Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Pelukan Penerimaan
Di bawah pendar lampu ruang makan yang hangat, keheningan setelah badai emosi itu terasa begitu melegakan. Baskoro menatap buku pemeriksaan kandungan di tangannya sekali lagi, lalu menutupnya perlahan. Pria paruh baya itu bangkit dari kursinya, melangkah memutari meja makan, dan berjalan mendekati sisi tempat Mita duduk terisak dalam diam.
Mita yang mengira pengakuannya akan mendatangkan kemarahan besar atau bahkan pengusiran, seketika tersentak saat merasakan sebuah tepukan hangat dan lembut mendarat di bahunya.
Baskoro berkata dengan nada suara yang bergetar menahan haru, namun tetap sarat akan ketegasan seorang ayah, "Mita... kalau begitu, dengarkan Papa baik-baik. Jangan pernah merasa bahwa kami akan meninggalkanmu setelah semua ini terjadi."
Mita mendongak, menatap wajah pria paruh baya yang telah mengadopsinya itu dengan mata yang basah oleh air mata.
"Bagaimanapun caramu menganggap kami selama ini," lanjut Baskoro, suaranya terdengar begitu tulus dan mengalun tenang memenuhi ruangan, "kamu harus tahu satu hal. Di mata Ayah dan Ibu, kamu adalah keluarga kami. Selamanya akan tetap menjadi putri di rumah ini."
Diana yang sejak tadi terisak di kursinya, kini ikut berdiri. Dengan langkah tergesa, ia menghampiri Mita dan langsung mendekap tubuh kurus gadis itu ke dalam pelukannya. Diana menangis pelan di ceruk leher Mita, menyalurkan rasa sayang yang tidak berkurang sedikit pun meski fakta mengejutkan baru saja menghantam mereka.
"Papa tidak peduli apa yang dikatakan orang di luar sana nanti," sambung Baskoro lagi, memberikan perlindungan mutlak bagi menantu yang sudah dianggap anak kandungnya sendiri. "Janin di dalam kandunganmu itu... dia tidak bersalah. Dan dia adalah cucu Papa dan Mama. Kamu tidak akan menghadapi ini sendirian, Mita."
Baskoro perlahan melepaskan tangannya dari bahu Mita, lalu kembali menatap putri angkatnya itu dengan sorot mata yang dipenuhi kebijaksanaan seorang kepala keluarga. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan keputusannya yang membuat semua orang di meja makan itu terkesiap.
"Nah... sebagai hadiah dan jaminan masa depan, Papa akan mengalihkan dua persen saham perusahaan milik Papa atas nama calon bayimu. Bagaimana?" tanya Baskoro dengan nada suara yang tenang namun mutlak.
Mita tertegun, buru-buru menghapus air matanya Dengan tatapan tidak percaya. Belum sempat Mita menyela, Baskoro kembali menyambung kalimatnya untuk memastikan posisi masa depan Mita dan anaknya benar-benar aman tanpa bayang-bayang siapa pun.
"Dan ini akan tetap menjadi hakmu seutuhnya. Jadi, keputusan ini tidak ada urusannya dengan kamu harus menunggu uang transferan dari Sam atau dari Papa," lanjut Baskoro, menegaskan kemandirian finansial bagi Mita. "Ini memang hak yang akan terus mengalir kepadamu secara langsung. Setiap kali dividen perusahaan cair per semester atau tahunan nanti, uangnya akan langsung masuk ke rekeningmu untuk semua keperluan kuliah dan masa depan anakmu. Bagaimana?"
Mendengar keputusan luar biasa dari sang ayah, Sam seketika terperangah di kursinya. Sementara Vanya yang berada di sebelah Sam langsung menegang, matanya membelalak tak percaya melihat Mita yang dicap "cacat" malam itu justru keluar dari rumah ini membawa aset berharga yang sangat besar. Namun, di tengah keterkejutan itu, Diana justru tersenyum haru dan mengangguk setuju, mendukung penuh langkah suaminya untuk melindungi Mita dan calon cucu mereka.
Sementara Sam hanya bisa menatap punggung Mita yang masih bergetar dalam pelukan ibunya, menyadari bahwa mulai detik ini, jalan hidup mereka telah benar-benar bercabang ke arah yang tak akan pernah sama lagi.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)