[ Aku hamil, Om. ]
Meskipun sempat gamang, pesan singkat itu berhasil kukirimkan bersama dengan surat keterangan bahwa kehamilanku sudah berjalan tujun pekan.
Om Adrian adalah lelaki ketiga yang berhasil kupertahankan lebih dari setahun lamanya sejak aku terjerumus dalam hubungan terlarang. Perbedaan usia kami terpaut dua puluh empat tahun, tapi tak menjadi penghalang hubungan yang mulanya memang terjalin hanya demi kesenangan.
Dia berbeda dengan dua Sugar Daddy-ku sebelumnya yang memang berstatus lajang. Ya, dia beristri. Dan dengan kehamilan ini aku berencana untuk menggantikan posisi istrinya.
Terkesan tak tahu diri, bukan?
Namun, percayalah aku punya alasan. Alasan yang bila kujelaskan pun tak akan mampu dimengerti sebelum kalian mengalaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terang-Terangan
Aku adalah satu dari sekian orang bodoh yang berharap pada sesuatu yang sudah tahu pasti akan sepahit apa akhirnya.
Rasa manis yang hanya sempat sesaat dikecap, namun pil pahit kekecewaan yang justru harus kutelan.
Rencana masa depan dan sebuah rumah tangga impian rupanya hanya kata-kata bualan yang dia ucapkan untuk menyenangkan hatiku yang amat haus akan kasih sayang.
Bukit yang semalaman kami daki dengan keringat bercucuran dan perasaan yang sulit digambarkan akhirnya menempatkan kita berdua di atas puncak yang berbeda.
Seharusnya aku sadar lebih awal, bahwa ada yang berbeda dari tatapan Om Lian, seharusnya aku bertanya tentang apa yang tengah mengusik pikirannya agar perpisahan ini tak akan terasa terlalu menyakitkan.
Entah sudah berapa lama aku tenggelam dalam tangis keputusasaan. Larut dalam kesedihan yang begitu menyesakkan. Membiarkan diri diliputi kekalutan hingga mengabaikan sepasang mata yang selalu terjaga memerhatikan dengan sorot kebingungan.
"Vin ...." Aku menarik kerah kaus yang dikenakan lelaki yang sejak tadi sibuk membenahi selimut agar tubuh polosku tak terekspos.
"Aku nggak bisa mati seperti ini." Kutatap kedua mata bening itu dengan nanar. Dengan suara sengau, dan isak tangis yang masih tersisa.
"Aku nggak bisa mati sementara pria tua yang masih asik menumpuk dosa itu bebas berkeliaran." Iris mata Kevin melebar, dia pasti paham siapa orang yang kumaksud.
"Saat ini aku sangat ingin membunuh kakekmu, Kevin. Mencincang kedua tangannya yang sudah menciptakan banyak sekali penderitaan, merobek mulutnya yang tak bermoral, dan mencongkel kedua bola matanya yang sudah menyaksikan begitu banyak ketidakadilan." Pupil mata Kevin bergetar, cairan di pelupuknya mulai menggenang dan sudah siap ditumpahkan.
"Lea ...." Dia seolah kehilangan kata, hingga namakulah yang kembali mengudara dengan lirihnya.
"Tapi aku nggak bisa melakukannya, Vin. Kematian terlalu mudah baginya. Aku ingin Pak Wira mendapatkan sanksi sosial, menerima banyak kecaman, dan dipermalukan sebelum dia meninggal. Aku nggak jahat, kan, Vin? Cuma itu balasan yang setimpal untuk seseorang sepertinya, kan?" Kuguncang bahu Kevin yang hanya bisa menangis dalam geming.
"Dengan begitu Om Lian akan kembali, kan? Dia akan bangga padaku karena semua yang sudah direncanakan berjalan semestinya. Iya, kan, Vin? Jawab, Si*lan!" pekikku habis kesabaran karena sejak tadi Kevin hanya bisa diam terbungkam sembari menangis pelan.
"Om Lian mengatakan kalau saat ini cuma kamu yang bisa aku percaya. Berarti kamu nggak akan keberatan kalau aku menghancurkan keluargamu, kan? Membuat mereka menyesal dan jadi gelandangan." Tubuh Kevin setengah terbaring saat aku mencengkeram kerah kausnya. Aku bahkan sudah tak peduli meski tubuh ini terekspos di hadapannya.
Kevin memalingkan wajah masih dengan tangis yang belum mereda. Kuraih dagunya agar kami bersitatap.
Rahang lelaki itu tampak mengetat, dia menatapku tajam dengan mata yang memerah. Hanya butuh sepersekian sampai posisi kami berbalik.
Sekarang dia berada di atasku, menarik kembali selimut yang semula sudah meluruh ke pinggang, sampai sebatas pundak.
"Ya. Lakukan semua sesukamu, Lea! Aku udah nggak peduli mau jadi gelandangan atau yatim piatu sekalian. Toh, hidup ini nggak pernah aku inginkan. Seandainya bisa aku juga akan meminta untuk tidak pernah dilahirkan kalau pada akhirnya hanya menyebabkan kehancuran!
Di dunia ini nggak ada satu pun anak yang ingin terlahir dari hubungan terlarang. Asal kamu tahu aku juga nggak pernah mau jadi bagian dari keluarga rusak ini.
Jangan pernah berpikir bahwa hidupmu paling menderita di dunia ini! Lihat orang di sekelilingmu. Pahami mereka dengan hati, bukan dengan ego. Maka kamu akan mengerti kalau mereka juga punya rasa sakit sama yang cuma bisa dipendam sendirian!"
Aku terbungkam saat melihat untuk pertama kalinya Kevin menunjukkan sisi lain dalam dirinya. Tersemat keputusasaan dari kata-kata yang dipaksa untuk terlihat tegar.
Akhirnya Kevin menarik diri, lalu bersandar pada tilas kaca yang membatasi balkon dan ruang kamar.
"Aku juga sama hancurnya denganmu saat mengetahui semua kenyataan pahit ini. Seolah apa yang terjadi seperti mimpi buruk yang datang bertubi-tubi. Masih ada kesempatan untuk membalikan keadaan, Lea. Aku yakin Om Lian punya alasan kenapa dia memutuskan pergi."
Aku tertegun untuk waktu yang lama, lalu memutuskan bangkit dari posisi terbaring. Sejenak menatap Kevin yang hanya bisa menumpukan kepala di antara kedua lututnya. Terisak.
Kemarahan memang membuat kewarasanku hilang sekejap. Namun, ucapan Kevin seketika menyandarkan bahwa aku tak sendiri di dunia yang kejam ini.
Ya, aku harus bangkit.
***
"Kita kemasi barang dan pindah hari ini!" ucapku pada Kevin setelah check out dari hotel dan berjalan menuju lobi utama di mana mobil yang ditinggalkan Om Lian berada.
"Kita bilang apa kalau orang rumah tanya nanti?" sahut Kevin.
"Sore ini Pak Wira pasti nggak ada di rumah, mungkin dia lagi persiapan jamuan buat Pak Hans yang harus aku layani nanti malam. Kalau Papa dan Mamamu biar aku yang urus."
Sekejap Kevin tampak mengerjap tak percaya, tapi akhirnya dia mengangguk juga.
"Aku aja yang nyetir." Kevin menahan pergelangan tanganku saat hendak memutari Mini Cooper berwarna merah yang sudah terparkir di hadapan, menuju kursi kemudi.
Tanpa kata aku mengangguk pelan, dan menyerahkan kunci mobil kepadanya, lalu duduk di kursi penumpang.
Helaan napas panjang terdengar setelah mesin mobil dinyalakan. Kevin menatapku dengan sorot mata penuh kenyakinan.
"Mungkin anak muda yang tak berpengalaman seperti kita akan diremehkan, karena bernyali benar menantang orang-orang yang memiliki kekuasaan. Tapi, kita tetap harus yakin, Lea. Bahwa keadilan tak pernah memandang siapa pun."
Senyumku melebar mendengarnya.
"Ya. Kita harus percaya bahwa keadilan masih bisa ditenggakkan meski hukum kadang hanya berpihak pada orang-orang dengan kekuasaan."
***
"Ayo!" Kuulurkan tangan ke arah Kevin yang tampak ragu untuk melangkah keluar dari mobil, saat kami sudah sampai di pelataran.
Mungkin aku akan melakukan hal yang sama bila ada di posisinya juga. Sebuah pilihan sulit ketika dihadapkan dengan kebenaran dan sebuah ikatan kekeluargaan.
Seburuk-buruknya orang-orang di sekeliling Kevin, mereka tetap terikat batin. Meskipun sebelumnya tampak begitu yakin, tapi keraguan pekat yang tampak dari sorot mata dan gesture tubuhnya tetap tak bisa disembunyikan.
"Ayo!" Kevin menyambut uluran tanganku setelah sekian lama.
Kami berjalan beriringan melewati para penjaga di depan.
Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, Pak Wira tak ada di rumah, pun Om Adrian. Sementara Tante Lidia tengah menikmati me time-nya dengan manicure dan pedicure di ruang tengah.
"Kita kemasin barang masing-masing, habis itu kumpul lagi di sini, oke!" ucapku pada Kevin saat kita menaiki tangga menuju ruangan berbeda.
Di bawah sana rupanya Tante Lidia belum menyadari kehadiran kita, mengingat betapa luasnya tempat ini.
Kevin mengangguk pelan, lalu mempercepat langkah menuju kamarnya di lantai tiga.
Begitu pun aku yang langsung masuk ke dalam kamar yang baru sebentar ditempati. Terlalu banyak hal yang terjadi selama dua bulan ini.
Terbiasa berada di sisi lelaki bertubuh tegap itu membuatku seolah masih bisa merasakan kehadiran Om Lian di sini. Berkutat di meja kerjanya, sementara aku memerhatikan dari balik kaca.
Rasanya memang terlalu dini untuk menerima kepergiannya yang tiba-tiba. Keadaan seakan tak memberiku pilihan untuk merenung sejenak dan larut dalam kesedihan. Aku seolah dipaksa untuk bangkit lebih cepat sebelum sempat memulihkan diri. Mengingat tantangan lebih sulit yang sedang menanti.
Air mataku kembali luluh saat melihat foto pernikahan kita yang terpajang begitu besar di atas pembaringan. Bagaimana saat itu aku dan Om Lian tersenyum bahagia seolah melupakan sejenak beban yang ada.
Aku bahkan masih bisa merasakan hangat sentuhnya di kulit ini, suara dalamnya saat bergumam, dan lengguhannya ketika berhasil menjadi sosok lelaki sejati. Dia pergi dengan membawa separuh jiwa ini. Menciptakan sebuah kenangan yang membuat dadaku sering kali berdenyut nyeri kala mengingatnya.
Mau bagaimana pun juga. Kepergiannya yang tiba-tiba masih belum bisa kuterima.
Brak!
Suara pintu yang dibanting keras membuyarkan semua lamunanku tentang Om Lian.
Kulihat di sana Tante Lidia tengah berdiri dengan berkacak pinggang. Mata bulatnya melotot nyaris keluar dari tempatnya.
"Berani-beraninya kamu tunjukkan wajah menjijikkan itu setelah semua yang terjadi!" desisnya sembari berjalan menghampiri.
Aku hanya bisa menatapnya datar.
"Kamu lihat sekarang, kan, J*lang! Tak pernah ada dua ratu dalam satu istana. Tujuan Lian menikahimu pun hanya untuk dipermainkan. Inilah karma yang akhirnya harus diterima oleh wanita penggoda sepertimu. Yaitu dicampakkan!" Tante Lidia tersenyum sinis menatapku dalam jarak satu jengkal. Seolah begitu puas menyaksikan nasib buruk yang yang baru saja kuterima.
.
.
.
Bersambung.
sukses trs tuk karya2nya y 💕💕💕💕