Bagi Alysia Mareana kisahnya bersama Bagas Adiputra telah luruh dan membentuk sebuah kenangan yang disebut masa lalu. Tapi siapa yang dapat mengira jika ada benang masa lalu yang belum putus dan hendak mengikat mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmakJomblo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Andrew
Selamat malam pembaca, malam ini cukup dingin di daerahku karena hujan turun. Tapi kuharap kehangatan melingkupi ceritaku dan melingkupi kalian juga.
Episode kemarin sepertinya cukup menguras emosi ya?
Baiklah, malam ini ku buat episode santai buat kalian.
Oh iya, ada yang masih ingat tentang Andrew di episode-episode sebelumnya?
Kali ini dia akan muncul untuk melengkapi bagian ini.
So, enjoy!
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan Bagas yang ternyata meletakan alat pelacak pada Mol-mol, hal itu membuatku sangat kesal.
“Kau tahu itu melanggar privasi!” jeritku tidak terima.
Rasa pening akibat pengaruh minuman beralkohol yang beberapa jam lalu ku konsumsi bersama pak Yonatan seketika menghilang saat ku tanya dari mana dia tahu aku berada.
“Kau istriku!” Dia membalasku dengan berteriak juga.
Aku tersenyum miring mendengarnya.
Istri? Kenapa aku sendiri tidak merasa demikian?
Aku hidup dengan cukup baik setelah ditinggalkan Bagas di hari pernikahan kami, namun Bagas kembali seolah ingin merusak plan hidup yang sedang kurancang memaksaku menikah dan gilanya kedua orang tuaku setuju dengan itu.
“Aku hanyalah istrimu di atas kertas Bagas, selain dari itu kita hanyalah orang asing. Oh iya jangan lupakan anak dan mantan istrimu, aku tidak ingin dikira jahat. Untuk pak Yonatan, beliau adalah bos yang merangkap sebagai temanku dan dalam hal ini kau tidak memiliki hak untuk mengaturku berteman dengan siapa.”
“Re-“
“Silahkan keluar, pintu ada di sebelah kiri.”
Aku memalingkan wajah sembari menunjuk pintu keluar kamar hotel ini.
“Aku membunuh suami Ganesa,” ucap Bagas.
Aku tersentak kaget dan menoleh dengan wajah tidak percaya. Sebrengseknya Bagas, aku tak percaya bahwa dia dapat membunuh seseorang.
“Saat itu…”
Mengalirlah cerita Bagas tentang apa yang terjadi di 6 tahun lalu, tentang dia yang menjadi penyebab tewasnya Damian Rivaldi dan tentang dia yang ternyata anaknya tante Yelna.
Aku masih tak dapat menerima, aku masih tak percaya dengan apa yang diceritakan oleh Bagas, bisa saja laki-laki itu berdusta atau mengarang cerita demi membujukku.
“Kau pikir aku percaya?” tanyaku dengan nada miring.
Tidak semudah itu Ferguso.
Aku, Alysia Mareana perempuan yang sebentar lagi mengijak usia 29 tahun dan sudah berapa kali aku didustai oleh orang yang sama dan aku tidak akan mudah percaya.
“Re, aku sudah menceritakan dengan benar. Lihat wajahku, apa aku terlihat berbohong?”
Dia bertanya.
Aku menatap matanya sejenak. Bagas Adiputra terlihat begitu serius.
“Aku tetap tidak ingin percaya, sekarang keluar Bagas dan tunggu surat perceraian dariku.”
Bagas tampak terkejut mendengar kalimat bagian akhir yang baru saja ku ucapkan.
“Tidak, tidak akan ada perceraian!” tekannya.
“Aku tidak mencintaimu lagi Bagas, aku telah menemukan seseorang yang lain.”
Entah kenapa, kalimat itu terlintas begitu saja di dalam pikiranku dan aku mengucapkannya dengan santai.
“Siapa? Siapa orang itu! Yonatan heh? Aku akan membunuhnya!”
Wajah Bagas tampak memerah, mungkin karena menahan emosi.
“Bukan, bukan pak Yonatan orangnya dan bukan urusanmu untuk itu, kita akan tetap bercerai.”
“Silakan pergi Bagas, sejak tadi aku telah menahan mual karena terus-terusan berada di sekitarmu.”
***
Hari kedua setelah aku pergi dari rumah, hari ini hari minggu dan aku ingin berjalan-jalan mengrefreshing pikiranku yang kalut. Ku putuskan untuk pergi ke salah satu pusat perbelajaan, setelah melihat dan keliling-keliling selama sekitar sejam aku kemudian masuk ke dalam restoran Jepang.
Sampai di dalam aku memposisikan diri mengambil duduk di paling sudut tepat di depan jendela. Setelah memesan, aku mengedarkan pandang ke sekeliling hingga mataku mematung sesaat, mencoba mencerna sebuah penglihatan yang entah kenapa seakan enggan ku percaya.
Di sana tak jauh dari tempat aku duduk, aku melihatnya seorang laki-laki yang hampir tidak ku temui sejak 6 bulan. Ya, sejak dia kembali ke negara asalnya hubungan pertemanan kami juga hilang kontak.
“Alysia!” teriaknya saat menyadari keberadaanku.
Aku tak menyahut hingga beberapa detik tapi setelahnya aku menggubris tak ingin membuat Andrew mengira aku jenis perempuan sombong.
“Hai, lama tak bertemu,” sapaku dengan bahasa inggris yang terbata.
Ketahuilah sejak pertemanan kami, aku dan Andrew tak pernah memakai bahasa Inggris karena buruknya aku. Andrew punya saudara yang sudah lama tinggal di Bali dan dia ikut fasih berbahasa Indonesia.
“Oh beb, jangan memaksa,” ucapnya dengan senyum khas sembari menghampiriku dan mengecup kedua pipiku secara bergantian.
Ya, kami memang cukup akrab.
“Kau sendirian?” tanyaku.
“Hm ya dan aku sedang sial hari ini. Patner kencan butaku membatalkan janjinya,” sungut Andrew kesal.
Aku tertawa kecil.
“Kau sedang kencan buta? Oh iya sudah lama di Indonesia?”
“Ya, aku pengen dapat jodoh orang Indonesia mengikuti jejak kakak Braiden. Aku baru sekitar dua mingguan di sini, baru diterima kerja di Jakarta.”
“Waw! Selamat Andrew, aku senang kau disini.”
Aku senang sekali, selain karena Andrew adalah temanku tapi dia dapat ku ajak kerja sama untuk membantuku berpisah dari lelaki brengsek semacam Bagas. Oh iya, Andrew itu tahu masalahku dengan Bagas, aku tidak menceritakannya tapi sebelum bertemu denganku dulu kak Seya terlebih dahulu menceritakan masalahku dengan harapan aku boleh Move on ketika bersama Andrew namun ternyata tidak semudah itu untuk jatuh cinta lagi.
“Oh iya Ndrew, kau tinggal di sekitar sini?” tanyaku.
“Enggak, aku kesini karena ada proyek luar kota juga sekalian mengikuti kencan buta.”
Laki-laki itu nampak terkekeh, tak lama setelah itu pesananku datang dan kami kembali mengobrol dan aku menyuruh Andrew untuk memesan makanan.
“Ku dengar kau dan Bagas sudah menikah,” tanya Andrew dengan nada yang begitu hati-hati.
“Ya, dia memaksa.”
“Kau menerima?”
“Awalnya tidak, tapi orang tuaku juga memaksa dan kami pun berakhir dalam ikatan pernikahan,” curhatku.
“Dia laki-laki baik sekarang?” tanyanya.
Aku berpikir sejenak lalu kemudian menggelengkan kepala.
Aku tidak perlu menjaga image Bagas di depan Andrew kan? Lagi pula Andrew juga sudah tahu tipe pria seperti apa Bagas itu.
“Kau yakin dia belum berubah?”
Aku menatap Andrew setelah menyelesaikan sesendok kunyahanku.
“Aku tak pernah seyakin ini, lagi pula dia sudah pernah menikah dan sekarang mantan istrinya malah mencoba menuntut keadilan, terpenting lagi He is a Father.”
“What?”
Andrew tampak terkejut saat ku katakan bahwa Bagas sudah menjadi seorang ayah.
“Ya dan aku ingin berpisah darinya,” jujurku.
“Tidak ada jalan lain?”
Aku tahu bahwa Andrew sementara mencari cara agar aku memilih opsi lain selain bercerai, Andrew itu adalah tipe laki-laki yang benci namanya perceraian sebagaimana yang pernah kedua orang tuanya lakukan semasa dia kecil. Maka itulah sekarang dia bekerja sebagai seorang pengacara yang mengurus masalah perceraian dan hak asuh anak. Setahuku dulu, dia selalu menang dalam kasus apapun dan lebih pentingnya orang yang dia tangani selalu rujuk dan malah tidak jadi bercerai.
“Untuk sekarang aku tidak bisa memikirkan apapun, Ndrew. Aku hanya merasa kalau terus-terusan dalam hubungan ini hatiku pasti akan terluka parah.”
“Jadi apa kau butuh bantuanku?”
Tanpa ragu aku menganggukan kepalaku.
“Aku adalah orang pertama yang tidak setuju dengan perceraian, Alysia.”
“Ya aku tahu, aku hanya meminta kau berpura-pura menjadi kekasihku dan Bagas dengan sendirinya akan menceraikanku.”
“Dan kau membuatku menjadi laki-laki jahat.”
“Sekali ini saja jahat, ndrew! untukku.”