NovelToon NovelToon
Cintai Aku Suamiku

Cintai Aku Suamiku

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: shanum

"Aku gak bisa cinta sama kamu, karena di hatiku masih ada orang lain. Aku minta, kamu gak berharap lebih sama pernikahan ini. Tunggu tiga bulan lagi, aku bakal bebasin kamu dari pernikahan ini."

Kalimat itulah yang terlontar dari bibir tipis Daffa pada malam pertamanya dengan Vania. Dia memang masih mencintai mantan istrinya, seorang wanita yang tak pernah ingin digantikan dengan siapa pun. Namun, ibunya justru menjodohkan Daffa dengan Vania, dan tak mampu untuk ditolak karena kondisi kesehatannya.

Akankah Vania bertahan dalam pernikahan tanpa cinta? Atau, dia justru rela diceraikan ketika pernikahan sudah berusia tiga bulan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecemburuan Vania

Daffa melunasi ponsel yang ia pilih setelah memberikan pengertian agar Vania mau menerima. Duduk menantikan bersama istrinya, sampai barang dibawakan dan baru bisa dibuka segel, namun tetap saja Vania membuka kata dengan nada sungkan, tak mau menerima hadiah dengan harga tak pernah ia bayangkan. Apa lagi, itu hanya sebuah alat komunikasi, di mana miliknya masih bisa dipergunakan. Namun, Daffa juga masih dengan penjelasan sama, tentang sebuah pemberian dari seorang suami yang tak bisa ditolak, atau diukur dari nilai rupiah untuk sekedar menghargai dan membuat suami bersemangat dalam bekerja.

Tentu saja itu membuat Vania pasrah, tanpa mau menyinggung. Dia duduk bersama, mata berkeliaran pada toko besar yang cukup ramai dikunjungi. Ponsel dalam tasnya berbunyi, Vania mengambil segera karena Taku dari sekolah atau panti asuhan. Akan tetapi, rupanya itu dari Arif—lelaki yang mencemaskan keadaannya, karena tiba-tiba tak menjalankan tugas sebagai guru. Daffa mengintip ke arah ponsel baru dikeluarkan dari tas, wajah sumringah berubah masam seketika.

Ngapain lagi sih tuh pengangguran?! Gak tau apa kalau Nia ini udah nikah?! Kurang kerjaan banget! Mikir dong sekali-kali, gimana kalau istri dia yang aku telfonin tiap hari?! Emang gak bakalan sakit hati atau marah?! Dasar gak punya perasaan! batin Daffa kesal.

"Mas, aku angkat telfon dulu, ya?" izin Vania, menyentak perhatian darinya yang masih sibuk mengomel dalam hati sembari melirik layar ponsel.

"I-itu, HP nya udah dateng!" ucap Daffa mengarahkan mata pada pegawai yang berjalan. "Gak sopan loh Nia, kalau kamu terima telfon sementara kita lagi mau ngobrol sama orang lain."

Vania menoleh padanya yang memang berjalan mendekat, lalu meletakkan sebuah tas kecil juga ponsel serta barang lain yang tadi dipilih oleh suaminya ke atas meja. "Iya, Mas." Vania memasukkan kembali ponsel, Daffa menyeringai puas.

Hahaha, Tuhan emang selalu pas kalau ngelakuin apa-apa! Rasain tuh si Sarip, setan aja gak mau bantuin kamu buat rebut Nia dari aku! batin Daffa penuh tawa kemenangan.

Daffa berdeham sejenak, lalu membetulkan duduknya. "Jelasin semuanya ke istri saya, dia yang akan memaki itu." Katanya pada pegawai toko, mengubah nada bicara sangat cepat dan menutupi kebahagiaan hatinya.

Vania menatap jeli pada perempuan di depannya, meyakinkan diri bahwa memang sangat sengaja ia coba menarik perhatian. Bukan hanya sekali, Vania sudah melihatnya berulang kali memperhatikan, bahkan saat Daffa tengah membayar, dia menunggu barang diambilkan tanpa mengalihkan pandangan. Sekarang pun, tangan sedang menggunakan cutter membuka kemasan ponsel, tapi manik mata terarah pada Daffa berulang tanpa takut tergores jarinya.

"Mba kenapa lihatin suami saya? Ada yang aneh di wajah suami saya?" tegur Vania tanpa ragu, mengejutkan perempuan yang langsung menghentikan gerakan tangan.

"Oh, maaf. Sepertinya kakak salah paham, saya sedang membuka ini, jadi tidak mungkin melihat ke mana-mana." Pegawai itu menyuguhkan senyum, tapi menyiratkan keterkejutan serta ketakutan.

"Enggak. Aku udah lihatin mba dari tadi, dan mba emang lihatin suami saya terus! Udah, gak perlu dijelasin apa-apa, nanti suami saya yang akan mengajari. Terima kasih banyak!" kata Vania, mengambil semua dan memasukkan dalam tas, lalu turun dari kursi menarik pergelangan tangan suaminya.

Daffa belum sampai mengeluarkan kata-kata, dia masih bengong dengan sikap tegas Vania yang tak pernah ditemui sama sekali. Meninggalkan toko dengan suara lirih yang sanggup ditangkap oleh telinga sang suami, Vania bahkan tak ingin menoleh dan mencari tahu apakah dia dibicarakan atau tidak. Ya, tentu saja dibicarakan oleh pegawai toko itu dengan temannya, karena pergi setelah memaki.

"Maklum aja, orang kampung baru dateng ke kota, ya gitu. Masa nyari HP harga dua ratus ribuan di sini, dikira ini pasar loak?! Itu juga pasti cuman simpanan, mana mau laki-laki ganteng dan kaya mau sama dia, pastinya punya selera tinggi dong, iya kan?!" katanya pada teman yang sengaja menghampiri untuk mencari tahu ada apa.

"Kayaknya emang gitu, karena gak mungkin kalau istrinya!" wajah menghina ditunjukkan jelas, beriringan dengan temannya juga. "Tapi, nyari simpenan juga harus berkelas, biar gak bikin malu!" tertawa bersama.

Terus membicarakan dengan mimik wajah merendahkan, bahkan mengakui jika sebenarnya Daffa yang memperhatikan, tapi justru dirinya yang disalahkan. Pegawai toko itu tak berhenti menghina Vania, membandingkannya dengan diri sendiri yang dianggap begitu cantik dan seksi. Bahkan menyayangkan lelaki seperti Daffa, yang bersedia berjalan dengan gadis lebih setara dengan asisten rumah tangga.

Sedangkan di tempat yang sudah cukup jauh usai melalui beberapa toko, Daffa baru menghentikan langkah dari istrinya. Menjangkau perut Vania dengan tangan lain, menahannya untuk terus mengayunkan kaki, dan dipindahkan menghadap dirinya. "Kamu kenapa?" tanya Daffa lembut, masih memasang keheranan tak jauh berbeda.

"Aku tuh gak suka sama dia, Mas. Dari tadi cuma lihatin mas Daffa aja, terus nyari perhatian sama nyelipin rambut di telinga. Maksudnya apa kayak gitu?! Gak tau kalau mas ini udah nikah?! Aku ada di sana, tapi dia masih aja berani kayak gitu! Gimana kalau tadi mas sendirian, udah kayak apa dia?!" cerocos Vania tanpa jeda, namun itu membuat Daffa tersenyum-senyum mendengar juga memperhatikan. "Mas kok ketawa?"

Daffa tersenyum lebar, "aku cuma senyum, bukan ketawa, Nia. Aku seneng liat kamu ngomong panjang gini, gak cuma iya mas aja. Aku juga seneng, ternyata kamu bisa juga cemburu." Ucapnya.

Vania baru tersadar, dia menundukkan pandangan seperti anak kecil yang tengah merasa bersalah. "Maaf, Mas. Aku gak niat buat cerewet, maafin aku udah kurang ajar." Sesalnya.

"Enggak, Sayang. Itu bukan kurang ajar, tapi kamu lagi perhatian sama suami. Lagian aku suka kok kalau kamu banyak omong sama cemburu, suka banget malahan." Daffa berucap, terangkat panggilan Vania padanya.

"Ma-mas panggil aku apa?" tanya Vania seperti salah dengar.

Daffa seketika berpikir, takut jika salah menyebut nama Nessa pada istrinya. "E-emangnya aku panggil kamu apa?" ragu bertanya, tak benar mengingat apa pun sudah dilontarkan barusan. Vania menggelengkan kepala, semakin tak dipahami oleh Daffa yang juga menyisipkan ketakutan tersendiri.

Aku panggil apa tadi? Tuhan, jangan sampai akau salah panggil nama Nessa tadi. Daffa menyampaikan kecemasan lewat kata hati.

"Ki-kita jalan lagi, masih ada yang harus dibeli. Nanti kesorean lagi pulangnya," ajak Daffa segera, padanya yang diam menyuguhkan senyum juga gelengan kepala untuk menjawab tanya.

Dalam setiap langkah menuju butik langganan mamanya juga Alya yang sudah dihubungi, Daffa terus saja memutar otak, sekedar mengingat apa yang telah diucapkan. Matanya melirik pada Vania, jantung berdetak sangat cepat bersama bulir keringat dingin perlahan menumbuh wajah berekspresi cemasnya.

1
Lenika Ariska Milala
ktNy end... tpi kok gk ada lanjutany,,
Isti Rahayu
kenapa sih bilang cinta aj susah .emang cintanya cuma buat Nessa yg udah jdi tanah bawa tu cintamu Dafa Sampek ke liang lahat kenapa Dafa gak ikut masuk kubur aj kalo cinta mati .untung ketemu istri yg berhati emas seperti Vania bisa terima apa adanya😱
Anneke28 Annetje
ceritanya sdh tamat ya kak ke ingin vania berubah apa tdk ada ke lanjutannya ceritanya bagus lo
Rudi Yanto
bacakan
Nun Umshar
sellu is the best
Wati_esha
Terima kasih informasinya.
Omi Rohimah Omi
Luar biasa
Grace Kristianti
lanjut Kak ceritanya bagus, Maaf bintangnya baru dikasih
Rosikh Nurhayati
semangat thor,,
Rosikh Nurhayati
ngakak banget
Rosikh Nurhayati
sukaa tp gengsian
Rosikh Nurhayati
sediiiih
Rosikh Nurhayati
haduhhhh amit2
Ani
banjirrrrr air mata q
Ilham Risa: Hai kak, mampir yuk ke novel aku "Tentara Itu Ayah Dari Putraku" makasih kak🙏
total 1 replies
Tri Soen
Woalaaaah Dafa bilang nya gak cinta sama Vania tapi kok bisa2 nya cemburu gitu 😂
Tri Soen
Apa sich mau nya Daffa ...mau nya marah2 trs je Nia ...ntar darting lho 🤭
Yeti Budiawati
bagus ceritanya, di tunggu kelanjutannya 👍👍👍😘😘😘😘😘
Yati Maryati
keren banget
Yati Maryati
Daffa udah mulai bucin
kasian yang namanya Arif jadi sasaran hehehe
Poni Puspasari
Lanjutttt Thorrrrrr..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!