Perbedaan strata seseorang selalu dilihat dari beberapa aspek. Harta lebih sering dijadikan alasan untuk menentang hubungan percintaan dua anak manusia. Saras anak seorang pengusaha mencintai Indarto yang hanya seorang guru SMA. Perbedaan ekonomi menjadikan Tuan Haidar sang ayah menjadi murka. Namun berkat hati seorang ibu, akhirnya Saras boleh merasakan kebahagiaan hidup bersama Indarto...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Beatrix, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XXVIII
Dengan langkah bahagia, Indarto membayangkan wajah putri kecilnya ketika menerima oleh-oleh martabak. Tanpa disadarinya ada sepasang mata yang menatap dari jauh.
Karena tidak terlalu jauh dari rumah, Indarto memutuskan untuk berjalan kaki. Tidak sampai 15 menit, Indarto tiba di rumah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsallam."
"Hore...hore... ayah pulang. Ibu..ibu.. ayah pulang." teriak Lia kegirangan.
"Ayah bawa martabak kesukaan Lia ya..." mata Lia kembali bersinar melihat apa yang dibawa ayahnya.
Indarto menggangguk. Lalu meletakan bungkusan martabak tadi lalu menggendong malaikat kecilnya dan memberikan ciuman di pipinya yang gembul.
"Hhmm..... wangi nya anak ayah ini." kata Indarto sambil mencium Lia.
"Iya ayah. Lia udah mandi tadi. Ayah, Lia boleh kan makan martabak nya?" tanya Lia.
Indarto mengangguk kan kepala mengiyakan. Lia pun segera diturunkan dari gendongan. Lia pun segera membuka bungkus martabak lalu mulai menyantapnya.
"Mas, udah pulang?" kata Saras.
"Maaf aku gak menyambut kedatanganmu. Aku lagi masak di dapur." lanjut Saras sambil mencium tangan suaminya.
"Ga papa." kata Indarto sambil mencium pucuk kepala istrinya.
"Aku kangen banget Dek." kata Indarto sambil memeluk Saras.
"Gimana di sekolah tadi mas? Kamu mengalami kesulitan gak?" tanya Saras sambil menggandeng masuk ke dalam kamar.
"Lumayan Dek. Tadi mas sempat mengalami kesulitan sedikit ketika menghadapi mereka. Tapi hanya dalam hitungan menit mereka semua takluk di tangan mas." kata Indarto.
"Kan emang jagonya suami aku ini." kata Saras sambil mencolek dagu suaminya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Jangan mulai menggoda ya. Aku lawan nanti kamu termehek-mehek." kata Indarto sambil tersenyum usil.
"Udah ah... mandi dulu sana gih. Baru badannya." kata Saras sambil menutup hidung.
Saras lalu mendorong tubuh Indarto yang terus menjahili nya, untuk masuk ke kamar mandi. Ketika suaminya mandi, Saras lalu menyiapkan baju untuk Indarto.
Lalu Saras keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Sementara itu Lia masih asyik dengan martabak manisnya. Mulutnya belepotan coklat. Saras menyuruh Lia untuk mencuci tangan dan bersiap untuk makan malam.
Mereka menyantap makan malam sambil bersenda gurau. Lia bercerita kalau tadi ia dan ibunya berkenalan dengan tetangga sebelah rumah. Lia bercerita dengan penuh semangat bagaimana ia diajak main ke rumah bude Agus.
Indarto mendengar kan cerita Lia dengan sungguh-sungguh. Setelah selesai makan malam. Mereka berkumpul di ruang tengah sambil menonton televisi. Dengan perut kenyang dan hati yang gembira juga rasa lelah yang membuncah Lia akhirnya tertidur di pangkuan ayahnya.
Indarto menggendong Lia dan membawa ke kamarnya untuk dibaringkan. Setelah membaringkan putri kecilnya, ia mencium dan mengelus kepala Lia. Tak lama kemudian Indarto pun keluar dari kamar. Indarto menghampiri Saras yang masih duduk menonton televisi.
Indarto merangkul istrinya dan mencium kepalanya dengan lembut.
"Kenapa Mas..." Saras sudah hapal betul kalau sikap suaminya seperti ini pasti ada sesuatu.
" Ceritalah.. Aku mendengar kan." kata Saras.
"Tadi ketika aku di sekolah, aku mendapat kelas yang murid-murid luar biasa Dek."
"Maksudnya? murid-murid mu nakal semua mas?"
"Betul banget Dek. Tapi ada satu orang anak yang pendiam, tapi tiba-tiba ia berteriak sampai-sampai murid yang terdiam. Di situ dia mulai berkata-kata yang membuat teman-teman nya sadar. Sehingga pada akhirnya murid-murid Mas mau belajar. Dan ini adalah kali pertama sejak mereka masuk di kelas VII."
"Emang deh suamiku TOP BGT."
"Tapi itu belum seberapa Dek. Ada perempuan cantik yang ngejar-ngejar mas. Tap.."
Belum selesai Indarto bercerita, Saras bangun berdiri dan meninggalkan Indarto. Buru-buru Indarto mengejar langkah kaki Saras. Rupanya Saras marah dan cemburu.
"Dek, tunggu, kan mas belum selesai ceritanya." Kata Indarto sambil meraih tangan Saras dan merengkuhnya ke pelukannya.
Dipeluknya Saras dari belakang. Diciumnya rambut Saras yang hitam legam. Dibaliknya tubuh Saras menghadap ke arah Indarto.
"Dek, kok kamu marah kan aku belum selesai ceritanya. Kamu cemburu ya. Kamu gak usah takut kamu adalah wanita satu-satunya yang selalu menempati hatiku. Satu-satunya ibu dari anakku Ardelia Saraswati." kata Indarto seraya mengelus rambut hitam Saras.
Saras pun mengeratkan pelukannya.
"Maafkan aku Mas. Aku cuma takut kehilanganmu. Gak sanggup aku hidup tanpamu." kata Saras sambil menangis di pelukan suaminya.
"Tidak pernah terpikirkan olehku untuk meninggalkan mu. Kamu adalah belahan jiwa ku. Aku selalu menjaga hatimu selalu untukku." kata Indarto.
"Sudah jangan dipikirkan lagi. Tidur yuk udah malam. Atau mau aku tiduri?" kelakar Indarto menggoda Saras.
Saras memukul dada bidang suaminya. Saras tersenyum malu.
Lalu mereka tidur dan beristirahat.