6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27.SURAT YANG TIDAK PERNAH SAMPAI
Tiga hari setelah malam ritual terakhir itu, Sinta dan Bima masih belum bisa meninggalkan Desa Mati.
Bukan karena mereka tidak mau. Tapi karena jalan keluar desa tertutup longsor besar. Hujan deras turun terus menerus selama tiga hari tanpa henti setelah sumur itu terkunci. Air sungai meluap, jembatan bambu satu-satunya penghubung Desa Mati dengan jalan raya putus dan hanyut terbawa arus.
Desa Mati benar-benar terisolasi. Sinyal HP hilang total. Listrik padam. Persediaan makanan menipis.
Warga desa berkumpul di balai desa setiap malam, menyalakan lilin dan berdoa bersama. Tidak ada lagi yang berani mendekati sumur di belakang rumah Mbok Darmi. Sumur itu sudah ditutup rapat oleh Pak Lurah dengan semen dan batu besar di atas batu penutup aslinya, dan di atasnya ditaburi kembang dan kemenyan setiap hari sebagai tanda penghormatan, bukan untuk mengusir, tapi untuk menjaga.
Sinta dan Bima tidur di balai desa, di tempat yang dulu mereka tidur bersama Selpi. Tikar Selpi masih ada di sana, masih ada bekas tidurnya. Tas KKN Selpi juga masih ada, tidak berani mereka buka.
Hingga pada sore hari ketiga, saat hujan sudah mulai reda, Sinta yang sedang membereskan rumah Mbok Darmi yang kosong untuk mencari lilin cadangan, menemukan sesuatu di bawah papan kayu di kolong tikar Mbok Darmi.
Sebuah kotak kayu kecil yang sudah lapuk dan berjamur. Kotaknya terkunci, tapi kuncinya masih menempel di lubang kunci dengan benang merah.
Sinta memanggil Bima dengan suara bergetar.
"Bim, kesini deh... ada kotak..."
Bima datang dengan senter. Mereka berdua membuka kotak itu pelan-pelan di depan lilin.
Di dalam kotak itu, tidak ada emas, tidak ada uang. Hanya ada tiga benda.
Benda pertama adalah sebuah foto hitam putih yang sudah menguning dan robek di ujungnya. Foto dua bayi kembar yang sedang digendong seorang perempuan muda yang cantik. Perempuan itu adalah Mbok Darmi saat masih muda, sekitar 20 tahun lalu. Wajahnya cantik, senyumnya bahagia. Dua bayi di gendongannya terlihat identik, dibungkus kain jarik yang sama. Di belakang foto itu ada tulisan tangan dengan spidol: Selvi & Selpi, 7 hari. Anakku sayang.
Sinta langsung menutup mulutnya, air matanya mengalir deras. "Jadi bener... Selpi anak kembar Mbok Darmi..."
Benda kedua adalah sebuah gelang bayi kecil dari benang hitam dan manik-manik kayu. Gelang itu kecil sekali, untuk bayi baru lahir. Di manik-maniknya tertulis huruf S-E-L-P-I dengan cat putih yang sudah pudar.
Dan benda ketiga, yang paling membuat dada Sinta dan Bima sesak, adalah sebuah amplop coklat yang sudah berdebu tebal, belum pernah dibuka, belum ada perangko, dan alamat tujuannya ditulis dengan tulisan tangan yang gemetar.
Tulisannya:
Untuk: Selpi, Anakku di Jambi
Dari: Ibu, Mbok Darmi di Desa Mati
Alamat: Jl. Mangga No 12, RT 04, Jambi Kota (Alamat Bu Bidan Lastri)
Surat itu tidak pernah dikirim. Tidak pernah sampai.
Bima mengambil surat itu dengan tangan gemetar. Amplopnya sudah lengket karena lembab, kertas di dalamnya sudah menguning.
Mereka membukanya di depan sumur yang sudah tertutup itu, seolah ingin Mbok Darmi dan Selpi dan Selpi ikut mendengarkan.
Isi surat itu ditulis dengan tulisan tangan Mbok Darmi yang berantakan, banyak bekas tetesan air mata yang membuat tintanya luntur di beberapa bagian. Surat itu ditulis 20 tahun yang lalu.
Isinya seperti ini:
Anakku Selpi sayang,
Ini ibu, Mbok Darmi. Ibu nulis surat ini sambil nangis, Nduk. Maafkan ibu ya, Nduk. Maafkan ibu yang sudah titipkan kamu ke Bu Bidan Lastri di Jambi 20 tahun lalu.
Ibu bukan ibu yang tega, Nduk. Ibu sayang kamu. Ibu sayang kamu sama seperti ibu sayang Selvi, kembaranmu.
Kamu lahir duluan, Nduk, 5 menit lebih dulu dari Selvi. Kamu lahir tidak nangis, tidak napas. Bidan desa bilang kamu sudah meninggal di dalam perut. Jantung ibu rasanya berhenti saat itu. Ibu sudah kehilangan bapakmu yang meninggal karena longsor, masa ibu harus kehilangan kamu juga?
Ibu bawa kamu ke sumur keramat belakang rumah, sumur yang kata orang desa bisa kasih hidup. Ibu minta tolong sama Wende, penunggu sumur. Ibu bilang, ambil saja umur ibu, yang penting anak ibu hidup. Wende setuju, Nduk. Dia tiup ubun-ubunmu dan kamu nangis. Nangis kencang sekali. Ibu bahagia.
Tapi Wende kasih syarat. Dia bilang, anak ini bukan sepenuhnya hidup. Dia hidup karena hutang. Hutang nyawa. Nanti saat umur 20 tahun, dia harus pulang ke sumur ini untuk gantikan Wende jaga sumur. Kalau tidak, seluruh desa akan tenggelam dan semua bayi yang lahir akan mati seperti kamu.
Ibu takut, Nduk. Ibu takut kamu diambil lagi. Makanya pas Bu Bidan Lastri mau pindah ke Jambi karena suaminya dapat kerja di sana, ibu titipkan kamu ke dia. Ibu kasih gelang bayi itu sebagai tanda. Ibu bilang ke Bu Bidan, rawat anak ini seperti anak sendiri, jangan pernah bawa dia kembali ke Desa Mati, biar dia hidup normal di kota.
Ibu bohong ke warga kalau anak kembarmu meninggal. Ibu kubur ari-ari saja di belakang rumah biar warga percaya. Selvi ibu besarkan di sini, kamu ibu besarkan lewat doa dari jauh.
Setiap malam, ibu selalu berdoa di sumur itu, Nduk. Ibu bilang ke Wende, jangan ambil Selpi ku, ambil saja aku. Biar aku yang gantikan. Tapi Wende tidak mau. Dia maunya kamu, karena darahmu murni, lahir dari sumur.
Sekarang kamu sudah 20 tahun ya, Nduk? Pasti kamu sudah cantik seperti Selvi. Pinter kuliah. Ibu lihat foto kamu yang dikirim Bu Bidan Lastri tiap tahun, kamu cantik sekali. Mirip ibu waktu muda.
Ibu nulis surat ini karena ibu mimpi buruk terus, Nduk. Ibu mimpi sumur itu manggil nama kamu terus. Selvi juga mimpiin kamu terus, dia bilang dia kangen adiknya. Ibu takut waktunya sudah dekat. Ibu takut kamu pulang KKN ke sini seperti yang Wende bilang dulu.
Kalau kamu baca surat ini dan kamu ada di Desa Mati, tolong maafkan ibu, Nduk. Ibu tidak pernah bermaksud jadikan kamu tumbal. Ibu hanya ingin kamu hidup. Kalau kamu bisa, jangan datang ke sumur belakang rumah. Lari, Nduk. Lari sejauh-jauhnya dari desa ini. Biar ibu saja yang jadi penunggu. Ibu sudah tua, ibu sudah siap.
Ibu sayang kamu, Selpi. Selvi juga sayang kamu, dia selalu sisakan nasi untuk kamu tiap makan, katanya buat adik kembarnya yang di Jambi.
Maafkan ibu ya, Nduk.
Ibu,
Mbok Darmi
Surat itu selesai dibaca.
Sinta sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi. Dia menangis keras, meraung-raung di depan sumur itu, memeluk foto dua bayi kembar itu.
"Selpi... Selpi... jadi kamu selama ini pulang kampung, bukan KKN... kamu pulang ke ibu kandungmu sendiri..."
Bima juga menangis, air matanya mengalir tanpa suara. Laki-laki yang selama ini paling tegar itu akhirnya roboh.
Mereka berdua baru paham sekarang. Kenapa Mbok Darmi begitu sayang pada Selpi sejak hari pertama KKN. Kenapa Mbok Darmi selalu masakkan telur dua butir untuk Selpi, satu untuk Selvi katanya. Kenapa Mbok Darmi selalu mengelus rambut Selpi sambil menangis diam-diam. Kenapa Mbok Darmi menghilang dengan tersenyum saat dipanggil Selvi dari dalam sumur.
Karena Mbok Darmi akhirnya bisa bertemu kembali dengan kedua anaknya di dalam taman sumur itu.
Sore itu juga, hujan berhenti total. Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, matahari terbenam terlihat jelas, warnanya oranye keemasan yang indah.
Sinta dan Bima memutuskan untuk mengubur kotak kayu itu di samping sumur. Mereka menggali lubang kecil di samping batu penutup sumur dan mengubur foto, gelang bayi, dan surat yang tidak pernah sampai itu di sana.
Saat mereka menabur tanah terakhir, tiba-tiba angin lembut bertiup dari arah sumur. Angin itu membawa bau melati dan bedak bayi.
Dan mereka mendengar suara. Suara tiga perempuan tertawa bersamaan dari dalam sumur. Suara Mbok Darmi, suara Selvi, dan suara Selpi. Tawa yang bahagia, tawa keluarga yang akhirnya berkumpul lengkap setelah 20 tahun terpisah.
Sinta tersenyum di sela-sela air matanya.
"Selpi sudah sampai suratnya, Mbok... Selpi sudah baca..."
Malam itu, jalan longsor yang menutup desa tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Batu-batu besar yang menutup jalan menghilang, seperti ada yang memindahkannya. Jembatan bambu yang hanyut, tiba-tiba sudah ada lagi, berdiri kokoh seperti baru dibuat.
Desa Mati membuka jalannya untuk Sinta dan Bima pulang.
Karena penjaga sumur yang baru, Selpi, sudah memberikan izin.
Dia tidak ingin teman-temannya terjebak di sini selamanya sepertinya.
Dia ingin mereka pulang ke Jambi dan menceritakan bahwa KKN mereka selesai, dan Desa Mati sekarang sudah benar-benar aman karena sudah ada penunggunya.
Penunggu yang paling cantik dan paling baik hati.
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐