NovelToon NovelToon
KKN DESA MATI

KKN DESA MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Author Melda

6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27.SURAT YANG TIDAK PERNAH SAMPAI

Tiga hari setelah malam ritual terakhir itu, Sinta dan Bima masih belum bisa meninggalkan Desa Mati.

Bukan karena mereka tidak mau. Tapi karena jalan keluar desa tertutup longsor besar. Hujan deras turun terus menerus selama tiga hari tanpa henti setelah sumur itu terkunci. Air sungai meluap, jembatan bambu satu-satunya penghubung Desa Mati dengan jalan raya putus dan hanyut terbawa arus.

Desa Mati benar-benar terisolasi. Sinyal HP hilang total. Listrik padam. Persediaan makanan menipis.

Warga desa berkumpul di balai desa setiap malam, menyalakan lilin dan berdoa bersama. Tidak ada lagi yang berani mendekati sumur di belakang rumah Mbok Darmi. Sumur itu sudah ditutup rapat oleh Pak Lurah dengan semen dan batu besar di atas batu penutup aslinya, dan di atasnya ditaburi kembang dan kemenyan setiap hari sebagai tanda penghormatan, bukan untuk mengusir, tapi untuk menjaga.

Sinta dan Bima tidur di balai desa, di tempat yang dulu mereka tidur bersama Selpi. Tikar Selpi masih ada di sana, masih ada bekas tidurnya. Tas KKN Selpi juga masih ada, tidak berani mereka buka.

Hingga pada sore hari ketiga, saat hujan sudah mulai reda, Sinta yang sedang membereskan rumah Mbok Darmi yang kosong untuk mencari lilin cadangan, menemukan sesuatu di bawah papan kayu di kolong tikar Mbok Darmi.

Sebuah kotak kayu kecil yang sudah lapuk dan berjamur. Kotaknya terkunci, tapi kuncinya masih menempel di lubang kunci dengan benang merah.

Sinta memanggil Bima dengan suara bergetar.

"Bim, kesini deh... ada kotak..."

Bima datang dengan senter. Mereka berdua membuka kotak itu pelan-pelan di depan lilin.

Di dalam kotak itu, tidak ada emas, tidak ada uang. Hanya ada tiga benda.

Benda pertama adalah sebuah foto hitam putih yang sudah menguning dan robek di ujungnya. Foto dua bayi kembar yang sedang digendong seorang perempuan muda yang cantik. Perempuan itu adalah Mbok Darmi saat masih muda, sekitar 20 tahun lalu. Wajahnya cantik, senyumnya bahagia. Dua bayi di gendongannya terlihat identik, dibungkus kain jarik yang sama. Di belakang foto itu ada tulisan tangan dengan spidol: Selvi & Selpi, 7 hari. Anakku sayang.

Sinta langsung menutup mulutnya, air matanya mengalir deras. "Jadi bener... Selpi anak kembar Mbok Darmi..."

Benda kedua adalah sebuah gelang bayi kecil dari benang hitam dan manik-manik kayu. Gelang itu kecil sekali, untuk bayi baru lahir. Di manik-maniknya tertulis huruf S-E-L-P-I dengan cat putih yang sudah pudar.

Dan benda ketiga, yang paling membuat dada Sinta dan Bima sesak, adalah sebuah amplop coklat yang sudah berdebu tebal, belum pernah dibuka, belum ada perangko, dan alamat tujuannya ditulis dengan tulisan tangan yang gemetar.

Tulisannya:

Untuk: Selpi, Anakku di Jambi

Dari: Ibu, Mbok Darmi di Desa Mati

Alamat: Jl. Mangga No 12, RT 04, Jambi Kota (Alamat Bu Bidan Lastri)

Surat itu tidak pernah dikirim. Tidak pernah sampai.

Bima mengambil surat itu dengan tangan gemetar. Amplopnya sudah lengket karena lembab, kertas di dalamnya sudah menguning.

Mereka membukanya di depan sumur yang sudah tertutup itu, seolah ingin Mbok Darmi dan Selpi dan Selpi ikut mendengarkan.

Isi surat itu ditulis dengan tulisan tangan Mbok Darmi yang berantakan, banyak bekas tetesan air mata yang membuat tintanya luntur di beberapa bagian. Surat itu ditulis 20 tahun yang lalu.

Isinya seperti ini:

Anakku Selpi sayang,

Ini ibu, Mbok Darmi. Ibu nulis surat ini sambil nangis, Nduk. Maafkan ibu ya, Nduk. Maafkan ibu yang sudah titipkan kamu ke Bu Bidan Lastri di Jambi 20 tahun lalu.

Ibu bukan ibu yang tega, Nduk. Ibu sayang kamu. Ibu sayang kamu sama seperti ibu sayang Selvi, kembaranmu.

Kamu lahir duluan, Nduk, 5 menit lebih dulu dari Selvi. Kamu lahir tidak nangis, tidak napas. Bidan desa bilang kamu sudah meninggal di dalam perut. Jantung ibu rasanya berhenti saat itu. Ibu sudah kehilangan bapakmu yang meninggal karena longsor, masa ibu harus kehilangan kamu juga?

Ibu bawa kamu ke sumur keramat belakang rumah, sumur yang kata orang desa bisa kasih hidup. Ibu minta tolong sama Wende, penunggu sumur. Ibu bilang, ambil saja umur ibu, yang penting anak ibu hidup. Wende setuju, Nduk. Dia tiup ubun-ubunmu dan kamu nangis. Nangis kencang sekali. Ibu bahagia.

Tapi Wende kasih syarat. Dia bilang, anak ini bukan sepenuhnya hidup. Dia hidup karena hutang. Hutang nyawa. Nanti saat umur 20 tahun, dia harus pulang ke sumur ini untuk gantikan Wende jaga sumur. Kalau tidak, seluruh desa akan tenggelam dan semua bayi yang lahir akan mati seperti kamu.

Ibu takut, Nduk. Ibu takut kamu diambil lagi. Makanya pas Bu Bidan Lastri mau pindah ke Jambi karena suaminya dapat kerja di sana, ibu titipkan kamu ke dia. Ibu kasih gelang bayi itu sebagai tanda. Ibu bilang ke Bu Bidan, rawat anak ini seperti anak sendiri, jangan pernah bawa dia kembali ke Desa Mati, biar dia hidup normal di kota.

Ibu bohong ke warga kalau anak kembarmu meninggal. Ibu kubur ari-ari saja di belakang rumah biar warga percaya. Selvi ibu besarkan di sini, kamu ibu besarkan lewat doa dari jauh.

Setiap malam, ibu selalu berdoa di sumur itu, Nduk. Ibu bilang ke Wende, jangan ambil Selpi ku, ambil saja aku. Biar aku yang gantikan. Tapi Wende tidak mau. Dia maunya kamu, karena darahmu murni, lahir dari sumur.

Sekarang kamu sudah 20 tahun ya, Nduk? Pasti kamu sudah cantik seperti Selvi. Pinter kuliah. Ibu lihat foto kamu yang dikirim Bu Bidan Lastri tiap tahun, kamu cantik sekali. Mirip ibu waktu muda.

Ibu nulis surat ini karena ibu mimpi buruk terus, Nduk. Ibu mimpi sumur itu manggil nama kamu terus. Selvi juga mimpiin kamu terus, dia bilang dia kangen adiknya. Ibu takut waktunya sudah dekat. Ibu takut kamu pulang KKN ke sini seperti yang Wende bilang dulu.

Kalau kamu baca surat ini dan kamu ada di Desa Mati, tolong maafkan ibu, Nduk. Ibu tidak pernah bermaksud jadikan kamu tumbal. Ibu hanya ingin kamu hidup. Kalau kamu bisa, jangan datang ke sumur belakang rumah. Lari, Nduk. Lari sejauh-jauhnya dari desa ini. Biar ibu saja yang jadi penunggu. Ibu sudah tua, ibu sudah siap.

Ibu sayang kamu, Selpi. Selvi juga sayang kamu, dia selalu sisakan nasi untuk kamu tiap makan, katanya buat adik kembarnya yang di Jambi.

Maafkan ibu ya, Nduk.

Ibu,

Mbok Darmi

Surat itu selesai dibaca.

Sinta sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi. Dia menangis keras, meraung-raung di depan sumur itu, memeluk foto dua bayi kembar itu.

"Selpi... Selpi... jadi kamu selama ini pulang kampung, bukan KKN... kamu pulang ke ibu kandungmu sendiri..."

Bima juga menangis, air matanya mengalir tanpa suara. Laki-laki yang selama ini paling tegar itu akhirnya roboh.

Mereka berdua baru paham sekarang. Kenapa Mbok Darmi begitu sayang pada Selpi sejak hari pertama KKN. Kenapa Mbok Darmi selalu masakkan telur dua butir untuk Selpi, satu untuk Selvi katanya. Kenapa Mbok Darmi selalu mengelus rambut Selpi sambil menangis diam-diam. Kenapa Mbok Darmi menghilang dengan tersenyum saat dipanggil Selvi dari dalam sumur.

Karena Mbok Darmi akhirnya bisa bertemu kembali dengan kedua anaknya di dalam taman sumur itu.

Sore itu juga, hujan berhenti total. Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, matahari terbenam terlihat jelas, warnanya oranye keemasan yang indah.

Sinta dan Bima memutuskan untuk mengubur kotak kayu itu di samping sumur. Mereka menggali lubang kecil di samping batu penutup sumur dan mengubur foto, gelang bayi, dan surat yang tidak pernah sampai itu di sana.

Saat mereka menabur tanah terakhir, tiba-tiba angin lembut bertiup dari arah sumur. Angin itu membawa bau melati dan bedak bayi.

Dan mereka mendengar suara. Suara tiga perempuan tertawa bersamaan dari dalam sumur. Suara Mbok Darmi, suara Selvi, dan suara Selpi. Tawa yang bahagia, tawa keluarga yang akhirnya berkumpul lengkap setelah 20 tahun terpisah.

Sinta tersenyum di sela-sela air matanya.

"Selpi sudah sampai suratnya, Mbok... Selpi sudah baca..."

Malam itu, jalan longsor yang menutup desa tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Batu-batu besar yang menutup jalan menghilang, seperti ada yang memindahkannya. Jembatan bambu yang hanyut, tiba-tiba sudah ada lagi, berdiri kokoh seperti baru dibuat.

Desa Mati membuka jalannya untuk Sinta dan Bima pulang.

Karena penjaga sumur yang baru, Selpi, sudah memberikan izin.

Dia tidak ingin teman-temannya terjebak di sini selamanya sepertinya.

Dia ingin mereka pulang ke Jambi dan menceritakan bahwa KKN mereka selesai, dan Desa Mati sekarang sudah benar-benar aman karena sudah ada penunggunya.

Penunggu yang paling cantik dan paling baik hati.

1
Nandan Waluya
Mantap ceritanya kak 💪
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sebelum baca BAB 6, aku coba jawab pertanyaan Kak Melda di akhir BAB ini...

Jawabannya adalah...

Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Di akhir BAB, aku bayangin begini:

Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya membayangkan skenario spesial:

Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...

🤭🤭🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya pasti cuma berdiri aja sambil senderan tembok, menatap satu-satu semua temen KKN. Terus tersenyum aja lihat mereka begitu... hihihi...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya bangun dari rebahan, jalan deketin Selvi, dan bilang sama dia, "Gimana? Mau tukeran posisi ketua sama gue, gak?"
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo ada saya di dalam ceritanya, pasti saya udah rebahan santai... sambil bilang, "Nikmati aja dulu... hehehe..."
Author Melda: Nah kan 😈 Cocok jadi ketua penunggu sumur ini mah
"Nikmati aja dulu hehehe" - kata penunggu sumur ke mahasiswa KKN
Fix kakak aku jadiin bos terakhir ya 😂
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah, kok saya malah ngerasa semakin seru ya kalo ada di tim mereka??? 🤭🤭🤭
Author Melda: Wkwk sama kak aku nulisnya aja keringetan 😭
Yaudah sini gabung tim KKN Desa Kalijatiny
Posisinya: divisi nganter makanan ke sumur jam 12 malam 🤝
Gaji: 1 nyawa wkwk
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sudah diduga... Pasti warganya keluar malam-malam...
Author Melda: Wkwk pinter banget nebaknya kak 😈
Tapi... yang keluar malam-malam itu bukan warganya doang...
Ada yang "nemenin" mereka juga 👀
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Eh, bentar-bentar... Si nenek itu bisa menjawab salam???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ini pihak kampusnya gak cari tahu dulu kah soal Desa Kalijatinya???
Author Melda: Bener kak 😭 itu juga yang jadi pertanyaan mahasiswa nya di cerita
Katanya sih "Desa tertinggal, butuh mahasiswa"
Padahal... ada udang di balik batu wkwk
Tunggu plot twist nya di bab selanjutnya yaa
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Sumpah, baru BAB pertama aja, udah ngeri banget begini suasana Desa Kalijatinya. Terbayang jelas di imaninasi. Tapi seru juga sih bisa KKN di desa macam gitu... hehehe... 😍😍😍
Author Melda: Hehe makasih udah ngerasain seremnya kak 😈
Tapi... kalau kakak yang KKN di Desa Kalijatiny,
berani gak jaga sumur jam 12 malam sendirian? 👀
Bab 7 udah tayang yaa... siap-siap merinding lagi
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Mending pulang aja gak, sih???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Berasa kayak mau uji nyali dari pada mau KKN...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah, kalau saya ikut di tim mereka, terus dapat ucapan kayak begini sih, langsung merinding sumpah...
na-an
aku gak ngerti deh kak
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐
na-an
seru banget kak! sekarang juga udah lebih teratur alurnya. semangat ya!😁
Author Melda: makasih banyak kak na-an! 🥹❤️ seneng banget kalau sampai BAB 14 udah lebih teratur alurnya! BAB 15 nya lagi direview nih kak bentar lagi tayang, KAIN KAFAN SELVI bakal lebih ngeri lagi! ditungguin ya kak!
total 1 replies
#@.Ar.world(。・ω・。)
merinding sih kak ame seram juga pasti terinspirasi sama film kkn ya kak
Author Melda: Hai kak @Ar.world makasih udah mampir di Bab 12! 🥺 Iya kak ada inspirasi dari film KKN, tapi ini kisah nyata dari desaku sendiri kak yang aku kembangin jadi cerita... Tungguin ya kak, Bab 13 Hutan Larangan lebih serem lagi, Maya bakal dicoret! 👻
total 1 replies
Author Melda
Guys menurut kalian BIMA masih bisa diselamatin gak? 😭 Atau dia udah jadi bagian warga tanpa bayangan selamanya? Komen #SaveBima kalau mau Selvi selamatkan Bima, komen #BimaUdahMati kalau udah ikhlasin! Aku baca semua komen kalian!
#@.Ar.world(。・ω・。): waduh kalo menurut ku bima kayaknya gak Selamat
total 1 replies
na-an
maaf kak selpi, boleh dikasih tahu gak nama-nama tokohnya? aku cukup bingung siapa aja karakternya karena muncul tanpa diperkenalkan di bab 1😅
Author Melda: Halo kak na-an makasih banyak udah baca dan udah kasih tau kak! 😭🙏 Maaf banget ya bikin bingung, kemarin di BAB 8-10 memang ada typo nama dari aku, udah aku benerin semua kok kak!

Ini 6 tokoh utamanya ya biar gak bingung lagi:

Tim KKN 6 orang:
1. SELVI - aku sendiri, ketua KKN
2. MAYA - sahabat aku, yang peka sama hal gaib
3. SINTA - yang paling cantik
4. RIKO - yang bawa kamera terus
5. BIMA - yang badan besar (yang hilang di sumur)
6. FARHAN - yang kocak

Maaf ya kak kalau sempet muncul nama lain selain 6 itu, itu salah ketik aku. Sekarang udah fix semua! Makasih ya udah ingetin, komen kakak membantu banget! Ditunggu lanjutannya di BAB 11 yaa ❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!