Karna sebuah kesalah pahaman, Rinjani ChiMa Wardhana memilih memendam cintanya pada sosok Lintang yang seolah menjadi pelangi di hari harinya yang sempat mendung sebab pengkhianatan dari Sang mantan kekasihnya yang dulu..
Lintang yang tak tahu apa-apa dan mendadak di jauhi pun akhirnya menjatuhkan pilihan pada gadis itu.
"Jujur sama Lilin, atau masuk Neraka?"
***********
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenengsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Lintang Rahardian Lee Wijaya tak akan melepas apa yang sudah di yakini menjadi miliknya termasuk pada anak perawan orang yang kini sedang ia cecar untuk menerima lamarannya tersebut.
"Udahlah, kalau diem berarti mau. Besok nikah!" ucap Lintang dengan sangat percaya dirinya
Plaaaak
Satu pukulan mendarat di lengan Si bungsu dan yang berani melakukan itu tentu hanya Si sulung.
"Nikah itu gak segampang KAWIN! Nikah tuh pake surat surat ngurusnya harus ini lah itulah, kalau kawin noh cukup asalkan udah berurat!" omel Angakasa pada adiknya.
"Beda ya kalau udah pengalaman," bisik Bubunnya di telinga Ayah karna memang mereka duduk bersebelahan.
Tak ada yang berani melerai karna yang di ucapkan Angkasa tentu benar, ia yang sudah menyandang status Suami tentu tahu seribet apa saat menikahi seorang gadis. Banyak proses yang harus di lewati dan berkas yang harus di urus meski nyatanya tinggal terima beres tapi semua tentu tetap harus mematuhi prosedur yang ada sesuai aturan Negara dan Agama.
"Yang penting mau aja dulu," gerutu Lintang sambil mengusap lengannya. Angkasa kadang tak kira kira saat memukulnya seperti sengaja memakai tenaga dalam yang ia kumpulkan.
"Iya, Lin. ChiMa mau, ChiMa terima lamaran Lilin," sahut Rinjani yang membuat semua anggota keluarga kaget namun setelahnya merasa lega tap sedetik kemudian panik karena...
"Liliiiiiiiiiiiiiiiiiin----."
.
.
.
Ruang rawat inap yang bak hotel bintang 7 itu kini hanya terdengar suara isak tangis seorang gadis yang tak mau melepas tangannya dari pria yang baru ia terima niat baiknya beberapa waktu lalu. Tak hanya dirinya, karna nyatanya semua ikut panik terlebih Bubun yang terus berada di pelukan Sang suami.
"Jangan di tangisin, kasihan Lilin," bisik Mamah Marni sambil menguatkan putrinya yang pasti sangat sedih.
"Aku takut," sahutnya pelan dan tak menoleh sama sekali.
"Semua akan baik baik saja, percayalah."
Tangis yang di tahan Rinjani akhirnya pecah dalam pelukan mamanya, mana bisa ia kuat dan tenang ketika melihat pria yang baru di temuinya setalah bertahun-tahun kini tak berdaya diatas brankar pasien, dan lebih parahnya Lintang bahkan belum membuka kedua matanya sama sekali hingga detik ini.
"Apa ini karma untukku, Mah? aku pernah meninggalkannya, dan aku tak mau di tinggalkan. Aku butuh Lintang, Mah. Aku sayang Lintang," ujar gadis itu terus terisak sampai Mama Marni yang masih mendekap nya menitikan air mata juga saking ikut larut dalam kesedihan anak sulungnya tersebut.
"Sabar, Sayang. Banyak banyak berdoa ya."
Rinjani hanya mengangguk, ia tak banyak punya kenangan manis bersama pria itu, jadi jika ia di tinggalkan sungguh ia tak akan memaafkan dirinya sendiri yang pernah sangat egois meminta Lintang untuk pergi dari hidupnya.
Harusnya, jika tahu akan seperti ini ia akan ikut pulang ke Ibu kota dan menghabiskan waktu berdua sebab Lintang tak pernah mau terlihat dekat di depan banyak orang.
Rinjani yang sudah sedah sedikit tenang mengurai pelukan saat calon ibu mertuanya menghampiri. Ia tangkup wajah basah nan cantik gadis kesayangan putra bungsunya itu dengan kedua tangannya.
"Maaf--," ucap lirih Bubun di sela isak tangisnya.
"Maaf untuk apa, Bun? jangan bikin aku makin takut dari ini," jawab Rinjani yang lemas, ia seakan tak mampu lagi menopang tubuhnya sendiri.
.
.
.
Harusnya kami beritahu dulu penyakit Lintang padamu...
kek gimana pula tuh gayanya Thor... bleh dicoba gak tuh. 🤣🤣🤣
lama² gak jelas,gak konsisten