Kisah cinta remaja yang manis
Aninda adalah cewe yang manis, baru saja lulus SMP. Karena kepintarannya, Aninda berhasil masuk ke SMA Favorit yang ngga jauh dari rumahnya.
Ternyata cowo yang selalu menatapnya diam diam sejak Aninda kelas tiga SMP, juga masuk di SMA yang sama dengannya.
Cowo itu sangat tampan dan kaya raya, tapi dingin. Namanya Gibran. Katanya sudah punya pacar. Tapi pacarnya pindah ke kota lain waktu Aninda dan cowo itu naek kelas tiga SMP.
Aninda bingung kenapa cowo itu selalu memperhatikannya padahal sudah punya pacar. Aninda juga selalu gugup jika beradu pandang dengannya, bahkan Aninda pernah memimpikan cowo itu saat akan masuk SMA.
Aninda yang didukung beberapa temannya berusaha melayani perhatian cowo itu. Tapi tetap dengan cara tarik ulur. Aninda harus pastikan kalo cowo itu sudah putus dengan pacarnya, karena Aninda ngga mau jadi pelakor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan Gibran
"Gibran," panggil Reva ketika melihat Gibran yang tengah berjalan sendirian.
Syukurlah
Gibran menoleh dan menatap malas pada katingnya yang selalu agresif.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Reva lembut.
Karena Gibran ngga menjawab, Reva pun melanjutkan omongannya.
"Hmm... ini," kata Reva sambil mengulurkan sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas kado dengan simpul pita di atasnya.
"Selamat, ya, untuk juara renang sama juara basketnya," katanya dengan wajah merona.
"Terima kasih," ucap Gibran sambil menerimanya dan langsung berjalan pergi. Meninggalkan Reva yang hanya bisa menatap nanar punggungnya yang menjauh.
Dengan malas Gibran mendekati mobilnya yang berada di parkiran depan halaman sekolah.
Marsha sudah menunggunya di sana dengan wajah cemberutnya.
"Kok, lama?" keselnya dan makin bertambah melihat kado kecil di tangan Gibran.
"Itu dari siapa?" ketusnya sambil ikutan masuk ke dalam mobil ketika Gibran sudah menekan tombol remotnya.
"Sini lihat," kata Marsha sambil mengambil.kado kecil yang diletakkan Gibran dipangkuannya, karena sedang memakai seatbelt.
Gibran menghela nafas saat dengan kasar Marsha menarik lepas pita itu dan merobek kasar kertas kadonya.
"Hemmm....," dengus Marsha jengkel karena isi kado itu sebuah tas punggung sport merek nike yang berbahan tipis dan bersifat waterproof berwarna silver. Mungkin buat Gibran nyimpan handuk dan pakaian ganti kalo sia mau renang.
"Selamat ya. Sukses terus. Yang mengagumi kamu. Reva. Huuuh."
Marsha membaca kartu kecil berbentuk love itu dengan nada geram. Diakhiri dengan dengusan sinis.
BRUGG
Dengan panas yang sudah menjalar di seluruh tubuhnya. Marsha melempar tas bersama kartu itu ke jok belakang mobil Marsha.
"Namanya Reva ya?" tanyanya simis.
"Kak Gibran mulai nakal, ya. Padahal, kan, baru ditinggal bentar," lanjutnya mengomelnya dengan bibir manyun.
Gibran masih diam. Dia fokus ke depan karena lalu lintas mulai padat.
"Kak, kok, diam aja," marah Marsha dengan suara manjanya.
"Kak Gibran lagi nyetir," kata Gibran tanpa mau melihat Marsha.
"Kak Gibran sering dapat hadiah dari cewe di SMA kakak, ya," tuduh Marsha.
"Hemmm..."
"Masa Kak Gibran ngga bisa tolak?" rajuk Marsha lagi.
Gibran tetap diam, ngga menyahut. Bentar lagi akan nyampe ke rumah Marsha. Itu lebih penting baginya.
"Kak Gibran sekarang berubah," kesal Marsha merajuk karena Gibran sekarang selalu mengacuhkannya. Beda dengan Kak Gibran sebelum dia memutuskan untuk pindah menjemput karir modelnya.
Padahal Marsha juga sering pulang hanya untuk bertemu. Tapi tanggapan yang di dapatnya selalu dingin.
Apa karena perempuan yang memberikannya tas ini? batin Marsha curiga.
Reva? Awas aja.
Tapi ngga lama kemudian mobil Gibran berhenti.
"Kenapa berhenti, kak?" tanya Marsha heran. Beberapa menit yang lalu dia sibuk dengan tanya jawab marah dalam hati.
"Rumah kamu," tukas Gibran datar.
Ternyata mobil Gibran sudah sampai di teras rumahya.
"Kakak ngga mampir?" tanya Marsha sambil membuka seatbeltnya.
"Nggak. Udah malam."
Marsha terdiam. Kemudian dengan cepat dia mencium pipi Gibran.
"Mimpiin aku ya, kak," ucapnya centil, lalu keluar dari mobil dengan hati senang. Selama Kak Gibran ngga menolak ciumannya, dia masih punya harapan.
Setelah Marsha berada di terasnya, Gibran melajukan mobilnya meninggalkan rumah mewah gadis itu. Tangannya meraih tisu, dan langsung mengelap bekas ciuman Marsha dan membuang sampah tisue itu ke plastik yang selalu dia sediakan dalam mobilnya.
Dulu dia sangat suka jika Marsha melakukannya. Bahkan kadang dia meraih bibir itu untuk dikecupnya. Tapi sekarang rasanya aneh dan membuatnya ingin cepat cepat menghapusnya.
*
*
*
"Gibran, orang tua Marsha minta kalian segera bertunangan," kata papi setelah mereka menyelesaikan sarapan pagi ini.
Mami yang sudah meneguk minuman sehatnya pun menatap lembut ke arah Gibran yang sama sekali ngga berminat mendengar ucapan papinya. Apalagi menanggapinya.
"Aku sudah putus pi sama Marsha. Udah setahun yang lalu," koreksi Gibran datar
Apa papinya sudah lupa betapa Marsha sudah mencampakkannya seperti barang ngga berharga dan lebih memilih karir modelnya?
"Kalian, kan, hanya pisah sementara. Kamu sudah hapal, kan, watak Marsha," ganti mami yang membujuknya.
"Bukan sementara, mam. Selamanya," tegas Gibran. Harga dirinya sudah dilukai Marsha sangat dalam. Dia laki laki, gimana hidupnya nanti jika Marsha bisa menyetir hidupnya ke kanan atau ke kiri sesuka hatinya.
"Gibran, jangan kekanakan. Kamu harusnya lebih bisa bersikap dewasa menangani Marsha," kali ini papi gantian membujuknya.
Gibran bangkit dari duduknya. Topik yang dibicarakan membuatnya alergi
"Gibran berangkat dulu," katanya sambil berlalu. Mami dan papinya hanya bisa menghela nafas panjang.
"Akhirnya adikku bisa bersikap pintar juga," komentar Fatia sambil mengambil sandwicknya. Dia ada kuliah pagi. Hatinya menjadi senang karena mendengar penolakan adiknya yang sudah lama.dia tunggu tunggu.
Papi dan maminya kembali menghela nafas panjang. Ngga membalas ucapan Fatia. Karena mereka tau, sejak dulu anak perempuan pertamanya ngga pernah mendukung hubungan adiknya dengan Marsha.
"Kita bilang apa nanti dengan Maura?" tanya mami sambil menatap resah suaminya.
Penolakan Gibran membuatnya shock. Maminya mengira kedatangan Marsha bisa menjadi penyembuh patah hatinya. Karena selama ditinggal Marsha, Gibran jauh berbeda dari biasanya.
"Nanti kita coba bujuk lagi. Semoga sekarang Gibran sedang memikirkannya," kara papinya agak ngga yakin.
Karena mereka sangat mengenal watak Gibran yang susah untuk digoyahkan jika sudah membuat satu keputusan.
Hanya anehnya, kenapa Gibran bisa menolak Marsha. Semua anggota di rumahnya tau kalo Gibran bucin setengah hidup dengan Marsha sampai membuat Fatia-kakaknya jengkel.
Fatia tersenyum tipis melihat wajah berkerut mami dan papinya yang membuat mereka tambah terlihat tua.
Agak aneh juga baginya karena adiknya sudah ngga tertarik lagi pada model manja itu. Dulu aja, Gibran bucinnya setengah hidup sampai Fatia heran dan gemas melihat adiknya mau aja jadi supir yang siap mengantar nona model itu kemana saja dia mau pergi. Bahkan menungguinya sampai dikacangin, Gibran pun rela melakukannya.
Padahal adiknya sangat tampan, dan banyak gadis diluaran yang mendambanya. Bahkan banyak teman teman kuliahnya yang naksir padanya. Tentu saja Fatia dengan tegas menolak mereka. Adiknya bukan berondong.
Tapi kini Fatia lega, agaknya otak adiknya sudah waras kembali. Sudah tau mana yang beneran cinta, dan mana yang memperbudak sesuka hati.
*
*
*
Gibran menatap Aninda yang sudah berada di kelas, duduk mengobrol dengan teman teman di dekat bangkunya.
Seperti magnet, Aninda kini pun menatapnya dan tersenyum. Gibran membalasnya dengan canggung sebelum mengalihkan perhatiannya dan kakinya ke arah tempat duduknya di pojok belakang.
Jantungnya selalu berdentam keras, sehingga sulit baginya untuk bersikap normal pada Aninda.
Kemarin kemarin adalah momen yang pas, membuatnya bisa membuka percakapan dengan Aninda.
Kalo sekarang rasanya sulit karena penghubung komunikasi mereka sudah ngga ada lagi.
Yang bisa Gibran lakukan hanya terus menatapnya. Senyum dan tawanya yang tulus dan sangat ceria membuat Gibran juga ikut tersenyum.
"Kembali ke asal?" sindir Revi yang baru datang bersama Mario.
Mario tergelak mendengarnya. Gibran hanya mempedulikan, masih terus menatap Aninda.
Hatinya jadi panas melihat beberapa teman laki lakinya terlihat menimbrung obrolan cewe cewe itu dan tertawa bersama.
Kadang Gibran iri, kenapa dia ngga bisa senatural itu jika beradaptasi dengan Aninda.
"Gibran, ini buat kamu," kata Kirana sambil mengulurkan sebuah paper bag pada Gibran
Sudah dia putuskan akan mendekati Gibran mulai dari hari ini. Aninda juga ngga melarang dan marah saat Vina berterus terang tentang perasaan sukanya pada Gibran. Dan berterus terang padanya akan mendekati Gibran.
Gibran ngga menyahut, mengambilnya dan menaruhnyandi pojok mejanya.
Kirana agak kecewa sebenarnya, tapi dia menahannya dengan tetap tersenyum.
"Oke," katanya kemudian berjalan pergi meninggalkan Gibran.
"Isinya apa?" tanya Mario kepo dan langsung mengambil sesuatu dari dalamnya.
"Kaos?" tanyanya sambil melihat Revi.
"Couple lan kali," tebak Revi dengan senyum miringnya.
Mario pun tertawa dan menyimpannya kembali ke dalam paper bagnya.
Aninda, Laras dan Vina tau apa yang sudah Kirana lakukan. Bahkan beberapa anak di kelas juga tau, karena tadu fokus mereka sempat ke sana.
"Kamu ngga punya hadiah buat Gibran?" sindir Laras memancing. Kini mereka tinggal ngobrol bertiga.
"Nggak lah. Kan, sudah jelas," sahut Vina enteng.
Laras yang tau maksud Vina langsung ngikik.
Aninda menatap bingung karena melihat keduanya meliriknya penuh arti.
"Apa, sih?"
Tapi keduanya ngga menjawab, hanya tertawa berjamaah saja.
.CKK kegantung nih...😭😭
Ckk istri nya Thomas.. Padahal ponakan sendiri dijelek jelekin,asal kamu tau,Ibu mu aja lebih milih tinggal dgn putri angkat nya di bandingkan kalian yg katanya ANAK KANDUNG..🙄🙄🙄
MAMPIR THOR 🙋
hihihi