Blurb :
Seorang dokter muda, tanpa sengaja bertemu dengan gadis SMA.
Gadis tanpa orang tua itu diam-diam mengidap satu gejala penyakit yang berbahaya jika terlambat ditanganinya.
Mereka kembali dipertemukan sebagai pemilik dan penyewa rumah yang akhirnya terpaksa harus tinggal bersama.
Bukan hanya cerita tentang Dokter dan pasien-nya, melainkan ada kisah cinta di antara dua manusia yang berbeda usia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Lampu Hijau
"Ya gak bisa gitu dong, bro. Lo jangan manfaatin situasi karena semua terserah ade gue. Lo usaha sendiri aja sana. Kalo dianya gak mau, jangan salahin gue," ujar Zidan sambil memasang muka jual mahal. "Anak kecil kek Shasha, pasti belum mikir jauh ke arah sana. Gue yakin itu."
"Tugas lo buat yakinin dia kalau niat gue beneran serius. Pokoknya gue pegang janji lo yang tadi. Titik."
Heran! kok dia mau ya, mohon-mohon kaya gitu demi adik gue? Apa mungkin dia lagi banting harga, kaya barang-barang obral di mall, batin Zidan sambil menahan tawa.
"Kasihan adik gue masih kecil. Gue gak mau dia patah hati kaya bucin-bucin lo nantinya. Udah, ah gue mau masuk, mau siap-siap salat Magrib di Masjid," ujarnya sambil melangkah masuk.
"Dan! Tunggu dulu oiy!" Luthfie yang terus mengekor di belakang Zidan sambil terus membujuk agar lamarannya diterima.
"Emangnya salah gue ya kalo cewek-cewek itu patah hati? Gue tolak mereka kan karena gue gak mau ngasih harapan palsu. Dan, lo tau persis kan, gue gak pernah mengobral cinta meskipun dulu mereka ngejar gue."
Tingkahnya sampe dilihat oleh Anita dan Shasha yang baru keluar dari kamarnya
"Apaan sih berisik amat kalian berdua?" Shasha menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang keluarga.
"Jadi gimana Sha? Emangnya kamu pacaran sama dia? Kok, dia mau ngelamar kamu?" ujar Zidan sambil menunjuk Luthfie dengan lirikan matanya.
"Pacaran? Mana berani aku pacaran. Apalagi sama dia."
"Aaa... ni dia calon istriku, udah bangun ternyata." Luthfie mengedipkan matanya. "Aku kan dah bilang berkali-kali, mau lamar kamu, inget, gak?"
"Dihhh... sepertinya dia kumat," gumam Shasha sambil bergidik.
"Kak Zidan, Th Anita... coba perhatikan, bukannya Kak Luthfie ini terlalu tua buat Shasha?"
Anita segera menjawab menurut pandangannya.
"Enggak, kok. Kalian cocok banget, gak ada tuh istilah laki-laki ketuaan, karena setelah menikah, melahirkan dan mengurus anak nanti seorang wanitalah yang akan lebih cepat tua, jadi gak ada lagi yang namanya perbedaan usia."
"Nah! Dengerin tuh, Neng, kata Kakak iparmu, dia sangat bijaksana menyikapi hidup ini. Pendapatnya sangat masuk di akal."
"Sayang! Kamu ngapain belain dia segala? Kan bisa makin besar kepala dia jadinya," cibir Zidan. Matanya makin mendelik ke arah Luthfie.
"Aa jangan egois gitu dong A, mereka juga berhak hidup bahagia, berpasangan seperti kita."
Luthfie mengacungkan dua jempol tangannya ke arah Anita sambil manggut-manggut. Dia tidak menyangka akan mendapat dukungan dari Anita.
"Abis salat magrib, Shasha temuin Kakak di kamar, ada yang mau Kaka omongin sebentar," perintah Zidan sebelum dia bersiap pergi ke masjid
"Tapi Sha mau bantu teteh masak buat makan malem Kak."
"Sebentar aja Sha, abis itu kamu bisa ke dapur lagi."
"Oke kalau gitu. Kita salat magrib dulu ajalah, aku mau ke kamar."
"Fie, lo ikut gue salat di mesjid, ya." Zidan bergegas ke kamarnya untuk mengambil sarung dan peci.
"Baik, Kakak Iparku," sambil cengengesan. "Adik tunggu di luar, ya."
"Ish! Coba aja sekali lagi lo ngomong kaya gitu, langsung muntah nih, gue," ketusnya sambil membeliak.
"Hahahaha... dasar Kakak Ipar gak ada akhlak."
*******
Zidan memanfaatkan momen perjalanan pulang dari masjid untuk melanjutkan percakapan tadi sore.
"Fie, emangnya lo beneran gak punya pacar sekarang?" tanya Zidan. Dia sengaja memperlambat langkahnya. "Sepertinya gak mungkin." Sambil menatap wajah Luthfie lalu menggelengkan kepalanya.
"Selama ini... banyak hal yang harus gue urus. Gue sibuk, benar-benar sibuk." Dia menatap ke bawah seperti sedang menghitung langkah, lalu melanjutkan ucapannyal, "sampai gak sempat memikirkan hal seperti itu."
"Tapi... gue sudah mantap mau nikahin Adik lo," tegasnya seraya mengangkat wajah yang dihiasi senyum terindah.
"Apa karena lo merasa kasihan sama Ade gue?"
"Gue gak tau Dan, karena sebelumnya gak pernah memiliki perasaan seperti ini pada gadis mana pun."
"Perasaan seperti apa maksud, lo?"
"Gimana, ya, ngomongnya? Yang pasti, gue seneng aja kalau bareng dia. Itu anak lucu banget, gak kaya kakaknya. Hahaha...."
"Sialan, lo!" Zidan meninju pangkal lengannya membuat Luthfie semakin terbahak.
"Enggak, Dan. Pokoknya, gue pengen liat wajah anak itu tiap hari. Pengen ada buat dia setiap saat. Menjadi sandaran ternyaman kapan pun dia mau. Senang rasanya kalau berhasil membuat bibirnya tersenyum meskipun terkadang dia jengkel karena ulah jahil gue," ucapnya dengan bibir yang masih mengulas senyum. "Apalagi kalau lagi nangis, tuh, pengen gue peluk dia."
"Eh! Eh! Eh! Macem-macem, lo, ya."
Luthfie hanya tersenyum menaggapi peringatan Zidan dengan tatapan sengitnya.
"By The Way, kenapa tiba-tiba Shasha suka nangis di depan, lo?"
"Mana gue tau." Luthfie mengangkat bahu. "Yang gue tau, adik lo emang harus nangis. Gue gak pernah nyuruh dia berhenti nangis karena menahan kesedihan itu pasti cukup menyiksa."
"Tapi lo gak ambil kesempatan saat dia nangis kan, Fie?" tanya Zidan penasaran bercampur khawatir. Dia menghentikan langkahnya supaya bisa menyelesaikan percakapan sebelum tiba di rumah.
"Maksud lo apa Dan? Jangan bilang lo suudzon sama gue. Gue cuma menepuk bahunya kalo dia lagi nangis, meskipun sebenarnya pengen melakukan hal yang lebih dari itu untuk menghiburnya, gue masih tahanlah sampe lamaran gue diterima. Tapi...."
"Apa?" tanya Zidan penasaran.
"Maaf, maaf, ni ya, kalau gue sebenarnya sering gendong dia." Sambil menjauhkan diri dari sahabatnya. Coba menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Hahh? Lo lancang banget sih Fie?!"
"Ya terus gue mesti gimana? Adik lo pingsan di jalanan, masa gue gak peduli? Adik lo menggigil di atap atau kadang ketiduran di sembarang tempat, apa gue mesti diemin dia gitu aja, sementara lo ada dimana waktu itu?"
"Iya, iya, maaf. Harusnya gue bilang makasih karena lo dah bantu jagain adik gue."
"Lo setuju kan, Dan, dengan lamaran gue? Lebih cepat lebih baik sebelum ada omongan miring dari tetangga yang bisa melukai perasaan adik lo gara gara dia tinggal bareng gue di rumah yang sama."
"Lamaran lagi, lamaran lagi. Memangnya apa rencana lo setelah melamar Shasha? Jangan bilang lo mau langsung nikahin dia?"
"Kalau gak dinikahin, sama aja bohong, dong. Lo gimana, sih, Bambang?"
"Masalahnya Ade gue masih sekolah. Gak mungkin lo nikahin dia sekarang. Lagipula dia belum cukup umur. Sebagai aparat hukum, tentu saja gue harus mematuhi hukum yang ada. Paling enggak, lo harus nunggu umur Shasha 19 tahun dulu, gak boleh kurang dari itu, karena peraturan baru sudah di tetapkan batas usia perkawinan minimal 19 tahun, dan untuk itu lo harus nunggu sampe Shasha lulus sekolah."
"Gak masalah buat gue, kalau cuma nunggu beberapa bulan aja. Gue punya solusi biar gue dan adik lo bisa tetep tinggal bersama sebelum nikah."
"Apa tuh? Ide lo jangan yang aneh-aneh deh Fie."
"Gue cuma minta istri lo tinggal di Bandung bareng gue dan adik lo sampe gue nikahin adik lo. Itu untuk mencegah fitnah dan menjaga nama baik adik lo juga, karena setidaknya kami gak tinggal berdua saja jika istri lo ada di sana."
"Bukan ide yang buruk juga, tapi Anita sedang hamil muda sekarang. Nanti ajalah gue bahas ini dulu sama Anita, kalo dia gak keberatan, gue akan kirim dia ke Bandung. Ngomong-ngomong, gue tetep yakin kalau Shasha bakal nolak lo. Gue dukung banget kalau dia nolak."
"Tadi sore siapa yang bilang, kalau gak mungkin ada cewek yang nolak gue? Kecuali, kalau lo racunin pikiran adik lo. Awas aja!"
"Ahaha...."
BERSAMBUNG.