Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu pak Hartono
Pukul lima sore kurang sepuluh menit, sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam legam berhenti di area parkir sebuah kafe di kawasan Sudirman. Dari dalam mobil, turunlah Gibran Mahardika dengan langkah tegap, dikuti oleh Nayla di sebelahnya.
Tidak hanya berdua, dari mobil pengawal di belakang mereka, turun pula Gunawan beserta dua orang pria berbadan besar dengan setelan jas hitam dan earpiece terpasang di telinga mereka.
"Mas ... apa enggak berlebihan bawa bodi gard segala?" bisik Nayla, agak ngeri melihat dua pria kekar yang wajahnya mirip karakter antagonis di film aksi.
"Enggak ada kata berlebihan kalau menghadapi tikus tanah seperti dia, Nay. Anggap saja ini hiburan sore hari," jawab Gibran santai, membenarkan letak jam tangannya sebelum merangkul pinggang Nayla dan menuntunnya masuk ke dalam kafe.
Di sudut kafe yang agak remang, Pak Hartono sudah duduk dengan angkuh. Pria paruh baya itu mengenakan kemeja batik yang kekecilan hingga kancing di bagian perutnya tampak tersiksa, lengkap dengan beberapa cincin batu akik berukuran besar di jemarinya. Di atas meja, ia sudah menyiapkan selembar kertas kuitansi usang.
Begitu melihat Nayla masuk, senyum kemenangan Hartono langsung terbit. "Nah, datang juga kamu, Nayla ... "
Kalimatnya terputus seketika begitu matanya menangkap sosok pria tinggi tegap di sebelah Nayla yang memancarkan aura intimidasi yang luar biasa kuat.
Gibran langsung menarik kursi di depan Hartono tanpa permisi, lalu duduk dengan gaya kaki menyilang yang sangat elegan.
Nayla duduk di sebelahnya, sementara Gunawan dan dua pengawal berbadan besar berdiri tegap di belakang kursi mereka, melipat tangan di dada sambil menatap Hartono dengan pandangan dingin.
Suasana di meja itu mendadak berubah mencekam. Beberapa pengunjung kafe di sekitar mereka diam-diam melirik, merasakan ada ketegangan tingkat tinggi.
Hartono berdeham, mencoba mempertahankan harga dirinya yang mulai goyah melihat para pengawal Gibran.
"Ehem ... jadi ini suami kamu, Nayla? Baguslah kalau ikut datang. Jadi, siapa yang mau bayar utang seratus lima puluh juta ini?"
Gibran tidak langsung menjawab. Ia memberi kode pada Gunawan. Dengan sigap, Gunawan meletakkan sebuah koper kecil berwarna hitam di atas meja, lalu membukanya. Di dalamnya tidak ada tumpukan uang tunai, melainkan tumpukan dokumen legal yang tebal dengan cap resmi kepolisian dan kejaksaan.
"Apa ini?" tanya Hartono bingung, keningnya berkerut.
"Itu adalah berkas laporan mengenai praktik pencucian uang, penipuan pajak, dan operasional lembaga keuangan ilegal tanpa izin OJK atas nama usaha kelapa sawit milik Anda di kampung, Pak Hartono," ujar Gunawan dengan suara yang sangat tenang namun runcing.
Wajah Hartono seketika berubah abu-abu. Cincin-cincin akiknya beradu menciptakan bunyi gemertak saat tangannya mulai gemetar. "Kam-kamu ... jangan sembarangan menuduh ya! Saya ini pengusaha sah!"
Gibran condong ke depan, menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja. Matanya menatap Hartono seperti seekor predator yang sedang mengunci mangsanya. "Semua dokumen itu valid, Pak Hartono. Tim legal Mahardika Group hanya butuh waktu satu jam untuk membongkar seluruh borok bisnis Anda di daerah. Dan asal Anda tahu, kepala kepolisian daerah di kampung halaman Nayla itu adalah teman satu angkatan Papa saya saat wajib militer dulu."
Hartono menelan ludah dengan susah payah, jakunnya naik turun dengan cepat. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya, merusak minyak rambutnya yang klimis.
"Satu panggilan telepon dari saya sore ini, dan saya pastikan besok pagi seluruh aset sawit Anda disita oleh negara, dan Anda akan menghabiskan sisa umur Anda di dalam sel tahanan yang sempit dan panas," lanjut Gibran, suaranya sangat tenang, seolah ia hanya sedang memesan secangkir kopi, namun efeknya membuat Hartono hampir jantungan di tempat.
"Sekarang, saya beri Anda dua pilihan," Gibran mengambil kuitansi utang usang di atas meja, lalu merobeknya menjadi dua bagian dengan gerakan perlahan. "Pilihan pertama, Anda ambil robekan kertas ini, pulang ke kampung, dan lupakan kalau Anda pernah mengenal keluarga Nayla. Atau pilihan kedua, Anda keluar dari kafe ini dengan borgol di tangan. Pilih mana, Pak Tua?"
Hartono menatap robekan kertas di meja, lalu beralih menatap dua pengawal berbadan besar di belakang Gibran yang kini sedang meretakkan buku-buku jari mereka hingga menimbulkan bunyi krek yang mengerikan. Gengsi dan kesombongan rentenir itu runtuh total dalam sekejap.
"Sa-saya ... saya pilih pilihan pertama," cetus Hartono dengan suara yang bergetar ketakutan. Ia buru-buru berdiri dari kursinya hingga hampir menjatuhkan cangkir kopinya sendiri. Tanpa berani menatap Nayla lagi, pria tambun itu berlari terbirit-birit keluar dari kafe seperti dikejar hantu disiang bolong.
Nayla yang menyaksikan kejadian itu melongo tak percaya. Masalah besar yang sempat membuatnya ingin mati karena panik ternyata bisa diselesaikan oleh Gibran dalam waktu kurang dari sepuluh menit tanpa perlu mengeluarkan uang sepeser pun.
"Mas ... kamu bener-bener luar biasa," bisik Nayla, menatap Gibran dengan binar kekaguman yang tidak bisa disembunyikan lagi.
Gibran berbalik menatap Nayla, senyum jenakanya kembali muncul, seketika meruntuhkan aura menyeramkan yang ia tunjukkan pada Hartono tadi. "Kan sudah gue bilang, sekali-kali pamer kekuasaan dan kekayaan demi melindungi istri itu adalah ibadah, Nay. Lagipula, kuota pelukan sepuluh detik untuk hari ini ... sepertinya gue butuh bonus tambahan karena sudah jadi pahlawan."
Nayla tertawa kecil di antara sisa kelegaannya, mencubit lengan Gibran dengan gemas. "Dasar pamrih! Iya, nanti di rumah bonusnya ditambah jadi dua puluh detik!"
Gibran terkekeh, menggenggam tangan Nayla erat saat mereka berjalan keluar dari kafe menuju mobil. Sore itu, di bawah langit Jakarta yang mulai meredup, Nayla tahu satu hal: selama ada pria bernama Gibran Mahardika di sisinya, tidak akan ada satu pun teror dari masa lalu yang sanggup menyentuhnya lagi.
Mobil hitam milik Gibran melaju membelah padatnya jalanan Jakarta yang mulai diselimuti cahaya jingga senja. Nayla duduk di kursi penumpang sambil sesekali melirik pria di sampingnya dengan perasaan hangat yang sulit dijelaskan.
Sejak tadi, senyum kecil tidak pernah lepas dari bibirnya.
Gibran yang menyadari itu melirik sekilas sambil tetap fokus menyetir. “Kenapa senyum-senyum sendiri? Jangan bilang lu makin cinta sama suami lu yang tampan ini.”
Nayla langsung memutar bola matanya malas. “Pede banget, sih.”
“Lah, memang kenyataannya begitu.”
Nayla terkekeh pelan. Suasana hatinya yang sejak beberapa hari terakhir dipenuhi ketakutan kini terasa jauh lebih ringan. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar aman.
Namun beberapa detik kemudian, ekspresi Nayla berubah ragu. Jemarinya memainkan ujung tas di pangkuannya sebelum akhirnya berbicara lirih.
“Mas …”
“Hm?”
“Kalau tadi Hartono benar-benar lapor polisi gimana?”
Gibran tersenyum tipis. “Dia nggak akan berani.”
“Kok yakin?”
“Karena orang seperti Hartono hidup dari menakuti orang lain. Begitu ketemu orang yang lebih kuat, nyalinya langsung hilang.” Gibran berhenti sejenak lalu melanjutkan, “Lagian kuitansi itu memang nggak sah. Dia sengaja memeras keluarga kamu.”
Nayla menunduk pelan. Dadanya kembali terasa sesak ketika mengingat bagaimana keluarganya selama ini hidup dalam ketakutan karena utang tersebut.
“Maaf ya, Mas,” ucap Nayla lirih. “Aku malah terus bikin masalah buat kamu.”
Mobil mendadak berhenti di lampu merah. Gibran menoleh penuh serius ke arah istrinya.
“Dengerin gue baik-baik, Nayla.” Suaranya lembut tetapi tegas. “Lu bukan beban. Selama Lu jadi istri gue, masalah Lu juga jadi masalah gue. Jadi jangan pernah minta maaf karena itu.”
Ucapan sederhana itu sukses membuat mata Nayla memanas. Ia buru-buru memalingkan wajah ke arah jendela agar Gibran tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
Sementara di sampingnya, Gibran hanya tersenyum kecil sebelum kembali menggenggam tangan Nayla erat, seolah ingin memastikan bahwa perempuan itu tidak akan pernah menghadapi apa pun sendirian lagi.
sory ya thor 🙏