"Kenapa?"
"Kenapa bisa seperti ini?"
"Bukankah itu tak seharusnya di lakukan? Dan bukankah itu salah?"
"Seharusnya aku tak melakukan hal itu, karena aku sudah berjanji untuk melindungi Oliv bahkan dari diriku sendiri."
"Tapi tak bisa di bohongi, aku menginginkan dirinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 HUJAN
Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Semua orang berhamburan mencari tempat untuk berteduh. Tapi tidak dengan Oliv. Dia duduk di bangku Taman. Sengaja berdiam diri di bawah hujan.
Hujan,
Suara dan setiap air yang dijatuhkannya membawa ketenangan diri.
*
Renata berhasil mencapai mobilnya di temani Dre, hanya sedikit saja bagian bajunya yang basah.
"Dre, kalau mau pulang gak apa-apa bawa mobilku. Aku juga gak apa-apa ke rumah kamu dulu."
Dre diam sesaat. Selintas bayangan wajah Oliv melintas di pikirannya.
"Astaga! Oliv."
Dre bergegas turun dari mobil. Tapi Renata menarik tangannya hingga membuat wajah mereka kini berdekatan, dan mata mereka saling pandang.
Renata semakin mendekatkan bibir sensualnya ke bibir Dre. Dia sudah membayangkan adegan yang akan terjadi. Dan setelah itu dirinya sangat yakin, akan segera menjalin hubungan asmara dengan atasannya itu. Itu yang paling di impikan dan di harapkan Renata sejak berada di Kota ini.
"Maaf, Ren. Aku harus mencari Oliv." Dre memalingkan wajah. Kembali membuka pintu mobil, dan segera turun.
Dre berlari menerobos hujan. Dalam hati dia sudah mengetahui pasti Oliv akan hujan-hujanan. Gadis itu tak akan bersusah payah mencari tempat berteduh.
Ternyata, kekhawatirannya pada Oliv melebihi rasa apapun. Termasuk rasa yang begitu menggiurkan untuk seorang laki-laki.
Renata hanya bisa berdecak kesal. Berkali-kali dia memukul stir sebagai ungkapan kekesalannya itu.
"Bocah itu lagi, bocah itu lagi! Selalu saja."
"Sepertinya aku harus benar-benar membuat dia menjauh dari kehidupan Dre." Renata begitu geram.
*
"Oliv!" Teriak Dre.
Sejak kejadian tempo hari, Dre seperti mempunyai trauma akan kehilangan Oliv.
Dre tetap menyelusuri Taman di bawah derasnya hujan. Hingga dia melihat punggung seorang gadis yang sedang duduk di bangku Taman. Dre tau itu pasti Oliv.
"Hei! Ngapain di sini? Kenapa malah hujan-hujanan?" Dre berteriak karena suara hujan yang sangat deras. Kini dirinya berada di depan Oliv.
Oliv mendongak dan menatap.
"Bang Dre ngapain di sini?"
"Nyariin kamu."
"Ih! Tadi aja gak inget aku. Malah ninggalin aku sendirian."
"Yaudah, maaf!"
Oliv diam dan membuang muka.
"Ayo pulang!"
"Gak!"
"Ntar sakit gara-gara hujan-hujanan."
"Biarin!"
"Hadeh."
Dre mengusap wajah. Lalu dia duduk di samping Oliv. "Yaudah, ayo kita hujanan sama-sama."
Dre memejamkan mata. Dia mengangkat wajahnya ke atas membiarkan air hujan jatuh mengenai wajahnya.
Oliv memperhatikan, menatap wajah tampan itu. Senyum kini mengembang di bibirnya.
*
"Saat sudah besar, aku akan menikah dengan Bang Dre!"
Kenangan semasa kecil itu selalu saja terbayang saat Oliv memperhatikan wajah Dre.
*
Dre menoleh ke arah Oliv yang masih memperhatikannya, membuat mata mereka saling bertemu. Untuk beberapa saat mereka sama-sama terdiam.
Beradu tatap dalam debaran.
Dre membenarkan helaian rambut Oliv yang melekat di pipinya. Oliv hanya menatap, seolah terhipnotis dengan mata itu.
Kini kedua tangan Dre memegang wajah gadis itu, sedangkan wajahnya sendiri semakin mendekat ke wajah Oliv. Bibir mereka hampir bertemu, bahkan sudah sedikit bersentuhan.
Tiba-tiba suara guntur memecah keheningan.
Keduanya terperanjat kaget, dan sama-sama memalingkan wajah. Yang tersisa hanya debaran jantung dan wajah yang sama-sama merah padam.
jika saja suara guntur tak menghalangi. Mungkin keduanya sudah terlelap dalam balutan hangat di bawah deras dan dinginnya hujan.
"A--ayo kita pulang." Dre menjadi tak karuan dengan apa yang barusan terjadi.
Oliv yang merasakan hal serupa hanya bisa mengangguk.
Mereka pulang dengan menerobos hujan. Dingin sama sekali tak di rasakan karena hangat yang dihasilkan dari dalam jiwa.
aq tunggu lanjutanx