Kelanjutan cerita yang season 1 ya kak
Bagaimana rumah tangga Adi dan Indri selepas kehadiran dua putra kembar nya yang melengkapi Cinta dan Dhea?
Adi berjuang keras untuk mempertahankan rumah tangga nya dengan Indri disaat godaan datang silih berganti.
Bahkan seorang pacar masa lalu Adi yang berstatus janda muda juga hadir kembali ke kehidupan Adi, saat dia sudah menemukan kebahagiaan bersama Indri.
Temukan jawabannya di Mandor Proyek dan Janda Muda 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga Warung Pinggir Pasar
Dengan ogah-ogahan Adi menekan tombol hijau pada layar ponsel pintar nya.
📞
Adi : Halo Assalamualaikum Bu Bos..
Ada yang bisa aku bantu?
Bu Tiara : Waalaikumsalaam Mas Adi..
Saya cuma mau tanya, Mas Adi kapan mulai pekerjaan di sabo dam sungai Lesa itu mas?
Soalnya pimpro dari propinsi berniat hadir saat peletakan batu pertama.
Adi : Rencana sih minggu depan Bu Bos, tapi kita juga belum omong-omong dengan masyarakat sekitar soal kapan pelaksanaan kegiatan. Soalnya sesepuh desa setempat meminta agar diadakan upacara selamatan Bu.
Bu Tiara : Loh kog pakai selamatan segala sih mas? Emang gak bisa ya langsung mulai gitu?
Adi : Kita harus menghormati kearifan masyarakat lokal Bu Bos, ya demi nyaman nya kita bekerja sama dengan mereka.
Bu Tiara : Oke deh mas, saya ikut aja apa kata mas Adi. Nanti pas hari H selamatan, saya di undang ya mas..
Adi : Siap Bu Bos..
Bu Tiara : Oke selamat bekerja mas Adi. Selamat siang.
Adi : Selamat siang Bu..
📞
Klik..
Adi segera memasukkan ponsel pintar nya ke dalam tas kecil. Pria beranak 4 itu lalu mengambil sebatang rokok Diplomat favoritnya kemudian menyulutnya.
Hembusan asap rokok menjadi obat kekesalan Adi pada Bu Tiara.
"Gak jadi muter-muter bos?", tanya Pak Warno yang melihat Adi masih belum juga berangkat ke pekerjaan di kecamatan Gandu.
"Bentar lagi Pak No, terlanjur ngerokok nih", jawab Adi sambil tersenyum kecut.
Pak Warno tidak berani bertanya lagi. Senyum Adi barusan sudah menandakan bahwa dia sedang kesal.
Usai menghabiskan sebatang rokok, Adi bergegas men-start motor Vixion kesayangannya. Motor sport 150 cc itu melesat cepat kearah Kecamatan Gandu timur. Adi tidak jadi menuju ke arah pekerjaan Antok tapi ke lokasi tempat pembuatan sabo dam sungai Lesa yang merupakan proyek besar nya.
Sepanjang perjalanan Adi memperhatikan arus lalu lintas yang bersimpangan dengan nya. Angin sepoi-sepoi menemani perjalanan sang mandor proyek ke Desa Karangan yang terletak di timur kecamatan Gandu.
20 menit kemudian, motor Vixion Adi berhenti di sebuah gapura kantor desa yang bercat warna merah dan putih. Adi segera memarkir kendaraan nya di bawah pohon beringin yang di tanam di depan balai desa Karangan.
Setelah melepas helm KYT putih half face nya, Adi memasang tas punggung nya ke arah ruang staf kantor desa.
Seorang lelaki berumur 50 tahunan langsung mendatangi Adi sembari menatap Adi dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti tengah menyelidiki siapa Adi sebenarnya.
"Permisi pak,
Saya mau tanya ruang bapak kepala Desa Karangan sebelah mana nggeh?", tanya Adi dengan sopan.
"Maaf anda ini darimana?", tanya balik si lelaki berseragam coklat coklat itu segera.
"Oh maaf pak,
Saya Adi utusan dari CV Barata Konstruksi. Ada sedikit kepentingan dengan Pak Kades Karangan terkait rencana pembangunan sabo dam sungai Lesa di utara pasar desa ini pak", jawab Adi sambil tersenyum tipis.
"Woalah gitu,
Monggo saya antar ke pak Sekdes saja soalnya Pak Kades ada bimtek di kota Patria.
Mari mas", ujar si lelaki bertubuh kurus itu sambil berjalan ke salah satu sudut ruangan di kantor desa itu.
Adi segera mengikuti langkah orang itu. Begitu Adi masuk, si lelaki berseragam ASN itu segera mempersilahkan Adi duduk di kursi tamu. Kemudian dia keluar dari ruangan itu. Tak berapa lama kemudian dia kembali bersama seorang pria bertubuh gempal dengan tahi lalat di pipi kirinya. Rambut nya sedikit tipis tanda mulai botak membuat penampilan pria itu terlihat seperti seorang pemikir hebat.
"Mas Adi, ini Sekdesnya Desa Karangan. Namanya Pak Ariyono.
Silahkan jagongan (berbincang-bincang) dulu, saya masih ada kerepotan", ujar si lelaki bertubuh kurus itu yang segera keluar dari ruang Sekertaris Desa Karangan.
"Ngapunten (Mohon maaf) sebelumya Pak Sekdes. Saya Adi, utusan dari CV Barata Konstruksi.
Nah kedatangan saya ini bisa di katakan saja uluk salam atau permisi lah bahasa kasarnya pada Pemerintah Desa Karangan. Minggu depan insyaallah kami akan mulai pengerjaan proyek sabo dam di utara pasar desa ini.
Surat resminya kalau gak besok ya lusa paling lambat saya antar kemari", ujar Adi sambil menunggu tanggapan dari Sekdes Karangan.
"Alhamdulillah akhirnya gol juga usulan kami hehehehe..
Iya mas, saya mewakili pemdes Karangan merasa bersyukur karena usulan dari kami bisa di akomodir oleh pemerintah propinsi. Wah saya senang sekali loh mas, soal nya sabo dam itu nanti bisa menjadi salah satu jalan alternatif untuk masyarakat Dusun Dewi yang terisolir.
Ini mulai dropping material kapan mas?", tanya Pak Ariyono sambil menatap ke arah Adi.
"Ya insyaallah kalau gak besok ya lusa pak, soalnya saya masih punya tanggungan pekerjaan di barat SMP negeri Gandu.
Oh iya pak, sebelum pelaksanaan kegiatan apa ada saran dan masukan untuk saya pak?", Adi meraba tas kecilnya lalu merogoh rokok Diplomat dan meletakkan di meja tamu.
"Ini adat istiadat desa loh mas nggeh. Biasanya sebelum pembangunan yang dilakukan di sungai Lesa, ada semacam kenduri atau selamatan begitu.
Ya bukan apa apa sih, cuma omongan orang tua dulu sungai Lesa itu kali lanang istilahnya. Ada banyak keanehan yang terjadi di sepanjang jalur sungai itu. Makanya ya kita antisipasi sajalah mas, biar mas Adi pekerjaan nya lancar dan tanpa hambatan dari sesuatu dalam tanda kutip penunggu istilahnya", ucap Pak Ariyono sambil menatap ke arah Adi yang manggut-manggut mendengar omongan nya.
"Wohh siap pak..
Juga nanti mohon bantuannya nggeh pak, saya pengen nyewa tempat untuk direksi kit nya. Ya kalau ada kunjungan dari dinas provinsi atau pun dari lokal kabupaten kita ada semacam tempat ngopi gitu lah pak..
Selain itu juga buat menaruh semen dan alat-alat kerja nantinya.
Eh permisi pak, boleh saya merokok disini? Saya lihat ada asbak makanya saya berani bertanya pak", Adi tersenyum simpul.
"Wah monggo silahkan mas..
Disini itu bebas merokok lah, saya juga perokok berat nih hehehe", Pak Ariyono terkekeh kecil mendengar ucapan Adi.
Tak berapa lama kemudian, si lelaki bertubuh kurus kembali ke ruangan sekertaris desa dengan membawa dua cangkir kopi hitam yang masih beruap.
"Wah jadi merepotkan pak", ujar Adi sambil tersenyum.
"Cuma wedang mas. Orang Jawa bilang wedang itu ngawe kadang (mendekatkan saudara), jadi kami itu ingin bersaudara dengan semua orang.
Ya syukur syukur bisa membawa proyek pembangunan di desa kami ini hehehehe", seloroh Pak Ariyono sambil tertawa.
"Ya insyaallah lah Pak, kalau ada kenalan yang bingung mencari lokasi proyek nanti saya arahkan ke desa Karangan ini", ujar Adi sambil tersenyum tipis. Satu hisapan rokok dan mereka berbincang-bincang seolah sudah kenal lama.
Usai kopi habis, Adi dan Pak Ariyono berpindah tempat ke lokasi pekerjaan yang hendak di garap Adi. Dengan ponsel pintar nya, Adi mengambil beberapa foto lokasi dengan aplikasi kamera berbasis GPS.
Kebetulan waktu itu sudah jam makan siang. Perut Adi mulai keroncongan. Dia segera mendekati Pak Ariyono yang masih berbincang dengan warga yang rumahnya berdekatan dengan lokasi pekerjaan itu.
"Pak Sekdes,
Warung makan terdekat di sekitar sini sebelah mana pak?", tanya Adi dengan segera. Entah kenapa perut nya benar benar minta diisi.
"Mau yang murah, yang enak atau yang penjaga warung nya ayu mas?", goda pak Ariyono sambil senyum-senyum simpul.
"Apa saja deh pak, yang penting makan saya. Tadi pagi tidak sarapan gara gara kesiangan", ujar Adi sambil tersenyum tipis mengingat peristiwa semalam dengan sang istri tercinta.
"Nggeh monggo tak antar mas, saya juga lapar ini..
Pak Karmin, saya permisi dulu nggeh. Mau ngantar bos proyek ke warung makan", ujar Pak Ariyono sambil mengangguk ke arah seorang lelaki tua dengan rambut memutih.
Mereka segera men-start motor menuju ke sebuah warung makan yang ada di sudut pasar desa. Meski di sudut pasar, warung itu tidak masuk ke dalam pasar. Hanya letaknya saja yang persis di dekat pasar Desa.
Adi dan Pak Ariyono segera masuk ke dalam warung makan. Terlihat hanya dua orang yang sedang menikmati hidangan di dalam ruangan warung yang terbilang cukup luas. Di depan etalase kaca terpajang aneka lauk seperti ayam, lele, ikan nila, jendil, telur dan ati ampela. Tahu dan tempe juga ada, bahkan perkedel dan dadar jagung pun ada. Juga beraneka sayur lodeh rebung, terong, beningan, daun ketela dan labu siam.
"Sus.. Susi,
Sus kemana to kog malah gak ada orang ini?", ucap pak Ariyono sedikit keras.
"Eh iya sebentar pak, masih ngangkat nasi ini loh", terdengar suara dari dalam. Tak lama kemudian seorang wanita muda cantik dengan celemek dan bibir merah merona keluar dari dalam.
"Oalah Pak Carik (sebutan lama untuk Sekertaris Desa) to..
Ngapunten pak, tadi masih ngangkat nasi nya. Ini ngersaaken dahar kalih nopo (mau makan pakai lauk apa)?", ujar perempuan itu sambil memasukkan nasi ke piring.
"Mas Adi, monggo duluan", ucap Pak Ariyono segera.
"Itu mbak, sayur lodeh rebung sama lauknya jendil goreng dua nggeh. Tambah sama dadar jagung satu", ujar Adi sambil menunjuk ikan jendil goreng yang ada di etalase kaca.
Ikan jendil adalah sejenis ikan patin namun memiliki fisik yang sedikit berbeda dari ikan patin terutama gurihnya daging. Namun seringkali ikan patin di katakan ikan jendil karena sulitnya menangkap ikan jenis ini di alam bebas.
Si wanita muda itu mengangguk dan segera mengambilkan pesanan Adi. Mandor proyek itu segera menerima pesanan nya dan berjalan ke salah satu meja makan yang ada di situ.
Tak berapa lama waktu berselang, Pak Ariyono juga menyusul Adi sambil membawa nasi dengan lauk sayur ikan nila dan beberapa irisan mentimun.
Mereka mulai menyantap hidangan ini dengan lahap. Adi yang kelaparan langsung menyuapkan ikan jendil goreng ke mulut nya.
Si Mbak pelayan warung yang bernama Susi itu segera mendekati meja Adi dan Pak Ariyono.
"Pak Carik, ngunjuk e nopo (minum nya apa)?", tanya Susi ke Pak Ariyono.
"Es teh Sus, gulo ne tithik ae ya ( gula nya sedikit saja)", jawab Pak Ariyono di sela sela acara makan nya.
"Woh enggeh pak Carik, siap..
Kalau mas e ngunjuk e nopo??", Susi mengalihkan perhatian nya pada Adi.
"Es jeruk Mbak, es nya yang banyak nggeh", jawab Adi sambil tersenyum tipis.
"Nggeh Mas e, di tunggu sekedap nggeh", ujar Susi yang segera berlalu menuju ke arah dapur warung makan itu.
2 menit kemudian, Susi sudah kembali sambil membawa dua gelas minuman dingin pesanan Adi dan Pak Ariyono. Dengan hati hati perempuan cantik itu meletakkan gelas minuman di dekat mereka berdua. Saat menaruh es jeruk, ekor mata Susi melirik ke wajah tampan Adi.
Meski hanya sekilas, Pak Ariyono yang melihat kejadian itu hanya tersenyum simpul sambil meneruskan makan siang nya.
Usai makan siang, mereka menyulut rokok seperti kebanyakan orang yang merokok usai makan.
"Mas Adi, si Susi itu sepertinya suka sama sampean loh hehehe", Pak Ariyono tertawa kecil sambil menatap Adi.
"Alah sampean ada-ada saja pak..
Semua penjual ya pasti suka lah jika ada orang yang belanja ke tempatnya", sergah Adi sambil mengepulkan asap rokok Diplomat dari bibir nya.
"Mas mas, sampean itu orang proyek. Pasti punya banyak kenalan perempuan. Pengalaman juga pasti jauh lebih baik.
Gak usah ngeles, mas juga tau kan waktu Susi ngelirik mas Adi tadi??", tanya Pak Ariyono dengan nada suara lirih..
Adi hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan pak Ariyono.
"Sikat saja Mas,
Susi itu janda mas, janda kembang desa sini. Dulu waktu masih gadis banyak pemuda daerah sini yang tergila-gila pada nya. Namun akhirnya Susi memilih menikah dengan seorang pemuda asal desa sebelah.
Dua tahun menikah mereka gak punya anak, nah suami Susi meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan.
Banyak orang yang ingin menjadikan Susi istri, tapi entah kenapa perempuan itu selalu menolak. Nah baru tadi ini aku melihat Susi melirik kearah laki-laki lagi", ujar Pak Ariyono yang mirip sales penjual motor kreditan menawarkan dagangannya.
"Sampean tahu mas, dulu disini itu ada 6 warung makan. Setelah Susi buka disini tinggal 3 termasuk punya Susi ini. Yang dua itu juga hanya bertahan saja menurut saya. Semua kalah saing mas, nyerah sama bunga warung pinggir pasar ini", imbuh Pak Ariyono yang terus menerus mengompori Adi.
"Saya sudah punya istri Pak, anak saya empat. Dua masih bayi", jawab Adi terus terang.
"Laki-laki mana cukup dengan satu perempuan mas?", tanya Pak Ariyono sambil tersenyum simpul.
"Lha pak Ariyono sendiri istrinya berapa?", Adi balik bertanya pada Sekdes Karangan itu.
"Hehehe satu mas", Pak Ariyono malah cengengesan mendengar pertanyaan Adi.
"Lah wong sampean saja istri nya cuma satu pak pak, kog nyuruh saya kawin lagi", ujar Adi sembari merapikan rokok Diplomat nya lalu memasukkan nya ke dalam tas kecil. Dia bersiap untuk kembali bekerja karena jam sudah menunjuk pukul 1 lewat 30 menit.
"Istri satu mas,
Simpanan banyak huahahahahahaha", Pak Ariyono tertawa terbahak bahak.
Adi hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Sekdes Karangan itu. Ia segera mendekati etalase kaca dimana Susi si bunga warung pinggir pasar itu duduk.
"Berapa mbak semuanya?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ada yang kangen sama mas Adi gak?
Yang kangen silahkan tinggalkan jejak kalian dengan like 👍, vote ☝️, favorit 💙 dan komentar 🗣️ nya yah 😁
Pokoknya kalau komentar nya lebih dari 20 komentar, author lanjutkan cerita ini 😁🙏😁
Salam hangat selalu 🙏🙏
semoga menjadi anak2 yg sholeh dan berbakti kepada ortu nya ..
akhirnya up juga nunguin selama 1thn lebih tp ujungnya tamat😭😭😭