"Kami hanyalah orang-orang yang berada di luar pikiran manusia. Karena kami tidaklah nyata. Kami hanyalah lambang dari jiwa yang menuntut kedamaian."
Seorang teroris tak terkalahkan di Korea mendadak melakukan boom bunuh diri tanpa sebab setelah menghancurkan sebuah perusahan dan meninggalkan banyak pertanyaan besar. Teroris yang dikenal dengan nama Jii Joon tersebut dinyatakan tewas dalam insiden tersebut dengan bukti-bukti nyata.
Namun bagi sebagian orang yang memahami kecerdasan Jii Joon memiliki keyakinan yang berbeda. Mereka yakin bahwa teroris tersebut masih hidup dengan kondisi baik dan mungkin sedang menyusun rencana untuk serangan yang lebih kuat.
Tujuan untuk mengungkap rahasia dan misteri yang terus menjadi pertanyaan besar di balik tindakan dan identitas sang teroris pun mulai dilakukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leorein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Meja Makan
"Ooo... Ada tamu?" tanya seseorang dari jauh berjalan ke dekat mereka.
Pelayan itu langsung menghentikan percakapan mereka. Dia segera berdiri dan membungkuk hormat kepada pemuda yang baru datang itu. Pemuda itu tersenyum ramah kepada Haa Do Young.
"Siapa dia?" tanya pemuda itu kepada pelayan itu sambil melihat Haa Do Young.
Pelayan itu tampak tidak cemas apapun. Wanita itu seolah tahu kedatangan Haa Do Young kembali ke rumah lama ini tidak akan dianggap sebagai masalah oleh tuan barunya.
"Dia adalah anak tuan rumah yang sebelumnya," kata pelayan itu memberitahu, pemuda itu mengangguk paham.
Pemuda itu mengangguk santai dan mengerti. Dia melihat Haa Do Young dan memang merasa tak terganggu sama sekali dengan kehadiran Haa Do Young yang merupakan pemilik lama bangunan ini.
"Aku lapar, bisa buatkan sesuatu?" pinta pemuda itu dengan baik-baik.
Wanita itu segera membungkuk sedikit renda kepada Lee Jae Hee.
"Iya tuan muda," ucap pelayan tersebut patuh.
Pelayan itu segera pamit meninggalkan mereka berdua saja. Haa Do Young pun tidak berniat untuk lebih lama lagi.
"Apa kau kemari untuk mengambil sesuatu?" Tanya pemuda itu kepada Haa Do Young dengan nada yang terdengar bersahabat.
Haa Do Young menggeleng ringan. Haa Do Young hanya mengatakan kalau dirinya kebetulan lewat dan sekalian mampir berkunjung untuk menyapa orang-orang yang dulu dia kenal.
Pembicaraan Haa Do Young dengan pelayan itu selesai. Haa Do Young tak punya alasan untuk tetap di sini lebih lama dimana anak tuan rumah ini telah ada di sini.
"Kau ingin pergi?" tanya pemuda itu lagi yang melihat Haa Do Young bangkit dari duduknya.
Pemuda itu tidak perlu jawaban dari Haa Do Young karena dia sendiri sudah melihat Haa Do Young bangkit berdiri mengenakan jaketnya kembali.
"Aku tidak bisa membiarkan orang yang datang ke rumahku pulang sebelum makan. Jadi tunggulah sebentar sampai para pelayan selesai menyiapkan makanan. Kita bisa mengobrol dulu," ajak pemuda itu dengan berbaik hati.
Haa Do Young tahu tak baik untuknya menolak tawaran orang yang pertama kali dia temui ini. Tapi dia memang tidak berniat untuk lebih lama di sini.
"Aku sudah makan dan aku harus pergi ke suatu tempat sebentar lagi," kata Haa Do Young memberi alasan.
Seolah tidak mudah percaya dengan alasan Haa Do Young. Anak pemilik rumah itu maju dua langkah mendekati Haa Do Young.
"Kau membenciku karena rumah ini sekarang milik ayahku?" Tanya pemuda itu sambil melihat Haa Do Young.
Haa Do Young langsung melihat kepada lawan bicaranya sambil menggeleng kepala. "Tidak. Tidak seperti itu,"
"Kalau tidak maka tidak masalah jika kau tinggal sebentar lagi. Jangan membuatku berpikir seperti itu. Jika kau pergi maka aku akan merasa hal itu benar. Aku tidak suka duduk sendirian di meja makan besar ini sendirian. Kau mungkin bisa mengubah suasana. Ayolah ini hanya pertama dan terakhir," bujuk pemuda itu ramah dan penuh senyuman ketulusan yang membuat Haa Do Young makin tak nyaman.
Haa Do Young sangat ingin menolak tawaran itu. Tapi kemudian dengan terpaksa Haa Do Young mengalah. Pemuda itu tersenyum penuh kemenangan dengan keputusan Haa Do Young yang kembali duduk di kursi semula.
"Siapa namamu? Aku Lee Jae Hee," tanya pemuda itu memulai percakapan dan dengan perkenalan diri lebih dulu.
"Haa Do Young," jawab Haa Do Young singkat dan tampak mengirit bicaranya.
Lee Jae Hee tertawa tanpa suara. "Ini bukan wawancara hanya obrolan di meja makan. Kau kuliah?" ucap Lee Jae Hee mencairkan suasana canggung yang dirasakan oleh Haa Do Young.
Haa Do Young melihat pemuda ramah di depannya. Pemuda itu benar-benar terlihat seperti orang baik. Haa Do Young merasa bersyukur bahwa pemilik baru rumah ini memiliki sifat yang begitu baik.
"Tidak, aku sudah menjadi pembantu polisi," jawab Haa Do Young.
Haa Do Young tidak bisa mengatakan dirinya seorang polisi. Dia tidak pernah bergabung dengan kantor polisi seperti pendaftar calon polisi lainnya.
"Kau seorang polisi?! Itu mengagumkan. Kau lebih mirip seorang mahasiswa daripada polisi. Tapi polisi tetap cocok untukmu. Daripada polisi aku lebih suka profesi jaksa atau pengacara. Itu hanya dari segi yang kusuka," ucap Lee Jae Hee terus terang.
"Kau seorang jaksa?" Haa Do Young akhirnya mulai bertanya.
Pemuda itu tampak kaget mendengar pertanyaan Haa Do Young. Dia melihat dirinya sendiri dan bertanya-tanya apakah dia memiliki aura seorang jaksa.
"Hahaha.. Tidak. Aku hanya pengangguran. Maksudku aku belum bekerja hanya saja aku sedang menunggu ayahku memberikan posisinya kepadaku," kata Lee Jae Hee sambil sekali-kali tersenyum.
Haa Do Young tersenyum mengerti. Lee Jae Hee anak seorang pengusaha. Tentu saja akan mewarisi posisi itu.
Pembicaraan awal mereaka hanya mengenai diri mereka. Lalu Lee Jae Hee mulai bicara panjang lebar tentang sejarah di dunia.
Lee Jae Hee menyukai sejarah, kisah-kisah masa lampau yang menurutnya sangat menarik. Lee Jar Hee bicara panjang sekali tentang sejarah dan hampir tidak memberi kesempatan Haa Do Young ikut bicara.
Mulai sejarah kerajaan Islam di dunia yang sangat menarik, lalu kembali ke masa lampau leluhur nenek moyang bangsa Dravida dan bangsa Arya. Dinasti Han yang merupakan dinasti tertua di Cina dan dinasti Mongol atau Yaan yang didirikan oleh Kublai Khan, kepercayaan bangsa Mesopotami, orang Sporta yang suka aberperang, perang Pelaponessos, Ferdinan Magellan yang menjadi orang pertama yang melewati lautan fasifik, Joan Of Arc si pahlawan wanita terbesar dalam sejarah, 10 Oktober 1949 kemerdekaan Tiongkok lalu 31 Mei 1961 kemerdekaan bagi Afrika Selatan. Lee Jae Hee benar-benar tahu banyak tentang sejarah. Dia tidak ragu-ragu saat menceritakan hal itu kepada Haa Do Young, dia bahkan tidak sadar jika pendengarnya telah bosan.
"Bukankah aku tralivin king yang hebat?" tanya Lee Jae Hee sambil membanggakan diri.
Beberapa menu makanan kemudian datang. Walau saat makan Lee Jae Hee tidak henti-hentinya bicara tentang dunia luar sana.
Bahasa Korea dan bahasa Inggris Lee Jae Hee sempurna padahal ia bilang datang dari Jerman. Dia jarang ke Korea kecuali untuk urusan penting.
"Siapa yang paling kau suka dari dongeng raja Arslan?" tanya Lee Jae Hee
Haa Do Young benar-benar tak tahu banyak tentang cerita masa lampau dan lawan bicaranya begitu suka dengan sejarah. Haa Do Young tak tahu kenapa Lee Jae Hee lebih memilih mewarisi ayahnya daripada bergerak sendiri mengikuti apa yang Lee Jae Hee suka.
Kehidupan anak orang kaya memang sulit dipahami. Terlihat mewah dan sempurna. Tetapi kadang-kadang penuh dengan tekanan.
"Aku tidak tertarik dengan dongeng dari Inggris itu," jawab Haa Do Young jujur.
Lee Jae Hee tidak terkejut dengan jawaban Haa Do Young.
"Sayang sekali. Aku suka sekali membaca dongeng itu, aku mungkin sudah membacanya tujuh atau delapan kali. King Arthur dan kesatria meja bundar. Aku juga membaca beberapa komik yang melibatkan orang-orang Camelot itu seperti Arslan Senki, At Laz Meridian dan Nanatsu No taizai," tutur Lee Jae Hee yang masih belum bosan dengan cerita sejarahnya.
Harus Haa Do Young akui, tuan muda rumah ini hebat bicara, walau para pendengarnya sudah terlelap tidur dia pasti akan tetap bicara menjelaskan perang saudara yang pernah terjadi, perbudakan orang kulit putih terhadap orang kulit hitam sampai kepada ruh-ruh, dewa-dewa apalah. Mendengarkan cerita itu memang menyenangkan. Tetapi Haa Do Young kesusahan mengingat nama-nama yang disebut oleh Lee Jae Hee.
Seusai makan Haa Do Young pergi tanpa menunda-nunda lagi. Dari jendela Lee Jae Hee mengawasi kepergian Haa Do Young hingga pemuda itu naik taksi.
Seperti dugaan Lee Jae Hee sejak awal, Haa Do Young akan berburu tentang masa lalu Hyuu Jin Soo dan dengan perlahan dia akan membimbing Haa Do Young pada bukti-bukti yang memaksa Haa Do Young harus menyeret orang tua nya sendiri ke penjara. Itu tidak akan lama. Lee Jae Hee ingin melihat saat itu terjadi.