NovelToon NovelToon
Permaisuri Modern

Permaisuri Modern

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / TimeTravel / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Sisca Nasty

Shi Jin melewati lorong waktu. Dulu ia seorang permaisuri. Namun sekarang, ia sudah berubah menjadi wanita modern.

Berpura-pura menjadi wanita bernama Shu Qi.

Apa dia akan terus menutup identitas aslinya?

Apa yang terjadi, jika seorang permaisuri nyasar ke Dunia modern?

Apa dia akan kembali ke jaman kerajaan, atau. menetap di jaman Modern?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Shi Jin menatap tajam langkah kaki Chen Ming yang semakin mendekati tubuhnya saat itu.

Tidak boleh, Chen Ming gak boleh melihat wajahku yang asli.

Shi Jin belari cepat ke arah tubuh Chen Ming. Memeluk tubuh pria itu dan memasang wajah takut.

“Chen Ming, aku takut. Barang-barang kuno di sini sangat menyeramkan.” Shi Jin mempererat pelukannya pada tubuh Chen Ming.

“Tempat ini terlihat sangat terang dan tidak menyeramkan. Kenapa kau bisa takut.” Chen Ming menatap wajah Shi Jin dengan bingung.

“Tapi ….” ucapan Shi Jin terhenti. Ia tidak lagi memiliki alasan untuk membawa Chen Ming pergi meninggalkan tempat itu. Ia takut, jika di tempat lain akan ada benda-benda kuno yang bisa membuka identitas aslinya.

“Sayang, berdiri di cermin itu. Aku ingin mengambil gambarmu bersama cermin itu.” Entah kenapa, sejak awal Chen Ming sangat tertarik dengan cermin kuno itu.

“Apa?” tanya Shi Jin kaget.

Baru saja ia berlari kencang untuk menghindari cermin itu. Dalam waktu singkat Chen Ming justru membawanya kembali ke tempat itu.

“Ayo.” Tanpa menunggu persetujuan Shi Jin, Chen Ming menarik tangan Shi Jin membawanya ke arah cermin itu.

“Berdiri di sini.” Chen Ming meletakkan tubuh Shi Jin di samping cermin kuno itu. Setelah itu Chen Ming melangkah mundur untuk mengambil jarak. Perlahan Chen Ming mengatur posisi cameranya agar bisa mengambil gambar yang bagus.

Jantung Shi Jin berdetak tidak karuan. Ia tidak lagi berani menatap cermin yang berdiri kokoh di samping tubuhnya.

“Sayang, tersenyumlah.” Chen Ming memejamkan sebelah matanya untuk mengambil gambar Shi Jin.

Shi Jin mengukir senyum terpaksa untuk menutupi rasa groginya saat itu.

Chen Ming tidak akan mencurigaiku jika aku bertingkah sewajarnya.

“Ok, sudah selesai. Lihatlah.” Chen Ming memamerkan foto hasil jepretannya.

“Bagus, ayo kita ke sana.” Shi Jin menarik tangan Chen Ming dengan cepat. Ia tidak ingin berlama-lama berada di dekat cermin itu.

Satu persatu benda-benda kuno mereka lihat dan amati. Sesekali Chen Ming meminta Shi Jin sebagai modelnya siang itu. Waktu terus berlalu hingga tidak terasa siang yang terik sudah berganti dengan suasana sore hari.

Chen Ming dan Shi Jin sudah keluar dari museum kerajaan itu. Kini mereka berdua telah duduk santai di cafe pinggir jalan yang tidak jauh dari gedung museum.

“Apa ini?” Shi Jin mencicipi sesendok cappuccino yang ada di hadapannya.

“Cappucino, aku sangat menyukai minuman ini.” Chen Ming meneguk pelan Cappucino itu. Meninggalkan creamy foam di bibir bagian atas.

Shi Jin menutup mulutnya menahan tawa. Dengan cepat ia mengambil selembar tisu untuk membersihkan bekas cappuccino di bibir Chen Ming.

“Kau seperti anak kecil,” ucap Shi Jin dengan senyuman.

Chen Ming menahan tangan Shi Jin, ia menggenggam tangan itu, sebelum meletakkannya di atas meja. Shi Jin memandang ke arah tangan yang kini ada di dalam genggaman Chen Ming.

“Sudah tiga hari kita berada di tempat ini. Hari terasa sangat cepat berlalu. Setelah pulang dari sini, aku ingin setiap harinya melewati hari dengan bahagia seperti sekarang.” Chen Ming mencium punggung tangan Shi Jin.

“Aku juga ingin melewati hari-hari bersama denganmu seperti ini.” Shi Jin mengukir senyuman manis.

Satu pelayan wanita datang untuk mengantarkan cake pesanan Chen Ming dan Shi Jin. Chen Ming memilih Cake cokelat, sedangkan Shi Jin lebih suka rasa keju.

“Silahkan dinikmati,” ucap pelayan itu sebelum pergi kembali ke dapur.

Chen Ming memakan cake cokelat yang ada di atas meja. Shi Jin juga mengambil garpu dan mulai menikmati cake keju itu. Matanya melebar saat cake itu masuk ke dalam mulutnya. Cake itu adalah cake pertama yang pernah dimakan oleh Shi Jin. Ia sangat menikmati cake yang lezat itu, dengan cepat Shi Jin melahap habis cake yang tersedia di piring kecil itu.

“Mau lagi?” Chen Ming memandang wajah Shi Jin dengan penuh tanya.

Shi Jin mengangguk cepat, “Kue ini sangat nikmat,” jawab Shi Jin dengan bahagia.

Chen Ming membuang napas sambil tersenyum tipis, “Aku akan memesan lagi untukmu.” Chen Ming beranjak dari duduknya untuk memesan cake keju favorit Shi Jin.

Shi Jin tersenyum manis, memperhatikan Chen Ming dari kajauhan.

“Hidup di jaman modern sungguh nikmat. Makanan dan minuman yang enak. Suami yang tampan. Kendaraan yang canggih. Pemandangan yang indah. Hidup yang damai tanpa perang.”

Shi Jin terperanjat kaget saat seorang pria tua memanggil namanya.

“Kau akan kembali ke tempat asalmu, setelah misimu selesai,” ucap Kakek tua itu.

Shi Jin menatap wajah Kakek tua itu dengan tatapan bingung dan takut.

“Siapa anda?”

“Saya adalah orang yang mengetahui semua rahasia yang kini kau miliki. Kau boleh menemuiku jika ingin menanyakan sesuatu.” Kakek itu tersenyum kecil sebelum pergi meninggalkan Shi Jin.

Dengan langkah cepat, Shi Jin mengejar Kakek tua itu. Ia tidak lagi memperdulikan Chen Ming yang masih memesan Cake untuk dirinya.

Kakek Tua itu terus berjalan melewati gang sempit yang sunyi.

“Kakek, tunggu! anda harus menjelaskan semuanya. Apa yang terjadi pada diri saya!” teriak Shi Jin dari kejauhan.

Kakek itu menghentikan langkah kakinya, memutar tubuhya untuk memandang Shi Jin. Ia tertawa dengan sangat keras hingga membuat Shi Jin menjadi bingung.

“Kenapa kau tertawa? dimana pemilik tubuh ini? dimana Shu Qi?” Shi Jin berjalan pelan mendekati Kakek Tua itu.

“Wanita itu ada di sampingmu. Ia terus mengikutimu kemanapun kau pergi. Sepertinya pemilik tubuh itu sangat membenci dirimu. Kau melakukan semua hal yang tidak dia sukai.” Pria tua itu tertawa lagi.

Shi Jin menelan salivanya dengan rasa takut. Ia tidak pernah menyangka, kalau selama ini roh Shu Qi masih bergentayangan dan terus mengikuti dirinya.

“Apa yang kau inginkan? kenapa kau menemuiku? kenapa kau memberitahuku semua ini? kenapa?” teriak Shi Jin dengan nada yang sangat kuat. Tubuhnya mengeluarkan keringat dengan begitu deras.

“Nona, anda tidak bisa menetap di jaman ini dalam waktu yang lama. Saat waktunya tiba, anda akan kembali ke Jaman kuno. Anda sudah terlalu serakah dengan tubuh wanita itu bukan. Bahkan berniat untuk merebut semua yang wanita itu miliki agar menjadi milik anda.”

Shi Jin menggeleng kepalanya karena tidak terima, “Tidak! Shu Qi bunuh diri. Ia tidak menyukai kehidupannya saat itu. Aku tidak merebut apapun darinya.”

Kakek Tua itu tersenyum licik, “Jika pria muda itu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa kau yakin, kalau dia akan tetap mencintaimu seperti saat ini?” Tatapan Kakek itu berubah menjadi menyeramkan.

“Aku tidak akan menemuimu lagi. Aku dikirim hanya untuk mengingatkanmu. Selesaikan misimu dengan cepat, maka kau akan kembali ke jaman kuno lagi.”

Shi Jin terdiam untuk mencerna perkataan Kakek tua itu.

“Hai cantik!” teriak pria dari belakang Shi Jin.

Shi Jin mengalihkan pandangannya dari Kakek tua itu. Shi Jin terperanjat kaget, saat melihat tiga pria bertato berdiri di belakangnya.

“Siapa kalian?” Shi Jin mencari-cari keberadaan Kakek Tua itu di posisinya semula.

Dimana Kakek itu. Dia belum mengatakan padaku, misi apa yang harus aku selesaikan.

“Kau sudah masuk ke wilayah kekuasaan kami. Sebaiknya kau menurut dengan perintah kami.” Pria bertato itu memandang Shi Jin dengan tatapan mesum.

Shi Jin mulai melangkah mundur untuk menghindari tiga pria bertato yang berdiri di hadapannya.

“Pergi kalian. Jangan ganggu aku!” Shi Jin terus saja melangkah mundur.

“Kita harus bersenang-senang dulu. Sebelum kami pergi dari sini cantik!” Dengan cepat, satu pria bertato itu menggenggam tangan Shi Jin. Menarik Shi Jin untuk mendekati tubuhnya.

“Apa yang kau lakukan! jangan sentuh aku!”

1
Rumi Yati
Terima kasih thor
Nuer Aini Ramadhan
Luar biasa
nadira ST
kalau diajak tidur raja, angan mau sama shu qi, burung ipritnya bekas lubang para selir,, apa zaman dulu gak ada penyakit kelamin ya
honny_: bisa²nya kepikiran sampe situ...
total 1 replies
Sindy Sari
lanjut kak, cerita mu beda dari yg lain kak walaupun sedikit ada typo🙏semua alurnya juga saling berkaitan jadi lanjutin ya kak sampai cerita ini tamat🤗
L A
suka ....suka baca novel ini
L A
author, maafin readermu ini, aku baru ngulang baca novel ini 160224 🤩🙏
L A
Luar biasa
IndraAsya
jejak 🐾
Ayu Nick
ceritanya lumayan menarik, hanya saja pemeran wanitanya tidak tangguh
mama yuhu
bagus ceritanya
tetap semangat berkarya
mama yuhu
wooww..dlm keseharian..su qie ternyata jahat
wajar kl dia.mendapatkan fakta.kl Chen ming miskin
d luar ekspektasi ya
makanya kelakuan nya jd bar bar
g tau diri..dulunya jg berasal dr kelas bawah🙄🙄🤬
Shindi hatala
sangat bagus dan menarik
Moertini
dilanjutin yaaa season 2 penasaran niiii kehidupan Shu qi dikerajaan apa bisa membalas dendamnya Shi Jin semangat thor
Cha Sumuk
dih tamatan ya ga jls
fifid dwi ariani
trus sejahtra
Devi Lusi
behh udah mentok
Devi Lusi
aku nuggu aksi shu qi udah tamat ternyata
Devi Lusi
haduduh raja sama permasuri gimana tor...pdahal aku pgin liat raja menyesal
Sulati Cus
klu orang jmn old yg terlempar ke jmn now jd lucu soalnya kyk lola gitu😂
Sulati Cus
makanya jgn py selir ckp satu istri ae😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!