Arjuna Sebastian Wijaya seorang pengusaha muda yang tidak sengaja hampir menabrak seorang anak kecil yang wajahnya sangat mirip dengan dirinya.
Siapakah anak itu? apakah dia memiliki hubungan dengan seorang Arjun?
Dan diwaktu dan tempat ia bertemu dengan gadis yang menjadi cinta pertamanya.
Lalu apa hubungan antara gadis dan bocah kecil itu?
Simak kisah mereka dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
"Maaf nek, aku nggak sengaja" Ucap bocah itu lagi sambil menundukkan kepala, ia takut jika wanita paruh baya itu marah dengan dirinya.
"Iya tidak apa-apa" Jawab mama Dian.
Bocah itu mendongak menatap wanita yang baru saja ia tabrak.
Mama Dian kemudian berjongkok, ia memegang bahu bocah itu, ia melihat wajah bocah itu dengan teliti, ia merasa tak asing dengan wajah ini, tapi ia lupa mirip siapa wajah tampan bocah itu.
"Kamu pintar sekali, mau minta maaf atas kesalahan kamu, dan membantu saya" Ucap mama Dian.
"Siapa nama kamu?" Tanya mama Dian kemudian.
Belum sempat menjawab, terdengar suara seseorang memanggil dan itu menyita perhatian mereka.
"Geriyo"
"Geriyo"
"Itu nama aku nek" Jawabnya dengan senyuman yang sangat indah.
"Nama kamu Geriyo?" Tanya mama Dian lagi.
Geriyo mengangguk dengan cepat. Kemudian ia memutar lehernya, mencari suara yang baru saja memanggilnya.
"Bun, di sini" Ucapnya saat menemukan sang bunda, siapa lagi kalau bukan Nabila.
Nabila menghampiri putra kecilnya itu.
"Kamu ini, kebiasaan lari-lari sampai bunda dan uncle bingung nyari kamu" Ucap Nabila. Saking ia khawatir dengan anak laki-lakinya ini, ia tak sadar ada seorang wanita yang berdiri di dekat mereka.
Mama Dian menatap Nabila.
Sepertinya gadis ini masih muda, tapi kenapa dia sudah memiliki anak? ah mungkin dia memang menikah muda atau memang awet muda, batin mama Dian ia menepis setiap pikiran negatifnya.
"Kamu ibunya Geriyo?" Tanya mama Dian.
"Ah nyonya, iya saya ibunya, apa anak saya membuat masalah dengan anda?"
"Dia tadi tidak sengaja menabrak saya, hingga barang-barang saya jatuh, tapi dia tadi juga membantu saya memunguti barang-barang saya" Jawab mama Dian jujur.
"Maaf nyonya, putra saya membuat masalah dengan anda" Ucap Nabila sopan.
"Tidak apa-apa" Balas mama Dian.
"Putra mu sungguh baik, ia mau meminta maaf atas kesalahannya, dia juga mau membantu saya mengambil barang-barang saya yang jatuh" ucap mama Dian yang merasa kagum dengan bocah kecil itu.
"Terima kasih nyonya, atas pujiannya" balas Nabila dengan menampakkan senyum indahnya.
"Saya permisi dulu nyonya, kakak saya sudah menunggu" Pamit Nabila, dan hanya diangguki oleh mama Dian, kemudian ia menggandeng tangan kecil putranya itu, dan menjauh dari mama Dian.
Tapi tiba-tiba Nabila berbalik, menghampiri mama Dian.
"Saya minta maaf, karena anak saya sudah menabrak anda" ucapnya dengan sopan. Mama Dian hanya mengangguk diiringi dengan satu senyuman.
"Dahh nenek yang baik hati" ucap Geriyo
"Dada ganteng" balas mama Dian
"Kapan-kapan ketemu lagi ya" ucap Geriyo dengan cekikikan.
Mama Dian tertawa kecil mendengar ucapan bocah itu.
Kemudian Mama Dian tersenyum, ia jadi penasaran dengan anak kecil bernama Geriyo itu, wajahnya begitu familiar menurutnya, tapi sepertinya mereka juga belum pernah bertemu.
"Udah belum ma?" Arjun tiba-tiba muncul dari belakang sang mama.
Mama Dian sedikit terjingkat, ia memukul lengan Arjun karena terkejut.
"Ngagetin mama aja kamu itu" Ucapnya.
"Ditanya bukannya jawab malah mukul" Sungut Arjun, sambil menggosok lengannya yang tadi dipukul oleh mamanya.
Mama Dian kemudian teringat dengan sabun cuci muka yang belum sempat terambil.
"Jun, ambilin sabun itu dong, mama nggak nyampek" Pinta mama Dian.
Arjun tak menjawab, ia langsung mengambilkan sabun yang mamanya minta.
"Udah belum ma? Capek aku" Keluh Arjun, ia melihat jam yang melingkar ditangannya.
"Udah sore juga" Lanjutnya
"Iya ini udah" Ucap mama Dian, kemudian mereka menuju kasir untuk membayar semua belanjaan mereka.
Di mall yang sama Nabila terlihat menggandeng tangan kecil Geriyo, sedangkan Kean menggendong Kharris yang sedari tadi mengeluh capek. Mereka hendak pulang setelah berkeliling menyusuri mall terbesar di kota itu, dan berbelanja beberapa camilan di supermarket tadi.
Hari ini Kean mengajak adik dan keponakannya jalan-jalan, karena lusa ia sudah harus berangkat ke Surabaya. Ia juga membeli beberapa barang yang harus ia bawa ke Surabaya.
"Kamu itu ya kebiasaan banget kalau udah di supermarket selalu aja lari-lari" Sungut Nabila. Sejak ia menemukan Geriyo Nabila tak berhenti menggerutu pada anaknya ini. Karena tadi saat di supermarket Nabila benar-benar dibuat bingung dengan hilangnya Geriyo, ia mengelilingi supermarket yang tidaklah kecil, dan saat menemukan pria kecil itu, ternyata ia baru saja menabrak seorang wanita paruh baya yang seusia dengan maminya.
"Udah lah Bil, yang penting sekarang kan udah ketemu" Ucap Kean yang sudah lelah mendengar ocehan Nabila.
"Maaf bun" Ucap Geriyo, dengan nada memelas.
Nabila menghela napasnya kasar, "Iya bunda maafin, lain kali jangan kaya gitu lagi, untung yang kamu tabrak orangnya baik, coba kalau orangnya marah-marah gimana" Terang Nabila yang memang sangat khawatir putra kecilnya ini dimarahi oleh orang lain.
Geriyo hanya diam tak menjawab.
Mereka kemudian masuk ke dalam mobil saat sudah berdiri di dekat mobil hitam Kean.
Di dalam mobil hanya ada keheningan saja, tak ada yang membuka suara.
"Riyo" Panggil Kean dari kursi depan
Geriyo mentap sang paman yang berada di depannya
"Iya uncle" Jawabnya lemah, karena ia mulai mengantuk.
"Lain kali kalau keluar sama bunda jangan suka kabur ya, kamu udah dua kali lo ngilang dari pandangan bunda sama uncle" Nasehat Kean pada keponakannya ini. Ia teringat kejadian tadi malam saat dipesta temannya saat Geriyo tiba-tiba menghilang.
Geriyo terdiam sejenak, "Iya uncle, Yiyo minta maaf" Ucao bocah itu, terlihat ada penyesalan dari matanya.