# YANG GA SABAR SAMA JALAN CERITANYA PASTI NYERAH DI TENGAH JALAN... #
( Bikin bingung kalo bacanya dari tengah. Saran penulis ikuti dari awal yaa. mksh...🙏😊)
Berawal dari misteri tentang kehamilan seorang gadis yatim piatu bernama Gendis akibat perbuatan seorang pria yang membuatnya terpuruk.
Dan pengalaman aneh yang dialami oleh sang adik yang bernama Patih, karena menolak cinta seorang wanita, membuatnya harus berjuang untuk bisa lepas dari pengaruh ilmu hitam.
Juga kehadiran anak indigo yang akan membantu mengungkap kisah mistis yang mewarnai perjalanan hidup para tokohnya, membuat kisah ini makin menarik.
Mau tahu...?
Simak kisahnya yuk...
( Mohon bijak dlm berkomentar. Kalo ga suka diskeep aja. Gampang kan ...? )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26 ( Patih Oh Patih..., )
Patih berkari menjumpai Emak dan Bapaknya. Di tangannya ada gulungan kertas yang nampaknya telah membuatnya terburu-buru menemui kedua orangtuanya.
" Mak, Pak. Patih lulus...!" seru Patih gembira.
" Alhamdulillah...," kata Oding sambil memeluk putra kebanggaannya itu.
" Iya Pak, Patih juga dapet beasiswa buat kuliah di Jakarta...," kata Patih dengan nafas memburu.
" Alhamdulillah, Jakarta...?" tanya Oyoh senang.
" Iya Mak, Patih bakal bisa sering ketemu si kembar ha ha ha...," kata Patih sambil melompat-lompat.
" Hmm, Kamu seneng ketemu si kembar. Emak gimana?, udah ga bisa ketemu si kembar, tinggal jauh lagi dari Anak Emak ini...," keluh Oyoh.
" Jangan ngomong gitu Mak. Anak mau sekolah biar pinter kok sedih. Didukung aja, ya mudah-mudahan ada rejeki Kita bisa nengokin Anak-anak ke Jakarta...," hibur Oding sambil merangkul bahu Oyoh.
" Iya Pak, maaf Emak ga maksud nahan Patih buat maju...," kata Oyoh sambil tersenyum.
" Patih sayang sama Emak, sama Bapak juga...," kata Patih sambil merangkul kedua orangtuanya.
Mereka berpelukan sambil tertawa. Oding dan Oyoh sangat bangga pada Patih.
Patih tumbuh menjadi seorang remaja yang baik. Di usianya yang sudah 18 tahun, Patih masih rajin membantu orangtuanya di kebun kelapa sawit.
Berbeda dengan teman sebayanya yang enggan membantu orangtua mereka saat sudah remaja, dengan alasan malu. Tapi buat Patih, pekerjaan yang dilakukan orangtuanya lah yang membuat Patih bisa seperti sekarang ini. Hidup enak tak kekurangan apa pun. Dia bangga dengan orangtuanya.
Disaat teman sebayanya sudah mulai mengenal kata pacaran, Patih sengaja menghindari lawan jenis. Meski Patih menjadi salah satu cowok idola di sekolahnya, tapi Patih menjaga jarak dengan teman wanita yang mencoba mendekatinya dengan tujuan tertentu.
Seperti hari di saat semua siswa menerima ijasah. Sekolah sengaja mengadakan acara perpisahan untuk semua siswa kelas tiga yang lulus dengan baik. Semua wali murid diminta hadir untuk mengambil ijasah putra / putri mereka.
Patih pun meminta Oding mengambilkan ijasah miliknya.
" Apa orangtua yang dapet beasiswa harus naik ke atas panggung Tih...?" tanya Oding tak nyaman.
Mereka sudah ada di aula sekolah dan duduk bersama tamu lain di kursi yang telah disediakan.
" Biasanya mah gitu Pak...," kata Patih.
" Bapak malu Tih...," keluh Oding.
" Ya, Bapak. Jangan malu dong. Cuek aja Pak. Emang Bapak ga bangga sama Patih...?" tanya Patih merajuk.
" Iya, demi Kamu nih Bapak maju...," kata Oding saat namanya dan Patih disebut untuk naik ke atas panggung.
" Kepada Saudara Patih Permana dan Bapak Oding diharapkan naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan sebagai 'Siswa Teladan' tahun ini...," suara MC membahana di seluruh ruangan.
Semua mata menatap Patih yang berjalan di belakang Oding dengan wajah menunduk karena malu. Mereka naik ke atas panggung menerima penghargaan dari Kepela Sekolah dan Wali Kelas Patih. Setelahnya, Oding diminta untuk membagikan sedikit pengalaman cara mendidik Patih hingga menjadi siswa teladan. Semula Oding menolak, tapi karena desakan Kepala Sekolah Oding pun setuju.
" Assalamualaikum, Saya Oding, bekerja sebagai petani. Anak Saya Patih Permana adalah Anak bungsu dari dua bersaudara. Patih ini suka belajar, tanpa Saya suruh pun Patih akan belajar. Patih sering bawa buku-buku setiap membantu Saya di kebun. Buku-buku itu dibaca atau PR dikerjakan pas istirahat para pekerja. Kalo ditanya kenapa bawa buku ke kebun, Patih pasti menjawab 'ada PR' atau 'ada tugas'. Patih juga sering ditanya 'kenapa belajar terus sih, kapan mainnya ?' sama orang-orang. Patih pasti menjawab 'Mau bahagiain Bapak, Emak, dan Kak Gendis', cuma itu.
Pesen Saya buat Anak-anak, jangan malu memiliki Kami sebagai orangtua Kalian, meskipun pekerjaan Kami cuma petani. Dan belajar lah dengan tujuan yang baik, insya Allah jalan Kalian pun akan mudah.
Terimakasih. Assalamualaikum...," kata Oding di akhir kalimatnya.
Tepuk tangan bergemuruh di aula sekolah mendengar 'pidato' singkat Oding yang menyentuh hati.
Kalimat Oding menyadarkan teman-teman Patih untuk lebih menghormati orangtua mereka masing-masing.
Patih dan Oding meninggalkan sekolah dengan hati gembira. Mereka hampir naik ke motor saat teman Patih memanggilnya.
" Patih, Patih, tunggu...!" seru teman Patih.
Patih menoleh dan terkejut, karena ada beberapa teman wanita yang menghampirinya.
" Patih, Kamu jadi ke Jakarta...?"
" Kapan berangkat...?"
" Jangan lupain Kita yaa...,"
" Kamu ga mau kenalin pacar Kamu...?"
" Padahal Aku mau nawarin kerjaan bagus lho buat Kamu di perusahaan Ayahku...,"
Kata teman-teman Patih saling bersahutan.
" Maaf teman-teman. Aku harus pulang. Bapak lagi ga enak badan...," kata Patih menghindar.
" Tapi Kita bisa ngobrol dulu kan, anggap aja ini salam perpisahan Kita...,"
" Tau nih si Patih. Ga asik banget sih...,"
" Sebentar aja kok...,"
Kata teman-teman Patih yang masih coba membujuknya.
Patih tak peduli. Dengan perasaan tak karuan Patih meminta Oding segera melajukan motornya meninggalkan sekolah dan teman-temannya itu.
" Ha ha ha, Patih, Patih. Bapak ga nyangka kalo Kamu jadi ngetop di sekolahmu. Bapak sehat, kok malah Kamu bilang sakit. Dasar...," kata Oding tertawa melihat sikap Patih tadi.
" Apaan sih Pak. Males ah ngeladenin mereka. Pikirannya tuh pacaran mulu. Makanya nilainya jelek, pas-pasan...," cibir Patih yang disambut tawa Oding lagi.
" Jangan terlalu keras sama perempuan. Kamu belom kesandung cinta sih, makanya galak kaya gini...," kata Oding tersenyum.
" Bapak ngomongin itu mulu. Bosen Pak. Kalo mau, Kakak aja dulu yang mikirin pasangan. Patih masih mau ngejar cita-cita dan karir...," sahut Patih sebal.
Oding tertawa keras mendengar jawaban Patih.
Oding dan Patih pun tiba dirumah, disambut Oyoh dengan senyum manisnya di depan pintu.
" Kok Emak liat Bapak ketawa mulu daritadi. Kenapa sih Pak...?" tanya Oyoh curiga.
Oding pun menceritakan apa yang terjadi tadi. Oyoh pun tertawa. Sedangkan Patih cuma cemberut sebal.
" Waah Anak Emak udah jadi idola ya di sekolah. Pastiin Emak dapet mantu perempuan yang cantik, sholehah dan sayang sama Orangtua ya Tih...," kata Oyoh menggoda Patih.
" Emak juga, apaan sih Mak...," gerutu Patih.
" Wajar dong Tih kalo Emak mesen jauh-jauh hari. Biar ntar pas ngelamar bisa nyiapin uang dan hantaran yang banyak...," kata Oding lagi.
" Udah Pak. Tuh ada yang ngambek. Sini Kita makan aja, Emak masak kesukaan Patih lho, buat hadiah karena Patih lulus dengan nilai yang bagus...," hibur Oyoh.
" Naah, gitu dong Mak. Emak emang paling the best deh, paling ngerti maunya Patih...," kata Patih sambil memeluk dan mencium pipi Oyoh.
Patih dan Oding pun senang dan langsung melahap masakan Oyoh hingga tandas.
Oyoh pun senang karena masakannya ludes dimakan oleh dua pria yang dicintainya itu.
bersambung