proyek yang ini bagus, bisa jadi panutan untuk kota-kota yang lain," Gunawan memberi pesan-pesannya kepada Reza. Demian dan Sarah mendengarkan sambil mengangguk-angguk.

"Jangan lupa juga kalau ada apa-apa harus langsung lapor ke kantor pusat, supaya penanganannya juga lebih cepat. Laporan harian dan mingguan ke saya juga jangan sampai kelupaan. Bisa ya, Pak?"

"Siap laksanakan, Pak. Terimakasih atas kepercayaannya. Terimakasih juga atas dukungan Bapak Demian dan Ibu Sarah. Saya dan tim akan melakukan yang terbaik, " Reza membalas dengan semangat yang menggebu-gebu. Meski pun awalnya semangatnya sudah turun karena mengetahui Sarah sudah punya tunangan, hari ini dia berjanji akan kembali fokus pada tujuannya semula. Dia juga berharap kelak akan mendapat jodoh di Kota Medan yang cantiknya persis seperti Sarah.

"Kami mengandalkan anda, Pak Reza," itu saja yang bisa diucapkan Sarah. Dia tidak ingin memberikan celah bagi Demian untuk cemburu tidak jelas lagi.

*****

Hal yang tidak terduga terjadi di Bandara Kualanamu. Grasian menghampiri Sarah yang sudah berada di ruang tunggu, bersama Demian dan Gunawan. Tanpa basa-basi dia duduk di sebelah gadis itu dan sukses membuat semuanya terkejut.

"Hai Sar," sapa Grasian ramah sambil mengukir senyum termanisnya.

Demian yang tadinya terkejut segera menguasai dirinya. Beruntung jarak duduknya dan Sarah tidak terlalu dekat, sehingga tidak mencurigakan Grasian yang belum tahu soal hubungan mereka.

"Hei bro. Mau balik juga lu?" sewajarnya memang Demian bersikap normal begini. Dia menyapa Grasian dan menjulurkan tangannya untuk tos ala kaum lelaki.

"Iya bro. Sarah udah balik juga, buat apa gue lama-lama di sini. Iya nggak, Sar?"

Sarah masih bengong, belum selesai mencerna kenyataan bahwa Grasian ada di sini sekarang. Ketakutannya pun tiba-tiba datang. Bagaimana kalau benar Grasian tidak ingin putus dengannya? Bagaimana ini? Apa dia harus bilang kalau Demian adalah suaminya? Sekarang? Di depan Gunawan?

"E... ehm. Pak Demian, permisi sebentar," Sarah menarik Grasian dari tengah-tengah mereka dan membawanya ke pojok ruang tunggu dan jauh dari penglihatan Demian.

"Kenapa sih, Sar? Takut sama Demian? Dia kan temenku?"

"Ehm, nggak apa-apa. Aku cuma mau bilang. Aku nggak tahu alasan kamu mengambil flight yang sama dengan rombongan kami. Kuanggap ini hanya kebetulan. Tapi kalau kau berniat ingin mendekatiku lagi, please, stop. Aku sudah memikirkan ini sejak melihatku bersama Desty di kantormu waktu itu, Gras. Kau memang sudah tidak bisa kupercaya. Terima atau tidak, kau tidak bisa memaksaku untuk tetap bersamamu. Karena aku sudah tidak mau. Aku serius."

....

"Kita sudah sama-sama dewasa dan kurasa kalimat ku cukup mudah untuk dimengerti. Kita sendiri-sendiri sekarang."

Lidah Grasian kelu. Jelas sekali Sarah seperti tidak ingin disentuh sedikit pun. Gadis lembut itu berubah menjadi begitu tegas dan keras hati. Kata-katanya sangat tepat sasaran, mengenai ulu hati Grasian yang sebelumnya masih menyimpan harapan banyak.

"Aku baru tahu marahnya orang sabar itu ternyata begini," gumam Grasian pelan, tapi masih sempat menyunggingkan senyum.

"Yes dan kuharap kita saling menghargai, Gras. Aku tidak ingin bersamamu lagi. Tolong mengerti ya?"

Sarah menunggu reaksi Grasian sebentar. Tapi hingga lima detik lamanya, pria itu hanya terdiam. Memandang pilu kepadanya seakan ingin dikasihani. Namun Sarah sama sekali tidak terpengaruh. Dia sudah muak dengan pria itu.

"Aku kembali ke kursi, nggak enak sama yang lain," Sarah cepat-cepat berbalik, berlari kecil sebelum Grasian menahan langkahnya. Meski pun wajahnya kelihatan tenang, jantungnya berdebar kencang. Sebenarnya dia ketakutan Grasian akan melakukan hal-hal yang diluar dugaannya.

Sarah kembali duduk di sebelah Demian. Namun sedikit lebih dekat dari jarak yang sebelumnya. Jika tidak ada Grasian di sekelilingnya, dia sudah sangat ingin memeluk Demian dan menyalurkan ketakutannya.

"Everything is ok?" tanya Demian pelan tanpa mengubah posisi duduknya. Dia pun tidak ingin mengundang perhatian Grasian yang mungkin masih memandang ke arah mereka.

"Aku takut. Mau dipeluk," jawab Sarah pelan sambil menyandarkan punggungnya.

"Kenapa? Dia ngomong apa memangnya? Mau ke toilet?"

"Tapi nanti aja, sampai rumah. Nggak bilang apa-apa, cuma kayaknya dia belum ikhlas. Tapi aku udah bilang aku beneran nggak mau sama dia lagi."

Dada Demian bergemuruh. Ingin rasanya dia menghampiri Grasian dan meninju wajah pria itu. Sudah selingkuh tapi masih percaya diri meminta pasangannya untuk bertahan. Sangat tidak gentleman.

"Kau butuh bantuanku?"

"Aku butuh pelukanmu," ulang Sarah lagi. Sedikit tegas, tapi masih tidak melihat ke arah pria itu. Mereka berbicara sambil mengamati gadget masing-masing.

"Ya udah, ke toilet ayo... "

"Ada Grasian!" suara Sarah sedikit meninggi.

"Terus gimana?"

"Ya udah nanti di rumah aja, kan aku udah bilang tadi."

"Ya udah. Nanti. Jangan jadi cemberut gitu dong."

"M... "

Demian mendesah. Kesal karena tidak bisa menenangkan Sarah di saat yang tepat. Gadis itu jadinya uring-uringan. Namun di sisi lain dia juga bersyukur dengan situasi dimana mereka terbatas untuk saling bersentuhan. Demian harus melatih dirinya untuk tidak cepat-cepat menyentuh istrinya itu. Dia harus menjaga hati.

Saat berada di dalam pesawat, Sarah masih tidak bisa tenang karena seat Grasian sejajar dengan seat-nya dan Demian - Gunawan berada persis di belakang Demian. Untungnya Demian dengan cepat mengambil posisi di dekat Grasian, sehingga Sarah tidak harus meladeninya sepanjang penerbangan. Jadinya yang mengobrol banyak dengan Grasian adalah Demian dan Sarah memutuskan untuk tidur saja.

*****

Bersikap seakan tidak ada apa-apa antara dia dan Sarah sebenarnya hal yang sangat sulit bagi Demian. Apalagi sebagai akibatny, dia harus puas melihat Grasian memaksa memeluk Sarah dan mengecup pipinya di depan kedua matanya saat akan meninggalkan bandara.

Sarah yang kesal karena Demian tidak berbuat apa-apa, malah menonton begitu saja, mengamukinya saat perjalanan pulang menuju apartemen. Katanya dia merasa dilecehkan. Dipeluk dan dicium di depan suami sendiri.

"Kan nggak lucu kalau tiba-tiba aku meninju dia tanpa alasan yang jelas, Sar? Dia taunya aku hanya atasanmu. Lagian, bukannya kemarin katamu mau jujur ke dia? Kenapa masih belum ngomong? Sudah kubilang kalau kau takut biar aku yang maju."

"Pokoknya kau suami yang tidak punya perasaan. Tega sekali membiarkan pria lain memeluk istrimu sendiri," Sarah sampai menangis saking kesalnya. Kesal karena Grasian yang tidak tahu diri, juga pada Demian yang tidak berdaya di hadapan Grasian.

"Ya sudah, aku minta maaf. Nanti sampai rumah aku hapus bekas ciumannya ya sayang?"

"M... "

"Jangan cemberut dong. Perasaan jadi badmood terus karena Grasian. Belum bisa move on yaaaaa?"

"Maksudnya?" nada sengit Sarah terdengar lagi. Matanya menatap tajam ke arahnya Demian yang duduk di sebelahnya. Darahnya seketika naik karena Demian men-judge bahwa dia belum move on dari mantan kekasihnya itu. Tidak bisakah Demian melihat jika dia merasa terganggu dengan keagresifan Grasian?

"Kalau sudah move on, sekeras apa pun dia berusaha, kalau kita sudah menutup pintu rapat-rapat, dia nggak akan bisa masuk. Nggak akan terpengaruh. Nggak akan se-sensi ini. Sementara, sikapmu ini menunjukkan kalau masih ada ruang di hatimu yang berhasil diterobos oleh Demian, entah ruang sekecil apa pun itu dan itu sangat bertentangan dengan akal sehat dan egomu yang mengatakan bahwa kau sudah mengikhlaskan dia sepenuhnya. Hasilnya, ya marah-marah begini. Setahuku sih begitu, Sayang," jawab Demian sambil tersenyum kepada Sarah. Sesungguhnya dia berharap asumsinya itu tidak berlaku pada Sarah sekarang.

"Teorimu tidak beralasan."

"Itu penalaran ku saja, Sar. Kuharap sih tidak berlaku di kasus kalian."

"Ck... " Sarah berdecak sambil membuang muka. Dia memilih untuk melihat pemandangan di luar kaca mobil, ketimbang meladeni omongan Demian yang sepertinya sengaja membuatnya semakin naik darah.

*****

"Sayang?" Sarah mendengar Demian memanggilnya dari dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar luas milik Demian. Mereka sudah tiba di apartemen dan saat ini Sarah sendiri sedang membongkar koper bawaan mereka berdua.

"Yaa?" jawab Sarah malas. Mood-nya masih belum membaik.

"Tolong ambilin refill-an pisau cukurku dong. Di laci yang nomor dua meja riasmu."

"Hm, bentar... " Sarah beranjak dari posisinya menuju meja riasnya. Berhubung dia baru pindah ke apartemen ini, meja riasnya masih kosong karena belum sempat mengatur barang-barang yang dia bawa dari rumah. Jadi barang Demian masih ada yang tersimpan di beberapa laci meja itu. Sarah menemukan benda yang Demian minta, lalu mengambilnya.

"Nih... " dia mengulurkan tangannya melewati pintu yang sepertinya sengaja dibuat terbuka setengah oleh Demian.

"Sini dong."

"Aku masih mau unpacking. Ini buruannn... " dia bahkan tidak sudi melihat Demian sedang apa di dalam sana.

Bukannya menerima pemberiannya, Sarah malah merasakan Demian menggigit jemarinya. Sontak dia menarik tangannya dan memelototi Demian yang ada di dalam.

"Apaan sih?"

"Sini. Katanya mau dipeluk."

"Nggak jadi. Udah basi. Aku taruh di sini," Sarah meletakkan pisau cukur yang ia pegang di atas wastafel, lalu pergi begitu saja.

Demian hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum sesungging. Dia mengambil refill pisau cukurnya dan membersihkan rambut-rambut tipis yang mulai tumbuh di atas bibir juga di dagunya.

Selesai mandi, Demian keluar dari kamar mandi, hanya dengan memakai handuk di pinggangnya. Dilihatnya Sarah sedang menyusun perlengkapan kosmetiknya sambil berdiri di pinggiran meja. Dia pun berjalan mendekati gadis itu.

"Sayang, giliranmu," katanya sambil memeluk pinggang Sarah dari belakang dan mencium puncak kepalanya.

Sarah menghentikan pekerjaannya dan melihat pantulan dirinya dan Demian di cermin. Lengan kekar pria itu sedang membalut pinggangnya dan punggungnya terasa sejuk karena menempel pada tubuh Demian yang baru selesai mandi. Pelukan pria itu adalah hal yang sudah sangat diimpikannya sejak awal kekesalannya karena Grasian. Sarah pun mulai terpengaruh. Mood-nya yang buruk seharusnya bisa membaik kalau Demian memeluk dirinya sepenuhnya. Bukankah dia sudah membuktikannya berkali-kali?

Sarah pun menghilangkan seluruh gengsinya, lalu membalikkan tubuhnya dan memeluk Demian dengan erat. Dihirupnya dalam-dalam aroma segar tubuh setengah telanjang Demian yang kelewat wangi. Dia butuh ini untuk menghilangkan aura negatif yang menguasai otaknya gara-gara Grasian.

"Kau wangi sekali," pujinya tanpa malu-malu.

"Kau juga wangi, walau pun belum mandi," balas Demian sedikit bercanda. Dikecupnya puncak kepala istrinya itu dengan penuh sayang seraya mempererat dekapannya.

Mereka menikmati dekapan itu sambil saling mengelus punggung satu sama lain.

"Maafin aku ya..." Sarah mendesah pelan.

"Aku juga minta maaf. Kata-kataku mungkin sudah menyakiti hatimu," balas Demian.

"Mungkin sikapku sedikit berlebihan. Harusnya aku bisa lebih sabar menghadapi dia. Bagaimana pun ini terlalu mendadak untuknya."

"Aku mengerti."

"Tapi kau masih berpikir aku belum move on."

"Never mind, Sar. Biarlah itu menjadi rahasia hatimu," balas Demian lagi. Lagian kau pun tidak berniat mencintaiku. Untuk apa aku harus memastikan kau sudah move on atau tidak, lanjutnya dalam hati.

"Kau meragukanku?" Sarah menjauhkan sedikit dirinya agar bisa memandang wajah Demian.

"Meragukan apanya?"

"Aku sudah move on dari Grasian."

"Hmm... karena kita berdua pun tidak ada ikatan yang serius, feel free aja, Sar. Aku tidak berhak untuk tau isi hatimu yang sebenarnya," jawab Demian lembut. Tangannya terangkat untuk mengusap dagu Sarah yang cukup menggoda untuk digigit.

"Maksudmu?"

"Bukannya kau bilang tidak boleh ada cinta diantara kita? Bagiku terlalu masuk ke dalam hidupmu bisa membuatku jatuh cinta kepadamu. Makanya ini aku lagi latihan. Tidak terlalu mencampuri urusan hatimu adalah pe-er yang harus kubiasakan mulai dari sekarang. Apa pun statusmu dengan Grasian, aku tidak tertarik untuk tau kejelasannya. Toh apa pun itu, tidak ada untungnya untukku kan? Kau tetap tidak ingin hubungan yang lebih denganku."

Sarah terpaku. Bibirnya kelu. Matanya tidak berkedip, tidak bergerak sedikit pun dari kedua bola mata Demian yang barusan mengucapkan kalimat itu dengan tersenyum.

"Ta... tapi maksudku nggak gitu, Dem. Aku__"

"Kau nggak bisa menarik ulur hatiku sesukamu, Sar. Kau ingin kusentuh, ingin bersamaku, tapi kau melarangku untuk merasakan perasaan yang lebih jauh. Kalau kau mengizinkanku untuk bisa mencintaimu, kupastikan seluruh hidupmu akan menjadi prioritasku, tanggungjawabku. Tapi karena kau sendiri yang melarang, aku tidak akan memaksakan diri. Dan kuharap kau pun tidak memaksaku untuk masuk dalam kehidupanmu hanya karena kau membutuhkanku. Kita harus punya batasan yang jelas."

Sepertinya terlalu banyak emosi yang bermain dalam percakapan singkat itu, membuat nada bicara Demian sedikit meninggi tepat di depan wajah Sarah. Mata gadis itu berubah berkaca-kaca. Tidak menyangka Demian akan mengucapkan kata-kata tajam yang menggambarkan isi hatinya sekarang. Benarkah Demian sudah seserius itu padanya? Bagaimana bisa secepat ini?

Panas hati, Demian melepaskan dirinya dari Sarah dan berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti.

Sedangkan Sarah, gadis itu hanya mematung di tempatnya. Masih terpaku mencerna kalimat panjang Demian barusan. Setelah Demian hilang di balik pintu kamar mandi dia pun kembali berbalik untuk membereskan meja riasnya dalam diam.

*****

1
Khairul Azam
klo gak suka sama dalam kenapa jg mau dicium munafik ini si sarah,
Khairul Azam
bego aja ini si sarah, udah disligkuhin jg, cinta tp jgn buta
Khairul Azam
bego aja itu si sarah
Sunny Kwok
Luar biasa
vit
😍😍😍
vit
Terima kasih kk author atas cerita kerennya... 😘😘
vit
Terima kasih kk author... 😘😘
vit
Sama2 egois, terutama cowoknya 😒
Nami chan
semangat
my_
ceritanya ringan, seru... suka bacanya..
Anies
aaaah... end beneran ini? berasa belum rela cerita mereka udahan.. aku sampe marathon seharian loh baca ini...
Anies
ngeGemesin banget sih mereka...
Anies
hai salam kenal kak author.. aku pembaca kak Oot di aplikasi sebelah cerita Dom-Cha dan Edrik-Zura.. aku panasaran sama cerita Mama Ember jadi kepoin kesini tapi katanya harus baca cerita Ini dulu jadi akhirnya baca Cerita Damian-Sarah dulu deh.. dan ternyata Ceritanya menarik dan aku suka..
Mom's Al Habsyi
seru bgt cerita ny
Ibu Aline
bagusss
Nurwana
astaga Demian... kau org yg punya hati tdk si....???? gampang sekali Thu bibir bicara ttng sifat kekanak-kanakan.... hello... disini Thu kamu mempermainkan dua hati.....tau tdk kamu itw laki laki yg egois.
kok bisa ya si sarah nih temenan dgn pelakor / wanita jalang kyk desty yg jelas2 ngerebut pacar si sarah yg dulu dan main belakang dan kepergok pula?? ckckck gak masuk akal sih. luar biasa klo ada wanita kyk si sarah. sangat langka
knp ya sarah bisa segoblok itu ?
R_3DHE 💪('ω'💪)
🤣🤣🤣🤣🤣
Retno Pujowatie
bagus....suka ama ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!